25 Jul 2012

 

Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan



Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan

Oleh NICCOLO MACHIAVELLI


Pada cerita-cerita lama dalam sejarah Florentine orang mungkin membaca tentang seseorang yang sangat suci (dikenal melalui cerita dari mulut ke mulut), yang perangainya sangat dihormati oleh siapapun pada saat itu. Kita membaca bagaimana ia mampu melihat – karena kekhusukan doa-doanya – jiwa orang-orang yang menderita, yang meninggal tanpa ridho Tuhan dan tercampak ke neraka. Semua atau sebagian besar dari mereka masing-masing memaki diri karena mereka sendirilah yang telah menghadirkan kesengsaraan bagi diri mereka sendiri dengan mengambil seseorang sebagai istri.

Di antara para hakim di neraka, ada dua yang tak segera percaya pada hujatan para lelaki penghuni neraka. Mereka adalah Minos dan Rhadamanthus. Mereka tidak pernah yakin bahwa seluruh hujatan terhadap perempuan yang terus diteriakkan ini adalah sesuatu yang dapat dipercaya; tapi hari demi hari hujatan-hujatan makin meningkat. Ketika mereka menyampaikan ini kepada Pluto dengan tutur yang mengesankan, Pluto memutuskan untuk melakukan penyelidikan dengan seksama. Ia mengumpulkan para Pangeran di neraka dalam sebuah forum besar. Di forum itu Pluto meminta nasehat bagaimana cara mengadili yang seadil-adilnya, cara mengungkap kebohongan, atau cara menemukan kebenaran dalam persoalan tersebut. Maka, ketika anggota dewan yang terpilih dari para bangsawan neraka berkumpul, Pluto memulai pidatonya:

“Para penghuni neraka yang terkasih. Meskipun aku menguasai kerajaan ini dengan seluruh kekuasaan dan dengan kehendak takdir yang tak bisa diubah (dan karena itulah aku tidak bisa ditundukkan oleh sidang pengadilan mana pun baik di langit dan di bumi), bagaimanapun, karena pihak yang sangat berkuasa harus menunjukkan kebijaksanaan terbesar dalam ketaatannya terhadap hukum dan dalam menghargai pendapat pihak lain, maka aku memutuskan untuk meminta pendapat kalian semua tentang bagaimana aku harus mengambil tindakan. Sebab hujatan para lelaki yang datang ke kerajaan kita ini dapat menjadi persoalan yang memalukan bagi kerajaan kita."

“Karena setiap lelaki yang datang ke kerajaan kita menyatakan bahwa penyebabnya adalah karena mereka punya istri? Hal itu bagiku tampak tidak masuk akal. Kita takut dalam proses pengambilan keputusan di depan pengadilan nanti kita akan dicela karena terlalu naïf, mudah percaya, atau sebaliknya karena kurang tegas dan kurang mencintai hukum. Melihat bahwa kesalahan pertama dari setiap pengambilan keputusan adalah kesembronoan dan yang lain adalah ketidakaadilan, dan berharap bisa terbebas dari tuduhan yang datang dari seseorang atau lainnya, dan tidak bisa kami menemukan pemecahannya, maka kami kumpulkan kalian untuk mengakhiri persoalan ini, kalian bisa membantu kami dengan nasehat sehingga kerajaan kita ini akan berjalan tenteram, sebagaimana yang sudah-sudah, tanpa hujatan.”

Semua pangeran memikirkan persoalan yang begitu penting dan sangat pelik ini. Semuanya sependapat bahwa sangat penting untuk menguak kebenaran, namun mereka tidak menemukan kata sepakat tentang bagaimana cara melakukannya. Sebagian berpikir bahwa salah satu dari mereka (sementara sebagian yang lain menganggap harus lebih dari satu) harus dikirimkan ke bumi, dan menyamar sebagai manusia untuk mempelajari kebenaran pada manusia. Tiba-tiba mereka sadar bahwa itulah cara yang paling mudah, yakni menurunkan wakil-wakil dari Neraka ke dunia, memerosokkan mereka ke dalam penderitaan, dan mereka kelak akan mengungkapkan pengalaman mereka di dalam forum. Tapi, ketika mayoritas bahwa hanya satu di antara mereka yang harus dikirimkan, semuanya saling pandang. Karena tak satupun bisa menemukan siapa yang paling tepat untuk menjalankan tugas ini, mereka terpaksa melakukan undian. Yang kalah adalah Belfagor, iblis terbesar (sebelum diusir dari sorga, ia adalah malaikat terbesar). Meskipun sesungguhnya malas menerima tugas tersebut, namun, di bawah tekanan kekuasaan Pluto, ia menyanggupi keputusan dewan dan Belfagor meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sanggup menjalankan ketetapan itu.


Aturan segera dibuat dengan sungguh-sungguh: yakni, siapa yang mengemban tugas akan dibekali saat itu juga dengan dana sebesar 100.000 ducat. Dengan bekal itu ia dilepas ke bumi, dalam wujud manusia, menikahi seorang perempuan, dan hidup dengannya selama sepuluh tahun; kemudian, ia harus pura-pura mati dan kembali ke neraka tentang beban dan cobaan dalam perkawinan. Selanjutnya, dinyatakan bahwa selama kurun waktu tertentu ia harus menjalani kesengsaraan dan rasa sakit yang menimpa manusia yang disebabkan kemiskinan, keterkungkungan, penyakit, dan semua penderitaan yang terjadi pada manusia, dan hanya dengan keculasan atau kecerdikan ia dapat membebaskan diri dari semua itu. Belfagor tak mau berlama-lama mendengar instruksi tersebut, secepatnya ia mengambil uangnya, dan turun ke bumi.

Kepada iblis-iblis kawannya ia meminta disiapkan kuda dan para pelayan. Lalu, dalam wujud sebagai seorang bangsawan yang berpenampilan mewah, ia bersama para pelayannya memasuki Florence. Dipilihnya kota ini, dan bukan kota lain, karena ia melihat peluang besar di sini untuk mengupah orang yang dapat menangani uangnya dengan seluruh kecakapan menjalankan riba. Dengan nama baru sebagai Roderick of Castile, ia menyewa sebuah rumah di kawasan Ognissanti. Dan untuk menjaga diri dari syak-wasangka orang-orang di sekitarnya, Roderick bilang kepada mereka bahwa ia baru saja meninggalkan Spanyol dan pergi ke Syiria, dan di Aleppo ia beroleh rezeki. Dari sana ia berangkat ke Italia untuk mengambil seorang istri dengan pertimbangan bahwa negeri ini lebih beradab dan orang lebih menjaga kesantunan, dan itu sesuai dengan seleranya.

Roderick sangat tampan dan kira-kira berusia tiga puluh tahun. Dalam beberapa hari saja ia sudah menunjukkan diri sebagai orang yang sangat kaya dan, dengan memamerkan kemurahan hati serta keramahannya, banyak bangsawan setempat yang memiliki banyak anak gadis, dan sedikit uang, menawarkan anak mereka kepadanya. Dari semua yang ditawarkan kepadanya, Roderick memilih seorang yang sangat cantik bernama Honesta, anak perempuan Amerigo Donati. Sang ayah memiliki tiga anak perempuan yang sudah memasuki usia perkawinan dan tiga anak lelaki yang sedang tumbuh. Meskipun Amerigo Donati seorang keturunan bangsawan yang terhormat di Florence, namun jika membandingkan isi rumah dengan derajat kebangsawanannya, ia tergolong melarat.

Roderick membiayai sendiri pesta perkawinannya dengan Honesta. Begitu mewah, begitu megah; tak satupun yang didambakan dalam kemeriahan pesta yang tidak tersedia. Tunduk kepada seluruh nafsu manusia, sebagaimana tugas yang diberikan kepadanya ketika meninggalkan neraka, suatu hari ia mulai menikmati kekayaan dan pesta-pesta duniawi. Ia sangat menyukai pemujaan dari orang-orang di sekitarnya; dan ia sanggup biaya besar untuk itu.

Namun, di luar semua itu, kebahagiaan perkawinannya dengan Honesta runtuh sebelum ia benar-benar mencintai istrinya itu. Ia tidak tahan melihat kemurungan dan kekasarannya. Honesta masuk rumah Roderick tidak hanya membawa serta kebangsawanannya dan kecantikannya, tapi juga setiap bentuk keangkuhan yang bahkan setan pun tidak memilikinya; dan Roderick, yang memiliki pengalaman baik sebagai iblis maupun manusia, membisiki istrinya agar lebih memperbesar keangkuhannya.

Apa yang diinginkan suaminya benar-benar dilaksanakan oleh Honesta sehingga rasa cinta sang suami pun menjadi berlipat-lipat. Ketika perempuan itu sadar bahwa ia dapat melakukan segala sesuatu seolah-olah sangat berkuasa atas suaminya, ia mulai memerintah-merintah suaminya dengan kasar tanpa rasa hormat sedikitpun. Tanpa ragu-ragu ia akan mencaci maki dengan kata-kata yang kasar dan hina, jika suaminya menolak permintaannya. Semua ini membuat Roderick merasa sangat tertekan. Namun, mertua lelakinya, adik-adik lelaki Honesta, kerabat-kerabat istrinya, keabadian perkawinannya dengan Honesta, dan di atas segalanya adalah rasa kasihya kepada perempuan itu, mengharap Roderick agar menghadapinya dengan sabar.

Tidak ada gunanya menceritakan betapa mahal untuk memuaskan istrinya yang gila akan gaya hidup mutakhir dan selalu penuh nafsu mengikuti arus mode yang terus menerus berubah. Dalam keinginannya untuk tetap hidup tenang dengan istrinya, Roderick terpaksa membantu mertuanya menikahkan dua anak perempuannya yang lain, dan untuk itu ia harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Kemudian, tetap dengan keinginan untuk mengambil hati istrinya, ia harus mengirimkan salah satu adik lelaki istrinya ke Timur dengan pakaian bagus, yang lainnya ke Barat dengan pakaian sutera, dan menyiapkan untuk yang ketiga perusahaan kerajinan emas di Florence. Untuk semua ini, ia mengeluarkan sebagian besar kekayaannya.

Ketika seluruh kota merayakan hari peringatan Santo Yohannes sebagaimana yang biasa dilakukan turun temurun, dan ketika banyak orang kaya dan terhormat saling mengundang satu sama lain dalam pesta-pesta yang mewah, Lady Honesta tak mau kalah oleh perempuan lain, memaksa Roderick untuk menyelenggarakan pesta yang jauh lebih mewah dari siapapun. Kali ini Roderick bertoleransi dengan alasan yang sama. Selain ia sendiri memang tidak ingin tampak kesulitan di mata orang lain (meski sebenarnya memang demikian). Demi tugas dari neraka, ia tidak berkeberatan jika ketenangan rumah tangga melenggang jauh dari mereka, namun jika diizinkan ia ingin menanti datangnya kehancuran rumah tangga mereka dalam damai.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Bersamaan dengan kebiasaannya yang amat boros, perilaku kasar Honesta memerosokkan Roderick ke dalam tekanan batin tanpa akhir. Tidak ada pelayan atau pembantu rumah tangga di rumah mereka yang tahan menghadapi Honesta, tidak usah dalam hitungan bulan, tapi bahkan hari. Hal ini menyebabkan Roderick betul-betul tidak nyaman untuk mempertahankan pelayan yang setia dan menaruh hormat kepadanya. Mereka tidak lain adalah setan-setan yang menyertainya turun ke bumi sebagai pelayan. Mereka akhirnya lebih memilih kembali ke api neraka ketimbang hidup di bumi di bawah perintah Honesta.

Maka, di tengah-tengah guncangan dan keruwetan pikiran, setelah begitu banyak uangnya dikeluarkan, Roderick mulai menghidupkan angan-angan tentang keuntungan yang ia harap akan datang dari Timur dan Barat. Itu pun tak datang, bahkan segera tampak bahwa ia sedang dililit kesulitan keuangan. Sementara urusannya sendiri makin rumit, datang pula kabar dari Timur dan Barat pada waktu yang bersamaan bahwa salah satu adik Lady Honesta telah menghabiskan modal yang diberikan oleh Roderick di tempat perjudian; adiknya yang lain, kembali dengan kapal penuh barang dagangan yang semuanya tidak diasuransikan dan – sungguh celaka – kapalnya karam.

Tidak lama setelah kabar itu tersebar, para kreditur Roderick secara serempak memutuskan bahwa Roderick sudah pailit karena kewajiban-kewajiban pembayaran utangnya tidak terselesaikan. Roderick gagal meyakinkan mereka bahwa dalam hitung-hitungan dagang, seluruh usahanya masih sehat. Mereka akhirnya menjatuhkan putusan bahwa Roderick kini dalam status di bawah pengawasan ketat. Roderick diawasi dari waktu ke waktu sehingga tak adad kesempatan baginya untuk melarikan diri secara diam-diam. Melihat bahwa tidak ada lagi jalan keluar, dan sadar betul akan tugas yang dikeluarkan dari neraka, maka ia berusaha lari dengan berbagai cara.

Satu pagi Roderick mencongklang kudanya, dan lari melalui gerbang Prato, tak jauh dari tempat tinggalnya. Tidak lama setelah ia lari, para krediturnya mencak-mencak dan mengajukan gugatannya ke para hakim, tidak hanya secara resmi melalui pengacara tapi juga melalui aksi massa. Mereka terus memburu kemana Roderick lari. Untuk menghindari berbagai kesulitan dalam pelariannya, Roderick memutuskan untuk meninggalkan jalanan umum – agar tak ketahuan – dan memilih menyusuri ladang dan persawahan. Tapi kerepotan lain muncul, ia terus terhalang-halang oleh banyaknya saluran air yang menghadangnya. Daerah yang dilaluinya memiliki begitu banyak saluran air dan, karena itu, tak mungkin meneruskan perjalanan dengan kudanya.

Ia memulai perjalanannya dengan berjalan kaki. Ditinggalkannya kudanya di jalan, lalu memotong ladang demi ladang yang dipenuhi pohon anggur dan tebu (yang berlimpah-limpah di sana). Di sekitar Peretola ia menemukan rumah Gianmatteo del Brica, yang bekerja pada Giovanni del Bene; dan kebetulan ia berjumpa dengan Gianmatteo sendiri yang sedang mengangkut makanan buat sapi-sapinya. Roderick meminta perlindungan kepadanya, dan berjanji jika Gianmatteo menyelamatkannya dari kejaran musuh-musuh yang terus memburunya dan berniat menjebloskannya ke penjara hingga mati, maka ia akan membuatnya kaya. Jika kelak ia gagal memenuhi janjinya, maka Roderick rela bahwa Gianmatteo lah orang pertama yang akan menyerahkan kepada musuh-musuhnya.

Meski hanya seorang petani, Gianmatteo adalah lelaki pemberani, dan berpikir bahwa ia tidak akan gagal menyelamatkan orang yang datang kepadanya itu. Ia berjanji akan memenuhi permintaan Roderick. Lalu disembunyikannya Roderick dalam tumpukan tahi sapi di depan rumahnya dan ditimbunnya lagi dengan reranting dan sampah-sampah lain yang ia kumpulkan untuk dibakar.

Roderick tersembunyi sangat rapat ketika para pemburunya berhenti sementara waktu di depan rumah Gianmatteo. Meskipun dengan sedikit memaksa, mereka gagal mengorek keterangan dari Gianmatteo apakah ia melihat Roderick atau tidak. Maka mereka pun melanjutkan pencariannya dan pulang kembali dengan rasa letih setelah menjelajahi Florence dengan sia-sia. Ketika suara mereka tak terdengar lagi, Gianmateo mengeluarkan Roderick dari persembunyiannya dan menagih janji Roderick.

“Saudaraku,” sahut Roderick, “aku sangat berhutang padamu dan akan kubayar segala yang kujanjikan. Percayalah aku mampu melakukan semua yang kujanjikan kepadamu, aku akan menceritakan siapa aku sesungguhnya.”

Maka berceritalah Roderick tentang dirinya dan tentang tugas yang dibawanya dari neraka, juga tentang perempuan yang diambilnya sebagai istri dan tentang kehidupan rumah tangganya. Setelah itu ia memberitahu Gianmatteo bagaimana cara dia akan membuat petani itu kaya. Singkatnya begini: jika petani itu mendengar ada perempuan tertentu yang kerasukan setan, maka Roderick lah sesungguhnya yang menguasai perempuan tersebut; dan ia tidak akan pernah keluar dari tubuh perempuan itu kecuali Gianmatteo datang untuk memintanya pergi. Dengan apa yang dilakukannya ini Gianmatteo akan bisa meminta pembayaran kepada keluarga perempuan yang kesurupan itu sebesar berapapun yang ia minta. Setelah saling bersepakat untuk urusan teknis pelaksanaannya, Roderick lenyap.

Tidak berapa lama kemudian tersiar kabar ke seluruh pelosok Florence bahwa anak perempuan dari Messer Ambruogio Amidei kerasukan setan. Keluarganya mengupayakan segala jenis pengobatan: mereka meletakkan di kepala anak perempuan yang kerasukan itu kepala Santo Zenobius dan jubah John Walbert ─ terhadap kedua benda itu Roderick hanya mencibir. Untuk meyakinkan semua orang bahwa yang menyusup ke dalam tubuh perempuan itu benar-benar setan dan bukan gangguan ingatan, Roderick bicara dalam bahasa Latin melalui mulut perempuan yang dirasukinya dan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan filosofis serta membongkar dosa-dosa sejumlah orang. Termasuk di antaranya seorang biarawan yang mengenakan pakaian perempuan dan menyusup ke dalam seminari selama empat tahun. Semua yang dikatakannya mencengangkan setiap pendengarnya.

Keadaan putrinya ini menyebabkan Messer Ambruogio sangat tersiksa. Telah berbagai upaya dicobanya, dan ia sudah kehilangan harapan ketika suatu hari Gianmatteo datang kepadanya dan menyatakan kepadanya bahwa ia sanggup mengusir setan yang merasuk ke tubuh putrinya asal dibayar 500 florin untuk membeli tanah pertanian di Peretola. Messer Ambruogio menerima tawaran itu. Gianmatteo segera melakukan aksi pengobatannya. Ia bertingkah seolah sedang membaca mantera-mantera dan melakukan upacara pengusiran. Setelah itu didekatinya perempuan yang kesurupan dan ia berbisik di telinganya: “Roderick, aku datang untuk mellihat apakah kau memenuhi janjimu.”

“Baiklah,” sahut Roderick. “Tapi 500 florin tak cukup untuk membuatmu kaya; karenanya, begitu aku keluar dari tubuh perempuan ini, aku akan masuk lagi ke tubuh putri Raja Charles di Naples dan tidak akan pergi kecuali kau yang memintaku. Sang Raja nanti akan memberimu apa saja yang kau minta. Setelah itu tak ada lagi utangku padamu dan kau tak boleh menggangguku lagi.” Setelah mengatakan itu Roderick meninggalkan tubuh perempuan yang diboncenginya. Semua orang kagum dan menyebarlah cerita tentang kehebatan Gianmatteo sebagai pengusir setan.

Peristiwa yang sama terjadi pada putri Raja Charles dan kabarnya segera menyebar ke seluruh pelosok Italia. Tak ada obat yang bisa menyembuhkan putrinya. Tapi ada Gianmatteo, dan Sang Raja sudah mendengar kehebatannya. Maka dia kirimkan utusannya ke Florence untuk membawa Gianmatteo ke Naples. Gianmatteo datang, melakukan upacara sebentar, dan kemudian menyembuhkan putri raja yang sedang kerasukan itu.

Sebelum meninggalkan tubuh gadis itu, Roderick berpesan kepada Gianmatteo: “Lihat, aku tak ingkar janji. Sejak sekarang kau akan jadi seorang yang kaya raya dan aku bebas dari utangku kepadamu. Hiduplah dengan kekayaanmu dan jangan pernah menemuiku lagi, sebab jika kita bertemu lagi setelah ini, aku tak akan berbuat baik lagi kepadamu. Justru sebaliknya, aku akan melakukan segala sesuatu yang buruk. Maka hindari setiap pertemuan denganku.”

Gianmatteo kembali ke Florence sebagai orang yang sangat kaya (raja memberinya lebih dari 50.000 ducat) dan sejak itu ia menikmati kekayaannya dengan tenang. Ia tak pernah berpikir bahwa Roderick akan mempunyai niat untuk mencelakakannya. Tapi sebuah kejadian tiba-tiba membuat kepalanya berdenyut hampir pecah. Ia mendengar kabar tentang putri raja Perancis, Louis VII, yang kerasukan iblis. Gianmatteo menjadi gelisah ketika berpikir tentang raja yang akan menghukumnya jika dia menolak mengobati. Ia juga tak tenang karena ada ancaman dari Roderick agar mereka tak pernah bertemu lagi.

Gagal mendapatkan orang bisa menyembuhkan putrinya, dan mendengar tentang kehebatan Gianmatteo, raja segera mengirim utusan ke Florence. Gianmatteo menyatakan bahwa ia tak bisa datang karena sejumlah alasan. Kesal oleh penolakan ini, raja meminta penguasa Florence agar memaksa Gianmatteo memenuhi undangannya. Tak bisa lagi mengelak, Gianmatteo datang ke Paris. Yang pertama kali ia lakukan adalah menjelaskan kepada raja bahwa kendati pada waktu-waktu lalu ia bisa menyembuhkan perempuan yang kesurupan, tapi itu tidak berarti ia akan selalu berhasil; sebab tidak semua setan takut pada doa-doa dan mantera-mantera yang diucapkannya. Ia akan melakukan yang diminta raja, namun terpaksa minta maaf jika gagal mengusir setan yang mendekam di tubuh putrinya.

Raja sangat marah mendengar penjelasan Gianmatteo dan dengan berang menyatakan bahwa ia akan menggantung Gianmatteo jika gagal menyembuhkan putrinya. Dengan perasaan yang sangat tertekan, petani dari Florence itu mencoba melakukan yang terbaik. Dibisikkannya permintaan kepada Roderick ke telinga putri raja. Ia memohon agar Roderick tidak mengganggu ketenangannya dan menghentikan saja kesukaannya menyusup-nyusup ke tubuh perempuan, Roderick menjawab: “Ah, pengkhianat murahan, kau datang tanpa izinku dan mengganggu kehadiranku. Tidak cukupkah kekayaan yang sekarang ada di tanganmu? Baiklah, aku akan tunjukkan kepada setiap orang bahwa aku bisa membuat kaya siapa pun dan bisa mengambilnya kembali jika aku mau.”

Dengan jawaban seperti itu, Gianmatteo – yang tak melihat jalan untuk berdamai dengan Roderick – memutuskan untuk menempuh cara lain. Ia datang kepada raja. “Tuanku,” katanya, “sebagaimana yang saya bilang kepada anda sebelumnya, rupanya tak hanya satu setan yang menyusup ke tubuh putri anda, sehingga tak banyak yang bisa saya lakukan. Karena itu saya ingin mencoba cara terakhir. Jika berhasil, itulah yang kita inginkan, tapi jika gagal saya akan sangat sedih dan silakan anda melakukan apapun terhadap saya.”

“Untuk cara terakhir ini saya minta dibangunkan sebuah panggung yang cukup besar di Our Lady Square, yang cukup untuk menampung semua bangsawan dan pejabat di kota ini. Saya minta panggung dilapisi dengan sutera dan emas. Di tengah-tengahnya saya akan membangun altar. Minggu pagi mendatang saya harap anda, beserta seluruh pangeran dan bangsawan, berkumpul di sana dengan gemerlap pakaian kebesaran masing-masing yang menunjukkan kekayaan anda. Setelah upacara bersama yang khusuk, saya akan meminta putri anda yang kerasukan dibawa ke depan. Di samping itu, saya minta di salah satu sudut lapangan disediakan paling tidak dua puluh orang dengan terompet, tamborin, simbal, dan segala macam alat music. Jika nanti saya mengangkat topi saya, itulah aba-aba bagi mereka untuk memainkan alat musik mereka dan masuk ke panggung. Semua ini, bersama mantera-mantera dan doa saya, saya pikir akan bisa mengusir setan-setan dari tubuh putri Anda.”

Raja memerintahkan semua yang diminta Gianmatteo untuk segera disediakan. Minggu pagi tiba. Upacara dan doa-doa yang khusuk dilakukan. Setelah itu putri yang kesurupan dibawa ke panggung oleh dua orang uskup dan dua orang bangsawan. Ketika Roderick melihat para pembesar istana dan pejabat kota berkumpul dengan pakaian kebesaran mereka di satu panggung, ia menggumam: “Apa yang akan dilakukan si bangsat murahan itu? Dia pikir aku akan gemetar ketakutan menghadapi pameran seperti ini? Tidakkah dia tahu bahwa aku sudah terbiasa melihat gemerlap sorga dan carut marut neraka?”

Ketika Gianmatteo datang kepadanya dan meminta kepadanya agar pergi dari tubuh putri raja, Roderick menjawab: “Oh, bedebah yang manis, kau pikir kau bisa berbuat banyak dengan kerumunan orang seperti ini? Kau pikir kau bisa lepas dari kekuasaanku dan bebas dari cengkeraman amarah raja? Kau pengkhianat murahan, aku ingin melihat kau digantung.”

Mendengar kutuk dan sumpah serapah seperti itu, Gianmatteo tahu, tak ada waktu lagi baginya untuk memohon belas kasih Roderick. Lalu diangkatnya topinya dan para pemain musik segera memainkan alat di tangan mereka dan berjalan masuk ke panggung. Tak jelas mereka memainkan irama apa, Roderick menutup telinganya karena permainan mereka sedemikian bising. Tak tahu apa lagi yang akan terjadi, dengan gelisah ia menanyakan ke Gianmatteo apa yang akan menyusul setelah ini. Gianmatteo menjawab dengan nada orang bingung: “Celaka, Roderick yang baik! Istrimulah yang akan datang kemari menemuimu.”

Sungguh mencengangkan kata “istri” bagi Roderick. Ia sangat gelisah. Tanpa berpikir apakah benar atau tidak yang dinyatakan oleh Gianmatteo bahwa istrinya akan datang, ia segera keluar dari tubuh putri raja. Saat itu juga ia berkemas pulang ke neraka. Rasanya tak sanggup lagi ia melanjutkan pembuktiannya dengan sekali lagi menikahi seorang perempuan dan merasakan pedihnya.

Maka, begitulah, Belafagor – iblis terbesar yang sebelum dicampakkan dari sorga adalah malaikat terbesar – pulang lagi ke neraka dan memberi laporan tentang istrinya dan segala macam penderitaan yang dibawa perempuan itu ke rumah mereka selama mereka menjadi suami istri. Dan Gianmattteo, yang jauh lebih tahu tentang kehidupan berumah tangga ketimbang para iblis, pulang ke rumah dengan bahagia.



Catatan :

1. Cerpen ini diterjemahkan oleh A.S Laksana dari “The Devil Takes a Wife”, dalam Great Italian Short Story, yang disusun oleh P.M. Pasinetti, Dell Publishing Co., Inc, 750 Third Avenue, New York, 1959.

2. Ilustrasi oleh Jason Engle
Share:

0 komentar:

Posting Komentar