Menikmati Romantisme Puisi Dermaga Biru


Agaknya romantisme yang diendapkan lebih terasa. Kesyahduan rindu, harapan yang menggelisahkan, dan perjuangan memperoleh cinta yang ideal lebih menggetarkan. Tentunya romantisme yang demikian tak begitu saja hadir serta merta tanpa upaya merefleksi unsur-unsur tertentu yang berperan membentuk pengalaman romantik konkrit dalam kehidupan individual seseorang.

Mengapa bisa begitu? Sebab, dari satu sisi, romantisme dalam pengalaman berkesan seseorang adalah upaya pemaknaan atas pengalaman hidup yang dihayati. Ini merujuk pada pelbagai peristiwa yang berkaitan dengan relasi inter-personal manusia yang intens sehingga menorehkan kesan yang mendalam. Pada sisi yang lain, romantisme hadir sebagai salah satu bentuk pengungkapan keberadaan diri manusia yang dikonsepsikan sebagai kebenaran eksistensial. Artinya, ketika seorang individu ’mendunia’ bersama eksistensinya, ia menjalani perannya sebagai bentuk manifestasi pengambilan keputusan subjektif yang mandiri. Bersama dengan kemandirian mengada tersebut, ia memilih untuk berelasi dengan orang lain, mengikat ataupun terikat dalam cinta yang institusional. Dan, di dalam ruang cinta yang terlembagakan sedemikian rupa itu, manusia memasuki alam romantik akibat penghayatan atas makna mengasihi, merindukan, mengharapkan sekaligus merasa gamang apabila pencarian makna ideal dari hal-hal tersebut belum ditemukan seluruhnya.

Demikian yang bisa kita rasakan ketika mencicipi manisnya romantisme dalam puisi Dermaga Biru karya Christian Dari Timor. Agar lebih terasa lagi madunya, sebaiknya kita simak bersama puisi tersebut secara lengkap.

DERMAGA BIRU
Oleh Christian Dari Timor

ada sepotong senja yang kupetik di dermaga biru
kularung di atas rindu
untuk mencari permata hati
yang dalam keheningan matanya
aku terantuk

nafasku menggigil menghirup senyumnya
suaraku patah saat bibirnya berucap mawar
tempat sekuntum cinta diam
yang tak menangis ketika harumnya dicuri

ya, teruslah berdansa di sana
bila senjaku tiba
tetaplah berdandan
aku menantimu
seperti laut
rumah, tempat senja lahir dan lelap


Parafrasa Puisi Dermaga Biru

I

(Ketika melesat bayangan dirimu, tahukah kau?) Ada sepotong senja yang (selalu) kupetik di dermaga biru. (Dalam kesyahduan yang menyelimuti kalbuku, ia) kularung (biarlah hanyut) di atas (riak ombak lautan) rindu. (Kuikuti kemana arahnya) untuk mencari permata hati (seperti dirimu yang teramat kurindu) yang dalam keheningan matanya (mampu menggenggam jiwaku hingga) aku terantuk (tidak mampu beranjak karena pesona cahaya kasih).

II

(Aku takjub dan) nafasku menggigil (ketika aku) menghirup senyumnya. (Diriku terlarut, terhisap dalam adanya, keagungan yang mistik, cinta yang paling didamba. Aku tercekat.) suaraku patah (tersendat, sulit bagiku menemukan kata terindah untuk mengungkapkannya apalagi) saat bibirnya berucap (menyapaku, sungguh bagaikan pesona merahnya) mawar (mekar perlambang segala gairah cinta yang ada.). (Di sanalah sejatinya) tempat sekuntum cinta diam (dalam segala keagungannya). (Di sanalah jua esensi cinta) yang tak menangis (, yang tak lagi terpenjara oleh kulit kegemerlapan semata seperti) ketika harumnya (rekah kelopak mawar) dicuri (masa mekarnya yang lalu.).        


III

Ya, teruslah berdansa di sana (aku menyaksikannya di sini). (Dan) bila (kelak) senjaku (masa ketika waktu menguji kesetiaanku) tiba (, kau tahu aku selalu mengagungkan dirimu maka) tetaplah berdandan (riaslah dirimu agar bercahaya dengan cinta, lalu datanglah padaku dalam utuh kedirianmu sebab) aku menantimu seperti laut rumah, (yang syahdu) tempat senja lahir dan lelap (, begitu juga kau dan aku yang ingin berumah dalam ruang luas cinta dimana seluruh anugerah tertumpah menyinari kita hingga berakhir dalam keheningan yang lelap).


Memaknai Puisi Dermaga Biru

Memaknai sebuah karya seni seperti puisi bukanlah perkara yang mudah. Bahasa puitik (atau sering disebut sebagai bahasa khas  penyair) terjalin begitu kuat antara pengalaman subjektif emosional dengan tataran makna yang cenderung konotatif.

Bicara tentang pemaknaan sesungguhnya adalah kesediaan penafsir untuk memasuki pengalaman konkrit penyair. Mencari apa gerangan hal-hal yang ada dalam kenangannya (yang merepresentasikan pesan suara hati/pikiran emosional tertentu) melalui modus ekspresi simbolik kata-kata puitis. Hal tersebut karena penyair seperti Christian Dari Timor ini adalah individu yang mampu mengadakan penyesuaian alamiah dengan gejolak batin, lalu piawai mengungkapkannya kembali dengan kata-kata sarat makna sampingan. Artinya, kita tak bisa mengabaikan aspek psikologis yang berperan kuat dalam proses kreatif seorang penyair. Sebab, dari sanalah bermula drives (dorongan-dorongan psikis) untuk menulis puisi – demikian juga dengan puisi Dermaga Biru ini.

Puisi sebagai bahasa hati sejatinya upaya pemaknaan atas pengalaman hidup berkesan, yang mana sulit diperkatakan melalui struktur gramatikal biasa. Ia memiliki struktur sintaksis tersendiri entah itu terdapat dalam paralellisme, enjambemen, dan/atau melalui pemutarbalikan hubungan sintagmatik unsur-unsur dalam kalimat. Misalnya, ini tampak dalam larik pertama:

//ada sepotong senja yang kupetik di dermaga biru/  

Aku memetik sepotong senja di dermaga biru. (Struktur sintaksis kalimat biasa berpola subjek [Aku], predikat [memetik], objek [sepotong senja], dan perluasan kalimat dengan keterangan tempat [di dermaga biru]).

Hampir semua struktur sintaksis dalam puisi mengalami pergeseran urutan hubungan fungsionalnya. Tentunya hal ini karena ingin memperkuat ungkapan perasaan yang dipadatkan dalam bahasa puitis.

Baiklah kita langsung saja mulai mencoba memaknai puisi Dermaga biru dari penyair Christian Dari Timor ini.

Secara tematik penyair membentuk bangunan puisinya dengan pokok pikiran tentang perasaan si Subjek-Lirik merindukan kekasihnya. Pada bait pertama, kerinduan diungkapkan dengan menyajikan imaji visual suasana kesenduan senja yang bertempat di dermaga biru.

//ada sepotong senja yang kupetik di dermaga biru/  

Rona senja yang syahdu mempengaruhi suasana batin Subjek-Lirik yang (biru) hanyut dalam kerinduannya menemui kembali tambatan hati

//kularung di atas rindu/ //untuk mencari permata hati/

Ia lalu membiarkan keadaannya yang diselimuti tebalnya rasa rindu. Hadirlah juga harapan dan cemas jikalau mendapati kehadiran tumpuan hatinya seperti dulu adalah sebuah mimpi yang utopis. Namun, Subjek-Lirik menguatkan dirinya dengan sebuah asa yang tersisa. Bilamana memang kelak ia bisa bersama dengan kekasihnya lagi, ia akan memujanya dan menempatkannya secara istimewa bagaikan dewi yang agung membuat siapapun yang menatap akan takluk pada pesonanya //yang dalam keheningan matanya/ //aku terantuk/.

Bait kedua dapat dikatakan sebagai kelanjutan dari bait sebelumnya. Bait ini menjembatani ekspresi yang terungkap dalam larik-larik bait pertama. Penyajian objek imaji sudah berbeda. Bukan lagi menghadirkan suasana alam di luar diri Subjek-Lirik, tetapi lebih menekankan pada penggambaran kondisi Subjek-Lirik itu sendiri. Imaji keterpanaan pada diri Subjek-Lirik diekspresikan sedemikian kuat dengan keadaan yang tercekat akibat ketidakberdayaan menghadapi campuran rasa rindu dan kagum pada sosok kekasih yang didambakan, yang begitu diidealisasikan.

//napasku menggigil menghirup senyumnya/ //suaraku patah saat bibirnya berucap mawar/

Selain itu, juga mengungkapkan harapannya bahwa kekasih idamannya itu adalah tempat labuhan terakhir dimana ia menyerahkan totalitas cintanya yang dalam. Subjek-Lirik ingin mengutarakan pendapatnya bahwa cinta yang sejati bukanlah cinta yang artifisial, hanya terikat dengan sensasi keromantisan belaka, yang akan guyah ketika menghadapi masa-masa sulit. Bagi Subjek-Lirik, cinta adalah ruh yang menyatukan dua hati yang saling mengasihi, sehingga mampu melewati berbagai cobaan dan tidak meluruhkan air mata penyesalan.

//tempat sekuntum cinta diam/ //yang tak menangis ketika harumnya dicuri/

Bait terakhir mengungkapkan semacam bentuk sikap Subjek-Lirik atas keinginannya untuk bersama sang kekasih. Dalam bait ini, ada penghayatan akan makna senja secara lebih intens lagi. Senja tak lagi hanya berarti suasana alam yang syahdu, namun ia sudah dimaknai sebagai momen penentu tentang diri Subjek-Lirik yang akan setia menanti dalam kerinduan sekalipun dengan keadaan yang tak memungkinkan lagi, entah karena usia yang menua dengan fisik yang akan melemah. 

Perasaan kekaguman masih terasa dalam bait ketiga ini. Subjek-Lirik mengimajikan sosok kekasihnya yang menarik dengan kelincahan yang selalu memikat hatinya kapan juga.

//ya, teruslah berdansa di sana/ //bila senjaku tiba/ //tetaplah berdandan/

Inilah menjadi alasan akan keputusan Subjek-Lirik untuk setia menanti sosok kekasih idaman yang dirindunya //aku menantimu/.

Ia lalu mempersepsikan loyaitasnya itu dengan fenomena alam – laut yang luas tempat bersemayam kesenduan rindunya itu.

//aku menantimu/ //seperti laut/ //rumah, tempat senja lahir dan lelap/

Sengatan Romantisme

Mari kita berasumsi bahwa Christian Dari Timor adalah seorang individu yang romantis. Mari kita bayangkan manakala ia menyuarakan hasrat cintanya kepada seorang kekasih niscaya kekasihnya itu akan melambung tinggi ke udara dan tersangkut di lengkung langit, lupa bagaimana caranya turun ke bumi lagi. Mengapa demikian? Karena hanya orang yang memiliki gairah mencintai yang besar mampu bersikap sedemikian romantis, bukan? Dan hanya orang yang romantis pula yang bisa menumpahkan suatu kerinduan yang amat membuncah dalam karya seni puisi.

Romantisme memang menyengat kesadaran. Ia ingin melaju terbang ke alam ideal untuk apapun yang dihasratkan. Ia cenderung menolak suatu keadaan yang biasa-biasa saja. Ada idealisasi dalam romantisme. Ada tarikan kontradiktif yang amat kuat antara kondisi riil dengan alam romantik. Sehingga secara psikologis membentuk kompleksitas dunia batin individual.

Dari sudut pandang filsafat eksistensialisme, manusia adalah subjek yang menghidupi sekaligus menghayati dunianya. Segala hal dalam dirinya adalah buah keputusan bebas yang secara mandiri ia tetapkan. Keromantisan berada pada tataran sikap reflektif, melihat berbagai pengalaman berkesan dan memilih secara bebas mana saja yang akan dijadikan sebuah nostalgia. Hal ini dilakukan seorang individu dalam rangka memaknai apa sesungguhnya cinta itu, apa rasanya mencintai dan apa sebenarnya keberadaan manusia sebagai subjek yang mencintai.

Sengatan romantisme akan makna eksistensial tentang cinta berikut segenap rasa yang melibatkannya jelas tergambar dalam puisi Dermaga Biru. Di dalamnya berbagai kerumitan perasaan rindu (tak tertanggungkan) amat kental dirasakan pembaca.

Namun, saya kira Christian Dari Timor hanyalah seorang penyair yang berhak menyampaikan pesan suara hatinya tentang rindu dan cinta yang romantis. Ia tentu juga ingin menggugah pembaca bahwa buah dari mencintai dengan tulus adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Apalagi di tengah perubahan zaman yang serba cepat dan pragmatis seperti saat ini. Keromantisan dan kebahagian dalam bercinta menjadi barang langka karena pergeseran makna cinta itu sendiri. Di era digital ini, cinta adalah ’klik yang genit’, ia semata petualangan sensasional yang bisa saja berubah kapanpun tergantung kebutuhan menikmati sensasi itu sendiri. Inilah kiranya pelajaran moral dari hidangan ruhani puisi romantis Dermaga Biru. Salam sastra. [M.I]  

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

0 Comments:

Posting Komentar

  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha