Sekilas Tentang Metode Biografi Penulisan Cerita


Cerita dapat dikatakan sebuah dunia tersendiri. Ia punya hukumnya tersendiri, sekalipun bisa juga ditemukan kemiripan dengan realitas di dunia nyata.Karena dunianya yang khusus, cerita memiliki tokoh-tokoh yang menghidupkan pelbagai peristiwa yang saling kait-mengait. Mengisi cerita dari awal hingga menuju tahap penyelesaiannya.

Penokohan dengan peran fungsionalnya tadi, akhirnya menciptakan drama-drama yang dialami 'orang-orang' dalam sebuah cerita. Tiap drama yang dialami para tokoh sungguh terpusat pada tiga aspek penting:

1. Aspek fisik : menggambarkan rincian keadaan fisik yang dimiliki "orang-orang" dalam sebuah cerita.

- Misalnya, mengapa rambut sang tokoh panjang atau pendek, ikal atau lurus menjuntai dan bagaimana tokoh cerita juga lingkungannya melihat ini sebagai ciri tersendiri?

2. Aspek psikologis : menggambarkan 'pedalaman' diri tokoh cerita.

- Misalnya, mengapa tokoh cerita merasa sedih atau gembira, apa sebab dan akibat dari pengalaman batiniah itu bagi dirinya? Bagaimana lingkungan tokoh cerita menerima akibat ini?

3. Aspek sosiologis : menggambarkan lingkungan sosial dimana tokoh cerita berinteraksi dengan sesamanya.

- Misalnya, tinggal di lingkungan keras telah membentuk perwatakan sang tokoh jadi berjiwa 'pembangkang', atau akibat-akibat lain yang berasal dari reaksi timbal-balik antara tokoh cerita dan masyarakatnya.

Pada akhirnya, sebuah cerita bisa dipandang sebagai rekaman biografis tertentu, yang membujuk pembaca untuk tetap setia mengalami realitas fiksional yang kaya pengalaman-pengalaman baru.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Arok Dedes Sebuah Roman Politik



novel arok dedes pramoedya ananta toer

AROK DEDES adalah roman politik yang berlatar-belakang sejarah. Berkisah tentang "kudeta pertama" di Nusantara, di masa kekuasaan Kerajaan Kediri. Roman ini ditulis oleh sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer yang melihat bahwa akar timbulnya perebutan kekuasaan adalah buah tangan dari penguasa yang cenderung menindas rakyatnya.

Dalam roman ini simbol kekuasaan direpresentasikan melalui Tunggul Ametung (mewakili kekuasaan Kediri dari Hindu Wiysnu) yang bertindak semena-mena. Ia merampas seorang putri Brahmana Dang Hyang Lohgawe (dari Hindu Syiwa), Dedes. Putri sang Brahmana diculiknya dan diboyong ke Tumapel.

Guna membalas perbuatan Tunggul Ametung, sang Akuwu Tumapel, Lohgawe menyusun kekuatan bersama para Brahmana setianya dan kaum Satria, Arok. Strategi perebutan kekuasaan Tumapel diputuskan dengan cara kudeta merangkak.

"Kudeta merangkak yang menggunakan banyak tangan untuk kemudian memukul habis dan mengambil kekuasaan sepenuh-penuhnya." (Pramoedya Ananta Toer)

Alhasil, kekuasan Tumapel bisa ditumbangkan, dan Ken Arok menjadi raja baru bersama dua paramesywarinya, Ken Dedes dan Ken Umang.

Pramoedya .A. Toer tidak melihat bahwa jatuhnya kekuasaan Tumapel disebabkan oleh hal "mistika irasional". Kutukan tujuh turunan keris Mpu Gandring bukan penyebab utamanya. Gerakan perebutan kekuasaan tersebut murni gerakan politik.

"Aktor-aktornya bekerja seperti hantu. Kalaupun gerakannya diketahui, namun tiada bukti paling sahih bagi penguasa untuk menyingkirkannya." (Pramoedya Ananta Toer)

Saya kira novel ini bagus sekali dibaca. Selain untuk menambah wawasan kita semua tentang sejarah dan pergolakan di Nusantara, tiap peristiwa dalam cerita yang dikisahkan secara dramatik membuka mata bahwa kesewenangan akan mengakibatkan timbulnya perlawanan. [M.I]

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha