Menikmati Romantisme Puisi Dermaga Biru

| 0 komentar


Agaknya romantisme yang diendapkan lebih terasa. Kesyahduan rindu, harapan yang menggelisahkan, dan perjuangan memperoleh cinta yang ideal lebih menggetarkan. Tentunya romantisme yang demikian tak begitu saja hadir serta merta tanpa upaya merefleksi unsur-unsur tertentu yang berperan membentuk pengalaman romantik konkrit dalam kehidupan individual seseorang.

Mengapa bisa begitu? Sebab, dari satu sisi, romantisme dalam pengalaman berkesan seseorang adalah upaya pemaknaan atas pengalaman hidup yang dihayati. Ini merujuk pada pelbagai peristiwa yang berkaitan dengan relasi inter-personal manusia yang intens sehingga menorehkan kesan yang mendalam. Pada sisi yang lain, romantisme hadir sebagai salah satu bentuk pengungkapan keberadaan diri manusia yang dikonsepsikan sebagai kebenaran eksistensial. Artinya, ketika seorang individu ’mendunia’ bersama eksistensinya, ia menjalani perannya sebagai bentuk manifestasi pengambilan keputusan subjektif yang mandiri. Bersama dengan kemandirian mengada tersebut, ia memilih untuk berelasi dengan orang lain, mengikat ataupun terikat dalam cinta yang institusional. Dan, di dalam ruang cinta yang terlembagakan sedemikian rupa itu, manusia memasuki alam romantik akibat penghayatan atas makna mengasihi, merindukan, mengharapkan sekaligus merasa gamang apabila pencarian makna ideal dari hal-hal tersebut belum ditemukan seluruhnya.

Demikian yang bisa kita rasakan ketika mencicipi manisnya romantisme dalam puisi Dermaga Biru karya Christian Dari Timor. Agar lebih terasa lagi madunya, sebaiknya kita simak bersama puisi tersebut secara lengkap.

DERMAGA BIRU
Oleh Christian Dari Timor

ada sepotong senja yang kupetik di dermaga biru
kularung di atas rindu
untuk mencari permata hati
yang dalam keheningan matanya
aku terantuk

nafasku menggigil menghirup senyumnya
suaraku patah saat bibirnya berucap mawar
tempat sekuntum cinta diam
yang tak menangis ketika harumnya dicuri

ya, teruslah berdansa di sana
bila senjaku tiba
tetaplah berdandan
aku menantimu
seperti laut
rumah, tempat senja lahir dan lelap


Parafrasa Puisi Dermaga Biru

I

(Ketika melesat bayangan dirimu, tahukah kau?) Ada sepotong senja yang (selalu) kupetik di dermaga biru. (Dalam kesyahduan yang menyelimuti kalbuku, ia) kularung (biarlah hanyut) di atas (riak ombak lautan) rindu. (Kuikuti kemana arahnya) untuk mencari permata hati (seperti dirimu yang teramat kurindu) yang dalam keheningan matanya (mampu menggenggam jiwaku hingga) aku terantuk (tidak mampu beranjak karena pesona cahaya kasih).

II

(Aku takjub dan) nafasku menggigil (ketika aku) menghirup senyumnya. (Diriku terlarut, terhisap dalam adanya, keagungan yang mistik, cinta yang paling didamba. Aku tercekat.) suaraku patah (tersendat, sulit bagiku menemukan kata terindah untuk mengungkapkannya apalagi) saat bibirnya berucap (menyapaku, sungguh bagaikan pesona merahnya) mawar (mekar perlambang segala gairah cinta yang ada.). (Di sanalah sejatinya) tempat sekuntum cinta diam (dalam segala keagungannya). (Di sanalah jua esensi cinta) yang tak menangis (, yang tak lagi terpenjara oleh kulit kegemerlapan semata seperti) ketika harumnya (rekah kelopak mawar) dicuri (masa mekarnya yang lalu.).        


III

Ya, teruslah berdansa di sana (aku menyaksikannya di sini). (Dan) bila (kelak) senjaku (masa ketika waktu menguji kesetiaanku) tiba (, kau tahu aku selalu mengagungkan dirimu maka) tetaplah berdandan (riaslah dirimu agar bercahaya dengan cinta, lalu datanglah padaku dalam utuh kedirianmu sebab) aku menantimu seperti laut rumah, (yang syahdu) tempat senja lahir dan lelap (, begitu juga kau dan aku yang ingin berumah dalam ruang luas cinta dimana seluruh anugerah tertumpah menyinari kita hingga berakhir dalam keheningan yang lelap).


Memaknai Puisi Dermaga Biru

Memaknai sebuah karya seni seperti puisi bukanlah perkara yang mudah. Bahasa puitik (atau sering disebut sebagai bahasa khas  penyair) terjalin begitu kuat antara pengalaman subjektif emosional dengan tataran makna yang cenderung konotatif.

Bicara tentang pemaknaan sesungguhnya adalah kesediaan penafsir untuk memasuki pengalaman konkrit penyair. Mencari apa gerangan hal-hal yang ada dalam kenangannya (yang merepresentasikan pesan suara hati/pikiran emosional tertentu) melalui modus ekspresi simbolik kata-kata puitis. Hal tersebut karena penyair seperti Christian Dari Timor ini adalah individu yang mampu mengadakan penyesuaian alamiah dengan gejolak batin, lalu piawai mengungkapkannya kembali dengan kata-kata sarat makna sampingan. Artinya, kita tak bisa mengabaikan aspek psikologis yang berperan kuat dalam proses kreatif seorang penyair. Sebab, dari sanalah bermula drives (dorongan-dorongan psikis) untuk menulis puisi – demikian juga dengan puisi Dermaga Biru ini.

Puisi sebagai bahasa hati sejatinya upaya pemaknaan atas pengalaman hidup berkesan, yang mana sulit diperkatakan melalui struktur gramatikal biasa. Ia memiliki struktur sintaksis tersendiri entah itu terdapat dalam paralellisme, enjambemen, dan/atau melalui pemutarbalikan hubungan sintagmatik unsur-unsur dalam kalimat. Misalnya, ini tampak dalam larik pertama:

//ada sepotong senja yang kupetik di dermaga biru/  

Aku memetik sepotong senja di dermaga biru. (Struktur sintaksis kalimat biasa berpola subjek [Aku], predikat [memetik], objek [sepotong senja], dan perluasan kalimat dengan keterangan tempat [di dermaga biru]).

Hampir semua struktur sintaksis dalam puisi mengalami pergeseran urutan hubungan fungsionalnya. Tentunya hal ini karena ingin memperkuat ungkapan perasaan yang dipadatkan dalam bahasa puitis.

Baiklah kita langsung saja mulai mencoba memaknai puisi Dermaga biru dari penyair Christian Dari Timor ini.

Secara tematik penyair membentuk bangunan puisinya dengan pokok pikiran tentang perasaan si Subjek-Lirik merindukan kekasihnya. Pada bait pertama, kerinduan diungkapkan dengan menyajikan imaji visual suasana kesenduan senja yang bertempat di dermaga biru.

//ada sepotong senja yang kupetik di dermaga biru/  

Rona senja yang syahdu mempengaruhi suasana batin Subjek-Lirik yang (biru) hanyut dalam kerinduannya menemui kembali tambatan hati

//kularung di atas rindu/ //untuk mencari permata hati/

Ia lalu membiarkan keadaannya yang diselimuti tebalnya rasa rindu. Hadirlah juga harapan dan cemas jikalau mendapati kehadiran tumpuan hatinya seperti dulu adalah sebuah mimpi yang utopis. Namun, Subjek-Lirik menguatkan dirinya dengan sebuah asa yang tersisa. Bilamana memang kelak ia bisa bersama dengan kekasihnya lagi, ia akan memujanya dan menempatkannya secara istimewa bagaikan dewi yang agung membuat siapapun yang menatap akan takluk pada pesonanya //yang dalam keheningan matanya/ //aku terantuk/.

Bait kedua dapat dikatakan sebagai kelanjutan dari bait sebelumnya. Bait ini menjembatani ekspresi yang terungkap dalam larik-larik bait pertama. Penyajian objek imaji sudah berbeda. Bukan lagi menghadirkan suasana alam di luar diri Subjek-Lirik, tetapi lebih menekankan pada penggambaran kondisi Subjek-Lirik itu sendiri. Imaji keterpanaan pada diri Subjek-Lirik diekspresikan sedemikian kuat dengan keadaan yang tercekat akibat ketidakberdayaan menghadapi campuran rasa rindu dan kagum pada sosok kekasih yang didambakan, yang begitu diidealisasikan.

//napasku menggigil menghirup senyumnya/ //suaraku patah saat bibirnya berucap mawar/

Selain itu, juga mengungkapkan harapannya bahwa kekasih idamannya itu adalah tempat labuhan terakhir dimana ia menyerahkan totalitas cintanya yang dalam. Subjek-Lirik ingin mengutarakan pendapatnya bahwa cinta yang sejati bukanlah cinta yang artifisial, hanya terikat dengan sensasi keromantisan belaka, yang akan guyah ketika menghadapi masa-masa sulit. Bagi Subjek-Lirik, cinta adalah ruh yang menyatukan dua hati yang saling mengasihi, sehingga mampu melewati berbagai cobaan dan tidak meluruhkan air mata penyesalan.

//tempat sekuntum cinta diam/ //yang tak menangis ketika harumnya dicuri/

Bait terakhir mengungkapkan semacam bentuk sikap Subjek-Lirik atas keinginannya untuk bersama sang kekasih. Dalam bait ini, ada penghayatan akan makna senja secara lebih intens lagi. Senja tak lagi hanya berarti suasana alam yang syahdu, namun ia sudah dimaknai sebagai momen penentu tentang diri Subjek-Lirik yang akan setia menanti dalam kerinduan sekalipun dengan keadaan yang tak memungkinkan lagi, entah karena usia yang menua dengan fisik yang akan melemah. 

Perasaan kekaguman masih terasa dalam bait ketiga ini. Subjek-Lirik mengimajikan sosok kekasihnya yang menarik dengan kelincahan yang selalu memikat hatinya kapan juga.

//ya, teruslah berdansa di sana/ //bila senjaku tiba/ //tetaplah berdandan/

Inilah menjadi alasan akan keputusan Subjek-Lirik untuk setia menanti sosok kekasih idaman yang dirindunya //aku menantimu/.

Ia lalu mempersepsikan loyaitasnya itu dengan fenomena alam – laut yang luas tempat bersemayam kesenduan rindunya itu.

//aku menantimu/ //seperti laut/ //rumah, tempat senja lahir dan lelap/

Sengatan Romantisme

Mari kita berasumsi bahwa Christian Dari Timor adalah seorang individu yang romantis. Mari kita bayangkan manakala ia menyuarakan hasrat cintanya kepada seorang kekasih niscaya kekasihnya itu akan melambung tinggi ke udara dan tersangkut di lengkung langit, lupa bagaimana caranya turun ke bumi lagi. Mengapa demikian? Karena hanya orang yang memiliki gairah mencintai yang besar mampu bersikap sedemikian romantis, bukan? Dan hanya orang yang romantis pula yang bisa menumpahkan suatu kerinduan yang amat membuncah dalam karya seni puisi.

Romantisme memang menyengat kesadaran. Ia ingin melaju terbang ke alam ideal untuk apapun yang dihasratkan. Ia cenderung menolak suatu keadaan yang biasa-biasa saja. Ada idealisasi dalam romantisme. Ada tarikan kontradiktif yang amat kuat antara kondisi riil dengan alam romantik. Sehingga secara psikologis membentuk kompleksitas dunia batin individual.

Dari sudut pandang filsafat eksistensialisme, manusia adalah subjek yang menghidupi sekaligus menghayati dunianya. Segala hal dalam dirinya adalah buah keputusan bebas yang secara mandiri ia tetapkan. Keromantisan berada pada tataran sikap reflektif, melihat berbagai pengalaman berkesan dan memilih secara bebas mana saja yang akan dijadikan sebuah nostalgia. Hal ini dilakukan seorang individu dalam rangka memaknai apa sesungguhnya cinta itu, apa rasanya mencintai dan apa sebenarnya keberadaan manusia sebagai subjek yang mencintai.

Sengatan romantisme akan makna eksistensial tentang cinta berikut segenap rasa yang melibatkannya jelas tergambar dalam puisi Dermaga Biru. Di dalamnya berbagai kerumitan perasaan rindu (tak tertanggungkan) amat kental dirasakan pembaca.

Namun, saya kira Christian Dari Timor hanyalah seorang penyair yang berhak menyampaikan pesan suara hatinya tentang rindu dan cinta yang romantis. Ia tentu juga ingin menggugah pembaca bahwa buah dari mencintai dengan tulus adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Apalagi di tengah perubahan zaman yang serba cepat dan pragmatis seperti saat ini. Keromantisan dan kebahagian dalam bercinta menjadi barang langka karena pergeseran makna cinta itu sendiri. Di era digital ini, cinta adalah ’klik yang genit’, ia semata petualangan sensasional yang bisa saja berubah kapanpun tergantung kebutuhan menikmati sensasi itu sendiri. Inilah kiranya pelajaran moral dari hidangan ruhani puisi romantis Dermaga Biru. Salam sastra. [M.I]  

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Kisah Otis Johnson Setelah 44 Tahun Dipenjara

| 0 komentar


kisah, Otis Johnson, 44tahun, dipenjara, Blog Dofollow

Lelaki itu tak muda lagi. Ia bernama Otis Johnson, 69 tahun. Seorang warga negara Amerika Serikat, yang tercerabut dari lingkungan sosialnya sejak ia berusia 25 tahun, dan akibat prilakunya yang berlawanan dengan hukum, ia pun harus mendekam selama 44 tahun di dalam penjara.

Setelah dibebaskan, Johnson mengalami culture shock. Suasana amat berbeda, asing dan segala sesuatu begitu baru, membuat dirinya dikepung beragam perasaan takjub. Berikut penggalan kisah pengalaman hidupnya yang dramatik, yang saya terjemahkan dan narasikan kembali untuk disajikan kepada pembaca. Narasi terjemahan ini telah disunting seperlunya demi memudahkan pemahaman pokok bahasan, namun tetap bersumber dari wawancara berbahasa Inggris Aljazeera TV.  


”Nama saya Otis Johnson. Usia saya saat ini 69 tahun. Saya masuk penjara saat berusia 25 tahun, karena melakukan percobaan pembunuhan terhadap seorang petugas polisi – menyerangnya. Kehidupan dalam penjara sangat mempengaruhi diri saya. Sehingga, ketika saya masuk kembali ke masyarakat, awalnya saya agak mengalami kesulitan; karena apapun yang saya saksikan di luar telah banyak berubah.”

”Saya perhatikan keadaan di sekitar, hal-hal baru telah terjadi. Wow!” serunya heran ketika plesiran memasuki kawasan Times Squares di Kota New York.

44 tahun dalam penjara membuatnya segalanya demikian berbeda di matanya. Perubahan yang disaksikan amat akseleratif. Kecepatannya seperti mustahil dapat terbayangkan oleh Johnson. Dulu ia hanya melihat orang-orang berlalu di sepanjang pertokoan yang jendelanya biasa-biasa saja. Sekarang tiap jendela itu telah menjadi layar video. Gambar iklan multimedia berselang-seling melesat dalam hitungan detik. Perubahan ini begitu menggila baginya.

”Saya saksikan semua orang, atau mayoritas dari mereka sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Lalu, saya berjalan lebih dekat lagi ke mereka. Ternyata mereka memasang ”sesuatu” di telinganya yang tersambung dengan telepon. Saya heran, kok bisa? Mereka menyebut benda tersambung dengan telinganya itu iPhone, ya seperti itulah katanya. ”

”Melintas pikiran dalam benak saya. Apakah semua orang ini agen CIA? Karena itulah yang terbersit dalam pikiran saya saat melihat mereka. Seseorang yang berjalan dengan kabel tersambung di telinganya pada masa tahun 60-an sampai 70-an adalah agen rahasia.”

”Wow!” serunya takjub. ”Terkadang saya mencoba membayangkan bagaimana mereka bisa seperti itu? Berjalan tanpa pernah mengontrol langkah kaki. Berbicara dengan telepon tanpa sekalipun memperhatikan ke arah mana tujuannya. Hal itu sedemikian menakjubkan bagi saya.”

Kepadatan amat terasa. Orang-orang lalu-lalang seperti barisan semut pekerja. Tak putus-putus. Johnson menembus keramaian Kota New York, masuk menuju sebuah stasiun bawah tanah di pusat kota. Di sebuah pojokan ia berhenti. Lama ia perhatikan dua unit telepon umum koin, yang terpasang di salah satu dinding.

”Saya ingat betul benda ini. Waktu itu saya baru pertama kalinya keluar plesiran. Saya bermaksud menelepon. Lalu saya cermati stiker yang bertuliskan 1 Dollar. Sebelumnya hanya tertera angka 25 sen,” mantan narapidana itu tertawa heran. ”Saya tahu. Rupanya mereka tidak menggunakan ini lagi,” katanya lagi seraya memaklumi. Berpuluh tahun mendekam di balik jeruji, Johnson tak menyadari, era Steve Jobs dengan budaya iPhone, telah amat lama meninggalkannya. Sendiri dibatasi ruang hidup yang bertembok dingin.

Johnson melanjutkan perjalanannya. Ia nikmati semua hal baru yang ditawarkan lingkungannya. Ada yang terasa ganjil dalam semua hal yang baru. Walaupun demikian, ia yakini dirinya sendiri mungkin masih ada hal-hal yang tersisa, apapun yang barangkali pernah sangat akrab dengan dirinya di masa lalu.

Ia masih ingat beberapa. Plesiran dengan menumpang bus juga termasuk yang paling digemarinya. Terbiasa sendirian dari dulu, ia coba temukan hal-hal yang dapat menyenangkan dirinya kembali. Ia kini berada di sebuah perhentian bus. Naik dan memilih duduk dekat dengan jendela.

”Saya suka naik bus. Anda tahu? Cuci mata melihat hal-hal berbeda, hanya bisa dengan bus,” dari jendela beruap dilihatnya rumah-rumah, dan pepohonan peneduh di sepanjang jalan. Sebuah landscape yang menawarkan kesegaran baru, bukan?

Johnson melanjutkan ceritanya lagi. Ia jelaskan mengapa ia begitu suka berplesiran sendirian dalam bus. 

”Dalam bus Anda juga bisa berkomunikasi, ya, setidaknya dengan sedikit orang. Atau, mendengarkan percakapan mereka tentang hal-hal yang tengah terjadi. Lain ceritanya kalau Anda naik kereta api. Suasana di dalamnya penuh sesak. Orang-orang saling berdesakan. Namun, dalam bus sekalipun dipenuhi penumpang, masih tetap tersisa ruang bagi kita.. Hmm.. Mungkin untuk bercakap-cakap dengan seseorang, atau menyimak prilaku mereka yang sedang berplesiran bersama keluarganya yang kebetulan berada dalam bus yang sama dengan kita.”

Beberapa saat berselang, Johnson berada di sebuah ruang publik. Udara yang dihirup terasa amat segar. Ia duduk di salah satu bangku taman. Meluaskan pandangannya, menangkap segala apa yang bisa disaksikan penglihatannya.

”Berada di tengah masyarakat.. Hmm.., itu menyenangkan. Sangat menyenangkan sekali! Ketimbang berada dalam penjara. Orang hanya bisa keluar pada saat-saat tertentu saja,” tatapannya menyapu semua pemandangan yang tersaji di sekitar taman. ”Makanya saya suka berada di saat cerah begini, dan saya juga suka mengamati orang-orang di sekeliling.” Senyumnya merekah karena perasaannya yang bersuka-cita, ”Ini menyenangkan! Menyenangkan bisa menikmati hal begini dalam keadaan bebas.”

Sendirian menikmati kebebasan, baginya adalah anugrah terbesar. Ia telah kehilangan kontak dengan keluarganya sejak tahun 1998. Kini ia berada di luar penjara tanpa seorang terdekat pun yang bisa dihubungi. Tak ada lagi saudara-saudarinya, dan sungguh hal ini amat meresahkan dirinya. Johnson sangat merindui keluarga. Ia masih ingat ada dua keponakan perempuan kembar yang sangat disayanginya. Masih jelas dalam benaknya kelakuan manja mereka ketika bermain dengannya. Masih jernih terdengar suara kekanakan mereka di telinganya. Kenangan manis ini masih bersemayam dalam benaknya. Ia memang menyayangi anak-anak.

***


”Anda tahu? Saya mencicipi banyak makanan yang berbeda sekarang,” katanya saat sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan modern. ”Dalam rak-rak tersusun begitu banyak jenis makanan yang berbeda. Minumannya juga. Warnanya amat beragam. Sesekali saya akan mulai meminumnya juga. Bukan karena itu suatu perbuatan yang iseng. Tapi memang banyak sekali pilihannya.  Sulit sekali untuk memilih jenis makanan apa yang memang kita inginkan.”

Selama di penjara, Johnson tentunya amat akrab dengan makanan dan minuman yang memang diatur sedemikian ketat. Para narapidana mustahil dapat menentukan apa saja menu yang sesuai dengan selera mereka. Segala sesuatu sudah ditentukan dalam sistem lembaga pemasyarakatan. Tak ada pilihan selain mengikuti yang telah ditetapkan peraturan dalam penjara.

Malam mulai membentang selimut pekat. Siang yang riuh menyurut terhisap ke dalam. Lampu-lampu memandikan cahayanya pada jembatan, membasuh jalan dengan cahaya merkuri, mengganti jutaan larik cahaya matahari sebelumnya.

”Manakala tidak ada lagi sesuatu yang dikerjakan.. Mungkin sekitar pukul 6,” tutur Johnson melanjutkan kisahnya, ”Ya, sejak saya bebas dan ini menyenangkan, saya keluar menuju ke taman. Di sana saya melakukan meditasi. Hmm.. Melepaskan hal-hal yang menekan dalam diri saya keluar. Membiarkannya pergi begitu saja. Ya, karena saya pikir mempertahankan keadaan emosi yang buruk, marah misalnya, ini akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan kepribadian kita.”

”Ketika banyak orang berpikir bahwa masyarakat sekitarnya berhutang karena jasa mereka yang ikut andil dalam membangun, saya tidak berpikir mengikuti kecenderungan tersebut. Sekalipun saya pernah berbuat jahat. Saya tidak merasa bahwa masyarakat berhutang apapun kepada diri saya. Saya percaya bahwa segala sesuatu terjadi pasti ada alasannya. Jadi, saya biarkan saja berjalan sebagamaina mestinya.”

”Saat ini saya lebih berpikir ke depan, dan melepaskan diri dengan masa lalu. Saya berusaha untuk tidak melihat ke belakang. Saya mencoba untuk melangkah maju ke depan. Hal inilah yang membuat saya mampu bertahan hidup dalam masyarakat. ”

Tidak mudah memang menemukan posisi yang tepat di tengah kondisi yang berubah dalam suatu lingkungan sosial. Apalagi bila sebelumnya seseorang mengalami keadaan yang membatasi dirinya untuk memaksimalkan potensi kemanusiawian dalam rangka berinteraksi dengan aktif, mengimbangi dinamika kehidupan yang berubah tiada henti. Sekalipun demikian, mencoba bangkit dan mengimbangi situasi baru yang melingkupi amatlah bijaksana. Melepaskan belenggu masa lalu yang kelam, menyongsong hari depan dengan semangat hidup yang masih menyala sungguh merupakan perbuatan yang bijak. Begitu pula dengan Otis Johnson yang lebih memilih untuk menatap ke depan, berusaha untuk berbuat yang terbaik bagi dirinya saat ini.

Bukankah selimut malam juga akan terkoyak oleh tajamnya cahaya fajar? Dan hangat mentari pagi akan menawarkan segala kemungkinan yang baru. [M.I]



Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Valentine, dari Mitos Menuju Arketipe

| 0 komentar


Pada tiap medio Februari begini, ada satu perayaan yang ditengarai sebagai upaya mengapresiasi cinta dan kasih sayang. Perayaan itu oleh publik lazimnya dikenal luas sebagai Hari Valentine alias Hari Kasih Sayang, yang persisnya jatuh pada 14 Februari.

Sebagai peristiwa khusus, tentunya Hari Valentine tersebut menandai suatu momen tertentu yang berkaitan dengan cinta dengan segenap efek melankoli – romantik yang melatar-belakanginya. Sehingga dengan berbagai bentuk ekspresi tersendiri, sejumlah orang khususnya kawula muda merasa menemukan “momen yang tepat” untuk mengungkapkan ekspresi cintanya yang bergairah buat sang kekasih pada hari itu.

Bagaimana bisa 14 Februari mendapat kehormatan sebagai Hari Kasih Sayang, bila dibanding dengan 364 hari yang lain setiap tahunnya? Apakah ada peristiwa tertentu di masa lampau yang bergerak sebagai mitos atau kenyataan lapis kedua yang menubuatkan 14 Februari sebagai Hari Kasih Sayang? Mari kita telusuri bersama.


Valentine yang dimitoskan

Suatu peristiwa biasanya ditandai oleh waktu sebagai interval dimana ia berlangsung. Di dalamnya, terjadi drama kehidupan manusiawi yang menghasilkan akibat tertentu. Dan, akibat ini diproduksi oleh pelbagai sebab yang merelasikannya (baik itu hubungan timbal balik perorangan, individu dengan kelompok sosialnya, ataupun hubungan seorang yang bersifat resiprokal dengan sistem sosial – politik dan kebudayaan yang melingkupinya).

Dalam konteks ini, konon pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Claudius II (270 M, di akhir abad ke-3) hiduplah seorang pendeta yang bernama St. Valentine. Sang pendeta ini, menurut legenda, bertentangan dengan penguasanya pada waktu itu.

Ketika Claudius II berpandangan bahwa pasukan kerajaan yang kuat dalam peperangan adalah mereka yang terdiri dari para laki-laki lajang daripada yang berkeluarga, sang Kaisar pun mengeluarkan maklumat yang melarang para penduduk laki-laki untuk menikah. Sebab, Claudius II akan merekrutnya sebagai ”mesin perang hidup” yang tanpa rasa takut, atau guyah pendiriannya pada saat berada di medan laga, karena tak ada orang dikasihi yang akan ditinggal mati.

St.Valentine melihat ini sebagai kebijakan politik yang amat otoriter. Ia menganggapnya sebagai ”despotisme” dari tangan kekuasaan dingin raja yang lalim. Ia melihat bahwa laki-laki yang mencintai kekasihnya ”wajib” disatukan dalam ikatan yang sakral. Bukannya dicegah demi kepentingan rajanya yang haus kekuasaan dan gila perang. Maka, diam-diam ia tetap melaksanakan upacara pernikahan bagi tiap pasangan yang saling mencintai. Namun, pada akhirnya mata-mata Claudius II mengendus gelagat pembangkangannya. Valentine pun ditangkap dan dipenjarakan.

Saat dipenjara ia berkenalan dengan seorang gadis yang merupakan anak dari salah satu penjaga. Gadis itu penyakitan, penglihatannya terganggu dan menerbitkan iba di hati sang Pendeta. Valentine lalu mengobatinya hingga sembuh. Dan, ia jatuh cinta padanya. Kisah cintanya yang klandestin ini tak berlangsung lama; sebab pada akhirnya ia harus menghadapi vonis hukuman mati dari Claudius II. Sehari sebelum diriya dieksekusi, ia mengirim surat cintanya yang amat melankoli dan syahdu dengan penutupnya yang berbunyi ”Dari yang tulus cintanya, Valentine mu.” Surat itu sampai di tangan kekasihnya dan dibaca tepat pada saat hukuman mati dilaksanakan, 14 Februari 270 M.

Peristiwa ini lebih cenderung menjadi legenda. Artinya, ketika status denotatum yang membangunnya lebih mengarah pada sifat fiksional daripada kenyataan faktual historis, maka peristiwa tragis St. Valentine yang berkorban demi cinta tulusnya baik pada kekasih maupun pada sesama manusia (laki-laki yang dilarang menikah pada masa Claudius II), lebih terkesan disampaikan dari mulut ke mulut (ciri utama kisah legenda), diceritakan karena dipandang masih mengandung nilai kebenaran juga. Lalu, bagaimana ini bisa menjadi mitos?

Roland Barthes, dalam Mythologies (1972), menjelaskan bahwa mitos juga meliputi cerita-cerita yang sudah ada sejak zaman kuno. Maka, kita dapat memahami bahwa mitos, di satu sisi bercorak fiksional, tapi pada sisi lain merujuk pada kisah-kisah masa silam, dan mengandung kebenaran. 

Berdasarkan pemikiran ahli semiotik Perancis ini, rangkaian episode dari penggalan kisah hidup St. Valentine yang dramatis, menjadi semacam ”tanda” dari lapis kedua kenyataan yang sebelumnya hanya merujuk pada terbentuknya tanda lapisan pertama yang menggambarkan peristiwa biasa matinya seorang pendeta di tangan penguasa Claudius II, yang tidak diberi bobot tambahan pengertian tertentu (momentum kesucian cinta melalui pengorbanan sang martir).

mitos, arti dari mitos, pembentukan mitos, mitos valentine,Blog Dofollow

St.Valentine menjadi mitos akibat peristiwa yang dialaminya diberi sejumlah bobot penafsiran sebagai ”tanda” yang menandai konsep-konsep pemikiran filosofis tersendiri, berikut ini:
  1. Cinta yang tulus adalah yang mau berkorban demi keberlangsungan eksistensi cinta itu sendiri sebagai entitas yang bersemayam dalam diri manusia. Sebagaimana dicontohkan dalam perbuatan Valentine yang rela dipenjara karena telah menikahkan pasangan yang salin mencintai sekalipun dilarang Claudius II.

  2. Cinta yang suci adalah cinta dalam hati tiap kekasih yang menentang apapun yang merintangi jalan penyatuannya dalam ikatan sakral. Para kekasih disarankan untuk meniru perbuatan para pasangan yang dinikahkan Valentine secara sembunyi-sembunyi, seandainya ada hal-hal yang membuatnya terhalang sebagai pasangan hidup yang syah menurut ajaran dogmatis tertentu.

  3. Cinta yang murni adalah cinta yang murah hati, penuh rasa iba pada penderitaan sesama manusia, seperti perbuatan Valentine yang berbelas kasihan pada seorang gadis penyakitan  anak penjaga penjaranya yang ia sembuhkan.

  4. Cinta yang bergairah adalah cinta yang terekspresikan dalam laku dan perbuatan tertentu, seperti perbuatan Valentine yang mengungkapkan hasrat cintanya yang dalam melalui surat cinta pada kekasih sebelum kematiannya pada 14 Februari yang tragis itu.

  5. Cinta adalah kebajikan tertinggi yang transendental bila salah seorang kekasih berani menempuh resiko kehilangan nyawa demi orang yang dicintainya. Cinta yang demikian akan hidup selamanya di hati sanubari umat manusia.

Pengertian-pengertian filosofi cinta inilah yang menganggap peristiwa tragis St.Valentine bukan sebagai drama kehidupan biasa di masa lampau. Ia menjadi mitos yang dibangun dari konstruksi pra-konsepsi yang tidak hanya menandai telah terjadinya pembuhunan seorang pendeta oleh Kaisar Romawi, Claudius II pada 14 Februari 270 M, tapi menimbulkan pengertian di dalam teks (baik lisan maupun tertulis) yang mengkomunikasikannya sebagai ”tanda” hadirnya konsepsi tentang cinta yang tulus, murah hati, kukuh berpendirian, rela berkorban. Suit.. suit.. Aduhai!

Alhasil, sampai sekarang pun hari kematian St. Valentine dikenang sebagai Hari Kasih Sayang dengan beragam perayaan yang romantis, syahdu sekaligus melankolis. Sebab, peristiwa tragis di akhir abad ke-3 Masehi itu telah memitoskan eksistensinya melalui bobot-bobot pengertian tertentu yang notabene bersifat filosofis sekaligus ideologis.


Perayaan Valentine sebagai arketipe

Setiap perayaan jenis apapun juga adalah nostalgia yang arketipal oleh suatu masyarakat berkebudayaan. Demikian pula kiranya dengan perayaan tahunan Hari Valentine pada tiap medio Februari. Peristiwa ini menandai suatu upaya dari masyarakat untuk sejenak melihat ke belakang, masa lampau yang tidak lagi hadir kini, mengimajikan momen berkesan khusus dalam jarak rentang waktu kini dan dulu, lalu menghadirkannya kembali dengan berbagai alasan tertentu yang melatar-belakanginya.

Antropolog Mircea Eliade mengaitkan kegemaran manusia menyelenggarakan berbagai jenis perayaan dengan konsep archetype. Menurut Eliade, pada pandangan manusia tradisional, dalam setiap hal terdapat sebuah model yang dianggap sebagai bentuk atau keadaan paling ideal umat manusia. Perayaan dipandang sebagai cara ”membawa kembali” sosok ideal/ model yang asali (exemplary model) dari masa lampau dalam rangka dijadikan acuan hidup.

Hari Valentine, 14 Februari, dapat juga dipandang sebagai upaya orang-orang mengidealisasikan gambaran sosok panutan dari diri St.Valentine, yang layak dijadikan contoh dalam konteks pemaknaan cinta di kehidupan nyata. Dengan mengenang hari kematiannya yang tragis karena ketulusan cinta dalam hatinya pada masa lampau, ini membantu orang-orang mengidentifikasikan diri baik secara individual maupun kolektif ketika bertingkah laku atas nama cinta dan mencintai. Ada romantisme ideal yang ingin dicari dengan perayaan Valentine. Sebuah nostalgia melankolis yang bersedia menenggelamkan diri masuk ke masa lalu karena kebutuhan menghayati makna cinta, yang barangkali pengertiannya telah mengering di masa kini akibat perubahan zaman yang kian akseleratif dan serba pragmatis.

Manusia mencari kebijaksanaan masa lampau melalui perayaan-perayaan. Sebuah upaya menemukan pembanding untuk memahami apakah dari tiap laku-perbuatannya dapat dikatakan bijaksana, luber dengan ketulusan cinta. Maka, sosok St.Valentine pun merasa perlu dihidupkannya kembali melalui peringatan hari kematiannya. Ini tidak peduli apakah eksistensinya faktual historis atau sekadar mitos belaka, yang bergerak maju melalui pelegendaan, mengkultus melalui peran idealistiknya berkaitan dengan makna cinta tulus dalam arketipe.

Perayaan Hari Valentine ini sulit hilangnya selama manusia modern tetap berada dalam kegamangan memahami pengertian cinta yang tulus, walaupun ditentang gerakan pemurnian (puritanisme) yang timbul akibat dari kontradiksi unsur-unsur dogmatis tertentu.

Seyogyanya perayaan Hari Valentine mesti dilihat dengan sikap toleran bila itu menunjuk pada upaya masyarakat yang berkeinginan hidup harmonis dalam cinta sesama, tanpa bersinggungan secara keras karena berbeda pandangan spiritual. Jika tidak mau merayakannya silakan saja, dan sebaiknya tidak bersikap agitatif dogmatis yang akan memecah belah persatuan bangsa.

Alangkah indahnya hidup dalam ketulusan cinta, saling menyayangi antar sesama tanpa memperuncing perbedaan dogma ideologis masing-masing. Setuju? [M.I]  

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha