Apa Itu Marah


“Siapa pun bisa marah – marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik – bukanlah hal mudah.” Aristoteles, Nicomachean Ethics

Hari Senin malam Selasa yang lalu ketika mau pulang ke Jambi, mobil travel yang saya tumpangi singgah sebentar di rumah makan P, di daerah Lampung Tengah. Pak sopir mempersilakan para penumpang untuk istirahat dan makan di tempat tersebut. Saya pun turun karena mau ke kamar kecil dan merasa perut saya mulai lapar.

Keluar dari kamar kecil, saya mencari tempat duduk dan memesan makanan. Mungkin sekitar setengah jam makanan yang saya pesan diantar oleh pelayan lainnya.  Saya maklum karena malam itu pengunjung yang tak lain para penumpang mobil-mobil travel lainnya cukup ramai. Ditambah lagi para pengendara mobil pribadi yang tentunya membuat para pelayan agak repot melayani.

“Ah, sudahlah.. Yang penting makanan yang saya pesan sudah datang dan bisa segera disantap,” gumam saya meredakan kedongkolan kenapa agak lama makanan saya diantar. Saya mulai menyantap hidangan di meja. Karena perut yang lapar cukup berhasil memotivasi saya menyantap hidangan dengan kecepatan tinggi hasilnya menakjubkan – saya keselek. Saya kebingungan ketika mau minum ternyata air putih tak tersedia di atas meja makan. Mau memanggil pelayan tidak bisa. Tenggorokan saya lagi kurang koorporatif merespon sebab ada makanan yang mengganjal. Suara tak keluar. Saya akhirnya melambaikan tangan dengan maksud memanggil pelayan. Namun, anehnya sang pelayan membalas panggilan saya dengan senyuman tulusnya (seolah-olah ingin mengatakan: “Mas ini, kok aneh, ya?! Makan aja pakai acara lambaian tangan segala?). Saya ulangi mengirim bahasa isyarat kembali. Kali ini dengan gaya tangan saya seakan sedang memegang gelas, dan sengaja diperlihatkan kepada pelayan yang suka tersenyum tulus itu, yang berjarak sekitar lima langkah kaki ke samping kanan. Berhasil – dia mengerti pesan yang saya kirimkan. Lantas bergegas mengantar segelas besar air putih untuk saya. Seketika saya meminum air yang diberikannya dan dia meminta maaf. Lalu, karena perasaan dongkol masih bercokol dalam hati, permintaan maafnya saya tanggapi dengan mengatakan, “Makanya, Mas.. Lain kali orang lagi keselekan jangan dikasih senyum, tapi air minum..” Air mukanya tampak merasa tak enak hati mendengar ucapan saya.

Peristiwa di rumah makan tadi membuat saya berpikir sendiri di sepanjang perjalanan. Kenapa saya mudah sekali terpicu amarah dengan berkata kasar pada pelayan itu? Padahal bisa jadi dia tersenyum bukan untuk menanggapi lambaian tangan saya yang meminta air minum, dan barangkali senyumannya itu ditujukan untuk orang lain di dalam ruangan yang sama. Kenapa saya bisa punya pikiran sinis bahwa senyumannya seakan-akan bermaksud melecehkan saya? Sungguh aneh saya terpicu perasaan jengkel dengan membalas permintaan maafnya dengan cara yang sungguh tak layak.

Gurita pikiran sinis

Saya yakin pembaca yang budiman juga pernah melampiaskan amarah. Mungkin kadarnya berbeda-beda tergantung pada peristiwa tertentu yang memicu aliran deras emosi negatif sehingga letupan kemarahan cepat terjadi tanpa disadari. Biasanya setelah melampiaskan kemarahan, datang saat pikiran mulai jernih dan kemampuan menenangkan diri berhasil membawa individu pada suatu perenungan keadaan dari apa yang telah terjadi. Begitu juga yang saya alami, dan akhirnya dapat memeriksa sendiri sebab-akibat saya dihasut bulat-bulat oleh mahluk yang bernama ‘amarah’.

Saya mencoba mengingat-ingat awal keadaan saya merasa jengkel adalah saat pesanan makanan ternyata diantar hampir setengah jam. Harapan saya agar cepat makan rupanya tak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi. Tapi, saya mencoba mengontrol emosi negatif yang muncul dengan berpikir logis akan ramainya pengunjung yang cukup merepotkan para pelayan. Agaknya cara saya melenyapkan kemunculan emosi negatif tersebut rupanya belum berhasil karena perasaan saya sebenarnya masih terusik kedongkolan. Kadarnya kian membesar ketika saya mengalami keselekan, dan lambaian tangan memanggil pelayan untuk meminta air minum ditanggapi dengan senyuman – respon yang bertolak-belakang. Hal ini menimbulkan pikiran buruk yang mencengkeram benak saya – pelayan sengaja ingin melihat saya menderita keselekan akibat kelalaian saya sendiri makan begitu cepat. Rasain lu! Dari satu pikiran buruk yang amat sinis ini melahirkan pikiran buruk sinis lainnya yang ternyata menginginkan pembalasan. Awas, lu! Tunggu pembalasan Johnny Rambo, ya..  Maka, ketika pelayan itu meminta maaf karena kelupaan membawa serta air minum untuk saya sedari awal, saya pun menanggapi dengan berkata ketus dalam tangga nada kesal berayun-ayun tinggi.

Terancam bahaya

Pembaca yang budiman.. Ternyata amarah memicu adrenalin kita dengan fokus arah tindakan keinginan untuk membalas. Pada keadaan ini, otak emosional lebih dominan karena menanggapi suatu keadaan diri yang sedang terancam baik secara fisik maupun simbolik. Pada apa yang saya alami, ancaman yang berbentuk fisik adalah kecemasan tidak dapat bernapas akibat keselekan makanan. Sedangkan, ancaman berbentuk simbolik saya merasa diremehkan ketika meminta air minum pada pelayan.

Benarlah apa yang telah dikatakan Dolf Zillman, ahli psikologi dari University of Alabama, sebagaimana dikutip oleh Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, menerangkan tentang pemicu amarah.

“ Pemicu amarah yang universal adalah perasaan terancam bahaya. Ancaman tersebut dapat dipicu bukan saja oleh ancaman fisik langsung melainkan, sebagaimana yang sering terjadi, juga oleh ancaman simbolik terhadap harga diri atau martabat: diperlakukan tidak adil atau dikasari, dicaci-maki atau diremehkan, frustasi sewaktu mengejar sasaran penting.”


Dari beragam pemicu amarah ini, orang akan mudah melampiaskan kemarahan dengan tanpa pertimbangan akal sehat. Tidak peduli lagi kalau dirinya ada di tempat umum, bertindak kasar bahkan bisa menjurus kepada kekerasan. Akibatnya, seorang individu tampak seperti kehilangan pikiran jernih dan kesadaran dirinya sebab sedang dibajak emosi negatif.

Meredakan amarah

Saya ingat sekali dulu ketika dalam keadaan dipengaruhi kemarahan, dan berupaya meredakannya, saya sangat terkejut betapa besarnya energi dikeluarkan keadaan diri yang sedang marah. Saat itu saya masih kuliah dan indekos. Pemicu amarah saya adalah kegagalan menempuh suatu mata kuliah, dan saya harus mengulang kembali di semester selanjutnya. Di dalam kamar kos, berkelebatan berbagai pikiran aneh dan perasaan ganjil. Saya berupaya untuk melawannya dengan cara bertindak amat kreatif – mencuci semua pakaian saya baik yang kotor maupun bersih. Entah kenapa acara cuci-mencuci itu enteng dan cepat saja selesainya. Saya pandangi tumpukan pakaian yang sudah saya cuci dalam baskom milik teman kos. Malah saya tawarkan jasa kalau ada pakaian kotor, bawa ke saya biar dicuci. Setelah menjemur pakaian tadi, saya ke dalam kamar dan berbaring kelelahan dengan seulas senyuman. Heran bukan kepalang dari melihat saya mencuci di kamar mandi seperti orang kerasukan. Saya akhirnya bisa menyimpulkan amarah adalah energi besar dari emosi negatif yang butuh penyaluran kreatif untuk kemudian mesti diredakan.

Dari beberapa literatur yang saya baca, meredakan amarah lebih baik dengan cara mengalihkan pikiran dan perasaan negatif pemicunya pada suatu tindakan yang mampu mengubah suasana hati. Seperti kegiatan selingan yang menyenangkan – menjauhi kondisi dimana kemarahan sedang dipicu. Bepergian ke tempat-tempat dimana ada pepohonan rindang, suasana teduh dan sejuk sangat efektif untuk mendinginkan kemarahan.  Akan tetapi, dalam kasus saya, saya mendinginkan kemarahan dengan cara khusus sebagai selingan dan tentunya tidak usah ditiru. Demikian yang bisa tulis menyoal apa itu amarah, dan semoga bermanfaat. [MI]

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

0 Comments:

Posting Komentar

  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha