Apa Itu Marah


“Siapa pun bisa marah – marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik – bukanlah hal mudah.” Aristoteles, Nicomachean Ethics

Hari Senin malam Selasa yang lalu ketika mau pulang ke Jambi, mobil travel yang saya tumpangi singgah sebentar di rumah makan P, di daerah Lampung Tengah. Pak sopir mempersilakan para penumpang untuk istirahat dan makan di tempat tersebut. Saya pun turun karena mau ke kamar kecil dan merasa perut saya mulai lapar.

Keluar dari kamar kecil, saya mencari tempat duduk dan memesan makanan. Mungkin sekitar setengah jam makanan yang saya pesan diantar oleh pelayan lainnya.  Saya maklum karena malam itu pengunjung yang tak lain para penumpang mobil-mobil travel lainnya cukup ramai. Ditambah lagi para pengendara mobil pribadi yang tentunya membuat para pelayan agak repot melayani.

“Ah, sudahlah.. Yang penting makanan yang saya pesan sudah datang dan bisa segera disantap,” gumam saya meredakan kedongkolan kenapa agak lama makanan saya diantar. Saya mulai menyantap hidangan di meja. Karena perut yang lapar cukup berhasil memotivasi saya menyantap hidangan dengan kecepatan tinggi hasilnya menakjubkan – saya keselek. Saya kebingungan ketika mau minum ternyata air putih tak tersedia di atas meja makan. Mau memanggil pelayan tidak bisa. Tenggorokan saya lagi kurang koorporatif merespon sebab ada makanan yang mengganjal. Suara tak keluar. Saya akhirnya melambaikan tangan dengan maksud memanggil pelayan. Namun, anehnya sang pelayan membalas panggilan saya dengan senyuman tulusnya (seolah-olah ingin mengatakan: “Mas ini, kok aneh, ya?! Makan aja pakai acara lambaian tangan segala?). Saya ulangi mengirim bahasa isyarat kembali. Kali ini dengan gaya tangan saya seakan sedang memegang gelas, dan sengaja diperlihatkan kepada pelayan yang suka tersenyum tulus itu, yang berjarak sekitar lima langkah kaki ke samping kanan. Berhasil – dia mengerti pesan yang saya kirimkan. Lantas bergegas mengantar segelas besar air putih untuk saya. Seketika saya meminum air yang diberikannya dan dia meminta maaf. Lalu, karena perasaan dongkol masih bercokol dalam hati, permintaan maafnya saya tanggapi dengan mengatakan, “Makanya, Mas.. Lain kali orang lagi keselekan jangan dikasih senyum, tapi air minum..” Air mukanya tampak merasa tak enak hati mendengar ucapan saya.

Peristiwa di rumah makan tadi membuat saya berpikir sendiri di sepanjang perjalanan. Kenapa saya mudah sekali terpicu amarah dengan berkata kasar pada pelayan itu? Padahal bisa jadi dia tersenyum bukan untuk menanggapi lambaian tangan saya yang meminta air minum, dan barangkali senyumannya itu ditujukan untuk orang lain di dalam ruangan yang sama. Kenapa saya bisa punya pikiran sinis bahwa senyumannya seakan-akan bermaksud melecehkan saya? Sungguh aneh saya terpicu perasaan jengkel dengan membalas permintaan maafnya dengan cara yang sungguh tak layak.

Gurita pikiran sinis

Saya yakin pembaca yang budiman juga pernah melampiaskan amarah. Mungkin kadarnya berbeda-beda tergantung pada peristiwa tertentu yang memicu aliran deras emosi negatif sehingga letupan kemarahan cepat terjadi tanpa disadari. Biasanya setelah melampiaskan kemarahan, datang saat pikiran mulai jernih dan kemampuan menenangkan diri berhasil membawa individu pada suatu perenungan keadaan dari apa yang telah terjadi. Begitu juga yang saya alami, dan akhirnya dapat memeriksa sendiri sebab-akibat saya dihasut bulat-bulat oleh mahluk yang bernama ‘amarah’.

Saya mencoba mengingat-ingat awal keadaan saya merasa jengkel adalah saat pesanan makanan ternyata diantar hampir setengah jam. Harapan saya agar cepat makan rupanya tak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi. Tapi, saya mencoba mengontrol emosi negatif yang muncul dengan berpikir logis akan ramainya pengunjung yang cukup merepotkan para pelayan. Agaknya cara saya melenyapkan kemunculan emosi negatif tersebut rupanya belum berhasil karena perasaan saya sebenarnya masih terusik kedongkolan. Kadarnya kian membesar ketika saya mengalami keselekan, dan lambaian tangan memanggil pelayan untuk meminta air minum ditanggapi dengan senyuman – respon yang bertolak-belakang. Hal ini menimbulkan pikiran buruk yang mencengkeram benak saya – pelayan sengaja ingin melihat saya menderita keselekan akibat kelalaian saya sendiri makan begitu cepat. Rasain lu! Dari satu pikiran buruk yang amat sinis ini melahirkan pikiran buruk sinis lainnya yang ternyata menginginkan pembalasan. Awas, lu! Tunggu pembalasan Johnny Rambo, ya..  Maka, ketika pelayan itu meminta maaf karena kelupaan membawa serta air minum untuk saya sedari awal, saya pun menanggapi dengan berkata ketus dalam tangga nada kesal berayun-ayun tinggi.

Terancam bahaya

Pembaca yang budiman.. Ternyata amarah memicu adrenalin kita dengan fokus arah tindakan keinginan untuk membalas. Pada keadaan ini, otak emosional lebih dominan karena menanggapi suatu keadaan diri yang sedang terancam baik secara fisik maupun simbolik. Pada apa yang saya alami, ancaman yang berbentuk fisik adalah kecemasan tidak dapat bernapas akibat keselekan makanan. Sedangkan, ancaman berbentuk simbolik saya merasa diremehkan ketika meminta air minum pada pelayan.

Benarlah apa yang telah dikatakan Dolf Zillman, ahli psikologi dari University of Alabama, sebagaimana dikutip oleh Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, menerangkan tentang pemicu amarah.

“ Pemicu amarah yang universal adalah perasaan terancam bahaya. Ancaman tersebut dapat dipicu bukan saja oleh ancaman fisik langsung melainkan, sebagaimana yang sering terjadi, juga oleh ancaman simbolik terhadap harga diri atau martabat: diperlakukan tidak adil atau dikasari, dicaci-maki atau diremehkan, frustasi sewaktu mengejar sasaran penting.”


Dari beragam pemicu amarah ini, orang akan mudah melampiaskan kemarahan dengan tanpa pertimbangan akal sehat. Tidak peduli lagi kalau dirinya ada di tempat umum, bertindak kasar bahkan bisa menjurus kepada kekerasan. Akibatnya, seorang individu tampak seperti kehilangan pikiran jernih dan kesadaran dirinya sebab sedang dibajak emosi negatif.

Meredakan amarah

Saya ingat sekali dulu ketika dalam keadaan dipengaruhi kemarahan, dan berupaya meredakannya, saya sangat terkejut betapa besarnya energi dikeluarkan keadaan diri yang sedang marah. Saat itu saya masih kuliah dan indekos. Pemicu amarah saya adalah kegagalan menempuh suatu mata kuliah, dan saya harus mengulang kembali di semester selanjutnya. Di dalam kamar kos, berkelebatan berbagai pikiran aneh dan perasaan ganjil. Saya berupaya untuk melawannya dengan cara bertindak amat kreatif – mencuci semua pakaian saya baik yang kotor maupun bersih. Entah kenapa acara cuci-mencuci itu enteng dan cepat saja selesainya. Saya pandangi tumpukan pakaian yang sudah saya cuci dalam baskom milik teman kos. Malah saya tawarkan jasa kalau ada pakaian kotor, bawa ke saya biar dicuci. Setelah menjemur pakaian tadi, saya ke dalam kamar dan berbaring kelelahan dengan seulas senyuman. Heran bukan kepalang dari melihat saya mencuci di kamar mandi seperti orang kerasukan. Saya akhirnya bisa menyimpulkan amarah adalah energi besar dari emosi negatif yang butuh penyaluran kreatif untuk kemudian mesti diredakan.

Dari beberapa literatur yang saya baca, meredakan amarah lebih baik dengan cara mengalihkan pikiran dan perasaan negatif pemicunya pada suatu tindakan yang mampu mengubah suasana hati. Seperti kegiatan selingan yang menyenangkan – menjauhi kondisi dimana kemarahan sedang dipicu. Bepergian ke tempat-tempat dimana ada pepohonan rindang, suasana teduh dan sejuk sangat efektif untuk mendinginkan kemarahan.  Akan tetapi, dalam kasus saya, saya mendinginkan kemarahan dengan cara khusus sebagai selingan dan tentunya tidak usah ditiru. Demikian yang bisa tulis menyoal apa itu amarah, dan semoga bermanfaat. [MI]

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Dinding Lucia



lukisan_perempuan_api.jpg

Seperti biasa Lucia tampak lebih hidup ketika berhadapan muka dengan dindingnya. Siapa sangka? Si putih pucat itu lebih mirip manusia kini. Hari-hari yang sudah ia lewati dulu.. Ya, saat sebelum dinding kusam berlumut memanggilnya, sungguh serasa berada di taman pemakaman. Tapi kini wajahnya semburat memerah. Ia telah bangkit dari makamnya. Ia mahluk bernyawa berkat dinding di belakang rumahnya yang lembab itu.

Dinding itu selalu mengerti apa saja yang Lucia rasakan. Padahal ia belum punya cukup waktu untuk sekadar menyusun kata demi kata yang mewakili tiap warna perasaannya. Dan sekarang Lucia kembali terkesima ketika dinding tahu apa yang sedang diresahkannya.

“Jangan potong rambutmu, Lucia. Kau tahu? Berambut panjang itu kesenangan dan kekayaan, bahkan sebuah kemewahan. Tiap helai rambutmu adalah kelembutan jiwamu. Kau dan diri perempuanmu.” Lucia hanya diam. Jemarinya yang lentik terlihat khusyuk mengusap dan sesekali memelintir ujung rambutnya. 

“Tapi aku ingin bebas dari siksaan yang tak perlu ini! Bisa melakukan apa saja secepat mungkin, bahkan lebih awal bertindak dari tiap lintasan hasratku sendiri. Tanpa harus pusing oleh rambutku yang begitu merongrong, minta perhatian ini.”

“Jadi kau merasa tidak dapat melakukan apa pun lebih maksimal karena rambutmu, benarkah?” dinding itu tersenyum tipis. 

“Ya. Rambut ini telah menjajahku begitu lama.”

“Dalam hal apa, Lucia?”

“Hei, dinding.. Tidakkah kau tahu? Rambut ini memberiku perasaan cemas. Kini berubah menjadi ketakutanku. Aku takut bertemu orang kalau rambutku kusut. Aku cemas kapan saja kulit  kepalaku gatal, berjamur ketombe. Lebih gawat lagi, dinding.. Jangan-jangan satu pleton kutu sedang merencanakan makar tanpa sepengetahuanku. Mempersenjatai diri supaya bisa merusak otakku melalui pori-pori kulit kepalaku. Huh.. Kegiatan mereka pasti tersamar kerimbunan rambutku yang memanjang!”

Dinding coba memahami keresahan Lucia, “Hmm.. Baiklah. Kau boleh memotong rambutmu, tapi harus tetap bisa dikatakan panjang, ya?”

“Maksudnya, Dinding? Aku tidak mengerti..”

“Lucia.. Lucia.. Lucia.. Aku juga takut jika melihatmu berambut terlalu panjang. Tak pernah sekalipun kau potong. Apalagi kalau dengan rambutmu yang kian memanjang itu, kau padu-padankan dengan gaun sutra putih lembut. Bayangkanlah.. Kau bergaun model polos terkibar-kibar begitu, berambut panjang terurai tapi kusut masai.  Ah, membuatku kecut!”

Tawa si gadis putih pucat itu seketika meledak, “Ah, kau.. Maksudmu pasti ingin mengatakan aku akan mirip hantu berambut seperti itu, kan?”

“Mmm... Kurang lebihnya begitulah..”

“Nah, kan.. Kau mulai lagi..” Dinding tak sempat mengelak ketika Lucia mencubitinya. Cubitan kecil dan canda selalu berhasil merekatkan dua material berbeda itu menyatu. Persenyawaan yang mungkin sulit didefinisikan tapi tentu dapat saja terjadi hanya antara Lucia dan dindingnya. Mereka larut dalam suasana bahagia. Hidup dalam keceriaan. Dalam dunia mereka selalu begitu!

Bukan tanpa alasan bila dinding selalu menemukan cara membuat Lucia senang. Sebenarnya diam-diam dinding juga menyimpan kekaguman pada Lucia. Ia merasa beruntung mengenal  dekat si cantik itu walaupun ia tahu nasibnya begitu malang. Siapa yang tidak terpikat oleh kecantikan si gadis putih pucat itu? Seandainya bintang, Lucia bersinar sekalipun letaknya di ujung langit kelam – penunjuk jalan musafir tersesat. Dan, jika berkas lembut mentari pagi tak punya tugas menghangati seisi bumi, tentu saja lebih memilih untuk memberikan kehangatan padanya. Namun, Lucia lebih suka jika ia dicintai oleh dinding kusam berlumutnya. Mungkin karena dinding itu saksi yang tak rewel, mau mendengarkan segenap keluh-kesahnya sejak lama. Bahkan sejak Lucia terkubur paksa di sana tanpa penanda sama sekali! 
        

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Selurus Ruang Tabung


Bangun ruang ini hanya punya dua pintu. Siapapun yang ingin masuk selalu menjejakkan langkah pertamanya di pintu muka. Bertahap mengikuti proses hingga ke ujung pintu keluar.

Itulah dia si-tabung, yang lowong sepanjang ruang dalamnya, yang hanya punya dua pintu. Ia katanya sebuah simbol tentang kejujuran, atau sebuah laku yang setia pada niat awal lurus, yang tak mau berhenti tuntaskan perjalanan hingga ke tujuan, tanpa pengaruh pikiran yang berubah ataupun pendirian yang guyah akibat perhitungan untung-rugi yang begitu cermat dikalkulasi.

Tapi bagi tikus yang nakal, tabung terlalu sederhana. Mungkin karena membatasi dirinya untuk berkreativitas, selamanya bagi tikus itu improvisasi teramat perlu. Sang tikus nakal terlalu dalam teracuni gagasan:

"Jika satu pintu tertutup, masih banyak pintu lain yang terbuka."

Maka, ia cemas kalau-kalau pintu keluar di depan sana tertutup, padahal ia dituntut berubah arah. Tentu saja ini merepotkan baginya dan tidak efektif. Padahal bagi si-Tikus nakal, setiap tercetus niat untuk mencapai tujuan artinya diperlukan kemahiran membuat pintu-pintu alternatif yang lain.

Selurus ruang tabung sungguh kontradiktif bagi tiap laku politis yang mensyaratkan dalil Bismarck: "Politik hanya bisa bertolak dari apa yang mungkin, dan sebab itu ia kiat memainkan apa yang mungkin".

Tentunya siapapun yang ingin menggeluti dunia politik, ia mesti memasuki ruang proses ”seolah-olah selurus ruang tabung” demi suatu penggambaran diri sendiri ”yang jauh dari niat menyimpang.”

Dan demi tujuan itu, ia telah menyiapkan selusin mata bor yang efektif baginya untuk melubangi sepanjang dinding ruang ketika pintu keluar tabung di sana tertutup. Bagi tikus yang nakal, ia tak pernah terbebani bilamana tuntutan skenario panggung politiknya meminta supaya berprilaku ”selurus ruang tabung”. Betapa tidak ia selalu punya ”cara yang mungkin”, atau bahkan amat kreatif ketika terbentur dinding penghalang.

Ruang tabung lowong yang begitu lurus sungguh bukan masalah. Ia kenal dirinya bahwa ia pengebor dinding yang mahir – tentu saja!

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Humor Tak Sengaja


What’s in a name? If the rose blooms in a grave, it still smells fragrant without pointing to its name.

Apalah arti sebuah nama? Jika bunga mawar mekar di tanah makam, ia akan tetap harum tercium tanpa menunjuk pada namanya.

Tapi, malam ini saya melihat sebuah nama begitu punya peran yang tak terduga. Sebuah nama yang sama bisa menunjukkan ke dua orang yang berbeda. Ini gara-gara saya melihat selembar baliho caleg yang terpasang merujuk sebuah nama tertentu - Joni.

Joni yang saya kenal di kampung saya adalah seorang pemuda tanggung, agak badung tapi ramah dan suka tersenyum kepada siapa saja. Memang sambil tersenyum ramah, ia akan susah-payah menciptakan keseimbangan tubuh ketika berjalan. Si-Joni anak Uda Iyet tetangga saya itu suka tersenyum sambil sempoyongan. Lalu, orang-orang kampung saya akan membalas tegur sapa dengan kemurahan senyumannya itu dengan geleng-geleng kepala.

“Joni.. Joni… Dari dulu tak pernah mau berubah,” dengan nada menyesal yang sangat kental, orang-orang yang ditegur Joni membalas. Paling Joni cuma cengengesan. Sambil lalu ia menanggapi, “Itu artinya aku punya hati yang teguh, hehehe…”

Lain cerita dengan Joni yang ada di dalam gambar baliho. Memang kesan ramah tetap nampak juga. Wajahnya bersinar bersih, klimis dengan senyum tipis menggoda. Ada sebuah tulisan yang cukup mencolok mata di bawah namanya: Menuju Perubahan Bersama. Bunyi slogan kampanye politik itu menandai jika ia dipercaya masyarakat di dapilnya, ia akan membuat gebrakan menuju sebuah perubahan. Joni yang ini mau sekali berubah dengan keadaan dirinya yang semula. Tentu saja perubahan yang dipromosikannya itu akan terealisasi bila masyarakat di daerah pemilihannya bersedia mendukung.

Meskipun begitu, nyatanya kedua Joni masih belum berubah karena dua alasan utama yang berbeda. Joni si-badung suka mabok, anaknya tetangga saya itu belum berubah karena keteguhan pendiriannya. Joni yang di dalam gambar baliho sama belum berubah menjadi anggota legislatif karena belum pasti memperoleh dukungan suara. Satu nama Joni dengan dua orang yang berbeda, dengan orientasi hidup yang tak sama pula. Tapi keduanya dirujuk oleh satu nama dengan peran ganda. Aduhai, sebuah nama rupanya bermakna  “ada-ada saja”.  (M.I)

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Cerpen Des Alwi : Mardi


Mardi

Oleh DES ALWI


Malam semakin larut. Angin dingin yang mulai bertiup semakin menekan mataku. Tetesan air hujan dan guncangan gelombang tidak berhasil menahan kantuk yang sudah menderaku sejak tiga jam lalu. Mardi, kapten merangkap ABK, yang duduk di sudut buritan kapal kayu tua, ukuran 3 x 7 meter, tidak bergerak. Matanya terus menatap kapal bagan, menunggu jaringnya diangkat, tanda cumi sudah terkumpul dan siap untuk dijual.

NAMUN tanda itu tidak muncul-muncul. Padahal ini kapal bagan ketiga yang sudah kami tunggu sejak meninggalkan PLTU Ancol tujuh jam lalu. Jika dalam sejam lagi tidak ada cumi, artinya trip mancing alu-alu dengan umpan cumi akan gagal. Istri dan anak-anakku yang selalu menggerutu kalau aku keluar memancing pasti akan meledek habis-habisan, memastikan memancing tidak hanya menghabiskan uang belanja bulanan kami yang memang tidak pernah tersisa, juga waktu.

”Yeaah papa boncoos lagi,” teriak mereka jika aku hanya membawa seperempat cool box ikan. ”Aduuh, mau diapakan ikan sebanyak ini,” sambut istriku jika aku membawa satu cool box dan satu styrofoam ikan dalam jumlah besar dan ukuran monster.

”Cumi makin susah, ikan juga makin jarang,” terdengar Mardi menggerutu pelan membuyarkan lamunanku. Kapten sekaligus pemilik kapal kayu tua yang biasanya irit bicara, mengeluhkan buruknya kualitas air laut Teluk Jakarta penyebab berkurangnya ikan. Menurut dia, ikan seperti manusia memerlukan air bersih untuk bernapas dan berkembang biak. Air laut yang keruh kecoklatan sampai 2 km dari daratan membuat ikan sulit berkembang.

Dulu orang ramai-ramai membuat rumpon dari becak yang ditenggelamkan ke laut agar ikan bisa berkembang biak. ”Sekarang jangankan rumpon, semua orang malah menjadikan laut tempat sampah seluruh Jakarta. Tidak ada lagi yang peduli dengan laut dan kehidupannya,” tandas Mardi.

”Kalau begini terus kita mungkin harus mancing di tengah, bahkan terpaksa harus ke Pabelokan. Dengan kapal kayu tua ini sangat sulit melawan gelombang. Sehari penuh baru bisa sampai ke Pabelokan,” tambahnya.

Pabelokan, tempat persinggahan nelayan seluas 27 hektar di ujung utara deretan kepulauan Seribu, sekarang terkenal sebagai pangkalan offshore dengan beberapa rig yang masih aktif. Bagi pemancing, ini tempat bagus untuk mengasah kemampuan mendapatkan ikan ukuran besar seperti GT (Giant Travelly), tenggiri dan kalau beruntung marlin.

”Kalau mau kita bisa rencanakan trip mancing ke Pabelokan,” aku mengusulkan. Mardi hanya diam. Matanya terus menatap kapal bagan tanpa berkedip. Beberapa kapal terlihat merapat mendekati kapal bagan. Jam sudah menunjukkan pukul 03.30 pagi. Padahal biasanya jam 23.00 kami sudah mendapatkan cumi, umpan yang disukai alu-alu. Jika kapal bagan tidak mengangkat jaring, dalam setengah jam lagi, artinya kami tidak akan mendapatkan umpan.

Begitu fajar menyingsing, gerombolan alu-alu, akan menghilang. Rencana memancing malam dengan cumi yang bersinar di kedalaman dan menarik alu-alu, akan gagal.

Tiba-tiba Mardi berdiri dan meminta uang untuk membeli umpan. Aku menyerahkan uang seratus ribu untuk umpan dan sisanya cumi buat dibawa pulang. ”Kalau bisa dapat untuk umpan saja sudah bagus bos,” ujar Mardi.

Dengan sigap dia meloncat melewati batang-batang bambu yang melintang, melintasi jaring, dan menghilang di kegelapan dini hari. Lima belas menit kemudian dia muncul menyerahkan kembalian 50 ribu. Ia bergegas melepaskan ikatan kapal dengan kapal bagan dan menghidupkan mesin.Kami segera meluncur menuju spot yang diyakini Mardi tempat berkumpulnya alu-alu.

Seperti sudah diduga tangkapan hari itu tidak terlalu banyak. Mardi hanya berhasil menangkap dua alu-alu ukuran setengah kilo, 2 ekor ikan kuwe dan seekor kerapu karang, sedangkanaku menarik seekor alu-alu ukuran satu kilo dan 2 ekor ikan kuwe. Namun Mardi tidak berkomentar ketika aku menyatakan akan membuka trip Pabelokan. Dia juga tidak menanggapi sms-ku yang menginfokan trip Pabelokan sudah dibuka di berbagai milis mancing.

Namun tidak banyak yang menanggapi undangan trip Pabelokanku. Satu menyarankan aku membatalkan trip yang cukup berbahaya untuk kapal tua seperti punya Mardi. Namun ada juga yang mendukung tanpa harus ikut, dengan menjanjikan bantuan umpan, bahan makanan dan solar. Menurut mereka, risiko pakai kapal tua sangat besar karena harus membawa solar dalam jumlah besar. Di samping itu, cuaca di sekitar Pabelokan sulit diprediksi. Hujan dan badai suka datang tiba-tiba.

Tidak heran, sebulan setelah undangan trip Pabelokan diposting, tidak satu pun anglers yang menunjukkan minat ikut. Ketika bertemu Mardi dan menanyakan apakah dia masih berniat memancing ke Pabelokan, Mardi hanya bertanya singkat: ”Kapan? Makin lama cuaca makin berbahaya. Kalau serius harus bulan depan paling telat,” katanya.

Aku memastikan trip Pabelokan bulan depan, dengan atau tanpa ada angler lain. Persiapan terus dilakukan termasuk menyiapkan stok solar yang mencapai 2 ton. Beberapa teman mengumpulkan bahan makanan. Dua hari menjelang keberangkatan semua peralatan sudah dimuat di kapal Mardi.

Tanpa upacara dan di tengah gigitan mentari, kami perlahan meninggalkan dermaga PLTU. Tidak ada lambaian yang terlihat. Istriku yang mengantar telah lama meninggalkan dermaga. Ia langsung pergi begitu barang terakhir dikeluarkan dari bagasi mobil. Angin sore mendorong kapal melaju menerobos gelombang. Deretan pulau-pulau, mulai dari Pulau Bidadari sampai ke Pulau Macan, untuk menuju Pabelokan pelan-pelan menghilang.

Saat gelap pekat mulai menyelimuti Mardi bergumam, ”Untung Jawa.”

Untuk kapal sekelas punya Mardi bisa melewati Untung Jawa yang penuh kerlipan lampu dalam 4 jam sudah sangat lumayan. Perjalanan tinggal melewati empat kelurahan lagi. Kelurahan paling ujung yang masuk dalam Kecamatan Kepulauan Seribu Utara adalah Pulau Harapan. Paling cepat kapal Mardi sampai ke Pabelokan pukul dua siang besok.

”Tidur saja bos,” suara berat Mardi memecah kesunyian dan membuyarkan lamunanku. ”Mumpung cuaca bagus,” tambahnya. Tanpa menjawab aku meluruskan kaki menggunakan ransel sebagai bantal, dan tak lama aku pulas.

Byur, siraman air laut dan empasan gelombang tiba-tiba membangunkan aku dari tidur panjang melelahkan. Sedikit gelagapan aku melihat berkeliling. Mardi terlihat bekerja keras mengendalikan kapal yang diguncang gelombang, Tidak ada kata keluar dari mulutnya. Gelombang setinggi satu setengah meter mengempaskan kapal dengan guncangan yang memporak-porandakan perut dan isi kapal.Aku merangkak memegang dan mempertahankan boks berisi peralatan pancing dan umpan. Hujan dan angin kencang serta petir dan kilat yang sambung menyambung semakin menekan perasaan. Setiap empasan gelombang seakan menelan kapal dan semua harapan ke dasar laut.

Entah berapa lama aku menelungkup, komat-kamit melafazkan doa, memohon keselamatan sampai akhirnya hujan, petir dan kilat mulai mereda.

Mentari pagi menyeruak perlahan. Semilir angin tidak hanya menenteramkan hati juga mendorong untuk melempar pancing. Mardi sudah mulai melempar joran dan wajahnya tidak mengesankan kami baru saja lepas dari terkaman gelombang dan hujan petir. Aku menyiapkan peralatan dan melempar pancing mencoba peruntungan pagi.

Seperti perputaran nasib, pagi itu kami tidak henti-hentinya strike. Berbagai jenis ikan seperti kakap merah, kerapu, ikan kuwe dan bahkan tenggiri masuk cool box. Alam memperlihatkan kemurahannya. Jam 10.00 kami sudah sangat kelelahan. Mardi mereguk kopi dan kami menyantap nasi bungkus yang disiapkan untuk sarapan pagi. ”Kalau cuaca terus seperti ini jam 14.00 kita akan sampai di Pabelokan,” Mardi menjelaskan, sambil bersiap-siap mengangkat jangkar.

Diiring angin kami meluncur menuju Pabelokan. Teriknya mentari seakan menambah kecepatan kapal. Jika cuaca terus bersahabat, setidaknya sebelum gelap kami akan mencapai Pabelokan dan besok siang kami berkesempatan menjajal kemampuan memancing berbagai ikan monster.

Angin dan gelombang kembali membesar ketika kapal melewati Pulau Pelangi. Mardi meminta aku memakai lifevest dan ia menggulung layar.Tetesan hujan mulai membasahi kapal. Awan gelap menutup pemandangan. Empasan gelombang semakin mengguncang kapal. Kilat dan petir sambung-menyambung. Hujan tidak hanya membasahi, juga menggenangi kapal seluas 21 m2 itu. Air laut masuk ketika hantaman gelombang menerjang. Mardi tidak bereaksi ketika aku mulai menimba air. Entah sudah berapa lama aku menimba, tapi volume air semakin membesar. Mardi berteriak agar aku mempererat lifevest dan berpegangan pada cool box.

Tapi suaranya hilang ditelan petir yang menyambar tiang layar yang patah dua. Kapal tiba-tiba terangkat diterjang ombak setinggi lima meter, dan badanku melayang seperti diterbangkan ke udara, terus meluncur ke dalam laut yang serasa menghantam lantai salju. Separuh sadar aku berusaha menggerakkan tangan dan kaki. Tapi pusaran laut menarikku semakin dalam. Namun lifevest yang kukenakan menahan tarikan arus laut.

Tarik-menarik pusaran laut dan lifevest yang mengembang semakin membuat aku kesulitan bernapas. Entah karena dorongan ingin menghirup udara, tiba-tiba seluruh badanku mengentak dan seperti anak panah aku meluncur ke permukaan. Namun hantaman gelombang kembali mengempaskan aku ke dalam pusaran laut yang rasanya membelit kedua kakiku. Kepala dan badanku serasa ditekuk dua, menerima hantaman gelombang, dan tarikan arus bawah laut. Napasku hilang dengan air laut yang memenuhi hidungku. Separuh tidak sadar aku menggerakkan badan dan mencoba meraih apa pun yang bisa menarik ke permukaan. Tapi pusaran arus kembali menarikku ke bawah. Dengan air laut memenuhi hidung, dan tenaga yang sudahhampir habis, aku merasa sudah di batas kehidupan. Dalam perjuangan terakhir mengambil napas, aku menutup mata dan meluruskan badan dengan tangan terus menggapai-gapai apa yang bisa terjangkau.

Upps, tanganku serasa menyentuh sesuatu, dan langsung mencengkeramnya. Setelah berkali-kali menggapai, aku akhirnya berhasil naik ke permukaan, sambil terus berpegangan pada sesuatu, yang ternyata terpal dan masih terikat kukuh pada tiang kapal. Dengan merangkak aku melingkarkan tangan berpegangan pada tiang kapal dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya.

Lapat-lapat aku mendengar suara dan merasa ada yang memegang tanganku. Dengan mata masih tertutup aku mencengkeram erat tangan yang seolah-olah menarikku ke permukaan. Separuh sadar aku berteriak ”Mardi, Mardi.” Dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku tidak tahu entah sudah berapa lama ketiduran, dan ketika membuka mata aku melihat istriku yang tersenyum lebar dan dokter yang memegang nadiku sambil berkata, ”Tidak ada yang serius hanya perlu istirahat akibat dehidrasi.”

Istriku langsung memelukku dan menangis sesegukan. Tidak ada kata yang keluar. Aku juga sangat lemas untuk memulai percakapan. Kami hanya berpandangan, sampai dokter datang dan menyatakan aku boleh pulang. Menurut istriku, aku ditemukan terapung di tiang kapal diselamatkan oleh sebuah kapal pancing dan langsung dibawa ke rumah sakit. Tidak ada penjelasan mengenai Mardi dan lainnya karena kapal langsung ke darat karena cuaca masih buruk.

Sesampai di rumah, sudah banyak orang menunggu, termasuk Ketua RT yang langsung memperkenalkan seorang ibu dengan dua anak sebagai istri Mardi. Si ibu bernama Nia langsung menangis dan meminta penjelasan apa yang terjadi dan mengapa suaminya tidak diketemukan. Aku tidak menjawab. Mulut dan pikiranku penuh dengan berbagai rasa. Tapi tidak ada kata yang keluar. Istriku langsung menggandeng Nia dan membawa kedua anaknya ke dalam.

Di dalam, tangis Nia meledak, ”Mardi satu-satunya tulang punggung kehidupan kami,” isaknya tertahan. Istriku memeluk Nia dan menjanjikan akan menanggung biaya sekolah anak-anak Mardi serta mencarikan pekerjaan untuk dia.

Rumah kami kembali sepi, setelah Nia pergi diantar istriku, dan tetangga serta Ketua RT pulang. Perlahan aku membuka jaket mancing dan meraba saku dalamnya. Ternyata hp-ku yang terbungkus plastik masih utuh. Ketika dihidupkan, berderet sms berisi pesan dan pertanyaan apakah aku dan Mardi selamat dari badai yang menghantam Pabelokan.

Tiba-tiba masuk sms dari Mardi: ”Terima kasih bos.” Terperanjat, aku langsung menelepon, tapi tidak ada jawaban, hanya bunyi ”tut tut tut” dan hilang. Sms ku juga tidak ditanggapi. Suasana hening rumahku terasa mencekam. Untung tidak lama kemudian istriku datang. Ketika kuceritakan ada sms dari Mardi wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan. Aku segera membuka hp dan mencari sms Mardi. Tapi sms-nya hilang. Istriku meminta aku segera istirahat dan bergumam, ”Halusinasi sering terjadi kalau mengalami dehidrasi.”

Entah karena masih terkena efek dehidrasi, kepalaku terasa berputar. Kosong. Tapi tidak lama hp-ku terdengar berdering dan Mardi dengan suara beratnya menyatakan ia selamat dan sekarang bekerja jadi petugas kontrol pembangkit listrik perusahaan minyak yang beroperasi di Pabelokan. Ia menyatakan tidak akan pulang dan meminta aku menjaga Nia dan kedua anaknya, ”tolong jaga keluarga ane bos,” pintanya. Aku hanya tersenyum mengiyakan.

Tiba-tiba istriku masuk dan menanyakan aku tersenyum-senyum dan bicara dengan siapa. Ketika aku menyatakan baru saja bicara dengan Mardi ditelepon, istriku menyerahkan hp-ku, sambil berkata: ”hpnya tadi ketinggalan di ruangan tamu,” dan ”sekarang istirahat saja,” tambahnya.

Aku tidak menjawab. Kepalaku terasa berputar dan keheningan rumahku terasa semakin mencekam.


Sumber : Kompas, Minggu 28 Februari 2016

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Stigmatisasi dan Citra Diri




Citra diri (self-image) lebih erat berkaitan dengan cara pandang seseorang. Citra diri yang positif tentu saja meningkatkan rasa percaya diri, potensi diri pun akhirnya bisa dikembangkan secara maksimal. Bahkan orang lebih menghargai dirinya dan berupaya meningkatkan keterampilan apapun yang dapat mendongkrak nilai kepribadiannya (baca: harga diri).Dalam upaya ini, cara pandang realistis dengan dorongan sikap positif terhadap penilaian diri sendiri dan dunia luar (lingkungan tempat berinteraksi) dapat membantu seseorang secara efektif.

Salah satu faktor cukup penting menentukan sikap individual seseorang dalam memandang rendah dirinya sendiri adalah  kesalahan masa lalu yang membekas. Biasanya orang dengan masa lalu kelam menjadi “hakim yang paling galak” terhadap dirinya sendiri. Ia percaya kesalahannya yang lampau memberikan akibat sepadan dengan apa yang dialaminya saat sekarang, seolah-olah “derita masa kini adalah pahala dari perbuatannya yang lalu”. Citra diri yang diciptakannya tentu saja begitu buruk. Alhasil, orang lain pun mengikuti cara pandang rendah terhadap dirinya itu dengan sedikit penyesuaian yang perlu.

Ambillah sebagai contoh, si – A harus menggembleng dirinya dengan mengikuti pendidikan hampir 5 tahun yang berkesan di sebuah lembaga pemasyarakatan karena kasus narkoba. Begitu masa hukumannya berakhir, ia pun keluar dari lembaga pendidikan bergengsi tersebut dengan segenap kesan dan penghayatan mendalam akan kesalahan yang diperbuatnya dulu. Ia melakukan sebuah upaya penyerapan diri (bahwa dirinya adalah seorang yang pernah dipenjara). Ada stigmatisasi diri yang diciptakan. Sebuah pelabelan yang melihat kualitas dirinya sebagai “barang rusak” yang tak layak guna. Akibatnya, ia minder ketika berinteraksi dengan lingkungan sosialnya terdekat. Ia mengalami krisis rasa percaya diri yang membuatnya takut terhadap tanggapan negatif orang lain tentang dirinya sebagai “mantan orang hukuman”. Citra diri rendah menghantui sikap dan perbuatannya. Ditambah pula dengan pandangan orang-orang terdekat yang cenderung meremehkan kian membuat dirinya menarik diri.

Di lain kasus, misalnya si – B yang memiliki pengalaman berumah-tangga cukup menakjubkan. Perceraiannya dengan suaminya dulu sungguh disebabkan oleh godaan petualangan cinta, yang membuatnya nekat menjalin “asmara remang-remang” dengan lelaki idaman lain. Bahtera rumah-tangganya pun akhirnya tak bisa diselamatkan. Ia berpisah dengan sang suami, membulatkan tekad tak mau melibatkan diri dengan ikatan perkawinan yang dipandangnya cukup membelenggu kebebasan itu. Pengalaman traumatisnya memberikan sebuah saran teramat bijak. Saking bijaksananya saran tersebut, ia kini menjalani kehidupan bebas yang membuatnya tak bisa mengontrol diri sendiri. Berpindah dari satu pelukan lelaki ke pelukan lelaki lainnya lagi. Stigmatisasi yang diciptakannya sendiri adalah dirinya seorang yang nista berkepribadian rusak, lalu dibuktikannya dengan sikap dan perbuatan buruk pula. Orang lain pun akhirnya melihat dirinya itu dengan cara yang sama.

Masa lalu kelam menyebabkan seorang individu melakukan penyerapan diri. Ada bisikan-bisikan yang menghasut dirinya bahwa ia tak bisa lepas dari berbuat salah. Sikap menghormati diri sendiri pun akhirnya berkurang bahkan cenderung menghakimi dengan vonis citra diri negatif. Sungguh ironis, bukan?

Padahal seburuk apapun perbuatan seseorang tetap saja tersisa hal yang baik di dalam dirinya. Sikap dan perbuatan buruk dilakukan memang membuat orang bercitra diri negatif dan rendah. Sekalipun demikian, jika orang tersebut mau memaafkan dirinya sendiri, tindakan buruk di masa lalu tak perlu menjajah alam jiwanya. Lantas mengapa harus menjadi seorang pendendam terhadap diri sendiri? Bagaimana cara mengatasi kenangan traumatis yang menjajah seorang individu sehingga membuatnya berprilaku buruk dan mengakibatkan rendahnya citra diri? Mari simak sejumlah tips yang mungkin dapat membantu.




Hilangkan Stigmatisasi Negatif
Stigmatisasi negatif karena masa lalu kelam terhadap diri sendiri dalam wujud suara dari dalam (self-internal voice) cenderung membisiki seorang individu agar berpikir negatif. Ia cenderung sulit merubah cara pandangnya terhadap diri sendiri jika masih mendengarkan pelabelan diri teramat buruk tersebut. Jalan termudah untuk terhindar dari hasutan ini adalah dengan mengabaikannya. Selanjutnya, tanamkan dalam benak dan diri pikiran positif tapi realistis:

”Hidup saya amat berharga untuk disia-siakan. Ya, saya pernah berbuat salah. Tapi, itu bukan berarti saya harus hidup dalam beban berat kesalahan masa lalu. Saya harus bangkit dan merubah diri saya menjadi lebih baik saat ini.”

Menghilangkan stigmatisasi negatif merupakan cara membangunkan kesadaran diri, memutus ingatan buruk (pengalaman traumatis berbuat salah di masa lalu) agar bisa berpikir positif. Pengabaian hasutan dari dalam bermaksud untuk memulai perubahan cara pandang untuk memberikan konsep diri yang lebih positif. Hal ini membantu seorang individu ketika mengatasi hambatan internal agar dapat melakukan yang terbaik bagi dirinya dan menanggapi keadaan di sekitar (termasuk keusilan ucapan orang-orang yang membuat diri minder) dengan lebih bijak. Memberi keyakinan pada diri sendiri bahwa ia bagai ”mutiara yang akan tetap berkilau sekalipun pernah mendekam di lumpur hitam.”


Hindari Dramatisasi yang Tak Perlu
Melebih-lebihkan hal negatif yang ada pada diri sendiri karena kesalahan yang lampau sangat tidak perlu, misalnya dengan menciptakan suara dari dalam begini:

”Saya telah membuat kesalahan itu. Akibatnya sekarang saya jadi seperti ini. Saya tak akan pernah bisa memperbaiki diri sendiri. Diri saya adalah masa lalu saya yang hitam.”

Jangan melakukan pembesaran kadar kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya. Manusia sungguh tak pernah bisa lepas dari kekhilafan. Namun, sungguh ketidak-sempurnaan diri yang menyebabkan berbuat salah adalah wajar saja. Tentunya tak perlu didramatisir setiap saat.


Hentikan Pikiran Negatif Sejak Awal

Baik sekali menghentikan berpikir negatif dari sejak semula pikiran itu muncul. Umpamanya hal ini seperti membentak seseorang ketika akan memberikan penghinaan. Katakan pada suara internal yang mengajak untuk berpikir negatif itu dengan gertakan begini:

”Hentikan!” Tak bisakah mengatakan hal yang baik-baik saja?”

Suara dari dalam yang bernada negatif itu sungguh mampu menstimulir berpikir negatif jika tidak dicegah dari awal. Selanjutnya, perbuatan salah di masa lalu akan lebih mudah dihayati dengan kegetiran yang melekat sepanjang hayat dikandung badan.


Jangan Mengintimidasi Diri Sendiri

Ada ungkapan yang mengatakan: ”Orang yang berniat bunuh diri selalu menemukan cara menuju tiang gantungan.”

Kesalahan masa lalu yang belum bisa dilupakan terus membayangi diri seorang individu. Seperti si-A yang tak henti-hentinya mengintimidasi diri, suara dari dalam diri terdengar seperti bentuk sesal berkepanjangan :

”Kalau dulu saya tidak melakukannya, pasti saat ini saya akan ...” atau ”Dulu saya seharusnya tidak begitu. Inilah akibatnya!”

Bentuk kritik destruktif kepada diri sendiri yang menyesal berkepanjangan sungguh menyita energi positif untuk memulai perubahan diri. Meskipun melihat kesalahan masa lalu juga penting untuk bahan introspeksi, tapi melakukan intimidasi pada diri sendiri dalam sebentuk perasaan bersalah yang menekan adalah benar-benar tak wajar. Hindari sikap menyesal yang tak perlu itu. Terima keadaan diri yang ada, dan tetap berupaya membuat perbaikan dengan dorongan pikiran positif. Sebab, mengintimidasi diri dalam bentuk sesal berkelanjutan sesungguhnya bentuk lain dari menghukum diri setelah fakta menyakitkan diterima. Ada baiknya si-A melihat masa lalunya dengan selera humor yang cukup menyegarkan sebagai pengalihan, misalnya:

”Sampai saat ini saya heran sekali. Mengapa majelis hakim hanya bisa menjatuhkan vonis untuk pelanggaran hukum yang saya lakukan? Mengapa mereka tak mau menemani saya selama dipenjara? Padahal, kan, itu ide mereka menjebloskan saya ke penjara selama hampir 5 tahun. Mestinya mereka juga tinggal bersama saya. Berbagi kesenangan seperti bermain ular tangga seharian atau petak-umpet.”


Mengganti Kritik dengan Dorongan

Mengomeli diri sendiri dengan mencurahkan perhatian pada hal yang negatif (dilakukan di masa lalu) sangat tidak bermanfaat. Kritik pada kesalahan yang penah diperbuat boleh diberikan tapi yang bersifat konstruktif dengan tanpa rasa sesal yang menekan, si-A, misalnya, bisa mengkritik diri sendiri dengan berkata:

”Tak sia-sia saya menghabiskan waktu di penjara selama hampir lima tahun. Lihatlah saya kini bisa berkarya dengan kualitas yang tak kalah dengan karya orang lain dalam bidang yang sama. Saya harus lebih giat lagi supaya karya saya bisa semakin berkualitas tinggi.”

Dorongan penuh semangat hidup dari dalam diri biasanya lebih cepat membuat seseorang lepas dari sesal masa lalu. Ia bisa melakukan perbaikan diri ke arah yang lebih baik lagi. Karena, kesalahan itu mencerahkan dan orang biasanya jadi jeli memetik hikmah.


Kenali Aset Kepribadian yang Dimiliki

Hal-hal yang baik dalam kepribadian seseorang sungguh merupakan asetnya yang paling berharga. Bentuknya bisa sebagai watak yang khas melekat pada diri seperti :
Kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang baru.
Kemampuan tinggi untuk mengeksplorasi sesuatu yang menarik karena berjiwa petualang.
Kemampuan mencurahkan kasih-sayang sehingga memiliki sifat penyayang.
Pantang menyerah dalam mencapai tujuan yang membuat diri ambisius.
Peka terhadap keindahan artistik sehingga menjadikan diri sebagai seorang berjiwa seni.
Memiliki banyak ketrampilan praktis sehingga membuat diri sebagai orang yang cakap.
Bisa memusatkan perhatian penuh pada apa yang dikerjakan sehingga menjadikan dirinya seorang yang fokus.
Dan banyak lagi lainnya.

Ketika seseorang bisa menemukan hal-hal baik yang sebenarnya telah ia miliki sejak lama, ia bisa memanfaatkannya untuk mengidentifikasi dirinya kembali dengan cara pandang yang positif dalam rangka upaya memperbaiki diri. Hal-hal yang baik membantu membangun rasa percaya diri sehingga dapat digunakan untuk mem-format ulang pola pikir ke arah yang produktif ketimbang memberikan label diri negatif karena kenangan buruk di masa lalu. Menanamkan ke dalam pikiran sebentuk pandangan ke depan bisa dimulai, dalam kasus si-A, ia bisa mengatakan pada diri sendiri:

”Saya orang yang mudah beradaptasi. Saat ini saya baru keluar dari penjara karena kenakalan saya di masa lalu. Tapi, mengingat keadaan di luar sini udara begitu segar dihirup, saya pasti bisa berpikir kreatif untuk memperbaiki diri. Puji syukur kepada Tuhan!”

Tentu masih banyak lagi tips-tips yang berguna untuk membangkit diri individu dalam upaya menciptakan citra diri positifnya setelah melewati trauma kesalahan masa lalu. Meskipun demikian, yang paling utama adalah menghormati diri sendiri, tidak memberikan stigmatisasi buruk terhadap diri walaupun pernah berbuat kesalahan sebelumnya, dan meredam suara dalam diri bernada negatif yang mengarah pada penilaian rendah terhadap diri sendiri tetap bisa menjadi panduan yang baik. (M.I)

(*) Ilustrasi gambar sepasang kaki saya berasal dari dokumen pribadi

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Subyektivitas Total Puisi : Kelebat Diri Penyair


Kepada Ayahanda

:

Kau abadi jadi puisi;
sebab mati itu tubuh,
bukan ruh!

Jikalau tanah telah rengkuh kau
biarlah jasad diurai musnah,
tapi puisi sua kau dan aku jua.

Apalagi yang bisa beri
anggur rindu selain itu?
Hanya puisi saja penyatu – kita tahu

Rakus jiwa cecap manis tetes anggur.
Lalu lena  engkau dan aku lebur
: mabuk dalam satu ruh.


Puisi. Satu kata yang merujuk pada jenre penulisan dalam seni sastra sekaligus mewakili aparatus ekspresi estetik yang mengungkapkan subyektivitas penyairnya.

Adalah puisi yang tampak begitu mengerti riak tertahan dalam diri. Segala sambur limbur perasaan, suasana hati dan pikiran yang mulanya tersumbat; tiba-tiba mendapat penyaluran keluar yang semestinya.

Seorang penyair tak pelak lagi mendaya-gunakan saluran ini sebagai tanggapannya terhadap tiap pengalaman pribadi dalam bergaul akrab dengan alam-di-luar-diri. Seketika tampak kelebatan bayangan diri penyair, tampil menyuarakan alam-dalam-diri. Di sini bisa dikatakan puisi adalah subyetivitas total kedirian penyair. Ia bercerita tentang dirinya sendiri – aku-lirik yang berpendapat.

Pendapat si aku-lirik itu merupakan terjemahan hal-hal yang empiris yang merasuk ke dalam alam kehidupan batin penyair. Adakalanya si aku-lirik tersedu-sedan. Ia mengharu-biru karena gejolak atas peristiwa mengiris-iris kalbu. Namun tak jarang si aku-lirik berseru lantang; ia marah dan tampak garang. Mungkin hal ini disebabkan penolakannya terhadap realitas yang bertentangan dengan idealismenya. Protesnya keras bersuara seperti yang diserukan penyair Chairil Anwar:

Aku hendak berbicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! Tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi


Lain waktu lagi si aku-lirik dirundung kelam badai. Ia lelah. Langkahnya melemah padahal jalan yang ditujunya masih merentang teramat jauh. Bahkan ia lihat tak berujung-pangkal. Galau pun kian membuat risau. Tanya mendesak jawaban. Menyeruak dalam rasa penasaran teramat kuat, dada berdebar dalam harap cemas:


Dimanakah Ujung Itu Kawan
Karya Jansori Andesta
-

dimanakah ujung itu kawan
setiap tahun dijalani
sekali belum menampakkan kemungkinan
-

dimanakah ujung itu kawan
musim-musim lajang
diwarnai dengan kejalangan
-

dimanakah ujung itu kawan
telah terlalu jauh pangkal
perlahan tertatih sedikit berlari aku tinggalkan
-
dimanakah ujung itu kawan
di setiap gurat jejak
sepenuh harap mendapat jawaban
-

Cermati lesat kedirian penyair yang melalui juru bicaranya si aku-lirik. Dalam Dimanakah Ujung Itu Kawan buah karya dari tangan dingin penyair Jansori Andesta, aku-lirik mengutarakan soal eksistensi diri yang sedang dipertahankan. Ia berenang melawan pusar galau akibat ketidak-pastian tujuan yang sedang ditempuh. Kemana arahnya? Sedang penyair tahu jika tiada berjumpa apa yang sedang ditujunya, segalanya berubah liar tak terkendali // musim-musim lajang/ //diwarnai kejalangan/. Sementara itu waktu tak bisa ditahan. Terlalu terburu-buru masa yang dilewati berlari. Namun, jangankan kepastian, dugaan yang mungkin dapat memberi gambaran hidup yang didambakan terlalu kabur dilihat mata //setiap tahun dijalani/ //sekali belum menampakkan kemungkinan/. Sekalipun telah melemah akibat begitu terkuras energi yang dicurahkan demi pencarian itu, masih juga dipaksakan langkah kaki menelusuri // telah terlalu jauh pangkal/ // perlahan tertatih sedikit berlari aku tinggalkan//. Akankah penyair berpasrah diri? O, tunggu dulu.. Jawabannya adalah tidak sama sekali! Percik asa perlahan mulai menyala. Biarpun masih amat jauh jalan impiannya mau ditempuh; harapan adalah tenaganya yang baru, menguatkan diri tetap mencari //dimanakah ujung itu kawan/ //di setiap gurat jejak/ //sepenuh harap mendapat jawaban/.


Subyektivitas Penyair dalam Situasi Bahasa Puisi yang Bersifat Monolog


Kembali kepada pembicaraan kita semula. Bagaimana penyair menciptakan ”penampakan” dirinya di dalam puisi? Apa gerangan tujuan dari menunjukkan subyektivitas dirinya itu?

Kita akan mencari jawaban atas masing-masing pertanyaan tersebut. Namun, ada baiknya mencemati kembali unsur-unsur penting yang mengkonstruksikan sebuah karya puisi – salah-satunya situasi bahasa yang bersifat monolog.

Puisi dipandang selalu menggunakan situasi bahasa monolog karena si juru bicara (subjek lirik atau biasanya disebut aku-lirik) bercerita tentang dirinya sendiri. Memang kisah yang dituturkannya itu memiliki tujuan penyampaian pesan komunikatif. Aku-lirik membantu penyair mengkomunikasikan pengungkapan gejolak dunia-dalam-diri kepada khalayak pembaca; yang ia asumsikan sebagai pendengar aktif keluh-kesah dan pendapatnya yang tipikal bersumber dari pengamatan subjektif. Dalam Dimanakah Ujung Itu Kawan Jansori Andesta (JA), penyair mendelegasikan aku-lirik agar menyapa pembaca, dan mengajaknya berbicara secara akrab (penggunaan kata ”kawan” lazim digunakan untuk menyapa). Setelah pembaca merasa ada yang mengajaknya ”mengobrol”, JA dalam puisinya mencoba untuk memberikan kepercayaan kepada pembaca sebagai ”sahabat karib” yang sudi mendengarkan segala kerisauan hatinya. Di sini terjadi ”modus transaksi perubahan peran” sedang ditawarkan kepada pembaca puisinya, yakni pembaca yang awalnya hanya penikmat karya puisi telah dinobatkan sebagai ”kawan akrab” yang bisa dipercaya. Lagi kata ”kawan” dipakai penyair sebagai penanda cara mengakrabkan diri dengan pembacanya. Seketika jarak komunikasi antara penyair dan pembaca menjadi dekat. Sekalipun puisi berkisah keresahan jiwa dalam diri aku-lirik (ber-monolog); tetapi dengan modus perubahan peran pembaca yang diberikan penyair, pembaca diajak ”berempati” karena kemuraman yang tengah merundung aku-lirik bisa jadi pernah dirasakan pembaca sebagai manusia biasa. JA berhasil mencairkan kebekuan suasana saat pesan komunikasi simbolik dalam puisinya sedang disampaikan kepada pembaca. Ia menjadikan pokok pikiran utama (secara tematik puisinya mengutarakan kebimbangan manusia akibat impian kehidupan ideal belum diraih) pantas dibicarakan bersama pembaca tanpa rasa sungkan. Sebagai subyek diri yang berpikir dan berperasaan, JA ”curhat” dengan pembaca melalui ungkapan kegalauan si aku-lirik. Ia melihat pembaca sebagai kawannya sendiri. Ia tak mencurigai pembaca sebagai ”Sosok-Yang-Lain”. Ia langsung menumpahkan kerisauan hatinya. Bahkan, penyair melalui aku-lirik jujur sekali mengakui bahwa ia butuh ”tangan yang diulurkan” mau membantunya. Pembaca yang sudah dianggap sebagai sahabat karibnya itu dipandang sebagai sandaran saat rundung kemuraman arah tujuan hidup menerpa diri. Ia seolah-olah berkata:

”Kawan, aku butuh kau.. Bimbinglah diriku lalui kegalauan ini. Akankah kau tega membiarkanku sendirian? Liar tak terkendali karena muramnya kebimbangan hatiku sudah meredupkan akal-budi..”

Hal ini secara eksplisit dan implisit tampak dalam bait kedua puisinya:
//Kemana ujung itu kawan/
//musim-musim lajang/
//diwarnai kejalangan/
Kata ”lajang” berasosiasi dengan rujukan makna ”sendiri belum ada teman”. Frasa ”musim-musim” yang merupakan gaya repetisi dari frasa ”setiap tahun dijalani”, juga menunjuk pada konotasi ”masa yang silih berganti atau waktu yang begitu lama dilalui”. Frasa kata kerja pasif ”diwarnai kejalangan” merujuk pada suasana ”kecenderungan bertindak tanpa kendali diri”, mengingat lema kata ”kejalangan” adalah ”jalang” yang secara semantik bersinonim dengan ”liar”. Gaya ungkap repetisi lagi dipakai JA sebagai menjembatani pengertian tema utama kegalauan. Namun, kali ini lebih ditekankan pada hubungan sebab-akibat antara baris ketiga bait pertama dengan baris ketiga bait kedua.

Sebab aku lirik merasa pencariannya  //sekali belum menampakkan kemungkinan/  mengakibatkan tindakannya mungkin //diwarnai kejalangan/, sehingga jika kita menuliskannya dalam parafrasa akan menjadi:

”Apa yang kucari sekali pun belum menampakkan kemungkinan. Aku tak bisa menghindari tindakanku diwarnai kejalangan akhirnya.”

Oleh karena itu, kawan (pembaca puisi ini).. aku-lirik membutuhkanmu bersedia mendengarkan keluh-kesah yang begitu membuncah. Mari kita simak bait-bait ber-monolog menyapa selanjutnya.
//dimanakah ujung itu kawan/
//telah terlalu jauh pangkal/
//perlahan tertatih sedikit berlari aku tinggalkan/
Karena mengasumsikan pembaca puisinya sudah begitu akrab, JA melanjutkan kerisauannya yang butuh sahabat pendengar setia. Aku-lirik kali ini bercerita bahwa pencarian kehidupan ideal dambaannya itu telah lama dilakukan. Hingga jika diukur rentang jaraknya sedari awal, perjalanan sudah jauh ditempuh //dimanakah ujung itu kawan/ //telah terlalu jauh pangkal/. Keadaannya tampak letih sekali namun masih memaksakan diri mencari karena tak mungkin kembali ke awal  //perlahan tertatih sedikit berlari aku tinggalkan/.

Aku-lirik lalu merenung dalam pada baris pertama dan kedua bait terakhir. Ia memasati pengembaraannya //dimanakah ujung itu kawan/ //di setiap gurat jejak/. Mendapat petunjuk yang mencerahkan bahwa tak perlu berputus-asa dalam kebimbangan pencariannya, harapan menguatkan dirinya lagi bahwa ia kelak menemukan. Aku-lirik pun berujar //sepenuh harap mendapat jawaban/.


Transformasi Diri Penyair ke dalam Aku-Lirik Puisi

Sebagai juru bicara dalam puisi yang dipercaya penyair, aku-lirik yang bermonolog mengekspresikan segenap emosi, ide dan pendapat subyektif penyair itu sendiri. Tiap diksi yang diberdayakan menampung hal-hal yang ingin penyair kemukakan langsung ke hadapan sidang pembaca. Maka, di sini jelaslah penyair menjadikan karya puisinya sebagai wujud lain diri pribadinya sendiri, yang menanggapi berbagai fenomena masuk sebagai ungkapan pengalaman personal. Puisi yang berhasil sungguh tak melulu mengangkat tema-tema berat, dengan diksi yang hebat. Puisi yang berhasil adalah puisi yang mewakili seluruh kedirian penyair yang berkelebat dalam asosiasi yang ditimbulkan, rundung suasana yang melingkupi, citra yang diperlihatkan, respon subyektif dalam ekspresi emosional khusus terhadap hal-hal empiris dialami penyair. (M.I)
 

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Tips Menulis Keterangan Foto


Keterangan foto (caption) merupakan jenis komunikasi visual sekaligus verbal sehubungan dengan pelaporan peristiwa aktual dalam jurnalistik. Caption, karenanya sering digunakan untuk melengkapi berita dari sisi pengungkapan fakta yang belum nampak (sebagai latar belakang peristiwa) yang mau dilaporkan. Pembaca sebuah laporan jurnalistik akan lebih mudah memahami sudut bidik pemberitaan (angle) berkat penambahan keterangan di bawah foto jurnalistik. Selain itu, segi aktual sebuah reportase juga menjadi lebih kuat karena didukung komunikasi citra visual foto jurnalistik yang lengkap dengan keterangannya.

Agar lebih jelas lagi soal peran penting caption ini, mari kita cermati foto jurnalistik dari koran Kompas di bawah ini.


Foto jurnalistik yang dipajang koran Kompas, Jum’at, 7 Februari 2014 pada halaman mukanya ini diberi judul:  Jalan Pantura Rusak Parah. Melalui judul foto, kita diinformasikan tentang kondisi terkini jalan Pantura yang sudah tak layak dilintasi kendaraan karena rusak parah. Gambar dalam foto memperlihatkan bagaimana kendaraan angkutan umum bus, beberapa truk barang merayap ketika melintasi jalan. Apa dampaknya? Keterangan foto (caption) di bawah menjelaskan akibat yang ditimbulkan keadaan ini: arus lalu-lintas di jalur utama logistik Pulau Jawa tersendat dan rawan kecelakaan.

Bayangkan jika tidak ada caption. Tentu saja pembaca tidak tahu dimana peristiwa ketika sejumlah kendaraan yang terpaksa berjalan pelan karena jalannya yang dilintasi rusak parah. Tanpa keterangan foto pembaca masih samar akibat yang ditimbulkan kejadian ini; yakni distribusi logistik untuk Pulau Jawa tersendat dan kendaraan yang melintas rawan mengalami kecelakaan. Namun, berkat keterangan foto yang diberikan, pembaca mudah memahami latar belakang peristiwa aktual yang mau direportasekan, dan dituntun untuk mengetahui lebih jauh lagi sejalan dengan angle (sudut bidik pemberitaan – dampak ekonomi akibat kerusakan parah Jalan Pantura) yang telah ditetapkan. Pembaca pun akhirnya lanjut menyimak ulasan yang dipaparkan dalam berita.

Setelah mengetahui peran penting sebuah keterangan foto, tentu saja baik mempelajari bagaimana cara penulisannya. Beberapa tips menulis caption di bawah ini semoga bisa berguna.

KISS (Keep It Short and Simple)

Keterangan foto sebaiknya tetap ditulis singkat dan sederhana. Penulisan caption agak mirip dengan menulis pengantar berita (lead). Langsung dan menarik perhatian pembaca dengan kalimat yang tidak bertele-tele sangat bagus untuk sebuah keterangan foto berita sebagaimana yang dicontohkan Kompas.

Kalimat yang singkat padat dan jelas lebih cepat memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai peristiwa yang ada dalam foto jurnaslitik. Artinya, hal-hal yang terang tampak (faktual) pada gambar (objek utama foto) dikemukakan langsung. Jangan memberi penambahan yang tak perlu semisal kalimat yang memuat unsur penilaian pribadi atas kondisi yang terjadi karena itu bukan pada tempatnya. Jika ini dilakukan, bukan saja mengaburkan fakta yang mau disampaikan oleh citra visual tapi juga terkesan seperti upaya menonjolkan diri pengambil foto.


Kalimat Aktif Lebih ”Greget

Karena caption ingin mengkomunikasikan sebuah peristiwa aktual secara verbal dan visual, susunan kalimat aktif lebih mampu menuntun pembaca masuk ke dalam suasana dramatis yang ada dalam foto jurnalistik. Kalimat aktif menyajikan sebuah gambaran yang hidup (vivid description) sehubungan dengan kandungan peristiwa aktual yang ingin dinarasikan. Kalimat aktif dapat menghindari pemborosan kata dan kesan penyampaian yang berputar-putar. Bandingkan contoh di bawah ini :

”Kendaraan terpaksa berjalan pelan untuk menghindari jalan berlubang di jalur Pantura, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah pada hari Kamis.”  (Kalimat Aktif – langsung dan ekonomis bahasanya)

”Kendaraan terpaksa dijalankan pelan oleh pengendaranya untuk menghindari jalan berlubang di jalur Pantura, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah pada hari Kamis.”  (Kalimat Pasif – boros dan bertele-tele)

Bandingkan lagi contoh lainnya:

”Petak sayuran kangkung air sedang dibenahi oleh seorang warga di aliran Sungai Maram, Kota Jambi, belum lama ini.”  (Kalimat Pasif – boros dan bertele-tele)

”Seorang warga sedang membenahi petak sayuran kangkung air di aliran Sungai Maram, Kota Jambi, belum lama ini.” (Kalimat Aktif - langsung dan ekonomis bahasanya).




Menyertakan Fakta Geografis Penting

Sangat dianjurkan untuk memasukkan fakta geografis penting dalam sebuah keterangan foto. Lokasi pengambilan foto masuk ke dalam wilayah mana dan bagaimana tempat itu difungsikan dalam keterlibatannya dengan citra visual yang tampak adalah dua contoh penting fakta geografis yang mesti disertakan. 

Fakta geografis dalam keterangan foto seperti di jalur Pantura, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah menerangkan kepada pembaca lokasi pengambilan foto jurnalistik berada tepatnya di jalur Pantura, yang masuk wilayah Kendal di Provinsi Jawa Tengah. Tempat itu (jalur Pantura) memiliki fungsi sebagai lintasan kendaraan umum dan juga jalur utama pendistribusian bahan pokok untuk Pulau Jawa.

Fakta geografis contoh kedua, yakni di aliran Sungai Maram, Kota Jambi menjelaskan lokasi foto selain berfungsi sebagai salah satu daerah aliran sungai yang menuju ke Sungai Batanghari, juga telah menjadi lahan pertanian alternatif bagi seorang warga yang tinggal tak jauh dari sana. Wilayahnya masuk ke dalam Kota Jambi.


Memuat Unsur Terpenting Layak Berita 

Dalam sebuah peristiwa aktual, fakta-fakta bisa begitu banyak didapatkan. Namun, hanya fakta yang memuat aspek paling penting untuk diberitakan layak dipilih. Demikian juga ketika kita ingin menyampaikan fakta penting melalui tulisan keterangan foto. Sudut bidik pemberitaan (angle) sangat membantu kita saat mau menulis caption.

Dalam keterangan foto dari Kompas di atas, kita bisa mencermati angle yang digunakan adalah dampak ekonomi dari kerusakan parah jalan di Jalur Pantura. Terhambatnya distribusi logistik untuk Pulau Jawa mengakibatkan kenaikan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi dan transportasi yang menggembung dua kali lipat. Mengapa? Kendaraan pengangkutnya tersendat melintasi jalan di jalur Pantura itu, dan mungkin saja mengalami kecelakaan. Oleh sebab itu, pemilihan unsur layak berita (5W+1H) untuk dimuat dalam caption mesti mempertimbangkan ”kesesuaian dengan sudut bidik pemberitaan” dan apa ”aspek paling penting” sedang dikomunikasikan citra visual sebuah foto jurnalistik. 


Gaya Penulisan yang Tepat

Sangat ironis menulis caption bernada humor untuk gambar foto dramatik tragedi. Misal, citra visual foto menggambarkan peristiwa kecelakaan yang dialami seorang pengendara motor secara tragis. Nyawanya terenggut seketika. Dalam foto, korban terlentang dengan darah masih mengalir dari kepalanya yang robek. Lalu, kita menulis keterangan foto tersebut:

”Karena terinspirasi gaya  orang-orangan sawah, seorang pengendara motor tewas mengenaskan dengan kedua tangannya merentang lurus di  ruas Jalan Mawar, Senin kemarin.”

Dampak caption seperti ini  tentu saja akan melukai perasaan keluarga korban, dan pasti menimbulkan masalah yang lebih besar lagi.

Maka dari itu gaya penulisan yang sesuai untuk sebuah keterangan foto mesti dipertimbangkan dengan cermat. Pilihlah pengungkapan fakta dengan memakai bahasa baku, elegan dan penuh simpati.


Demikian ulasan sederhana yang bisa tulis berkaitan dengan penulisan keterangan foto jurnalistik. Semoga memberi manfaat untuk pembaca sekalian. (M.I)    

 
(*) Gambar dan foto dari:

1. Koran KOMPAS, Jum’at, 7 Februari 2014 – Halaman Muka    

2. Dokumen Pribadi

       

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Cerita yang Terwakili Citra


Sekalipun fisikawan sekaliber Albert Einstein pernah memandang seni fotografi tidak begitu penting, namun fotografi kukuh bertahan dan berkembang sangat pesat sampai saat ini.

Bertahannya seni fotografi dengan para penggemarnya itu disebabkan oleh peran fungsionalnya, yang dengan cara-cara menakjubkan telah memudahkan pengabadian sebuah momen tertangkap frame kamera tersaji lengkap dengan nuansa melatarinya. Akibatnya, sebuah peristiwa tetap bisa dikisahkan kembali dalam bentuk citra visual yang bahkan lebih kuat dari penuturan kata-kata. Karenanya,  selembar gambar foto tak jarang cukup mewakili, memberikan kesaksian langsung yang lebih dahsyat daripada daya ungkap seribu kata bahkan lebih. Foto pun, sebagai produk seni fotografi, akhirnya mendapat gelar terpuji – ilustrasi jujur, kabar berita yang disaksikan langsung.

Saya yakin jika Einstein masih hidup dan melihat peran penting fotografi yang ada kini; fisikawan itu pasti berubah pikiran dan mencabut ucapannya. Sebab, sungguh terlalu dini menyimpulkan bahwa pemotret adalah monyet yang mengagumi kilatan cahaya. Ilmuwan eksentrik itu, aduhai, nakal sekali (hehehe..).

Saya atau juga Anda (segerombol monyet yang terpukau lampu blitz, eh salah..) menikmati kegiatan memotret karena melihatnya sebagai kegiatan kreatif yang peka lingkungan sekitar. Dengan memotret peristiwa keseharian dimana kita berinteraksi, sebenarnya adalah sebuah upaya menyalakan sensitivitas, berempati, menunjukkan kepedulian terhadap sesama, yang melalui berbagai foto dihasilkan bermaksud mengabarkan kembali fakta-fakta yang ada kepada khalayak. Siapa tahu foto-foto tersebut dapat menggugah kesadaran publik, membuka mata dan menggerakkan secara spontan dalam membantu sesama.

Berkenaan dengan seni fotografi, sungguh tidak ada pembatasan soal apa jenis persitiwa yang layak diabadikan dalam gambar foto. Fotografi tidak melarang untuk memotret peristiwa keseharian dengan segenap banalitas yang dikandungnya. Fotografi bukanlah kegiatan berkesenian yang menuntut penggemarnya hanya mengabadikan momen-momen indah nan sedap saja. Itu berarti jika Anda tak menemukan beberapa butir embun di dedaunan dengan kilaunya yang sedang menggoda cahaya mentari pagi, sebaliknya Anda mencermati betapa kompak butir-butir embun itu telah mentransformasi diri menjadi banjir; maka itulah momen kesedapan yang tersedia untuk Anda rekam dan kabarkan kembali.

Fotografi adalah sebuah cara berpendapat dengan sudut pandang tertentu. Tentu saja ada orang yang suka memotret sesuatu yang membuat nyaman perasaan. Dalam frame fotonya ia merekam peristiwa-peristiwa indah, berkesan dan tak ingin dilupakan. Peristiwa yang dipotretnya itu didudukkan di tempat yang istimewa, diberikan tempat khusus di ruang kalbu. Tetapi, ada juga yang gemar memotret drama kehidupan yang memiriskan, menyajikan sebuah kontradiksi tajam antara yang ideal dengan yang apa adanya, lugas tanpa menghindari segala banalitas yang terkandung. Baik pemotret yang suka merekam peristiwa indah yang menentramkan, maupun dia yang gemar menjepret momen banal yang menyesakkan dada; keduanya adalah pekerja seni fotografi yang paham bahwa dalam tiap peristiwa terkandung pelajaran yang mengayakan jiwa. Dengan niat tulus ingin memberikan kandungan hikmah dalam tiap peristiwa keseharian, perkenankan saya memperlihatkan kepada Anda semua beberapa foto yang saya potret berikut ini:

Banjir Itu Tolong-menolong


Ilham (6) bermaksud menuntun teman bermainnya, Leo (4,5), cara meniti jembatan darurat menuju rumahnya. Banjir yang bertandang pada medio Januari lalu telah sukses menggenangi pemukiman padat penduduk di Kota Jambi, termasuk di wilayah RT. 10, Kelurahan Beringin Pasar Jambi ini.


Banjir Itu Petualangan Kreatif


Seorang anak lelaki dari warga yang tinggal tak jauh dari jembatan Makalam, meniti dan bertengger di atas sebatang pohon rebah demi mencari posisi yang tepat untuk memancing ikan. Luapan air banjir tak hanya membawa berbagai jenis sampah mengapungnya, tetapi juga mengikut-sertakan ikan-ikan sungai yang gampang dikail dengan joran seadanya.


Banjir Itu Bercengkerama dengan Alam


Bagi Hen (30-an) banjir adalah cara menyatu dengan alam. Sekalipun air bisa menggenangi rumah sampai setinggi lututnya, banjir selalu bisa menyingkap asal-muasal rezeki yang tersedia di alam lingkungan sekitar. Ini terbukti beberapa hari sebelumnya ia mendapat ular sawah dengan panjang hampir 4 meter yang mampir bertamu. Dalam benaknya, ular sawah itu adalah lembaran rupiah. Ia pun gesit menangkap dan membawanya ke penampung terdekat. Belajar dari peristiwa tersebut Hen semakin akrab dengan alamnya yang basah. Sambil menanti kunjungan ular-ular sawah lain dan biawak, ia isi waktunya juga dengan memancing ikan-ikan patin sungai.

Banjir Layak Diapresiasi



Banjir pada medio Januari 2014 lalu di Kota Jambi memang cukup berprestasi. Ia berhasil memakan korban jiwa yang hanyut terseret arus Batanghari di sekitar Taman Tanggo Rajo karena ingin mandi-mandi. Banjir juga membuat banyak aktivitas warga terhambat. Bahkan tak hanya di Provinsi Jambi saja banjir menunjukkan kebolehannya, di daerah tertentu dalam wilayah Indonesia air bah ini sukses menebar resah. Pemerintah Indonesia pun akhirnya menetapkan darurat bencana. Mempertimbangkan dan mengingat prestasinya ini, banjir patut diacungi jempol sebagaimana yang terekspresi dalam poster gambar tokoh pemuda Jambi tepat di atas Jembatan Makalam.


Cerita dari Kolong Jembatan


Mungkin sekolah luput mengajari Puna (12) tentang cara berekspresi diri dalam pose eksentrik. Ia lalu mencari alternatif lain, yakni belajar langsung dari teman-temannya, sekelompok anak jalanan yang mendirikan komunitas bebas bawah Jembatan Sungai Maram, Kota Jambi. Ia diberi arahan yang baik dan benar untuk tujuannya itu. Sebelum berekspresi, agaknya menghirup aroma memabukkan lem kalengan cukup membantu. Aha! Puna pun mengikuti petunjuk dari sang mentor yang berada tak jauh dari dirinya. Lihatlah ekspresinya!


Di Antara Petak-petak Awan, Mungkin Terselip Impian yang Hilang


 Agaknya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah utopia bagi lelaki pemulung itu. Hal ini membuatnya selalu memandang nun di atas kejauhan langit. Ia mengira di antara petak-petak awan, mimpinya tentang hidup layak dan sejahtera masih terselip di sana.


Dibuai Mimpi


Apa pun yang dijumpai dalam mimpi begitu menakjubkan. Melalui mimpi, orang melepaskan keresahan tentang segenap persoalan hidup. Tidur yang menawarkan mimpi dipandang sebagai obat peringan beban keseharian. Maka tak heran jika tidur yang lelap sama artinya melahirkan kehidupan ideal yang didambakan dalam simbolisasi peristiwa mimpi nan membuai.


Demikian foto-foto yang bisa saya perlihatkan pada Anda semua kali ini. Salam kreativitas dan salam estetika banal. (M.I)

(*) Foto-foto dari dokumen pribadi.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Menyoal Internalisasi Gagasan


“Jika langit menjatuhkan buah anggur, bukalah mulutmu.” ~ Pribahasa Sisilia

Pemikiran kritis yang tumbuh, berkembang dalam rangka membangun kebebasan berpikir dan sikap intellektual seseorang; hal ini bisa dilihat dari pertanyaan yang diajukannya.  Orang yang memiliki pemikiran kritis tentunya tak mau menerima begitu saja sesuatu hal tanpa menganalisanya dengan cermat. Ia akan mengajukan sejumlah pertanyaan, menanggapi dengan cerdas dan melihat dengan sejernih mungkin apakah sesuatu hal yang baru saja ditawarkan padanya dapat bermanfaat atau sebaliknya. Demikian pula dengan sejumlah pertanyaan dan tanggapan luar-biasa cerdas yang diajukan teman-teman kompasianer kepada saya ketika menanggapi artikel sederhana saya sebelumnya.

Alhasil, saya seperti mendapat anugerah dari langit. Benak saya seketika terang-benderang, ilham berkelebat masuk dan menggerakkan saya menulis artikel ini. Sebagai penulis, apa jenis kebahagiaan yang tak terperikan? Apa yang bisa membuatnya bergairah menciptakan sebuah karya tulis dalam rentang waktu bagai ombak menderu-deru? Tak lain adalah bertandangnya dengan gaya seksi semlohay dan mempesona sosok yang disebut ”ide penulisan”. Untuk itu saya menghaturkan ribuan terima kasih kepada teman-teman kompasianer dengan pemikiran kritisnya yang inspiratif, yang mana telah dihadiahkan kepada saya secara cuma-cuma. Tuhan saja yang bisa setimpal membalas kebaikan mereka.

Artikel ini, sebagaimana kita ketahui bersama, berawal dari ”ide penulisan yang ditemukan” (found subject). Sebab, saya terinspirasi menuliskannya atas dorongan kuat yang positif seketika – pertanyaan dan tanggapan cerdas sahabat kompasianer. Oleh karena itu, saya melalui tulisan ini bermaksud mengajak para sahabat semua (khalayak pembaca di Kompasiana) berdiskusi lebih lanjut dengan pokok bahasan: internalisasi gagasan ke dalam diri pembaca karya tulis kita. Ada beberapa poin yang hendak saya ajukan sebagai bahan obrolan kita. Saya akan menguraikannnya satu per satu. Baiklah kita mulai saja berdiskusi.

Apa itu internalisasi gagasan?

”Karena sering kali penulis punya ide brilian, tapi tidak popular. Imbasnya ya ke pembaca yang sedikit, ilmunya tidak menyebar betul.” ~ FANDI SIDO, penulis produktif sejumlah jenre tulisan dan blogger aktif.

Gagasan yang cemerlang memang menggairahkan, orisinil, namun ada kemungkinan besar tidak mudah dipahami, diterima dan selanjutnya diadopsi khalayak pembaca. Akibatnya, sebagaimana yang dijelaskan Kompasianer Fandi Sido, kandungan ilmu pengetahuan, baik yang bersifat konsep teoritis maupun petunjuk praktis terhambat penyebarannya. Padahal jika gagasan cemerlang tersebut telah ”popular”, maka pesan komunikasi yang terkandung di dalamnya, tujuan penulisan, perubahan pola pikir dan prilaku sosial yang ditawarkan penulis, akan cepat diadopsi sebagai dasar pijakan pemikiran baru untuk menciptakan kemaslahatan bersama.

Kita akui dengan kejujuran hati yang tulus: ”Seorang penulis adalah juga seorang pembaharu. Agen perubahan sosial di masyarakatnya.”

Karenanya, sebuah tulisan yang mengandung pesan inovatif dalam gagasan cemerlang untuk merubah kondisi semula menuju ke arah kondisi baru yang lebih baik; sangat penting disebar-luaskan. Tentu saja hal ini membutuhkan metode atau cara-cara yang efektif yang kita sebut sebagai ”internalisasi gagasan.” Secara definitif, internalisasi gagasan adalah menawarkan kepada pembaca (jika hal ini disebarkan melalui karya tulis), mengajukan suatu bentuk pola pikir baru yang bisa secara teoritis dan praktis dimanfaatkan ”audience” atau khalayak pembaca untuk meninggalkan kebiasaan lama, menanggalkan cara berpikir konvensional dan menggantikan dengan cara yang ditawarkan penulis sebagai pijakan konseptual dalam bertindak.

Pertanyaannya sekarang: ”Bagaimana cara agar gagasan inovatif yang cemerlang itu bisa dengan mudah diterima? Bagaimana pula cara yang efektif untuk ’mempopularkannya’?

Internalisasi gagasan

Mari cermati tahapan pengiriman informasi gagasan perubahan di bawah ini:


Bagan Pengiriman Pesan

Pada skema di atas, penulis memiliki ”ide brillian” (meminjam istilah Fandi Sido). Penulis tahu bahwa gagasannya itu baru, belum terlintas dalam benak siapa pun kecuali dirinya. Ia memahami itu secara sadar. Ia tahu gagasan barunya itu butuh disebar-luaskan. Hal ini tentu saja berkaitan dengan cara penyampaian yang efektif (termasuk pemilihan media penyebaran yang tepat) mesti ia gunakan. Oleh karena itu, penulis pun menentukan media perantara penyebaran gagasannya.

.

Sekali waktu ia memanfaatkan media jurnalisme. Ia harus sadar bahwa jurnalisme yang akan digunakannya tentu menghasilkan laporan. Sejumlah fakta-fakta sosial yang diselidiki dan ditemui penulis dikonstruksikan ke dalam wacana reportase. Agar lebih lengkap dan mampu menarik minat pembaca, penulis mesti memilih dua bentuk tulisan reportase: jurnalisme investigatif  atau jurnalisme sastrawi. Dua tawaran pilihan ini ditetapkan, karena jenis reportase ”straight news” hanya berisi laporan aktual singkat, belum tentu mampu menggerakkan pembaca menerima ”ide brillian” yang mau disosialisasikan penulis. Pemilihan media penyampaian gagasan perubahan dalam bentuk reportase jurnalisme investigatif dipandang penulis baik, karena penulis bisa mengungkapkan kumpulan fakta selektif (setelah melalui penyelidikan teliti) tentang pentingnya perubahan terjadi di masyarakat. Reportase investigatifnya itu penulis bisa mengorganisasikan tulisannya dalam bentuk berita kisah (feature) lengkap dengan foto. Intisari dari penulisan berita kisah yang penulis susun; tentu saja harus mampu menyajikan fakta, dan sekaligus membujuk khalak pembacanya agar mau menerima tawaran gagasan cemerlang untuk mengatasi persoalan aktual temuan tersebab oleh sifat mendesaknya.

Lain waktu rupanya penulis memutuskan untuk mengemukakan gagasan perubahan tawarannya kepada pembaca melalui jurnalisme sastrawi. Ada baiknya ia mencermati saran dari seorang pemikir besar berikut ini:

”Jurnalisme menghasilkan laporan, ilmu memberikan analisa, sedangkan esai hadir sebagai kesaksian,” terang Ignas Kleden.

Ignas Kleden jelas menganjurkan agar penulis ”menggubah” tawaran gagasan perubahannya ke dalam konstruksi esai. Sebagaimana kita pahami bersama, sebuah esai juga termasuk bentuk penulisan laporan aktual, tulisan yang menyelidiki secara langsung (karenanya dipandang sebagai ”saksi”) fenomena yang ada, tetapi tidak begitu kaku dalam penyampaian. Sebab, esai juga merupakan jurnalisme sastrawi yang tak hanya membuka wawasan pembaca, tetapi juga lebih cepat mengena di kehidupan batin pembaca. Hal ini dikarenakan esai mampu merangkum poin-poin pendukung gagasan perubahan yang ditawarkan secara informal (esai dipandang sebagai bentuk obrolan mesra antara penulis dengan pembacanya secara aktif). Esai yang dimaksudkan sebagai bentuk konkrit jurnalisme sastrawi pilihan penulis akan membujuk, mengajukan argumentasi dengan lembut, menuntun dan memeluk mesra sidang pembaca, agar mau menerima gagasan perubahan. Di Indonesia, Goenawan Mohamad melalui catatan pinggirnya di Majalah Tempo selalu saja dirindukan para pembaca, bukan?

Mengapa esai yang harus dipilih penulis? Lebih jauh lagi diterangkan Ignas Kleden:

”Sebuah esai biasanya ditulis secara spontan, entah karena ada pikiran yang melintas dan dirasa penting atau menarik, entah karena ada dorongan perasaan yang sangat kuat untuk menyatakan sesuatu dalam bentuk tulisan…”

”Sebuah esai, karena itu menjadi prosa yang dibaca karena memikat dan mencekam perhatian tatkala daya-tarik itu muncul karena ada bayangan penulis berkelebat atau mengendap di sana.”

Penjelasan gamblang ini sesuai dengan tujuan kita, yakni penyebaran ”ide brillian” agar ”popular” dan diterima sebagai konsep pemikiran baru bagi pembaca, tanpa pembaca merasa perlu menolak bahwa gagasan cemerlang yang ditawarkan padanya itu mengandung unsur subyektivitas diri penulis esai. Khalayak pembaca bahkan merasa senang karena penulis dengan tawaran gagasan cemerlangnya tak mendekati diri mereka secara kaku, dingin dan seolah-olah menyimpan maksud ingin ”mencuci-otak”. Sebab, penulis melalui tulisan jurnalisme sastrawi dalam format tulisan esainya itu bebas mencurahkan isi hatinya kepada penerima pesan komunikasi (audience). Ia (penulis) tak berupaya menghindari kecenderungan subjektif ketika mengemukakan alasan-alasan akan pentingnya pembaca menerima ”ide brillian” yang ditawarkan. Pembaca membuang rasa curiganya. Pembaca melemparkan prasangkanya tentang diri penulis yang sebenarnya mau mempengaruhi alam pikiran dan perasaannya.

Kita harus akui secara blak-blakan saja: ”Menulis juga merupakan aktivitas pencucian otak pembaca (brainwashing) oleh kelihaian penulis mengemukakan gagasan pemikiran baru.”

Jika ingin melihat pembaca sepertinya ”berpasrah-ria”, membaringkan secara seksi dan menggairahkan akan jiwanya untuk disetubuhi penulis, supaya penulis dapat ”membiakkan” benih ide nan genit lagi gesit menuju ruang rahim kehidupan batin pembaca, maka esai adalah sebentuk rayuan yang paling pas digunakan untuk tujuan itu.
.

Suatu ketika penulis rupanya juga tergoda untuk memanfaatkan karya fiksi agar tujuan mempopularkan gagasan cemerlangnya dapat diterima pembaca. Ada baiknya kita mencermati langkah yang diambil seorang penulis fiksi yang bernama asli Katherine O’ Flaherty, atau dikenal luas sebagai Kate Chopin.

O lala! Chopin rupanya punya ide brillian soal penyaluran nafsu berahi (hehehe…). Ia memandang nafsu berahi adalah kekuatan alamiah dalam tiap diri manusia selain daripada akal-budi. Ia menganjurkan pembaca agar jangan merasa bersalah atau sungkan ketika ada suatu keadaan tertentu yang mendorong orang untuk ”memuncratkan” hasrat bercinta dengan pasangannya, demi kelestarian dirinya (sah atau tidak sah secara moral). Bagi Chopin, jika pembaca yang mengadopsi anjurannya itu, maka beban kehidupan sehari-hari akan terasa ringan. Mentari bersinar lebih hangat lagi dan guncangan hidup akibat rutinitas membosankan terasa bagai belaian lembut angin sepai-sepoi. Oleh sebab itu, perselingkuhan (intisari dari tawaran ide cemerlangnya) dikonsepsikan sebagai sebuah petualangan sensasional yang dapat memberi warna tertentu dalam kehidupan batin pembaca.

Lalu, gagasan cemerlangnya ini dimaksudkan agar bisa diterima dengan senang hati oleh khalayak pembaca. Ia pun lalu menulis cerita pendek bertajuk ”Badai”. Sebelum menulis ceritanya, ia menyadari bahwa kecemerlangan tawaran gagasannya itu mungkin saja terlalu ”menakjubkan” kilau cahayanya. Bisa jadi membuat silau pembacanya sehingga tak bisa melihat dengan jelas pesan yang hendak disampaikan. Ia sadar orang menjadi buta tak hanya dalam pekat kegelapan. Namun, orang juga kehilangan daya penglihatan ketika terpapar langsung dengan cahaya yang benderang. Apa yang harus ia lakukan? Mari lihat caranya mengemukakan argumentasi melalui pembauran alasan-alasan subjektif dengan pemaparan kondisi faktual yang ada di dalam rancang bangun ceritanya.

Melalui karakterisasi, Chopin berupaya memaparkan gagasan cemerlang tentang perselingkuhan bukanlah sebuah ”dosa”, melainkan spontanitas kuat yang tak dapat dicegah. Ia mencoba menggambarkan argumentasi logis melalui tingkah laku tokoh utama cerita, yang mana digambarkan bahwa perbuatan serongnya saat sang suami tak ada di rumah disebabkan dorongan alamiah yang mendadak. Alam mendadak memberikan kesempatan pada orang untuk berpetualang, demikian kira-kira maksud alasannya. Ia lalu merinci apa saja keadaan mendesak yang menyebabkan orang harus melakukan ”pengkhianatan cinta dengan indah”. Dipaparkannya pula pendapat tentang kesetaraan jender dan ekspresi diri dari ”kehendak bebas” untuk menikmati hidup juga berhak diterima kaum perempuan. Ia menolak pendapat masyarakatnya yang mengekang kaum perempuan dalam norma-norma ketat perkawinan, yang menurutnya telah mendakwa kaum perempuan sebagai ”tahanan” kaum lelaki. Bagi Chopin, kaum perempuan mesti mampu memanfaatkan kesempatan yang ada agar dapat bebas dari segala belenggu moral yang nota-bene menjadikan mereka sebagai ”the second-sex” (meminjam istilah tokoh feminisme radikal Simone de Beauvoir), yang hanya menjadi korban dominasi peran laki-laki dalam kesehariannya.

Pelan tapi pasti Chopin menginternalisasi gagasan cemerlangnya tentang kebebasan perempuan dalam berekspresi boleh dimulai dengan cara ”berselingkuh” (hahaha… saya sendiri ketika pertama kali membaca ceritanya sempat terpukau.). Selanjutnya, Chopin membuat kesimpulan jika kaum perempuan berani membebaskan diri mereka dari dominasi nilai-nilai yang mengekang kebebasan individual, hanya kebahagiaan bukanlah penderitaan yang akan didapat sebagai ganjaran setimpal perjuangan mereka.

”Ia seorang istri yang berbakti pada suami, dan merasa senang bahwa untuk sementara waktu ia dibebaskan dari keintiman perkawinan.

Jadi, badai sudah reda dan semua merasa senang.”


Kate Chopin menutup ceritanya namun tak lupa memberi inti pesan kepada pembaca, yakni kebahagian didapat kaum perempuan yang berani memutus rantai nilai-nilai yang  membelenggu kebebasannya.

Kita bisa melihat bahwa kekuatan cerita fiksi dapat mempermudah niat kita untuk menginternalisasi gagasan baru ke dalam diri pembaca. Penulis cerita fiksi dapat membujuk pembaca agar mau menerima tawaran gagasan dengan cara melukiskan sejumlah kenyataan (realitas faktual) yang disusun sebagai gambaran yang dapat mudah dipahami, yang dibangun berdasarkan logika dan kemungkinan (realitas fiksional). Mengapa bisa demikian? Hal tersebut karena cerita fiksi yang apik punya kekuatan mempengaruhi hati dan pikiran pembaca, menenggelamkannya dengan cara menarasikan sesuatu yang khusus (tawaran gagasan perubahan yang memberikan pengalaman menggiurkan terbaru) menjadi sebuah kesan tak terlupakan, mengendap dalam jiwa pembaca. Pada titik ini, penulis yang menggunakan media cerita fiksi sebenarnya sedang mengikis pelan-pelan konsep pemikiran lama yang ada dalam diri pembacanya, lalu perlahan mengarahkan pembaca agar mau menggantikannya dengan ”sesuatu yang baru” tak lain adalah tawaran gagasan perubahan itu sendiri.
.

Kesimpulan Internalisasi Gagasan

Internalisasi gagasan cemerlang milik seorang penulis bisa dengan mudah ditanamkan ke dalam benak pembaca jika mempertimbangkan hal-hal berikut ini:

Gagasan cemerlang atau ”ide brillian” itu menawarkan perubahan yang bisa diterapkan secara pragmatis oleh pembaca. Ini berarti ketika khalayak pembaca telah menerimanya; mereka bisa langsung menerapkan dengan senang hati sesuai tuntunan praktis yang dikemas seorang penulis melalui rincian yang terkandung dalam karya tulisnya sebagai media perpindahan pesan komunikasi.

Penulis mesti bisa jeli melihat mana ragam bentuk media penyampaian gagasan cemerlangnya itu yang paling efektif untuk digunakan. Jurnalisme dalam bentuk reportase investigatif yang dikemas dalam berita kisah, esai sebagai wujud kongkrit jurnalisme sastrawi yang bisa secara luwes bergaul dan merayu pembaca dapat dipandang sebagai media penyampaian tawaran gagasan cemerlang milik penulis kepada pembaca. Atau, mungkin dengan karya sastra dengan berbagai jenrenya yang dapat menarasikan suatu keadaan khusus (pentingnya pembaca menerima gagasan dari penulis) menuju suatu keadaan yang umum-manusiawi (kemaslahatan sesuai dengan harapan pembaca.).

Demikian yang bisa saya tulis untuk sahabat kompasianer semua. Semoga bermanfaat dan salam kreativitas. (M.I)


(*) Bacaan lebih lanjut : Esai: Godaan Subyektivitas, Ignas Kleden, Majalah Sastra Horison, Tahun XXXVIII, No.1/2004, Januari 2004.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha