Struktur Perbuatan dalam Sebuah Narasi


Tiba-tiba lelaki itu menggebrak meja dan berteriak marah. Matanya nyalang, menatap penuh kemurkaan terhadap lawan bicaranya. Ia muntab dituduh telah menipu lawan bicaranya itu. Padahal ia merasa tak melakukannya. Tak pelak lagi, lelaki itu menghunjamkan kepalan tangannya langsung ke wajah lawan bicaranya yang terjengkang ke lantai.

Fragmen di atas secara implisit menerangkan tokoh utama cerita dalam kondisi yang sedang marah.  Mengapa narasi yang dilukiskan tidak langsung saja mengatakan 'lelaki itu dilanda marah'? Mengapa mesti ada unsur-unsur lain yang menerangkan tentang struktur bentuk perbuatan marah yang sedang dialami si tokoh cerita? Secara ringkas kita bisa menjawabnya: inilah bedanya sebuah narasi. Suatu bentuk pelukisan 'tindak-tanduk / perbuatan' dalam arus gerak yang dinamis.

Narasi memang memberikan pengertian tentang perbuatan melalui serangkaian aksi. Karena, narasi melihat perbuatan bukan sebagai peritiswa bisu, tanpa gerak dan bersifat statis. Kekakuan tentu saja adalah hal yang paling dihindari dari sebuah narasi cerita. Sebab, narasi ingin memberikan pembaca sebuah pengalaman langsung dari persoalan yang ingin disampaikan oleh narator / pencerita.

Narasi memberikan perincian tentang sebuah peristiwa berbeda dari yang diterangkan oleh deskripsi yang hanya melihatnya sebagai keadaan 'yang apa adanya'. Perincian tersebut tampak dari komponen-komponen lain yang saling berhubungan, yang tujuannya membentuk pengertian pokok. Mari lihat contoh lainnya lagi, yang menerangkan peristiwa perselisihan / pertengkaran.

Angin Sirocco bertiup pada hari itu, sebuah angin basah dari Afrika, sebuah angin yang jahat! Ia mendongkolkan urat-urat syaraf dan menyebabkan orang-orang berprilaku buruk. Itulah mengapa dua orang sopir taksi, Giuseppe Cirotta dan Luigi Meta, berselisih. Percekcokan pecah dengan tiba-tiba, tak ada orang yang tahu siapa yang memulai, tetapi orang-orang melihat Luigi melemparkan dirinya kepada Giuseppe dan mencoba untuk menangkap lehernya. Dan, Giuseppe mengelakkan kepalanya, menyembunyikan leher merah tebalnya, mengangkat kepalan tangannya yang hitam berat. Mereka bergumul. ( Narasi pembuka dari cerpen Karya Maxim Gorky : Hukuman )

Pengertian dari perselisihan diterangkan melalui rangkaian adegan-adegan yang hidup, tempat dan suasana yang menglingkupi, yang pada akhirnya menuju pada titik sentral peristiwa yang dinamis ─ bergumul. Pada diri pembaca akan terasa sebuah pengalaman langsung, terbentuk pengertian tentang kata pertengkaran yang bukan bersifat definitif semata. Pembaca seolah-olah menyaksikan langsung setelah itu memahami berdasarkan kesaksiannya. Itulah kelebihan narasi dalam hal memberikan pengertian melalui lukisan adegan-adegan lain yang saling berhubungan. Gambaran pengertian yang diberikan mengajak pembaca memasuki sebuah peristiwa langsung.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

0 Comments:

Posting Komentar

  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha