6 Jan 2013

 

Menafsir Mimpi

"Bagaimana keadaannya, Muhammad?" dengan wajah penasaran FB tak bosan bertanya (itu kalau FB punya wajah dan jika saya percaya dengan visualisasi yang terbentuk dalam benak). Dan, kejadiannya saya alami setiap kali membuka akun FB belakangan ini.

Sangat tak sopan jika orang bertanya tak dijawab (barangkali saya sudah menganggap FB "orang yang sebenarnya"). Maka, saya ceritakan apa yang saya alami.

Semalam atau sudah masuk pagi? Percayalah saya tidak mau diatur waktu yang cenderung matematis. Lagi pula ada hal yang tak bisa dihitung, ternyata menjadi diperhitungkan. Begitu juga sebaliknya. Ada hal yang sebelumnya diperhitungkan, rupanya sering luput untuk dihitung. Karenanya, saya memakai frasa "baru-baru ini" untuk memulai cerita mimpi saya.

Baru-baru ini, saya bermimpi jari tangan saya dimakan anak macan akar. Saya tak sempat bertanya apa yang memotivasi si anak macan akar itu tiba-tiba menggemarinya. Apakah ini simbolisasi?

Kiranya pertanyaan saya belum mendapat jawabannya, saya harus mencari penyebab yang lain dulu. Benarkah peristiwa dramatis dalam mimpi saya ini berkaitan erat dengan pengalaman berkesan sebelumnya, mendadak muncul kembali melalui visualisasi simbolik yang membuat saya intens masuk ke dalam alam mimpi?

Ataukah penyebab yang mungkin lainnya adalah jenis interaksi personal saya dengan lingkungan terdekat?

Kalau boleh jujur (maklum perangkai kata adalah juga pembohong yang suka mendayagunakan majas hiperbola, maka saya kira sesekali bersikap jujur itu baik), di dunia maya saya berinteraksi dengan orang-orang yang mentransformasikan diri menjadi "bit demi bit" data yang terbaca sistem teknologi informasi terkini. Bagaimana pun juga keyakinan saya mengatakan bahwa tak seorang pun dari mereka yang berminat merubah diri menjadi bit demi bit informasi sebagai "anak macan akar". Tapi, saya melihat mereka tervisualisasi secara nyata karena pengaruh informasi terpilih yang diposting baik melalui gambar maupun melalui kata-kata yang menggambarkan siapa mereka. Orang-orang di dunia maya yang saya kenal tentunya fasih membangun citra diri yang diinginkannya. Namun, sekali lagi tak seorang pun dari mereka yang berminat mencitrakan diri sendiri sebagai anak macan akar.

Gambaran di atas ini saya paparkan demi mencari jawaban mengapa jari-jari tangan saya digigit anak macan akar (itu jika saya percaya penjelasan teori psikoanalisa mengenai tafsir mimpi ala Freud ─ mimpi adalah pengalaman berkesan dari alam bawah sadar yang muncul kembali secara simbolik). Walaupun demikian, saya masih tak dapat menemukan jawabannya.

Karena ada dorongan dari dalam diri bahwa kecenderungan mimpi jari-jari tangan saya yang digigit anak macan akar itu bersifat simbolik, jadinya saya tertarik untuk mencari maknanya yang diselubungi tabir perlambangan tersebut. Tentunya ini harus juga bersifat pragmatis. Maka, saya mesti menemui Bang Va'e yang piawai menerjemahkan mimpi dengan cara yang istimewa. Pengalamannya sebagai penjual togel telah membentuk dirinya sebagai penafsir simbol-simbol mimpi menjadi angka-angka jitu. Bayangkan betapa menariknya diskusi saya dengannya nanti. Kami barangkali akan melihat sisi-sisi tersembunyi dari mimpi yang dirumuskan secara khusus, sebagai angka-angka tentunya. Sebab, dia pernah bilang begini:

"Kalau mimpi dikencingi kodok, angkanya 42. Jangan kau bolak-balik. Kalau jaraknya jauh, kan capek?!" terangnya sambil tertawa lebar mempertontonkan gigi-gigi kuning berkaratnya yang besar-besar. Saya ikut terbahak tapi juga berpikir kenapa saya mesti ada di dekatnya ketika ia menggila seperti ini? Barangkali kesamaannya adalah kami berdua suka menafsirkan fenomena di balik hal yang tersimbolisasikan.

Mungkin juga kami ingin mendekatkan jarak mimpi yang jauh itu. Bisa jadi kami mau membuat mimpi menjadi terindera. Bukankah setiap kita juga cenderung bertindak untuk merealisasikan mimpi-mimpi kita yang tersembunyi? Tentu saja dengan cara kita masing-masing. Tak salah jika penyair Belanda Martinus Nijhoff dalam sajak "Awan" menyatakan begini:

Tibalah masa aku tidak melihat ke atas,
Walaupun udara penuh awan,
Aku tidak menggapai ke barang asing
Yang menyentuh hidupku dengan bayangannya.

Ya, suatu upaya yang dilakukan untuk menggapai cita-cita (mimpi) tentunya kembali ke kehidupan nyata sebenarnya, kehidupan yang tak lagi hanya "menyentuh barang asing dengan bayangannya."
Share:

0 komentar:

Posting Komentar