Cerita dalam Bingkai Foto


Apa yang cepat membuat orang lupa? Anggapan bahwa sesuatu tidaklah begitu penting. Saya, mungkin juga Anda sering lupa karena hal yang terjadi di sekitar kita luput dari perhatian.

Mungkin foto dapat menjadi obat mujarab melawan lupa. Di dalamnya ada peristiwa yang terekam, dan semoga bisa mengekalkan suatu peristiwa yang pernah dialami tetap lekat dalam ingatan. Bisa jadi menolong kita mengenang hal-hal tertentu yang berkesan ketika kita lupa kapan kejadiannya. Atau, setidaknya kita bisa melihat perkembangan keadaan yang ada.

Alasan inilah yang membuat saya memotret apa yang menarik di sekitar lingkungan sosial saya. Berikut ini beberapa peristiwa di lingkungan sosial yang sempat saya abadikan dalam foto.

1. Rumah Panggung yang Tergusur



Geliat ekonomi telah berperan serta dalam menggusur keberadaan rumah panggung di Kota Jambi.  Keberadaan rumah panggung yang memiliki filosofinya tersendiri, yakni "Alam Takambang Jadi Guru" (Berguru kepada alam lingkungan sekitar) semakin sedikit terlihat di wilayah perkotaan. Kalau pun ada, itu biasanya tersembunyi di belakang dinding deretan rumah toko (ruko) yang menutupi.



Rumah-rumah panggung yang merupakan ciri masyarakat komunal Melayu Jambi terlihat malu-malu menampakkan eksistensinya, seperti minder dengan kokohnya dinding beton rumah-rumah toko yang semakin menjulang tinggi.



Atau jika tidak demikian, rumah panggung yang identik dengan tiang-tiang penyangga tingginya itu terkesan sebagai rumah tua yang ditutupi belukar merambat liar, terabaikan.



Begitulah nasib si rumah panggung. Sekalipun ia merekam jejak masa lalu dimana orang-orang dapat bersikap bijak dengan alam lingkungan sekitar dan penuh toleransi yang mencirikan komunitas Melayu; tetapi rumah panggung mesti rela hanya menjadi ingatan yang akan cepat mengabur berganti dengan ruko-ruko yang menyebar secara sporadis karena pertimbangan motif ekonomi.


2. Sado, Si Kereta Kuda Santai dengan Penumpang Istimewanya 



Di daerah-daerah Indonesia lainnya ia punya beragam sebutan. Begitu pula di Kota Jambi kereta berkuda satu ini sering disebut sebagai "sado". Saat ini jarang sekali orang-orang menumpang kendaraan ini untuk berpergian. Sesekali tampak penumpangnya adalah wanita berumur keturunan Tionghoa menaikinya.

"O, nyonya itu memang langganan bapak, dik.. Dia naik sado bapak sudah dari belasan tahun yang lalu," terang si pak kusir pada saya. "Dia biasanya pulang ke rumahnya di Kampung Manggis sekitar jam tigaan kayak tadi. Dari toko anaknya di deretan toko elektronik itu." Saya hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasannya.

"Kalau boleh tahu, nih, pak.. Sehari bapak bisa dapat berapa penumpang?"

"Sekarang ini paling banyak tiga orang. Itu semua langganan bapak dari dulu," jawab pak kusir polos. "Ya, kalau lagi tidak narik, bapak ginilah.. Santai dulu.." Senyum pak kusir mengembang.

"Sekalian buat kudanya istirahat, ya, pak?"

"Iya, dik.. Si Rocky kan bukan mesin mobil. Hehehe..."

Pak Badrun si penarik sado menawarkan kisah masa lalu yang ia coba perbaharui lagi. Konon sebelum Kota Jambi memiliki jalan-jalan beraspal mulus, sado dengan kudanya yang didatangkan dari daerah-daerah kabupaten tertentu di Provinsi Sumatra Barat menjadi andalan transportasi darat. Para penumpangnya? Tentu jumlahnya tak hanya tiga orang saja sebagaimana penumpang langganan si pak kusir Badrun saat ini.

Kini di jalan-jalan beraspal mulus Kota Jambi, sado mencoba tetap eksis dengan menembus belukar kendaraan bermesin lainnya.

"Tuk...tik...tak...tik...tuk...   Tuk...tik...tak...tik...tuk...
Suara sepatu sado..."


3. Kreativitas Petani Kangkung

 
petanikangkung

Air sungai Marem yang dua minggu sebelumnya naik melimpah; kini baru saja menyurut. Berbagai jenis sampah sisa banjir tampak terdampar di pinggirnya. Sampah seperti ban-ban mobil bekas teronggok berhias lumpur sungai yang menempel. Ini sama sekali tak mengusik Uni Ratna. Ia masih khusyuk membenahi tanaman kangkungnya yang berpelampung styrofoam, yang sebelumnya hanya menjadi sampah bawaan banjir. Ia mengalih-fungsikannya sebagai pelampung terikat di batang-batang bambu bingkai petak tanaman kangkungnya.

"Kangkung air ini hidupnya mudah," katanya sambil mengikat rumpun kangkung. Sepetak ini hasilnya bisa sampai 50-an ikat. Di pasar Angso Duo seikatnya dibeli orang RP. 700 - 800-an. Kan Lumayan?!"

Kreativitas tak jarang muncul karena kondisi yang melingkupi diri seorang individu. Niscaya seorang yang kreatif tak akan kehilangan daya hidupnya yang enerjik dalam hal menanggapi realitas yang paling sulit bagaimanapun. Inilah yang Uni Ratna buktikan. Ia yang juga berprofesi sebagai buruh upah pengupas bawang merah itu selalu bisa melihat apapun yang memberi manfaat pada diri dan keluarganya yang sangat bersahaja, yang tentunya dengan sikap dan semangat hidup penuh kreativitas.


4. Gedung dan Monumen Tugu Juang
 


Lalu waktu sampai juga di sini.
Anginlah tunggangannya,
ia bawa kisah lampau
yang lama pergi merantau
pulang kembali bersama segurat tanya:

"Mengapa hanya sebagai monumen ini
dengan dinding berlumut dan kelupas cat
kami dikenang?"

gedung dan tugu juang


5. Sketsa Kota

hampir menjelang tengah malam
langkah lelah menjemput mimpi
pelan diseret pulang

ia yang percaya
pada mata akan jelas
menangkap geliat kota ini

katanya tak semuanya benderang
bisa dikenali di bawah
cahaya matahari


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Daming Yang Mau Alih Profesi


“Last night I shot an elephant in my pyjamas and how he got in my pyjamas I’ll never know,” said Groucho Marx, a comedian.

Lelucon memang sering menjungkirbalikkan logika. Sengaja dibuat tak masuk akal dan terkesan imajinatif.

Jika seorang Groucho Marx membayangkan bahwa suatu malam ia telah menembak seekor gajah yang mampir ke dalam pakaian tidurnya, dan lalu mempertanyakan bagaimana bisa terjadi si gajah itu plesiran sampai di sana; maka Marx sebenarnya sedang membentuk imaji ganjil yang disengaja. Namun, citra gajah yang ditembaknya itu niscaya telah menjadi objek kesadaran. Alhasil, terjadilah keganjilan ketika dinalar melalui pembuktian silang pada realitas faktual. Sekalipun demikian, imaji absurd tersebut telah sah sebagai objek kesadarannya. Sebab, Marx bermaksud melucu dan “absurditas disadari” yang dikreasikannya itu berperan fungsional untuk menggugah emosi, melakukan perubahan drastis pada perasaan orang yang mengalaminya (baik yang melawak maupun yang menyaksikan).

Marx itu seorang pelawak. Ia memang berprofesi menyajikan hiburan pada para penontonnya. Ia punya khalayaknya sendiri. Dan, itu sekali lagi memang profesinya. Ia tahu dan mesti bisa mengikuti pedoman prilaku sebagai pelawak. Laku dan ucapnya diharapkan dapat memancing orang-orang tergelak.

Lain ceritanya dengan suatu tindak-tutur yang dua hari belakangan ini sempat memancing emosi negatif publik.

“Yang diperkosa dengan yang memperkosa ini sama-sama menikmati. Jadi harus pikir-pikir terhadap hukuman mati,” jawab Muhammad Daming Sunusi ketika diminta pendapatnya tentang hukuman mati bagi pemerkosa saat uji kelayakan calon hakim agung di DPR. Ia bukan pelawak. Ia tidak punya khalayak penonton (kecuali saat sejumlah anggota DPR ikut tergelak karena menganggap selorohnya lucu). Bagaimana bisa satu keadaan yang serius (fit and proper test) yang menyita energi pikiran cukup banyak antara sejumlah wakil rakyat dengan calon hakim agung Daming tiba-tiba berubah menjadi sebuah dagelan? Tampaknya terjadi kesepakatan untuk menyetujui bahwa soal penjahat kelamin dan korbannya itu bukanlah hal yang penting. Terbukti melalui lelucon aneh Daming yang ditanggapi dengan senang dan gelak spontan sejumlah anggota DPR yang hadir saat itu.

Ironisnya, Daming sadar mengutarakan pendapatnya ini. Sebab secara psikologis, ia sengaja membentuk imaji tentang kondisi “saling menikmati” antara pelaku dan korban pemerkosaan. Maka, secara sadar pula ia menegaskan pendapatnya (melalui kata hubung “jadi” yang bersifat menyimpulkan) bahwa tak perlu ada hukuman mati (atau jangan-jangan terbersit dalam benaknya: kalau perlu tak usah diambil pusing). Ia mengutarakan pendapatnya tersebut dalam kapasitas seorang calon hakim agung. Bukan seorang berprofesi pelawak dan tak punya penonton (kecuali saat sejumlah anggota DPR ikut merasa senang bukan kepalang dengan leluconnya yang absurd itu!).

Groucho Marx memang seorang pelawak. Tetapi, Muhammad Daming Sunusi seorang calon hakim agung. Mereka berdua berbeda. Marx memiliki penonton setianya karena ia mampu menyajikan humor ganjil yang tak memerlukan objek pelecehan. Lain hal dengan Daming yang cuma punya sejumlah anggota DPR sebagai penonton leluconnya yang sinis karena ada kecenderungan “pandangan imajinatif disadari” yang melecehkan korban pemerkosaan - humor yang mengarah pada kekerasan verbal yang dipandang lucu. Antara penonton dan yang menyajikan tontonan telah dijembatani persetujuan untuk saling menikmati sajian lelucon sinis tersebut. Panggungnya ada di dalam gedung para wakil rakyat yang terhormat itu.

Daming tentu tahu ia terikat Kode Etik dan Pedoman Prilaku Hakim yang tertuang dalam Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Ketua Komisi Yudisial. Dua butirnya berbunyi:

  1. Hakim wajib menghindari tindakan tercela


  2. Hakim harus menjaga kewibawaan serta martabat lembaga peradilan dan profesi baik di dalam maupun di luar pengadilan

Inilah yang mengherankan bagaimana bisa Daming mengabaikannya? Menimbulkan kecurigaan jangan-jangan ia mau alih profesi sebagai “pelawak tak lucu”? Juga membuat banyak orang khawatir bahwa ia mungkin tak punya empati terhadap korban KDRT, Pelecehan dan Diskriminasi Terhadap Perempuan. Menimbulkan syak apakah ia juga punya sikap mendukung para penjahat kelamin? Mengingat betapa besarnya pengaruh kekuasaan hakim dalam memutuskan suatu perkara dan Daming sudah tak ingin jadi hakim lagi karena ia lebih gemar melawak, maka ada baiknya jabatannya saat ini dilepas saja . Sebab, tampaknya telah bersemayam paradoks dalam diri Daming: ia yang bermaksud menjadi “Hakim Agung berhadap-hadapan dengan sikap dan pandangannya “Yang Tak Agung”.

Mungkin suatu upaya memperoleh permakluman publik ketika ia berdalih dengan mengatakan ucapan melecehkannya itu “lepas kendali atau tak disadari”. Tetapi, sebuah lelucon adalah upaya menggugah emosi dengan mencitrakan sesuatu yang ganjil secara disengaja. Dan, agaknya antara Daming dengan yang menyimak lelucon sinisnya itu sama-sama menyukai keganjilan; sekalipun telah menjadikan diri mereka “aneh”. Apakah rakyat suka dengan “Hakim Agung Yang Aneh”? Apakah rakyat masih mau memberikan kepercayaan kepada wakilnya yang ikut-ikutan nyeleneh itu? Tentu saja tidak!


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Menafsir Mimpi


"Bagaimana keadaannya, Muhammad?" dengan wajah penasaran FB tak bosan bertanya (itu kalau FB punya wajah dan jika saya percaya dengan visualisasi yang terbentuk dalam benak). Dan, kejadiannya saya alami setiap kali membuka akun FB belakangan ini.

Sangat tak sopan jika orang bertanya tak dijawab (barangkali saya sudah menganggap FB "orang yang sebenarnya"). Maka, saya ceritakan apa yang saya alami.

Semalam atau sudah masuk pagi? Percayalah saya tidak mau diatur waktu yang cenderung matematis. Lagi pula ada hal yang tak bisa dihitung, ternyata menjadi diperhitungkan. Begitu juga sebaliknya. Ada hal yang sebelumnya diperhitungkan, rupanya sering luput untuk dihitung. Karenanya, saya memakai frasa "baru-baru ini" untuk memulai cerita mimpi saya.

Baru-baru ini, saya bermimpi jari tangan saya dimakan anak macan akar. Saya tak sempat bertanya apa yang memotivasi si anak macan akar itu tiba-tiba menggemarinya. Apakah ini simbolisasi?

Kiranya pertanyaan saya belum mendapat jawabannya, saya harus mencari penyebab yang lain dulu. Benarkah peristiwa dramatis dalam mimpi saya ini berkaitan erat dengan pengalaman berkesan sebelumnya, mendadak muncul kembali melalui visualisasi simbolik yang membuat saya intens masuk ke dalam alam mimpi?

Ataukah penyebab yang mungkin lainnya adalah jenis interaksi personal saya dengan lingkungan terdekat?

Kalau boleh jujur (maklum perangkai kata adalah juga pembohong yang suka mendayagunakan majas hiperbola, maka saya kira sesekali bersikap jujur itu baik), di dunia maya saya berinteraksi dengan orang-orang yang mentransformasikan diri menjadi "bit demi bit" data yang terbaca sistem teknologi informasi terkini. Bagaimana pun juga keyakinan saya mengatakan bahwa tak seorang pun dari mereka yang berminat merubah diri menjadi bit demi bit informasi sebagai "anak macan akar". Tapi, saya melihat mereka tervisualisasi secara nyata karena pengaruh informasi terpilih yang diposting baik melalui gambar maupun melalui kata-kata yang menggambarkan siapa mereka. Orang-orang di dunia maya yang saya kenal tentunya fasih membangun citra diri yang diinginkannya. Namun, sekali lagi tak seorang pun dari mereka yang berminat mencitrakan diri sendiri sebagai anak macan akar.

Gambaran di atas ini saya paparkan demi mencari jawaban mengapa jari-jari tangan saya digigit anak macan akar (itu jika saya percaya penjelasan teori psikoanalisa mengenai tafsir mimpi ala Freud ─ mimpi adalah pengalaman berkesan dari alam bawah sadar yang muncul kembali secara simbolik). Walaupun demikian, saya masih tak dapat menemukan jawabannya.

Karena ada dorongan dari dalam diri bahwa kecenderungan mimpi jari-jari tangan saya yang digigit anak macan akar itu bersifat simbolik, jadinya saya tertarik untuk mencari maknanya yang diselubungi tabir perlambangan tersebut. Tentunya ini harus juga bersifat pragmatis. Maka, saya mesti menemui Bang Va'e yang piawai menerjemahkan mimpi dengan cara yang istimewa. Pengalamannya sebagai penjual togel telah membentuk dirinya sebagai penafsir simbol-simbol mimpi menjadi angka-angka jitu. Bayangkan betapa menariknya diskusi saya dengannya nanti. Kami barangkali akan melihat sisi-sisi tersembunyi dari mimpi yang dirumuskan secara khusus, sebagai angka-angka tentunya. Sebab, dia pernah bilang begini:

"Kalau mimpi dikencingi kodok, angkanya 42. Jangan kau bolak-balik. Kalau jaraknya jauh, kan capek?!" terangnya sambil tertawa lebar mempertontonkan gigi-gigi kuning berkaratnya yang besar-besar. Saya ikut terbahak tapi juga berpikir kenapa saya mesti ada di dekatnya ketika ia menggila seperti ini? Barangkali kesamaannya adalah kami berdua suka menafsirkan fenomena di balik hal yang tersimbolisasikan.

Mungkin juga kami ingin mendekatkan jarak mimpi yang jauh itu. Bisa jadi kami mau membuat mimpi menjadi terindera. Bukankah setiap kita juga cenderung bertindak untuk merealisasikan mimpi-mimpi kita yang tersembunyi? Tentu saja dengan cara kita masing-masing. Tak salah jika penyair Belanda Martinus Nijhoff dalam sajak "Awan" menyatakan begini:

Tibalah masa aku tidak melihat ke atas,
Walaupun udara penuh awan,
Aku tidak menggapai ke barang asing
Yang menyentuh hidupku dengan bayangannya.

Ya, suatu upaya yang dilakukan untuk menggapai cita-cita (mimpi) tentunya kembali ke kehidupan nyata sebenarnya, kehidupan yang tak lagi hanya "menyentuh barang asing dengan bayangannya."

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Kumpulan Puisiku ( 2012 - 2013 )


1. Aku Adalah Diri

mungkin tubuh adalah penjara
baiknya kuketahui cara merawat kecantikan
selama masa tahanan

setidaknya waktu luang bisa terisi
menjelang pembebasan yang mungkin kutangisi
yakni mati


2. Resep Panjang Umur

Yang baik biasanya cepat pergi.
Yang jahat betah bertahan.

“Pilar sorga masih dicor. Belum kelar!” alasannya.
Api neraka padam. Kekurangan kayu bakar!”

Seringkali aktor mengulur waktu -
Monolog panjang berkhasiat menunda drama kematian.

Biar malaikat maut lagi asyik main lempar koin,
Bagaimanapun juga pilihan sudah ada di tangan.


3. Mari Rayakan Kematian

kematian itu perpisahan yang dirayakan
hujan berbutir berat menderas
tumpah - semoga segala duka tuntas
kiranya dada terasa ringan

setelah itu panitia yang merayakan
berkumpul dan berfilatelis
mengoleksi prangko kesan
melayangkan surat do’a ke langit

lalu makan-makan
bukankah yang hidup harus makan?
mari jangan sungkan.
ini perayaan!

dan hidup berjalan seperti sediakala
sudah sah dilindungi hak cipta:
setiap yang ada lahir untuk tiada
begitu jelas hukumnya. mari rayakan!


4. Kita Semua Adalah Penyewa Rumah


kita semua sedang menyewa,
mungkin sebuah apartemen,
rumah bergaya semi permanen,
atau bahkan berdinding papan sederhana

mestikah diperindah?
dihiasi dengan warna-warni memukau,
digantung lampu kristal bercahaya kemilau,
untuk tempat tinggal sementara - sekedar pelepas lelah

sekian lama menyewa,
kelak tibalah masa kita berpamitan,
mengucapkan selamat tinggal
kepada tuan pemiliknya

si penyewa yang pandai
bisa jadi pergi membawa bekal,
telah bersusah-payah mengumpulkan simpanan,
menang melawan kehendak memperindah rumah sewaan

kini ia bangun rumahnya sendiri,
nyaman terasa, ia bisa tenangkan diri
di rumahnya ini ia penghuni dan pemilik sejati,
pun dihiasi rumahnya ia tak perlu merugi

si penyewa yang pandir
tampaknya berpisah dengan rasa getir:
gontai melangkah kehilangan arah - menggelandang
tak tahu kemana tujuan pulang

ia telah dihasut hasratnya sendiri,
mimpi berumah mewah berharga teramat tinggi,
tiada bersisa, lenyaplah semua yang dimiliki,
pembayar citra semu istimewa menipu diri

beginilah jadinya!
terlunta-lunta,
dirambah resah
ia melata-lata tak berumah

tahu setiap penyewa mesti berpindah,
baiknya jangan terlalu gegabah:
menghamburkan begitu banyak biaya
untuk sesuatu yang bukan milik kita sesungguhnya


5. Puisi, Jadilah Embun Saja!

kepada puisi:

aku lama ingin berjumpa
denganmu yang begitu kurindu
tapi kau tak mau tahu
sungguh aku tak habis pikir

sebentar saja
ya, hanya sesaat untuk berbincang,
ungkapkan rasa, lapangkan sesak dalam dadaku:

mengapa kau kini jadi sebatang pohon tinggi?

leherku mau patah, mendongak lama
dari tadi menunggumu
tapi kau terlalu acuh,
daun-daunmu sibuk sendiri,
menerjemahkan terpaan deru angin
terombang-ambing kusut masai
mati-matian berjuang di udara terbuka

sudahilah..

jadilah embun saja: bening
kemilau pada tiap helai rumputan
aduhai, sejuk segar dirimu kurasa
tiap pagi akan kubasuh wajah beku
memulai hari dengan bekal sejukmu
ah, seandainya kau mau..

salam takzimku
yang bosan dengan kesendirianmu


6. Apostrofe

mungkin hanya puisi saja
bisa jelas terdengar suaranya,
bercerita yang tak terjangkau
atau bahkan yang tak pernah ada

lenyap kaku pada tubuh
telah ditiupkan kembali ruh
tampak gairah menyala-nyala
berkobar dalam benci atau cinta

o, cinta, di sini, ya di dalam puisi
serasa racun manis dicecap
kalap membuta di malam gelap
sembilu rindu meruang ilusi

o, benci di sini, ya di dalam puisi
perih kalbu yang terkoyak
melayari laut luka berombak
di langit kelam berhias cercah ironis ditangisi

mungkin hanya puisi saja
bisa jelas terdengar suaranya:
menumbuh asa atau memantul resah
menjadi wadah ketika tertumpah


7. Lukisan Mimpi

mungkin agar mimpi mampir mendekat,
ia kuubah jadi warna-warni memikat,
garis, titik dan siluet kotaku
yang gelisah - aku tak tahu kenapa

jalanan resah ditinggal jejak kendaraan,
malam serupa perempuan beralis tajam,
menyeringai dan mencemooh
sesiapa yang lamban

orang-orang berpunggung besi
bawa beban duapuluh kali besar badannya
sebuah cerita yang mengalir
dari mimpi yang kulukis


8. Ruang Tualang

kau sudah lupa Tuhan,
sekalipun Dia selalu melihatmu

ada ruang di kota ini
ya, sengaja dibangun untukmu saja

datanglah, tenangkan diri,
rasakan nikmatnya dunia indah tak terperi

astaga! kau kini telah direngkuhnya
bagaimana? sudah sirna resahmu, kan?

memang harganya cukup mahal:
itu resikomu. bayarlah!

lihat! Dia hanya geleng-geleng kepala;
cinta dan kasih-Nya bisa redam gundahmu. itu gratis!

tapi yang kemilau di sini
teramat kuat pikatnya bagimu.

rupanya kau penyuka ironi!


9. Tentang Memberi

memberi itu hati yang meluap,
sungai lembut melimpah rahmat,
juga air bah mengundang bahaya bagi mereka
yang berada di dataran rendah

ketika mau memberi, dimanakah dirimu?
carilah tempat yang tinggi,
ataukah engkau masih bergabung bersama mereka?
jangan lalai dalam permainan sulap prasangka:
dataran rendah tak pernah mampu menahan air bah

berada di tempat tinggi saat memberi
mulianya dirimu yang lupa pamrih
berbahagialah!

berada di tempat rendah saat memberi
malangnya dirimu ditenggelamkan air bah rindu
kidung puja-puji. hayatilah derita kemerosotanmu!

engkau ingin bercahaya kebajikan tinggi
pernahkah engkau curigai hatimu yang meluap itu?
berada di dataran rendah
tenggelam bersama mereka
yang terlena kidung puja-puji.


10. Berjuanglah, Bukan Memasrahkan Diri!


“Bersyukurlah..” kudengar nasehat ini.
“Tunjukkan kesopananmu. Demikianlah kebajikan!”

Sepiring nasi basi, lembek berair,
sepotong daging bangkai penuh belatung,
segelas nanah kuning keruh:
ya, memang elegan terhidang.

Akankah engkau mensyukuri?
Sementara lapar menggerus dinding perut,
dahaga membakar kerongkongan.

Nalar mengajarkan cara bertarung;
ia menghargai para pejuang.
Kiranya santapan raja terasa paling lezat,
anggurnya paling manis melekat.
Niscaya dirimu merasa terhormat.

Itu kebajikan sekaligus keunggulan;
yang pasti bukan kepasrahan.


11. Pilihlah Rotimu yang Baru

Engkau mau hidup. Makanlah!
Ada banyak larva lalat di roti kehidupanmu yang lama.
Lemparkan atau masih mau engkau makan?

Romantisme biasanya mengundang penyakit. Buktikanlah!


12. Tetaplah Ingat untuk Apa Gigi Disikat?

sayang, marilah kita bicara tentang rasa syukur
yang tak perlu lagi ada debat
menuai dendam sampai liang kubur

ayo, kita mulai sepakat
gigi-gigi kau dan aku tak lagi disikat
biarkanlah tampil dengan estetikanya yang kuning berkarat
agar kita tak lagi tersesat jauh
lalai mengingat betapa nikmat
mengunyah setelah kita bermandi peluh
pula tak terkira-kira lezat
ketika kita ikuti jalan-Nya yang bersuluh
melata di muka bumi, mencari rezeqi
supaya bisa digilas-gilas mulut kau dan aku yang bergigi

jangan lagi membeli odol
itu perbuatan mubazir, konyol!
singkirkan saja semua sikat gigi
biar tulang-tulang dalam mulut kita jadi saksi:

kau dan aku ada
karena Dia Saja Selalu Memberi
Masih Maha Pengasih
bagi kita yang kerap lupa diri.

bagaimana bisa kau dan aku khilaf?
berbuat kufur tanpa sebab
menyingkirkan sisa-sisa rezeqi:
untuk apa menyikat gigi putih mengkilap?


13. Sajak Rindu dan Hantu

Karena rindu terus membelenggu,
entah kenapa aku bersedia menantimu
di antara randu dan beringin tua.
Bodoh! Mau saja di sini.

Satu jam berlalu belum cukup.
Masuk jam kedua tetap kutunggu tapi aku ragu.
Sesekali resah kepak kelalawar menyapa. Sudah itu sepi saja meraja.
Akankah kau datang menemuiku?

Angin dingin cukup menguliti.
Ia bawa terbang akalku.
Takut menyergap, cemas melintas berkelebat.
Benarkah itu dirimu ataukah penunggu pepohonan tua ini?

Agaknya aku harus pergi.
Logika mengiringiku berpendapat:
“Segala sesuatu mesti diragukan,
tapi rindu dan hantu sudah berlebih-lebihan.”

Yang luput dijemput akal dan indera,
Nyata ada dengan rasa,
dan pasti. Sulit dibantah.
De Omnibus Dubitandum?


14. Patriarki

Kalau kau kurayu
mau dibawa plesiran dalam kapal pesiar nyaman,
saat laut kemilau dengan langit tampil menawan,
jangan percaya. Kau tahu aku pembohong purba!

Tapi jika kau mendengar retorika:
aku tulus mencintaimu,
sebenarnya itu agar bisa mengajakmu
hidup di bedeng papan sewaan.
Hayati nasib malangmu.
Bersyukurlah! Kau rela melakoninya.

Jangan terbuai tatkala kukatakan mau membangun taman,
tepat di beranda rumah mungil kita. Bukalah matamu!
Ada kandang kecil buatmu jualan sayuran. Mengeramlah di dalamnya!
Jangan lupa berdo’a aku bangun dari lelap tamasya surgawi.

Adakah hal penting yang kita abaikan?
Tidak. Mari akui yang pasti telah lama sekali:
kita telah membiakkan tradisi.
Dan yakinlah, aku tidak membodohimu.


15. Politik Godaan


sebelumnya pohon belimbing
di samping rumahku kalem,
ia lebih suka hening,
congornya lebih milih mingkem

mana berani ia protes
misalnya saat angin ngamuk,
daunan kuning, reranting lapuk
merontok pasrah, luruh tersuruk

entahlah sejak selembar poster
nempel, masang badan di batang
tiba-tiba ia membangkang,
mendadak berubah, perangainya keblinger!

katanya ia berani nentang
angin kencang yang datang
sangkanya ia punya daya
disihir slogan poster bergaya:

“Ayo, pilih Tuan Hantu -
abang kita yang baru,
di segala cuaca siap membantu.”

kiranya rayuan kian hari
kian menjadi-jadi:
mengelabui, menutup akal budi
agar lupa diri sendiri


16. Absurditas Posmo

mungkin dosa adalah ide,
izinkan aku berterima kasih padamu
suatu sikap yang elegan,
ganjaran setimpal atas kesediaanmu
agar istrimu mau kutiduri.

lihatlah! bukankah kita telah sepakat?
hal yang menyesakkan dada seperti dosa,
sebenarnya bisa melegakan ketika diabaikan.
agaknya tuntutan tubuh lebih berkuasa
dan mari biarkan hati mendesah

yang bisa terjangkau indera,
yang bisa nyata terlihat,
yang bisa dirasakan nikmat,
yang bisa bebaskan tubuh dari penjara,
agaknya lebih meraja - kuasa yang sementara butuh pembiasaan!


ah, rupanya kau dan aku mesti jujur
benarkah kita dirantai tubuh sendiri?
susah payah kita bebaskan diri,
berbagi tugas dan menjalin kerja sama:
kau bangun pilar-pilar penopang sorga dunia,
aku bawakan air mancur penghias kolam tamannya

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha