Ketika keluh-kesah tumpah di dinding facebook


Dewasa_dalam_Tekanan


”Putus sudah harapanku. Hilang sudah dia dariku. Ternyata cinta ini, hanya untuk pelampiasanmu saja. Sakit terasa memikirkannya,” bunyi sebuah status di dinding facebook yang terkirim melalui telepon seluler.

Beberapa status lainnya berbunyi:

“Betapa malang nasibku. Sepertinya aku lahir  untuk terus-menerus merasa kecewa.”

“Apa karena kehadiranku sudah tak kau butuhkan lagi? Lalu, begitu tega kau tinggalkan diriku? Aku begitu mengharap cintamu, sayang.. Kumohon kembalilah padaku.”

“Ini yang kesekian kalinya aku gagal! Aku memang tak sebanding dengannya. Kalau memang tidak berjodoh dengannya, aku terima, ya, Tuhanku. Tapi, tolong dicek lagi, ya, Tuhan.. Siapa tahu ada kesalahan?”

Terasa sekali nada sendu dan pilu ketika membaca status-status di dinding facebook, dimana para penggunanya sedang dipengaruhi emosi negatif akibat rundung peristiwa menyakitkan yang dialami. Sehingga, sikap memandang rendah dirinya sendiri cenderung bermunculan dengan beragam ekspresi termasuk keluh-kesah di FB Wall. Mengapa pula harus begitu? Apa sebab orang merasa dirinya “tak berguna” dan memandang diri sendiri begitu rendah dengan beragam ungkapan yang sarat muatan emosi negatif?

“Manusia dapat hilang kepercayaan atas kemampuan dirinya jika berungkali terpapar pada kegagalan,” kata pelopor Psikologi Positif, Martin Seligman.

Professor ini memperkenalkan istilah “learned helpless” (ketidakberdayaan yang dipelajari) untuk menunjuk pada pola penilaian diri (self-esteem) yang rendah dari individu yang meyakini bahwa dirinya “seorang yang gagal” dalam hal apapun, merasa salah semua apa yang dilakukan, dan gawatnya mengarah pada sikap berputus-asa.

“Terus-menerus menjumpai kegagalan, lama kelamaan orang itu akan belajar untuk meyakini bahwa apapun yang dilakukannya tidak akan menghasilkan sesuatu,” terangnya lagi.

Mengapa demikian? Orang biasanya belajar dari pengalaman berkesan, entah itu pengalaman bagus atau buruk. Parahnya jika ia mengalami suatu peristiwa menyakitkan berkali-kali, self-esteem yang terbentuk lebih mengarah pada “kepasrahan total” yang menjustifikasi diri sebagai “si tak berdaya yang teramat malang”.

Adapun tujuannya tentu saja sangat beragam. Mungkin berupaya meraih simpati dari para sahabat. Bisa jadi semacam pernyataan konklusif untuk menegaskan dirinya yang selalu menderita. Yang terakhir ini perlu diantisipasi sebab amat bahaya dampaknya.


Penyebab Orang Menilai Rendah Dirinya Sendiri

Penyebab paling klasik dari penilaian yang rendah terhadap diri sendiri adalah kegagalan dalam percintaan. Merasa dikhianati berkali-kali oleh pasangan, diabaikan dan disingkirkan bagai debu di pakaian, atau bahkan dienyahkan serupa nyamuk yang mengigit kulit, dapat menyebabkan seseorang mengalami “kebisingan psikologis” (psychological distortion). Akibatnya, ia merasa dirinya begitu tak berguna, tidak diperlakukan secara layak, mengutuki diri sendiri mengapa pengalaman buruk dalam bercinta tersebut harus dialami. Hal ini menghidangkan sajian “melankolia yang dihayati” bagi dirinya. Selanjutnya, dengan tanpa berpikir-panjang lagi (tidak menganalisa dengan menggunakan jenis pikiran rasionalnya), kesenduan yang merasuk akibat gagal dalam percintaan mengarah pada penilaian yang rendah terhadap dirinya sendiri. Ia membuat sebuah justifikasi: agaknya ia lahir untuk merasakan kekecewaan semata. Cinta bak olahan getah papaver somniferum yang memabukkan setelah dihisapnya, lalu membuatnya hilang kesadaran, terpuruk jatuh, merasa tersuruk-suruk dalam lembah derita tergelap di jagat raya. Sungguh tragis sekaligus berbahaya bagi kesehatan mental individu tersebut.

Keadaan ini mengindikasikan sebuah pembajakan emosi dengan tekanan jiwa, mengingat bahwa otak manusia mempunyai dua sistem ingatan. Satu untuk kejadian-kejadian biasa, dan sisanya untuk kejadian-kejadian yang penuh muatan emosi. Pada berbagai kejadian yang mengandung peristiwa menyakitkan berungkali, seorang individu “dibutakan” kemampuan akal sehatnya. Ia cenderung berpikir dengan dorongan emosi negatif (seperti kecewa, tertekan, cemas, takut berlebihan) saat ia sedang menafsirkan pengalaman traumatis berkesinambungan yang dirasakan. Maka, tak heran jika ia menghakimi diri sendiri dengan penilaian yang rendah: yang hilang harapan hidup, yang bertakdir buruk dengan serbuan bertubi-tubi bogem mentah penderitaan.

Tak hanya itu saja. Jika ia larut dalam suramnya alam kekecewaan (melankolia dihayati), ia mulai mendramatisir segala hal yang menyakitkan jiwanya secara tak proporsional. Semakin ia berpikir mengapa harus ada penderitaan yang mesti dialami, semakin banyak ia menemukan “alasan bagus” untuk menderita. Ini bukan orang lain yang melakukannya, tapi dirinya sendirilah yang merajam jiwanya sampai kehilangan nafsu untuk hidup. Mengapa begitu kejam dengan diri sendiri? Bagaimana mengatasi pengalaman menyakitkan berungkali supaya mampu mengobati diri, bangkit dari keterpurukan pengalaman traumatis, dan bisa menghargai diri sendiri secara layak sesudahnya?


Hargai Diri Sendiri dengan Mengenalnya

Dalam hidup ada banyak peristiwa dengan cita rasanya yang beragam, termasuk peristiwa yang melibatkan diri seseorang harus mengecap kegetiran yang teramat menyakitkan. Bila ia tak bisa mengatasinya, hilang kesadaran diri, rundung perasaan sedih dan pilu niscaya akan mengepung hari-harinya sepanjang hidup. Mulai dari rasa kecewa, merasa tak berguna, putus harapan dan jenis emosi negatif lainnya sampai mengarah pada ketidakpedulian terhadap diri sendiri akan ia alami.

Tetapi, jika ia ”mengenal” dengan baik siapa dirinya, tiap pengalaman menyakitkan yang menerpa tak akan mampu merobohkan kokohnya benteng pertahanan diri. Ia tentu saja selalu bisa menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi ragam permasalahan hidupnya, termasuk kehidupan percintaannya yang gagal berkali-kali itu. Ia mampu bangkit dengan kekuatan diri yang ada, tidak membiarkan dirinya larut dalam kekecewaan. Ia melihat dirinya sendiri begitu berharga untuk disia-siakan hanya karena satu-dua persoalan yang pernah menjerumuskan itu, seperti pasangannya berkhianat dan mengabaikan dirinya. Ketajaman pikiran mampu mengalahkan jebakan jaring emosi negatifnya. Sehingga ia merasa tak perlu mengumumkan secara terbuka bahwa dirinya tengah dirundung kekecewaan, termasuk dengan menulis berbagai status di dinding facebook dalam ekspresi bernada pilu dan merendahkan dirinya sendiri sebagai orang pasrah yang naif. (M.I)

(*) Foto dari dokumen pribadi. Lukisan karya Perupa Sulistyono – Dewasa dalam Tekanan ”2013”, dipotret 5 Juni 2013 pada Pameran Besar Seni Rupa Se-Indonesia di Taman Budaya Jambi.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Ilusi visual ala Akiyoshi Kitaoka


Perhatikan gambar di bawah ini,


Rotating_Snake_karya_Akiyoshi_Kitaoka

Apakah Anda melihat objek dalam gambar bergerak? Sebenarnya tidak ada gerakan sama sekali dari objek dalam gambar tersebut. Mata Anda yang menggerakkannya.

Inilah yang dinamakan ilusi visual. Penemunya adalah seorang adalah Profesor dari Universitas Ritsumeikan, Kyoto, Jepang. Dia adalah Akiyoshi Kitaoka lahir pada tanggal 19 Agustus 1961, yang meneliti secara khusus mengenai persepsi dan ilusi visual dari berbagai bentuk geometris, kecerahan, warna dengan landasan  psikologi Gestalt soal rangsangan sensorik individu.

Fenomena ilusi visual didefinisikan sebagai hubungan yang terputus antara persepsi dan realitas fisik sebenarnya. Ketika kita mengalami ilusi visual, sepertinya kita melihat sesuatu yang berbeda dengan keadaan realitas fisik. Hal ini disebabkan adanya gambaran yang menyesatkan dan mengelabui (distorsi) pada penglihatan kita. Akibatnya, otak menerima informasi salah, dan mempersepsikan secara keliru sehingga gambaran yang terbentuk tidak sesuai dengan objek sebenarnya. Contoh yang paling mudah sewaktu kita berkendaraan dan melihat benda-benda bergerak. Pepohonan atau tetumbuhan di tepi jalan sepertinya bergerak menjauh.

Adapun ilusi visual ala Akiyoshi Kitaoka memanfaatkan ketidakmampuan otak menciptakan kembali dunia fisik disebabkan persepsi yang diterima berdasarkan distorsi stimulus luar oleh mata. Ini disebabkan pola-pola geometris tertentu dari gambar objek sengaja distorsikan, seperti bentuk, ukuran, letak dan kecerahan warna-warna dengan luminositasnya.

Eye_Rays_karya_Akiyoshi_Kitaoka


Rotating snake karya Kitaoka di atas, gerakan objek dalam gambar akan berhenti jika Anda memusatkan penglihatan pada masing-masing titik hitam yang ada di tengah.  Cara yang sama juga bisa Anda terapkan ketika melihat gambar lainnya di bawah ini.


Chidori Akiyoshi Kitaoka


Catatan:

1.
Dirangkum dari berbagai sumber.

2. Gambar dari situs ritsumei.ac.jp dan itsnicethat.com

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Mendidik anak “penguping” yang ekspresif


Ketika sedang duduk santai di beranda, Fauzan (4,5) datang mendekat ke neneknya.

”Dari mana kamu, Zan?”

”Dari warung belanja sama mama,” jawabnya pula.

”Memang beli apa di warung?” pancing ibu saya padanya.

”Kami mana ada yang dibeli,” rajuknya pada nenek, ”Kami minta jajan nggak dikasih. Kata  mama uangnya pas untuk belanja sayuran.”

”Ya, sudah..” ibu saya geli menahan tawa, ”Nanti nenek kasih uang untuk jajan.” Wajah keponakan saya langsung berubah ceria.

”Nek, nek, tahu nggak?” Ia tampak bersemangat mau bercerita seperti biasanya.

”Apa, Zan?”

”Rupanya, nek, anak tante Nurita itu anak angkat.”

”Hah?!” ibu saya sontak kaget, ”Tahu darimana kamu, Zan?”

”Kan, mama cerita dengan Tante Upik di warung tadi. Kata Tante Upik..” ingatannya sibuk memanggil ulang apa yang barusan didengar, ”Tante Nurita itu, kan, mandul! Dia ambil anak dari kakak suaminya di Palembang.”

Mendengar ucapan polos cucunya, ibu saya mau tak mau lepas juga tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sang nenek merasa heran bagaimana bisa cucunya yang berusia  kurang dari lima tahun itu begitu cepat merekam apa yang didengar, lalu melaporkan kembali dengan terperinci persis perkataan orang-orang dewasa.

Tak hanya itu, ada juga peristiwa lain yang menunjukkan betapa ”ucapan asal lepas” ala keponakan saya itu berhasil membuat kami terpingkal-pingkal sekaligus heran.

gaya_si_kecil


Suatu ketika ia diajak mamanya pergi membesuk seorang kerabat yang sakit parah. Di tempat itu telah berkumpul semua sanak saudara dari pihak mamanya. Beragam cerita tentang kerabat yang sakit agaknya ia simak dengan ”baik dan benar”. Ini termasuk pendapat bernada negatif dalam bentuk gosip dan prasangka dari orang-orang yang hadir sehubungan dengan penderitaan si kerabat tersebab sakit parahnya itu.

Tiba di rumah setelah membesuk tadi, si bungsu Fauzan lagi-lagi memberikan ”laporan pandangan mata langsung” pada papanya yang kebetulan baru pulang dari kantor.

”Anak papa banyak cerita..” tegur papanya, ”Dari mana kamu, Zan?”

”Dari nengok Jujuk sakit, Pa..” ia melompat manja dan langsung minta gendong.

”Pa.. Tadi kami nengok Jujuk dirukyah ustadz.”

”Ah, masa, iya, Zan?”

”Iya, Pa.. Jujuk, kan, banyak ilmu. Makanya payah diobati. Semua obat nggak mempan!” paparnya mengungkap kisah dibalik penderitaan kerabat ibunya yang sakit parah itu.

”Hahahaha..” papanya tergelak,”Dengar dari siapa kamu, nak?”

”Mangcik yang ngomong di sana. Kalau susuk dan semua ilmu Jujuk hilang keluar, dia baru bisa sembuh diobati. Jadi harus dirukyah,” terangnya dengan akurasi pengulangan kembali ucapan didengar yang cukup mencengangkan.

Melihat kemampuan Fauzan dalam merekam peristiwa yang dialami dan menceritakan kembali lengkap dengan rinciannya, abang saya (papanya) pernah juga merasa cemas. Betapa tidak? Segala apa yang ia dengar langsung diucapkan kepada siapa saja yang ditemuinya pertama kali. Sehingga, papanya mewanti-wanti agar jangan sembarangan bicara di depan si bungsu yang terlampau ekspresif ini. Pembicaraan yang dikategorikan rahasia keluarga di rumah, atau kritikan terhadap orang lain sebisa mungkin dihindari untuk diucapkan. Karena hanya dengan sepintas lalu mendengar atau ”menguping”, Fauzan mampu mengungkapkannya kepada orang lain. Entah itu tetangga, atau bahkan orang yang baru dikenal.

Apakah putra atau putri Anda yang masih balita juga punya kecenderungan terlalu ekspresif dalam berkata-kata seperti itu?

Jika demikian adanya, Anda harus berbahagia. Sebab di satu sisi tampaknya sang buah hati menunjukkan ciri-ciri anak yang cerdas. Terutama memiliki kecerdasan dalam bidang bahasa – lingual intelligence.

”Mereka yang cerdas kebanyakan fasih berbicara dengan siapa saja – entah itu orang dewasa atau teman sebaya – dibandingkan dengan teman sebaya mereka yang kurang cerdas,” tulis psikolog anak, Dra. Rose Mini A. Prianto S.Psi., dalam artikelnya tentang anak yang banyak bicara.

Tapi, di sisi lain Anda perlu prihatin, karena hal itu cukup mencemaskan jika ia secara apa adanya mengatakan kembali berbagai ucapan orang dewasa tak layak hasil dari kegiatan kreatifnya dalam menguping pembicaraan.

Adakah cara yang efektif mendidik anak dengan bakat pemakaian bahasanya yang khusus ini? Tentu saja ada! Mari simak tips berikut ini:

Mengajarkan metode penceritaan kembali (Re-telling)

Suatu peristiwa yang dialami sebenarnya membentuk bangunan sebuah cerita. Jika peristiwa tersebut cukup menorehkan kesan di dalam hati, ini akan mendorong seseorang untuk mengungkapkannya kembali kepada orang lain. Hal ini juga terjadi pada diri anak-anak. Hanya saja mereka belum bisa menyaring mana bagian yang boleh diutarakan kembali, dan mana yang harus ditahan untuk diungkapkan. Tentunya menyangkut pengalaman anak yang masih ”hijau”. Nah, berkaitan dengan ini, metode re-telling dengan sedikit modifikasi bisa diajarkan padanya. Misalnya, Anda rekam aduan sang buah hati berkenaan peristiwa dengan kesan khusus yang dialaminya, dan perdengarkan kembali padanya. Lalu, Anda harus membimbingnya agar beberapa peristiwa yang kurang bagus, tentunya tidak boleh dituturkan kembali. Berikan alasan yang mudah dimengerti anak mengapa hal ini dilarang. Nasehatilah anak Anda dengan lembut.

Hindari percakapan yang memancing anak ”menguping”

Jangan libatkan anak dalam pembicaraan yang belum pantas didengarnya. Hal ini disebabkan ibarat kata anak adalah kaset yang kosong, ia dengan cepat merekam segala yang didengarnya termasuk berbagai ”ucapan lepas kendali” yang diutarakan orang-orang terdekatnya.

Jangan bergosip dan mengkritik dengan tujuan negatif saat anak ada di hadapan Anda

Anak akan cepat meniru pola sikap dan prilaku dari orang dewasa. Ia belajar menanggapi dengan menimba pengalamannya dari pengamatan di lingkungan sosial terdekat. Jika Anda bergosip dan mengkritik orang lain dengan tujuan negatif karena dipengaruhi sikap emosional semata tepat di hadapan sang buah hati, dijamin anak Anda juga turut melakukan hal yang sama suatu saat kelak. Oleh karena itu, adalah bijaksana bila Anda mengurangi atau kalau bisa menghilangkan kebiasaan buruk ini. Yang terpenting lagi cobalah jangan libatkan anak dalam situasi yang menyebarkan ”rumor” mengenai keburukan orang lain.

Tentunya masih banyak cara-cara elegan untuk mendidik anak dengan kemampuan khusus yang sedang kita bicarakan ini. Semoga artikel ini menjadi semacam motivasi bagi Anda untuk menemukannya dan berbaik hati membagikannya. Saya berharap tulisan sederhana bisa memberikan manfaat untuk Anda. Salam hangat selalu. (M.I)

(*) Sumber foto dari dokumen pribadi.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Ketika seniman menyoal isu aktual


Lukisan merupakan “sesuatu” yang berkaitan erat dengan keinginan manusia. Melalui media lukis, manusia ingin mengekspresikan diri, meyalurkan endapan berbagai warna emosi, dan menyampaikan pendapat individualnya. Di dalam lukisan pula, seringkali tampak impresi atau kesan tertangkap yang diungkapkan kembali oleh seniman terhadap keadaan di sekitarnya, lengkap dengan segala aspek yang melingkupi. Mendayakan kekuatan proporsi, pewarnaan yang dipilih, dan objek-objek yang tampil, lukisan agaknya suatu ungkapan kejujuran yang terencana dan cenderung simbolik dari sumber utama penciptaan – realitas aktual.

Bahkan ada seniman yang berpendapat bahwa kandungan nilai yang paling penting dalam sebuah karya lukis terletak pada ekspresi kejujuran dalam proses melukisnya.

“Suatu lukisan tidaklah perlu bagus. Yang terpenting adalah ekspresi kejujuran Anda dalam melukis,” ungkap seorang perupa di sela-sela pelaksanaan kegiatan“Workshop: Melukis Itu Mudah” di arena Taman Budaya Jambi pada Kamis (06/06/2013) lalu.


seniman_melukis

Ini berarti peran fungsional sebuah karya seni rupa dititik-beratkan pada kelugasan ekspresi diri pelakunya. Perupa berupaya menyampaikan apa yang bergejolak dalam jiwa melalui aktifitas berkesenian tentang objek yang dilukis (seperti peristiwa berkesan, dinamika perubahan di lingkungan sosial beserta sebab-akibat terjadinya).


Beragam isu aktual sumber penciptaan karya lukis


Adalah perupa Udhin FM yang telah secara jujur, malah terkesan blak-blakan menyoroti persoalan “”penetrasi budaya” yang terjadi di tengah masyarakat.

“Penetrasi budaya itu macam-macam bentuknya, dan sedang terjadi di kehidupan sehari-hari kita saat ini,” terangnya pada seorang pengunjung remaja yang bertanya.

penetrasi_budaya

“Jadi harus hati-hati. Kita harus berpegang teguh pada ajaran agama,” tambahnya pula sembari menguas, memperjelas tulisan Arab yang menjadi objek simbolik dalam lukisan.

Penetrasi budaya itu sendiri memang telah menyebabkan banyak generasi muda saat ini menjadi “salah kaprah” mengadopsi kebudayaan yang tak sesuai dengan karakter bangsa sehingga menyebabkan terjadinya “kesesatan langkah”. Hal ini dapat dikatakan sebagai invasi kultural kebudayaan asing yang bertransformasi dalam gaya hidup materialistik dan hilang pegangan akibat menjauh dari tuntunan agama, hedonistik yang hanya mengutamakan kesenangan sensasi indrawi, juga kecenderungan memikirkan diri sendiri saja alias individualistis.

Bentuk nyata dari dampak buruk penetrasi budaya, dalam hal ini kebudayaan barat, terlihat langsung dari pola sikap dan prilaku negatif generasi muda yang terlibat narkoba, pornografi dan pornoaksi. Tak hanya itu, penetrasi budaya juga merembes pada sistem-sistem sosial budaya yang lain, seperti pragmatisme politik busuk yang menciptakan ruang lapang bagi koruptor dan penguasa yang tak berpihak pada rakyat kecil.

Perupa Udhin FM merekam kembali fenomena penetrasi budaya ini ke dalam karya-karya lukisnya. Seperti terlihat pada dua lukisannya yang bertajuk “Narkoba Itu Haram 2010 dan Jangan Renggut Nyawa Anak-Cucuku 2012” di ruang Pameran Besar Seni Rupa Se-Indonesia di Jambi.



Sementara itu, perupa Mike Turusy dari Taman Budaya Sulawesi Selatan mengangkat persoalan kerusakan lingkungan akibat dari pembalakan hutan secara liar dan membabi-buta. Lukisannya bertajuk “Illegal Logging”.

lukisan_illegal_logging

Hutan yang sejatinya sebagai penjaga keseimbangan lingkungan hayati di Indonesia memang kini semakin sempit ruangnya. Pembalakan liar demi meraih keuntungan pribadi oleh oknum-oknum yang tak bertanggung-jawab ditengarai menjadi salah satu penyebab hilangnya hutan di Bumi Pertiwi. Akibatnya, keseimbangan ekosistem terganggu. Jika musim penghujan datang, kebanjiran dan tanah longsor terjadi di berbagai tempat yang pepohonannya di hutan-hutan telah lenyap.

Lain cerita dengan perupa Anthok Sudarwanto dari Taman Budaya Bali. Ia mengangkat persoalan aktual sehubungan dengan diskriminasi yang terjadi pada masyarakat yang berada di strata terendah akibat stratifikasi sosial, cara pandang yang kaku dalam menafsir ajaran agama (fundamentalisme) sehingga menyebabkan maraknya kekerasan atas nama agama dan disharmoni sosial, juga sikap primodialisme mengkultuskan etnisitas tertentu yang mengerucut menjadi tindakan rasis. Lukisannya yang bertajuk “Jejak Tua” itu menggunakan media kanvas dan cat minyak dengan tahun pembuatan 2012.

lukisan_Anthok_Sudarwanto

Pada lukisan karya perupa Adi Damanik tampak seraut wajah badut yang bersedih hati. Badut itu bukan sembarang badut.

Ia badut yang telah mengecap pendidikan tinggi dengan gelar kesarjanaannya. Begitu jelas terlihat pada kostum yang dikenakan si badut sarjana nan malang itu - tubuhnya berbungkus toga. Mimik wajahnya sendu seraya melayangkan mantra. Ia memohon pertolongan dari Tuhannya agar dituntun kembali ke jalan yang benar. Perupa dari Taman Budaya Sumatra Utara ini agaknya tengah mengutarakan sebuah ironi sehubungan dengan isu aktual yang disimaknya.


Mari cari tahu mengapa sang seniman mengekspresikan secara jujur pendapatnya melalui lukisan tersebut sedemikian rupa.

Rupanya para koruptor dan penjahat kerah putih yang tengah ia soroti. Kita tahu kebobrokan moral akibat mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan yang marak terjadi dengan tindakan korupsi dan kejahatan korporasi lebih banyak dilakukan oleh ”orang-orang pintar” saja, notabenenya mereka yang berpendidikan tinggi tapi lupa diri.

Demikianlah cara seniman yang mengungkapkan secara jujur berbagai isu aktual di masyarakat melalui karya-karya lukisannya. Bagi kita setidaknya bisa mencermati sekaligus menangkap pesan yang ingin disampaikan para seniman. Sungguh beragam persoalan seperti korupsi, narkoba, intoleransi yang mengarah pada terorisme yang terjadi di tanah air ini akan tetap mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun demikian, jika kita bersatu dan mau terlibat aktif mencari jalan keluarnya, tentu saja cita-cita luhur dari para pendiri negara Indonesia untuk menjadikan bangsa kita bermartabat, hidup rukun dalam kemajemukan, keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan terwujud. (M.I)



Catatan :

1. Lukisan-lukisan ini dipamerkan di ruang Pameran Besar Seni Rupa se-Indonesia 4-8 Juni 2013, bertempat di Taman Budaya Jambi.

2. Penafsiran terhadap pesan-pesan simbolik yang ditulis dalam artikel ini adalah semata pendapat penulis berdasarkan pengumpulan data yang didapat dari lapangan. Untuk memberi penilaian yang tepat terhadap karya-karya lukisan tersebut tentunya penulis belum berkompeten melakukannya, disebabkan kekurangan pengetahuan dan pengalaman pada bidang seni rupa. Oleh karena itu, mohon kritik dan sarannya dari para pembaca sekalian.

3. Sumber semua foto dari dokumen pribadi.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha