Foto Cerita : Kebersihan Sebagian Daripada Iman


"Kebersihan itu sebagian daripada iman," demikian petuah yang telah terpatri lama dalam sanubarinya.


pembersih_kaca_mobil


Maka, ia tak ingin kandungan hikmah dari nasehat yang telah didengarnya itu menguap sia-sia disebabkan keengganan menerapkannya ke dalam tindakan konkrit. Ia paham bahwa kata-kata hanya menjadi pakaian dari kandungan makna di dalamnya.

Tentunya pemahaman akan petuah dan kedalaman makna yang telah diketahuinya itu mesti ia buktikan lebih jauh lagi. Oleh karena itu dengan bermodal kemoceng, ia memutuskan untuk langsung bertindak, memasyrakatkan pesan sungguh cinta akan kebersihan akan menegaskan keimanan seseorang.

(*) Foto ini saya ambil di Lampu Merah Simpang Pulai Kota Jambi, tepatnya ruas jalan Kol. Abunjani.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Foto Cerita : One Stop Shopping


Keberadaan pedagang kaki lima memberikan pilihan berbelanja pada konsumen di wilayah perkotaan.

pedagang_kaki_lima

Berbelanja di kaki lima menjadi pilihan ketika konsumen berpikir dapat membeli barang dengan harga miring, barang yang dibutuhkan jarang ditemukan di toko-toko atau pasar swalayan.


pedagang_kaki_lima


Selain itu, karena lokasi berjualannya yang strategis terletak di kawasan jalan-jalan utama, ini memudahkan para pelintas seperti pengendara motor mengadakan transaksi jual-beli dengan cepat, dan begitu selesai langsung melanjutkan perjalanan.


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Pasar Hongkong Jambi: Ruang Pertukaran Lintas Budaya


”Pasar Hongkong” demikianlah masyarakat kota Jambi menyebutnya. Pasar tradisional ini terletak di Jalan Hayam Wuruk, Kelurahan Cempaka Putih yang masuk wilayah Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.



Di tempat ini para pedagang yang berjualan menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi warga keturunan Tionghoa. Para pedagang yang kebanyakan berasal dari etnis Tionghoa menawarkan berbagai barang kebutuhan untuk warga keturunan: mulai dari peralatan sembahyang, buah-buahan, sayuran lobak Tiongkok, tumbuhan obat-obatan, bahan makanan dari laut seperti udang, teripang dan kepiting laut, daging babi dan ular, juga ikan sungai.

Aktifitas di pasar tradisional yang sudah berusia 27 tahun ini dimulai sejak terbit matahari dan berakhir sekitar pukul 10 pagi. Hal ini berhubungan erat dengan tradisi yang dilaksanakan warga keturunan, yakni berbelanja di pagi hari. Tak jarang terdengar bahasa tawar-menawar antara pembeli dan pedagang dipasar ini menggunakan bahasa Mandarin dengan dialek tertentu. Karenanya, selain sebagai tempat mencari barang yang dibutuhkan, Pasar Hongkong menjadi tempat berinteraksi antar sesama warga keturunan yang ada di Kota Jambi.

Namun seiring berjalannya waktu, kini para pengunjung pasar tradisional ini tak lagi hanya warga keturunan Tionghoa saja. Warga Kota Jambi dari etnis yang berbeda juga kerapkali menyambanginya. Ada yang bertujuan untuk membeli bahan-bahan tumbuhan obat, buah-buahan dan sayuran yang memang lebih berkualitas dari yang tersedia di pasar tradisional lain. Interaksi sosial yang tercipta akhirnya terkesan bernuansa pembauran budaya dari berbagai etnis yang ada.

”Pilihlah, Ko..” kata pedagang petai sambil mengikat buah petai pada seorang pengendara motor berhenti karena tertarik dengan barang dagangannya.

”Pete dali mano, ni?”

”Pete Lampung, Ko..” terangnya lagi, ”Pilihlah, Ko, buahnyo bagus semua, tuh..”

Tak berapa jauh dari pedagang petai itu, seorang pembeli tengah berbicara dengan pedagang tumbuhan obat di lapaknya.

”Ko, jual akar ilalang, dak?” tanya seorang pembeli dengan logat kental bahasa Melayu Jambi.
”Mau belapo ikat?” sahut si penjual.

”Seikatnyo berapo?”

”Ceban.. Dak mahal lah..”

”Goceng, yo, Ko?”

”Dak dapat..” jawab Koko penjual tumbuhan obat sambil tersenyum. Alis di kedua matanya hampir bertaut karena dahinya berkerut. Mungkin ia ingin berkata: ”Mau sehat, kok pelit?!”  Hehehe…

Begitulah interaksi sosial yang menjembatani antar warga etnis Tionghoa dan etnis lainnya di Pasar Hongkong Kota Jambi saat ini. Di tempat tersebut pertukaran lintas budaya terjadi secara elegan.  (M.I)

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Yang Tak Terbandingkan


"Ketika engkau beranggapan bahwa semua hal yang engkau lihat buruk, pasti mata hatimu telah melihat sesuatu yang agung dan tidak terbandingkan hingga membuat yang lain tampak buruk dan rendah," kata Rumi.

"Bagaimana bisa?" tiba-tiba keheranan merengkuh diri saya, "Bukankah hidup ini indah?"

Masih merasa heran, saya pun tetap berupaya menyelidikinya. Saya tahu mungkin Rumi belum menjelaskan semua, bisa jadi masih ada hal tertentu yang abai ia perhatikan.

Tetapi, ia tegas menjawab:

"Tidak! Sesuatu yang agung dan tak dapat diperbandingkan itu jelas berasal dari kejernihan mata bathin melihat. Lalu, jika engkau mengatakan hidup ini indah, sesungguhnya engkau bermaksud menunjukkan simpatimu pada kefanaan, yang sama sekali tersepuh keindahan dari ketertarikanmu sebelumnya.

Jika Tuhan telah menciptakan segala sesuatu apa adanya sekadar memberikanmu bekal saja, bagaimana bisa engkau mengatakan Ia juga bermaksud melenakanmu, berpaling dari-Nya dengan merias 'yang apa adanya itu' dengan keindahan. Sedangkan, Ia adalah Sumber Awal Keindahan dan Keagungan yang tak terbandingkan dan telah mempesonakanmu. Sehingga, engkau mampu melihat bahwa segala yang sementara itu sungguh tampak buruk dan rendah.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Mengapa harus begini caranya, Bu?


pengemis_cilik

Siang setelah menunaikan ibadah sholat Jum'at, saya melihat seorang bocah perempuan meminta-minta. Sungguh trenyuh menyaksikannya! Ia yang mungkin masih belum genap berusia 3 tahun telah dipekerjakan oleh ibunya sendiri - mencari uang dengan mengemis.

Hati saya sedih melihatnya. Bagaimana bisa keadaan serba-kekurangan menyebabkan seseorang tega membuat anaknya begitu rupa? Bocah itu berkeliling mendekati para jema'ah sholat Jum'at di Masjid Agung Al-Falah. Wajahnya begitu memelas, mengharap belas kasihan. Ia sungguh tak tahu apa sebenarnya dunia yang dilakoninya itu! Tapi, orangtuanya tak peduli sama sekali. Ia harus patuh mengikuti arahan sang bunda yang juga bertindak serupa - mengemis. 

pengemiscilik


Jauh di dasar jiwanya, saya yakin ada tanya yang mau ia ajukan, "Mengapa harus begini caranya, Bu?"


(*) Foto dari dokumen pribadi

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Sekadar Celoteh


Saya berusaha agar tak menjadi orang yang sentimental. Diayun-ayun perasaan dengan muatan emosi yang merongrong jiwa. Tapi, agaknya ini sulit. Saya masih terlempar ke dalam pusaran emosi yang membuat diri irrasional.

Hari ini, di bulan Juli tahun 2013 ini, saya dikepung sendu. Sepulang sholat Jum'at tadi, saya menziarahi makam bapak. Serasa sunyi dan kehilangan sekali dalam hati. Terutama ketika mengingat pada saat memasuki bulan Ramadhan, kami biasanya berkumpul bersama.

Tapi kali ini begitu menyesakkan kesenduan akibat rasa sedih itu. Entahlah mungkin ini ujian buat saya yang sebelumnya tak terbiasa dengan ketidakhadiran orang-orang tercinta. Entahlah bisa jadi sebagai penunjuk jalan bagi saya agar dapat melihat bahwa segala sesuatu di hidup ini tak bisa diposisikan sesuai dengan keinginan kita - sebagai insan biasa.   

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha