Menjumpai Indri Hapsari dalam Puisi “Sepeda Ibu”


Dokumentasi artikel yang sebelumnya ditulis pada 27 September 2013 | 00:28

 Apa yang terpanggil keluar dari kesadaran paling bawah milik Anda ketika mendengar kata “ibu”?

Mungkin yang pertama kali terbersit dalam benak, “ibu” adalah sosok mulia yang melahirkan, merawat, membimbing dan menjadi guru pertama anak-anak dalam segala hal di kehidupan ini. Utamanya ibu adalah pembentuk watak, pola pikir dan sikap dalam menilai baik atau buruk yang kelak dihadapi buah hatinya dengan segala kemurnian diri.

“Ibu selalu terkait dengan penentu nilai moral dalam kehidupan. Sementara anak-anak akan memberikan sebuah cermin kepolosan dalam diri manusia,” tulis Koes Yuliadi dalam esai kritiknya (Ibu, Utopia dalam Sinema? - KOMPAS, Minggu, 15 September 2013, halaman 20).

Mencermati pendapat dari Sineas dan Kandidat Doktor ISI Yogyakarta di atas, kesimpulan yang mungkin kita ambil adalah berhubungan dengan peran fungsional sosok ibu. Seorang ibu adalah sutradara yang membentuk kepribadian anaknya: kelak menjadi orang yang bermartabat mulia atau sebaliknya. Sentuhan ketulusan seorang ibu dalam membimbing anaknya akan menjadi pedoman bagi sang buah hati ketika menghadapi berbagai hal di kehidupan nyata. Ibu adalah tangan pengetahuan yang menulis tinta pada lembaran putih bersih (baca: kepolosan) jiwa anak. Misalnya, jika seorang ibu mencurahkan kasih sayangnya dengan tulus dalam rangka memberikan pemahaman tentang kesabaran yang dapat membuka akal-budi sang buah hati ketika tertimpa kesulitan hidup, niscaya anaknya dewasa nanti akan mampu bertindak bijaksana dalam merespon realitas yang menjepit dirinya dengan ketabahan pula.

Begitu pentingnya peran ibu! Sehingga ”tiada sepotong ubi pun yang tak bisa diolah ibu” demi mengenyangkan perut anaknya (yang ini bercanda jangan terlalu serius, hehehe…).

Kita sudah memaklumi betapa mulianya sosok ibu dalam hal membekali kehidupan anak manusia. Bahkan, telah sah diakui kehidupan awal berkembang tak lain berkat sang ibu. Sastrawan besar Rusia, Maxim Gorky, secara elegan menyatakan:

“Tetapi lagu tercantik dari semua yang dinyanyikan,
Lagu awal segala sesuatu di atas bumi,
Lagu jantung hati dunia, hati yang magis,
Tentangnya yang di atas bumi kami menyebutnya Ibunda.”


Semua hal jika berbicara tentang kemuliaan sosok ibu begitu magis, seperti misteri yang tak bosan-bosannya ditelusuri. Betapa tidak? Jagat ketulusan ibu yang hangat telah mampu merubah segala yang rendah menjadi tinggi. Sentuhan kasihnya yang mengalir laksana air pegunungan sejuk ketika direguk telah menghilangkan setiap cekik dahaga kesulitan hidup anaknya.

Dalam tema besar kemuliaan sosok ibu juga penulis Indri Hapsari mengajak kita semua berkontemplasi, menanyakan kepada diri sendiri seberapa jauh kita mampu mengingat jasa ibu? Bagaimana bisa kita menjadi seperti saat sekarang ini tanpa kesabaran dan kelembutan bimbingan ibu? Baiknya kita langsung saja menyimak puisi indahnya berikut ini:


SEPEDA IBU

Karya Indri Hapsari


Pegang yang erat ya Nak
Ibu akan berhati-hati
Agar laju Ibu tetap lurus
.
Tetap pegang Ibu ya Nak
Tak perlu renggut ujung baju
Cukup lingkarkan di pinggang Ibu
.
Taruh kepalamu di punggung Ibu ya Nak
Tapi jangan tertidur
Ibu takut kau jatuh
.
Ibu akan berusaha supaya cepat sampai
Agar jangan kau kepanasan
Atau kita belum jua sampai
saat hari akan hujan
.
Sabar ya Nak
Roda sepeda Ibu memang kecil
Tapi kayuhan Ibu besar



Parafrasa Bait per Bait Puisi SEPEDA IBU

Sebuah teks sastra biasanya memiliki bagian yang kosong dimana memberikan kesempatan pada pembaca untuk mengisinya melalui penafsiran. Hal ini tentu saja berlaku juga pada karya puisi SEPEDA IBU hasil daya kreatifitas intelektual dan cita rasa tinggi penulis Indri Hapsari.

Tetapi, kita mesti cermat dalam menafsirkan puisi agar bagian kosong (baca: makna tersirat) yang terkandung bisa terisi dan melengkapi keutuhannya sebagai teks sastra yang indah. Sebab, puisi sangat berbeda dengan jenre lainnya yang bisa dengan mudah pembaca mengetahui maksud dari pengisahan peristiwa yang disajikan berkat tradisi alur pengisahannya atau pun cara penuturan dramatik, gerak teatrikal sebagaimana ditemukan dalam karya prosa dan drama. Lain cerita dengan puisi yang lebih simbolik dan mengatakan ”hal yang khusus” untuk menunjukkan kepada penikmat sastra tentang yang umum manusiawi — universal. Dalam pemaparan temanya, puisi sehemat mungkin menggunakan kata namun seboros mungkin membagikan berbagai kemungkinan makna yang terkandung.

”Puisi dapat dianggap sebagai informasi yang  dipadatkan, yang mengungkapkan sebanyak mungkin dengan sedikit kata,” tulis Jan Van Luxemburg, Mieke Bal dan Willem G. Weststeijn dalam bukunya yang berjudul Tentang Sastra (hal.87).

Puisi SEPEDA IBU ini mengemukakan hal khusus, yang secara kontekstual merujuk pada narasi seorang ibu yang sedang mengajak buah hatinya plesiran dengan sepeda. Di dalam perjalanan mereka, subjek lirik utama ”ibu” memberikan nasehat, bimbingan dan menumbuhkan keyakinan akan kekuatan dari ikatan kasih sayang mampu mengatasi segala rintangan yang mungkin dihadapi. Ibu dalam puisi ini juga mengajarkan tentang cahaya kesabaran mampu menerangi gulita alam benak si anak yang dicekam ketakutan ketika melintasi jalan tak mulus (”jalan” hadir secara in absentia, yang merujuk pada makna segala kenyataan mungkin yang akan dihadapi anak – subjek lirik pendukung yang berperan sebagai pendengar bisu).  Agar lebih jelas mari simak parafrasa bait per baitnya.

Bait I

Kita akan pergi ke suatu tempat yang menyenangkan, anakku. Hanya berdua saja dengan naik sepeda ini. Mungkin jalan-jalan yang akan kita lalui bukanlah jalan-jalan yang mulus. Bisa jadi penuh lubang, berliku dan berdebu. Bahkan, kita juga mungkin harus menerobos segala perintang yang menghadang. Di dalam perjalanan kita nanti ingat pesan ibu, ya, nak.. Pegang yang erat, ya, nak. Supaya kau tak terjatuh dari boncengan ibu. Jangan takut anakku! Tinggalkan saja cemas dalam hatimu di sini! Sebelum kita memulai perjananan. Tentu saja ibu akan berhati-hati. Ingatlah kau sedang bersama ibumu! Segala sesuatu akan baik-baik saja. Yakinlah, aduhai anakku! Sebab, akar keyakinan yang tertanam kuat dalam hatimu dan ibumu akan menjaga kita berdua agar laju ibu tetap lurus.


Bait II

Anakku, lihatlah di sana! Deru debu membubung. Tapi, samar-samar ibu bisa melihat jalan yang akan kita lintasi di sana.. Anakku, jalan itu berlubang dan berliku! Namun, janganlah kau khawatir! Singkirkan rasa takutmu! Kau sedang bersama ibu. Tetap pegang ibu, ya, nak. Sebab, tak jarang nanti kita berdua akan terguncang-guncang. Jangan takut, buah hatiku. Tak perlu renggut ujung baju ibu. Peganganmu bisa terlepas. Jadi, cukup lingkarkan kedua tanganmu di pinggang ibu.

Bait III

Ya, ibu tahu, anakku. Kau sudah lelah. Perjalanan kita cukup menguras tenaga. Tapi, anakku, ujung tangkai kalbuku.. Ibumu tempat kau menyandarkan segala lelah. Percayalah, punggung ibu kuat sekali untuk  kau bersandar. Jadi, taruh kepalamu di punggung ibu, ya, nak. Itu tempat paling nyaman untuk kau sandarkan kelelahanmu. Bayangkanlah dengan mata terbuka! Segala keindahan yang menanti kita di sana! Sebuah surga sejuk dengan taman dan air mancurnya yang menawan! Meskipun begitu memikat hatimu  itu, tapi jangan kau tertidur ketika membayangkannya. Ibu tak mau kau terlelap! Semua gemerlap dunia bisa membuatmu khilaf! Ibu takut kau jatuh. Maka, dengarkan sekali lagi kata ibumu! Setiap kali kau hendak menggapai bintang impianmu; bukalah mata lebar-lebar dan perhatikan arah langkah kakimu, anakku tersayang.

Bait IV

Ibu akan berusaha supaya cepat sampai. Memilih lajur terbaik. Sebisa ibu menghindar dari sengat cahaya perak mentari agar kau tak kepanasan. Ya, anakku, kau benar! Bila perjalanan kita tersendat-sendat, atau kita belum jua sampai padahal terang berganti mendung bergelayut, lalu saat hari akan hujan , kuyuplah kita berdua setelah basah bermandi peluh. Tapi, kau sedang bersama ibu yang selalu berupaya sekuat mungkin demi memberikan yang terbaik untukmu selama perjalanan kita.

Bait V

Anakku, sebentar lagi kita tiba di sana! Jangan resah! Baiknya kau dengarkan cerita ibu untuk mengusir kegundahanmu. Kisah yang akan kau dengar ini begitu banyak menyimpan  pelajaran dan kelak akan berguna bagi dirimu. Di sebuah negeri hiduplah seorang perawan suci. Karena ia dipilih Tuhan untuk menjadi ibu dari seorang nabi, mengandunglah ia seketika. Padahal ia sama sekali belum mempunyai seorang suami, juga belum pernah bersentuhan dengan lelaki. Kekuasaan Tuhan mentakdirkan dirinya begitu, tetapi ia mesti menerima ujian maha berat: dicemooh dan dihina orang-orang di tempatnya berada. Mengikuti petunjuk Tuhannya, ia pun menghindar dan mencari naungan teraman. Berjalanlah ia menjauh dari kampungnya. Sekian jauh berjalan terseok-seok dengan perut besarnya, tibalah ia di dekat sebatang pohon nan rindang. Melahirkanlah ia di sana. Muncullah ke dunia bayi lelaki yang tak lain adalah seorang nabi dalam perawatan dan perlindungan Tuhannya. Dan, tahukah kau, anakku? Melahirkan itu begitu berat. Menguras tenaga dan mencekik lehernya dengan dahaga. Perawan suci itu ingin sekali membasahi tenggorokannya. Ia merasa haus sekali! Namun, barang setetes air pun tak bisa ia temukan di gurun maha panas ketika itu. Kesana-kemari ia mencari. Usahanya sia-sia belaka. Ia pun kembali ke dekat putranya yang baru saja ia lahirkan. Dipandanginya dengan tatapan kuyu wajah buah hatinya itu. Tiba-tiba keajaiban datang! Putranya yang masih bayi merah itu mampu berbicara: ”Ibu, aku akan menghentakkan kakiku supaya keluar mata air untukmu.” Belum habis rasa takjubnya, mendadak dari bekas hentakkan kaki mungil putranya memancur air teramat bening dan menyegarkan. Minumlah ia sepuasnya! Tuntaslah sudah segala dahaganya! Putranya tersenyum melihat sang bunda bebas dari derita. Perawan suci itu langsung bersujud, ia berterima kasih pada Tuhan Yang Maha Penolong bagi orang yang sabar. Jadi, kau juga harus sabar ya, nak. Tuhan akan menolong kita melalui perjalanan melelahkan ini. Meskipun kau tahu.. Roda sepeda ibu memang kecil. Tapi, dengan pertolongan Tuhan dan kesabaranmu, itu akan membuat kayuhan ibu besar.


Majas Puisi SEPEDA IBU

Penggunaan majas dalam puisi SEPEDA IBU ini secara eksplisit dan implisit mengarah pada gaya tuturan simbolik dan synecdoche pars pro toto. Hal ini disebabkan penulis yang membangun teks puisinya secara induktif. Indri Hapsari menggunakan dua subjek lirik, Ibu dan Anak. Subjek lirik pertama yang secara simbolik menjadi episentrum puisi, yang menggelombangkan setiap keping mosaik peristiwa plesiran dengan berbagai warna dan suasana yang dialami baik oleh ”Ibu” (subjek lirik aktif) dan ”Anak” (subjek lirik semi pasif karena sekalipun tak membalas tuturan subjek lirik utama, dan menunjukkan eksistensinya melalui gerakan memegang, memeluk, bersandar, melukiskan raut wajah kelelahan ataupun ketakutan.). Maka, dalam puisi ini ”Ibu” dengan segala sikap dan prilakunya memiliki perlambangan mengarah pada makna sumber kehangatan, ketulusan dan pencerahan. Sementara itu, ”Anak” yang keberadaannya sebagai pendengar bisu semi pasif merujuk pada simbol kepolosan dunia hijau kanak-kanak yang mesti mendapat bimbingan melalui sentuhan kasih sayang orang-tuanya. Selain dari dua simbol utama ini masih ada lagi yang lainnya, yakni ”sepeda” dan ”roda sepeda ibu”. Sepeda menunjukkan kepada pembaca lambang sarana pengajaran dan bimbingan yang diberikan ibu. Paralellisme makna dari kata ”sepeda” dalam puisi ini mengandung nilai pendidikan khas yang diajarkan oleh orang-tua terdekat dengan anak: ibu. Sedangkan, frasa   ”roda sepeda ibu” yang dituturkan berukuran kecil itu menunjuk pada makna kesederhanaan dan kehangatan yang khas dari bahasa ibu ketika mengajarkan buah hatinya. Hal ini dipertegas dengan baris terakhir pada bait kelima puisi //Tapi kayuhan ibu besar/ yang menunjukkan walaupun dengan bahasanya yang bersahaja mengikuti perkembangan kejiwaan anaknya, ibu adalah sarjana dari universitas kehidupan yang bisa memberikan pencerahan secara langsung pada buah hatinya.

Majas kedua yang bisa ditemukan dalam puisi SEPEDA IBU adalah synecdoche pars pro toto. Gaya bahasa ini secara definitif berarti ”sebagian untuk seluruhnya. Subjek lirik utama ”Ibu” yang hadir dalam teks memberikan pelajaran kehidupan secara langsung (secara tersurat dan tersirat tampak dalam perjalanan bersepeda itu) dalam rangka membentuk kepribadian ”Anak” sebagai subjek lirik kedua. Sedangkan ”Anak” yang dilukiskan sebagai subjek lirik bersifat pendengar bisu, dalam teks puisi merepresentasikan kepolosan jiwa manusia.

Nah, di sinilah pembaca dapat melihat kenyataan fiksional dalam teks memiliki nilai universal kemanusiawian, yakni kehangatan cinta kasih ibunda. Tentu saja hal ini juga selalu ada di kenyataan faktual sehari-hari, dimana seorang ibu dengan segala daya upaya selalu memberikan curahan kasih sayangnya kepada anak-anak. Penggunaan gaya bahasa ”sebagian untuk seluruhnya” ini sekaligus mewakili motivasi penulis puisi untuk mewartakan bahwasanya tiada yang paling indah dan menyentuh selain kehangatan hubungan dan curahan cinta tulus dari seorang ibu.

”Selalu merasa bahagia sekaligus terharu, melihat seorang ibu membonceng anak balitanya. Berdua berusaha menghadapi lalu lintas yang ramai. Betapa mereka sungguh saling memiliki, satu sama lain,” tulis Indri Hapsari, yang akrab dipanggil Mbak Indri, sebagai penjelasan akhir puisinya. (M.I)




Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Rumah Batu Olak Kemang


rumah_batu_olak_kemang

Terletak tak jauh dari tepian Sungai Batanghari, tampak Rumah Batu Olak Kemang berdiri. Bangunan tua yang oleh warga setempat disebut juga "Rumah Rajo" tepatnya berada di Jl. KH. Abdul Qodir Ibrahim RT. 02 kelurahan Olak kemang, Kecamatan Danau Teluk Seberang Kota Jambi.

rumah_batu_olak_kemang

Kondisi bangunannya telah keropos, merasai sendirian, melawan kekuatan alam hujan, panas dan angin yang mengikis hampir seluruh sisi dinding. Lumut kerak dan tetumbuhan paku yang menempel di sela-sela retakan menjadikan bangunan cagar budaya ini merana. Kayu pada sisi dinding dan lantai atas sudah banyak lapuk, dengan atap yang sebagian besar hampir lepas.

rumah_batu_olak_kemang

Rumah tua ini dibangun dalam kurun abad ke-XVIII. Tentunya ini menyimpan nilai sejarah, khususnya merekam jejak kekayaan budaya masyarakat Melayu Jambi. Warga yang tinggal bersebelahan dengan bangunan tua tersebut mengatakan Rumah Batu Olak Kemang milik (Alm) Sayyid Idrus bin Sayyid Hasan Al Jufri. Pada masa jayanya beliau adalah seorang Raja (Sultan) berpengaruh di kawasan itu dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo. Dengan pengaruhnya sebagai Sultan itu, beliau menjadi tokoh masyarakat yang menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.

Rumah Batu Olak Kemang sendiri berbentuk bangunan dengan dua lantai. Arsitekturnya selain memperlihatkan model rumah panggung khas rumah masyarakat Melayu Jambi juga tampak dipengaruhi perpaduan seni bangunan China dan Arab. Hal ini bisa dilihat dari ukiran Ular Naga pada bagian pintu masuk utama ruangan, pilar bagian dalam bertuliskan kaligrafi huruf Arab, dan pintu gerbang keluar-masuk yang berjarak kurang lebih 5 meter yang tampak menyerupai gerbang rumah ibadah Klenteng .

Perawatan rumah tua ini sampai sekarang masih dilakukan seadanya oleh pihak keluarga dari keturunan (Alm) Sayyid Idrus bin Sayyid Hasan Al Jufri. Saat ini tanggung-jawab merawatnya berada pada pundak Ibu Syarifah Aulia.

Harapan dari pihak yang merawat Rumah Batu Olak Kemang ini pemerintah Kota Jambi bersedia memberikan perhatian yang layak. (M.I)

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Foto Cerita : Kebersihan Sebagian Daripada Iman


"Kebersihan itu sebagian daripada iman," demikian petuah yang telah terpatri lama dalam sanubarinya.


pembersih_kaca_mobil


Maka, ia tak ingin kandungan hikmah dari nasehat yang telah didengarnya itu menguap sia-sia disebabkan keengganan menerapkannya ke dalam tindakan konkrit. Ia paham bahwa kata-kata hanya menjadi pakaian dari kandungan makna di dalamnya.

Tentunya pemahaman akan petuah dan kedalaman makna yang telah diketahuinya itu mesti ia buktikan lebih jauh lagi. Oleh karena itu dengan bermodal kemoceng, ia memutuskan untuk langsung bertindak, memasyrakatkan pesan sungguh cinta akan kebersihan akan menegaskan keimanan seseorang.

(*) Foto ini saya ambil di Lampu Merah Simpang Pulai Kota Jambi, tepatnya ruas jalan Kol. Abunjani.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Foto Cerita : One Stop Shopping


Keberadaan pedagang kaki lima memberikan pilihan berbelanja pada konsumen di wilayah perkotaan.

pedagang_kaki_lima

Berbelanja di kaki lima menjadi pilihan ketika konsumen berpikir dapat membeli barang dengan harga miring, barang yang dibutuhkan jarang ditemukan di toko-toko atau pasar swalayan.


pedagang_kaki_lima


Selain itu, karena lokasi berjualannya yang strategis terletak di kawasan jalan-jalan utama, ini memudahkan para pelintas seperti pengendara motor mengadakan transaksi jual-beli dengan cepat, dan begitu selesai langsung melanjutkan perjalanan.


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Pasar Hongkong Jambi: Ruang Pertukaran Lintas Budaya


”Pasar Hongkong” demikianlah masyarakat kota Jambi menyebutnya. Pasar tradisional ini terletak di Jalan Hayam Wuruk, Kelurahan Cempaka Putih yang masuk wilayah Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.



Di tempat ini para pedagang yang berjualan menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi warga keturunan Tionghoa. Para pedagang yang kebanyakan berasal dari etnis Tionghoa menawarkan berbagai barang kebutuhan untuk warga keturunan: mulai dari peralatan sembahyang, buah-buahan, sayuran lobak Tiongkok, tumbuhan obat-obatan, bahan makanan dari laut seperti udang, teripang dan kepiting laut, daging babi dan ular, juga ikan sungai.

Aktifitas di pasar tradisional yang sudah berusia 27 tahun ini dimulai sejak terbit matahari dan berakhir sekitar pukul 10 pagi. Hal ini berhubungan erat dengan tradisi yang dilaksanakan warga keturunan, yakni berbelanja di pagi hari. Tak jarang terdengar bahasa tawar-menawar antara pembeli dan pedagang dipasar ini menggunakan bahasa Mandarin dengan dialek tertentu. Karenanya, selain sebagai tempat mencari barang yang dibutuhkan, Pasar Hongkong menjadi tempat berinteraksi antar sesama warga keturunan yang ada di Kota Jambi.

Namun seiring berjalannya waktu, kini para pengunjung pasar tradisional ini tak lagi hanya warga keturunan Tionghoa saja. Warga Kota Jambi dari etnis yang berbeda juga kerapkali menyambanginya. Ada yang bertujuan untuk membeli bahan-bahan tumbuhan obat, buah-buahan dan sayuran yang memang lebih berkualitas dari yang tersedia di pasar tradisional lain. Interaksi sosial yang tercipta akhirnya terkesan bernuansa pembauran budaya dari berbagai etnis yang ada.

”Pilihlah, Ko..” kata pedagang petai sambil mengikat buah petai pada seorang pengendara motor berhenti karena tertarik dengan barang dagangannya.

”Pete dali mano, ni?”

”Pete Lampung, Ko..” terangnya lagi, ”Pilihlah, Ko, buahnyo bagus semua, tuh..”

Tak berapa jauh dari pedagang petai itu, seorang pembeli tengah berbicara dengan pedagang tumbuhan obat di lapaknya.

”Ko, jual akar ilalang, dak?” tanya seorang pembeli dengan logat kental bahasa Melayu Jambi.
”Mau belapo ikat?” sahut si penjual.

”Seikatnyo berapo?”

”Ceban.. Dak mahal lah..”

”Goceng, yo, Ko?”

”Dak dapat..” jawab Koko penjual tumbuhan obat sambil tersenyum. Alis di kedua matanya hampir bertaut karena dahinya berkerut. Mungkin ia ingin berkata: ”Mau sehat, kok pelit?!”  Hehehe…

Begitulah interaksi sosial yang menjembatani antar warga etnis Tionghoa dan etnis lainnya di Pasar Hongkong Kota Jambi saat ini. Di tempat tersebut pertukaran lintas budaya terjadi secara elegan.  (M.I)

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Yang Tak Terbandingkan


"Ketika engkau beranggapan bahwa semua hal yang engkau lihat buruk, pasti mata hatimu telah melihat sesuatu yang agung dan tidak terbandingkan hingga membuat yang lain tampak buruk dan rendah," kata Rumi.

"Bagaimana bisa?" tiba-tiba keheranan merengkuh diri saya, "Bukankah hidup ini indah?"

Masih merasa heran, saya pun tetap berupaya menyelidikinya. Saya tahu mungkin Rumi belum menjelaskan semua, bisa jadi masih ada hal tertentu yang abai ia perhatikan.

Tetapi, ia tegas menjawab:

"Tidak! Sesuatu yang agung dan tak dapat diperbandingkan itu jelas berasal dari kejernihan mata bathin melihat. Lalu, jika engkau mengatakan hidup ini indah, sesungguhnya engkau bermaksud menunjukkan simpatimu pada kefanaan, yang sama sekali tersepuh keindahan dari ketertarikanmu sebelumnya.

Jika Tuhan telah menciptakan segala sesuatu apa adanya sekadar memberikanmu bekal saja, bagaimana bisa engkau mengatakan Ia juga bermaksud melenakanmu, berpaling dari-Nya dengan merias 'yang apa adanya itu' dengan keindahan. Sedangkan, Ia adalah Sumber Awal Keindahan dan Keagungan yang tak terbandingkan dan telah mempesonakanmu. Sehingga, engkau mampu melihat bahwa segala yang sementara itu sungguh tampak buruk dan rendah.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Mengapa harus begini caranya, Bu?


pengemis_cilik

Siang setelah menunaikan ibadah sholat Jum'at, saya melihat seorang bocah perempuan meminta-minta. Sungguh trenyuh menyaksikannya! Ia yang mungkin masih belum genap berusia 3 tahun telah dipekerjakan oleh ibunya sendiri - mencari uang dengan mengemis.

Hati saya sedih melihatnya. Bagaimana bisa keadaan serba-kekurangan menyebabkan seseorang tega membuat anaknya begitu rupa? Bocah itu berkeliling mendekati para jema'ah sholat Jum'at di Masjid Agung Al-Falah. Wajahnya begitu memelas, mengharap belas kasihan. Ia sungguh tak tahu apa sebenarnya dunia yang dilakoninya itu! Tapi, orangtuanya tak peduli sama sekali. Ia harus patuh mengikuti arahan sang bunda yang juga bertindak serupa - mengemis. 

pengemiscilik


Jauh di dasar jiwanya, saya yakin ada tanya yang mau ia ajukan, "Mengapa harus begini caranya, Bu?"


(*) Foto dari dokumen pribadi

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Sekadar Celoteh


Saya berusaha agar tak menjadi orang yang sentimental. Diayun-ayun perasaan dengan muatan emosi yang merongrong jiwa. Tapi, agaknya ini sulit. Saya masih terlempar ke dalam pusaran emosi yang membuat diri irrasional.

Hari ini, di bulan Juli tahun 2013 ini, saya dikepung sendu. Sepulang sholat Jum'at tadi, saya menziarahi makam bapak. Serasa sunyi dan kehilangan sekali dalam hati. Terutama ketika mengingat pada saat memasuki bulan Ramadhan, kami biasanya berkumpul bersama.

Tapi kali ini begitu menyesakkan kesenduan akibat rasa sedih itu. Entahlah mungkin ini ujian buat saya yang sebelumnya tak terbiasa dengan ketidakhadiran orang-orang tercinta. Entahlah bisa jadi sebagai penunjuk jalan bagi saya agar dapat melihat bahwa segala sesuatu di hidup ini tak bisa diposisikan sesuai dengan keinginan kita - sebagai insan biasa.   

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Si Cantik, Bonsai Tiruan


Beberapa bulan belakangan ini saya lagi menekuni seni pembuatan bonsai tiruan. Kriya ini bagi saya sangat menarik, dan tentunya memiliki nilai seni yang cukup tinggi.

Pembuatannya juga tak terlalu rumit. Bahan baku mudah didapat, biaya yang dikeluarkan cukup murah-meriah terjangkau dengan kantong siapa saja yang berminat berkreasi seni bonsai tiruan ini.

bonsai_tiruan

Foto di atas adalah salah satu bonsai tiruan bunga sakura oranye yang telah saya buat.


Bahan-bahan yang saya pakai terdiri dari:

1. Akar tanaman bunga asoka

2. Bunga plastik sakura (1 lusin seharga RP 60.000/12 tangkai, saya hanya memakai 6 tangkai saja untuk bonsai di atas)

3. Pot plastik yang bisa dibeli di toko pecah-belah (saya membeli pot di atas seharga RP 9.000)

4. Semen dan pasir secukupnya


Adapun tahap-tahap pembuatannya sebagai berikut:

1. Bersihkan akar tanaman dari tanah. Kelupas kulit terluarnya, ampelas sampai licin.

2. Bor akar yang telah bersih tersebut dengan hati-hati untuk menempelkan bunga-bunga plastik.

3. Gunakan lem silikon/lem lilin pada ujung tangkai bunga plastik secukupnya.


lem_silikon

4. Setelah semua bunga telah terpasang kuat pada akar, finishing tentu diperlukan dengan mem-politur yang berwarna coklat. Lalu, jemur anginkan supaya cat politur kering.


5. Selanjutnya, letakkan bonsai tiruan yang telah jadi ke dalam pot. Masukkan semen sedikit demi sedikit dan haluskan permukaannya.

kriya_bonsai


6. Anda bisa mengecat permukaan (tepat di bawah leher batang bonsai tiruan) dengan warna tanah, lumut atau sesuai selera Anda saja.


Selamat berkreasi dan semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Ketika keluh-kesah tumpah di dinding facebook


Dewasa_dalam_Tekanan


”Putus sudah harapanku. Hilang sudah dia dariku. Ternyata cinta ini, hanya untuk pelampiasanmu saja. Sakit terasa memikirkannya,” bunyi sebuah status di dinding facebook yang terkirim melalui telepon seluler.

Beberapa status lainnya berbunyi:

“Betapa malang nasibku. Sepertinya aku lahir  untuk terus-menerus merasa kecewa.”

“Apa karena kehadiranku sudah tak kau butuhkan lagi? Lalu, begitu tega kau tinggalkan diriku? Aku begitu mengharap cintamu, sayang.. Kumohon kembalilah padaku.”

“Ini yang kesekian kalinya aku gagal! Aku memang tak sebanding dengannya. Kalau memang tidak berjodoh dengannya, aku terima, ya, Tuhanku. Tapi, tolong dicek lagi, ya, Tuhan.. Siapa tahu ada kesalahan?”

Terasa sekali nada sendu dan pilu ketika membaca status-status di dinding facebook, dimana para penggunanya sedang dipengaruhi emosi negatif akibat rundung peristiwa menyakitkan yang dialami. Sehingga, sikap memandang rendah dirinya sendiri cenderung bermunculan dengan beragam ekspresi termasuk keluh-kesah di FB Wall. Mengapa pula harus begitu? Apa sebab orang merasa dirinya “tak berguna” dan memandang diri sendiri begitu rendah dengan beragam ungkapan yang sarat muatan emosi negatif?

“Manusia dapat hilang kepercayaan atas kemampuan dirinya jika berungkali terpapar pada kegagalan,” kata pelopor Psikologi Positif, Martin Seligman.

Professor ini memperkenalkan istilah “learned helpless” (ketidakberdayaan yang dipelajari) untuk menunjuk pada pola penilaian diri (self-esteem) yang rendah dari individu yang meyakini bahwa dirinya “seorang yang gagal” dalam hal apapun, merasa salah semua apa yang dilakukan, dan gawatnya mengarah pada sikap berputus-asa.

“Terus-menerus menjumpai kegagalan, lama kelamaan orang itu akan belajar untuk meyakini bahwa apapun yang dilakukannya tidak akan menghasilkan sesuatu,” terangnya lagi.

Mengapa demikian? Orang biasanya belajar dari pengalaman berkesan, entah itu pengalaman bagus atau buruk. Parahnya jika ia mengalami suatu peristiwa menyakitkan berkali-kali, self-esteem yang terbentuk lebih mengarah pada “kepasrahan total” yang menjustifikasi diri sebagai “si tak berdaya yang teramat malang”.

Adapun tujuannya tentu saja sangat beragam. Mungkin berupaya meraih simpati dari para sahabat. Bisa jadi semacam pernyataan konklusif untuk menegaskan dirinya yang selalu menderita. Yang terakhir ini perlu diantisipasi sebab amat bahaya dampaknya.


Penyebab Orang Menilai Rendah Dirinya Sendiri

Penyebab paling klasik dari penilaian yang rendah terhadap diri sendiri adalah kegagalan dalam percintaan. Merasa dikhianati berkali-kali oleh pasangan, diabaikan dan disingkirkan bagai debu di pakaian, atau bahkan dienyahkan serupa nyamuk yang mengigit kulit, dapat menyebabkan seseorang mengalami “kebisingan psikologis” (psychological distortion). Akibatnya, ia merasa dirinya begitu tak berguna, tidak diperlakukan secara layak, mengutuki diri sendiri mengapa pengalaman buruk dalam bercinta tersebut harus dialami. Hal ini menghidangkan sajian “melankolia yang dihayati” bagi dirinya. Selanjutnya, dengan tanpa berpikir-panjang lagi (tidak menganalisa dengan menggunakan jenis pikiran rasionalnya), kesenduan yang merasuk akibat gagal dalam percintaan mengarah pada penilaian yang rendah terhadap dirinya sendiri. Ia membuat sebuah justifikasi: agaknya ia lahir untuk merasakan kekecewaan semata. Cinta bak olahan getah papaver somniferum yang memabukkan setelah dihisapnya, lalu membuatnya hilang kesadaran, terpuruk jatuh, merasa tersuruk-suruk dalam lembah derita tergelap di jagat raya. Sungguh tragis sekaligus berbahaya bagi kesehatan mental individu tersebut.

Keadaan ini mengindikasikan sebuah pembajakan emosi dengan tekanan jiwa, mengingat bahwa otak manusia mempunyai dua sistem ingatan. Satu untuk kejadian-kejadian biasa, dan sisanya untuk kejadian-kejadian yang penuh muatan emosi. Pada berbagai kejadian yang mengandung peristiwa menyakitkan berungkali, seorang individu “dibutakan” kemampuan akal sehatnya. Ia cenderung berpikir dengan dorongan emosi negatif (seperti kecewa, tertekan, cemas, takut berlebihan) saat ia sedang menafsirkan pengalaman traumatis berkesinambungan yang dirasakan. Maka, tak heran jika ia menghakimi diri sendiri dengan penilaian yang rendah: yang hilang harapan hidup, yang bertakdir buruk dengan serbuan bertubi-tubi bogem mentah penderitaan.

Tak hanya itu saja. Jika ia larut dalam suramnya alam kekecewaan (melankolia dihayati), ia mulai mendramatisir segala hal yang menyakitkan jiwanya secara tak proporsional. Semakin ia berpikir mengapa harus ada penderitaan yang mesti dialami, semakin banyak ia menemukan “alasan bagus” untuk menderita. Ini bukan orang lain yang melakukannya, tapi dirinya sendirilah yang merajam jiwanya sampai kehilangan nafsu untuk hidup. Mengapa begitu kejam dengan diri sendiri? Bagaimana mengatasi pengalaman menyakitkan berungkali supaya mampu mengobati diri, bangkit dari keterpurukan pengalaman traumatis, dan bisa menghargai diri sendiri secara layak sesudahnya?


Hargai Diri Sendiri dengan Mengenalnya

Dalam hidup ada banyak peristiwa dengan cita rasanya yang beragam, termasuk peristiwa yang melibatkan diri seseorang harus mengecap kegetiran yang teramat menyakitkan. Bila ia tak bisa mengatasinya, hilang kesadaran diri, rundung perasaan sedih dan pilu niscaya akan mengepung hari-harinya sepanjang hidup. Mulai dari rasa kecewa, merasa tak berguna, putus harapan dan jenis emosi negatif lainnya sampai mengarah pada ketidakpedulian terhadap diri sendiri akan ia alami.

Tetapi, jika ia ”mengenal” dengan baik siapa dirinya, tiap pengalaman menyakitkan yang menerpa tak akan mampu merobohkan kokohnya benteng pertahanan diri. Ia tentu saja selalu bisa menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi ragam permasalahan hidupnya, termasuk kehidupan percintaannya yang gagal berkali-kali itu. Ia mampu bangkit dengan kekuatan diri yang ada, tidak membiarkan dirinya larut dalam kekecewaan. Ia melihat dirinya sendiri begitu berharga untuk disia-siakan hanya karena satu-dua persoalan yang pernah menjerumuskan itu, seperti pasangannya berkhianat dan mengabaikan dirinya. Ketajaman pikiran mampu mengalahkan jebakan jaring emosi negatifnya. Sehingga ia merasa tak perlu mengumumkan secara terbuka bahwa dirinya tengah dirundung kekecewaan, termasuk dengan menulis berbagai status di dinding facebook dalam ekspresi bernada pilu dan merendahkan dirinya sendiri sebagai orang pasrah yang naif. (M.I)

(*) Foto dari dokumen pribadi. Lukisan karya Perupa Sulistyono – Dewasa dalam Tekanan ”2013”, dipotret 5 Juni 2013 pada Pameran Besar Seni Rupa Se-Indonesia di Taman Budaya Jambi.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Ilusi visual ala Akiyoshi Kitaoka


Perhatikan gambar di bawah ini,


Rotating_Snake_karya_Akiyoshi_Kitaoka

Apakah Anda melihat objek dalam gambar bergerak? Sebenarnya tidak ada gerakan sama sekali dari objek dalam gambar tersebut. Mata Anda yang menggerakkannya.

Inilah yang dinamakan ilusi visual. Penemunya adalah seorang adalah Profesor dari Universitas Ritsumeikan, Kyoto, Jepang. Dia adalah Akiyoshi Kitaoka lahir pada tanggal 19 Agustus 1961, yang meneliti secara khusus mengenai persepsi dan ilusi visual dari berbagai bentuk geometris, kecerahan, warna dengan landasan  psikologi Gestalt soal rangsangan sensorik individu.

Fenomena ilusi visual didefinisikan sebagai hubungan yang terputus antara persepsi dan realitas fisik sebenarnya. Ketika kita mengalami ilusi visual, sepertinya kita melihat sesuatu yang berbeda dengan keadaan realitas fisik. Hal ini disebabkan adanya gambaran yang menyesatkan dan mengelabui (distorsi) pada penglihatan kita. Akibatnya, otak menerima informasi salah, dan mempersepsikan secara keliru sehingga gambaran yang terbentuk tidak sesuai dengan objek sebenarnya. Contoh yang paling mudah sewaktu kita berkendaraan dan melihat benda-benda bergerak. Pepohonan atau tetumbuhan di tepi jalan sepertinya bergerak menjauh.

Adapun ilusi visual ala Akiyoshi Kitaoka memanfaatkan ketidakmampuan otak menciptakan kembali dunia fisik disebabkan persepsi yang diterima berdasarkan distorsi stimulus luar oleh mata. Ini disebabkan pola-pola geometris tertentu dari gambar objek sengaja distorsikan, seperti bentuk, ukuran, letak dan kecerahan warna-warna dengan luminositasnya.

Eye_Rays_karya_Akiyoshi_Kitaoka


Rotating snake karya Kitaoka di atas, gerakan objek dalam gambar akan berhenti jika Anda memusatkan penglihatan pada masing-masing titik hitam yang ada di tengah.  Cara yang sama juga bisa Anda terapkan ketika melihat gambar lainnya di bawah ini.


Chidori Akiyoshi Kitaoka


Catatan:

1.
Dirangkum dari berbagai sumber.

2. Gambar dari situs ritsumei.ac.jp dan itsnicethat.com

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Mendidik anak “penguping” yang ekspresif


Ketika sedang duduk santai di beranda, Fauzan (4,5) datang mendekat ke neneknya.

”Dari mana kamu, Zan?”

”Dari warung belanja sama mama,” jawabnya pula.

”Memang beli apa di warung?” pancing ibu saya padanya.

”Kami mana ada yang dibeli,” rajuknya pada nenek, ”Kami minta jajan nggak dikasih. Kata  mama uangnya pas untuk belanja sayuran.”

”Ya, sudah..” ibu saya geli menahan tawa, ”Nanti nenek kasih uang untuk jajan.” Wajah keponakan saya langsung berubah ceria.

”Nek, nek, tahu nggak?” Ia tampak bersemangat mau bercerita seperti biasanya.

”Apa, Zan?”

”Rupanya, nek, anak tante Nurita itu anak angkat.”

”Hah?!” ibu saya sontak kaget, ”Tahu darimana kamu, Zan?”

”Kan, mama cerita dengan Tante Upik di warung tadi. Kata Tante Upik..” ingatannya sibuk memanggil ulang apa yang barusan didengar, ”Tante Nurita itu, kan, mandul! Dia ambil anak dari kakak suaminya di Palembang.”

Mendengar ucapan polos cucunya, ibu saya mau tak mau lepas juga tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sang nenek merasa heran bagaimana bisa cucunya yang berusia  kurang dari lima tahun itu begitu cepat merekam apa yang didengar, lalu melaporkan kembali dengan terperinci persis perkataan orang-orang dewasa.

Tak hanya itu, ada juga peristiwa lain yang menunjukkan betapa ”ucapan asal lepas” ala keponakan saya itu berhasil membuat kami terpingkal-pingkal sekaligus heran.

gaya_si_kecil


Suatu ketika ia diajak mamanya pergi membesuk seorang kerabat yang sakit parah. Di tempat itu telah berkumpul semua sanak saudara dari pihak mamanya. Beragam cerita tentang kerabat yang sakit agaknya ia simak dengan ”baik dan benar”. Ini termasuk pendapat bernada negatif dalam bentuk gosip dan prasangka dari orang-orang yang hadir sehubungan dengan penderitaan si kerabat tersebab sakit parahnya itu.

Tiba di rumah setelah membesuk tadi, si bungsu Fauzan lagi-lagi memberikan ”laporan pandangan mata langsung” pada papanya yang kebetulan baru pulang dari kantor.

”Anak papa banyak cerita..” tegur papanya, ”Dari mana kamu, Zan?”

”Dari nengok Jujuk sakit, Pa..” ia melompat manja dan langsung minta gendong.

”Pa.. Tadi kami nengok Jujuk dirukyah ustadz.”

”Ah, masa, iya, Zan?”

”Iya, Pa.. Jujuk, kan, banyak ilmu. Makanya payah diobati. Semua obat nggak mempan!” paparnya mengungkap kisah dibalik penderitaan kerabat ibunya yang sakit parah itu.

”Hahahaha..” papanya tergelak,”Dengar dari siapa kamu, nak?”

”Mangcik yang ngomong di sana. Kalau susuk dan semua ilmu Jujuk hilang keluar, dia baru bisa sembuh diobati. Jadi harus dirukyah,” terangnya dengan akurasi pengulangan kembali ucapan didengar yang cukup mencengangkan.

Melihat kemampuan Fauzan dalam merekam peristiwa yang dialami dan menceritakan kembali lengkap dengan rinciannya, abang saya (papanya) pernah juga merasa cemas. Betapa tidak? Segala apa yang ia dengar langsung diucapkan kepada siapa saja yang ditemuinya pertama kali. Sehingga, papanya mewanti-wanti agar jangan sembarangan bicara di depan si bungsu yang terlampau ekspresif ini. Pembicaraan yang dikategorikan rahasia keluarga di rumah, atau kritikan terhadap orang lain sebisa mungkin dihindari untuk diucapkan. Karena hanya dengan sepintas lalu mendengar atau ”menguping”, Fauzan mampu mengungkapkannya kepada orang lain. Entah itu tetangga, atau bahkan orang yang baru dikenal.

Apakah putra atau putri Anda yang masih balita juga punya kecenderungan terlalu ekspresif dalam berkata-kata seperti itu?

Jika demikian adanya, Anda harus berbahagia. Sebab di satu sisi tampaknya sang buah hati menunjukkan ciri-ciri anak yang cerdas. Terutama memiliki kecerdasan dalam bidang bahasa – lingual intelligence.

”Mereka yang cerdas kebanyakan fasih berbicara dengan siapa saja – entah itu orang dewasa atau teman sebaya – dibandingkan dengan teman sebaya mereka yang kurang cerdas,” tulis psikolog anak, Dra. Rose Mini A. Prianto S.Psi., dalam artikelnya tentang anak yang banyak bicara.

Tapi, di sisi lain Anda perlu prihatin, karena hal itu cukup mencemaskan jika ia secara apa adanya mengatakan kembali berbagai ucapan orang dewasa tak layak hasil dari kegiatan kreatifnya dalam menguping pembicaraan.

Adakah cara yang efektif mendidik anak dengan bakat pemakaian bahasanya yang khusus ini? Tentu saja ada! Mari simak tips berikut ini:

Mengajarkan metode penceritaan kembali (Re-telling)

Suatu peristiwa yang dialami sebenarnya membentuk bangunan sebuah cerita. Jika peristiwa tersebut cukup menorehkan kesan di dalam hati, ini akan mendorong seseorang untuk mengungkapkannya kembali kepada orang lain. Hal ini juga terjadi pada diri anak-anak. Hanya saja mereka belum bisa menyaring mana bagian yang boleh diutarakan kembali, dan mana yang harus ditahan untuk diungkapkan. Tentunya menyangkut pengalaman anak yang masih ”hijau”. Nah, berkaitan dengan ini, metode re-telling dengan sedikit modifikasi bisa diajarkan padanya. Misalnya, Anda rekam aduan sang buah hati berkenaan peristiwa dengan kesan khusus yang dialaminya, dan perdengarkan kembali padanya. Lalu, Anda harus membimbingnya agar beberapa peristiwa yang kurang bagus, tentunya tidak boleh dituturkan kembali. Berikan alasan yang mudah dimengerti anak mengapa hal ini dilarang. Nasehatilah anak Anda dengan lembut.

Hindari percakapan yang memancing anak ”menguping”

Jangan libatkan anak dalam pembicaraan yang belum pantas didengarnya. Hal ini disebabkan ibarat kata anak adalah kaset yang kosong, ia dengan cepat merekam segala yang didengarnya termasuk berbagai ”ucapan lepas kendali” yang diutarakan orang-orang terdekatnya.

Jangan bergosip dan mengkritik dengan tujuan negatif saat anak ada di hadapan Anda

Anak akan cepat meniru pola sikap dan prilaku dari orang dewasa. Ia belajar menanggapi dengan menimba pengalamannya dari pengamatan di lingkungan sosial terdekat. Jika Anda bergosip dan mengkritik orang lain dengan tujuan negatif karena dipengaruhi sikap emosional semata tepat di hadapan sang buah hati, dijamin anak Anda juga turut melakukan hal yang sama suatu saat kelak. Oleh karena itu, adalah bijaksana bila Anda mengurangi atau kalau bisa menghilangkan kebiasaan buruk ini. Yang terpenting lagi cobalah jangan libatkan anak dalam situasi yang menyebarkan ”rumor” mengenai keburukan orang lain.

Tentunya masih banyak cara-cara elegan untuk mendidik anak dengan kemampuan khusus yang sedang kita bicarakan ini. Semoga artikel ini menjadi semacam motivasi bagi Anda untuk menemukannya dan berbaik hati membagikannya. Saya berharap tulisan sederhana bisa memberikan manfaat untuk Anda. Salam hangat selalu. (M.I)

(*) Sumber foto dari dokumen pribadi.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Ketika seniman menyoal isu aktual


Lukisan merupakan “sesuatu” yang berkaitan erat dengan keinginan manusia. Melalui media lukis, manusia ingin mengekspresikan diri, meyalurkan endapan berbagai warna emosi, dan menyampaikan pendapat individualnya. Di dalam lukisan pula, seringkali tampak impresi atau kesan tertangkap yang diungkapkan kembali oleh seniman terhadap keadaan di sekitarnya, lengkap dengan segala aspek yang melingkupi. Mendayakan kekuatan proporsi, pewarnaan yang dipilih, dan objek-objek yang tampil, lukisan agaknya suatu ungkapan kejujuran yang terencana dan cenderung simbolik dari sumber utama penciptaan – realitas aktual.

Bahkan ada seniman yang berpendapat bahwa kandungan nilai yang paling penting dalam sebuah karya lukis terletak pada ekspresi kejujuran dalam proses melukisnya.

“Suatu lukisan tidaklah perlu bagus. Yang terpenting adalah ekspresi kejujuran Anda dalam melukis,” ungkap seorang perupa di sela-sela pelaksanaan kegiatan“Workshop: Melukis Itu Mudah” di arena Taman Budaya Jambi pada Kamis (06/06/2013) lalu.


seniman_melukis

Ini berarti peran fungsional sebuah karya seni rupa dititik-beratkan pada kelugasan ekspresi diri pelakunya. Perupa berupaya menyampaikan apa yang bergejolak dalam jiwa melalui aktifitas berkesenian tentang objek yang dilukis (seperti peristiwa berkesan, dinamika perubahan di lingkungan sosial beserta sebab-akibat terjadinya).


Beragam isu aktual sumber penciptaan karya lukis


Adalah perupa Udhin FM yang telah secara jujur, malah terkesan blak-blakan menyoroti persoalan “”penetrasi budaya” yang terjadi di tengah masyarakat.

“Penetrasi budaya itu macam-macam bentuknya, dan sedang terjadi di kehidupan sehari-hari kita saat ini,” terangnya pada seorang pengunjung remaja yang bertanya.

penetrasi_budaya

“Jadi harus hati-hati. Kita harus berpegang teguh pada ajaran agama,” tambahnya pula sembari menguas, memperjelas tulisan Arab yang menjadi objek simbolik dalam lukisan.

Penetrasi budaya itu sendiri memang telah menyebabkan banyak generasi muda saat ini menjadi “salah kaprah” mengadopsi kebudayaan yang tak sesuai dengan karakter bangsa sehingga menyebabkan terjadinya “kesesatan langkah”. Hal ini dapat dikatakan sebagai invasi kultural kebudayaan asing yang bertransformasi dalam gaya hidup materialistik dan hilang pegangan akibat menjauh dari tuntunan agama, hedonistik yang hanya mengutamakan kesenangan sensasi indrawi, juga kecenderungan memikirkan diri sendiri saja alias individualistis.

Bentuk nyata dari dampak buruk penetrasi budaya, dalam hal ini kebudayaan barat, terlihat langsung dari pola sikap dan prilaku negatif generasi muda yang terlibat narkoba, pornografi dan pornoaksi. Tak hanya itu, penetrasi budaya juga merembes pada sistem-sistem sosial budaya yang lain, seperti pragmatisme politik busuk yang menciptakan ruang lapang bagi koruptor dan penguasa yang tak berpihak pada rakyat kecil.

Perupa Udhin FM merekam kembali fenomena penetrasi budaya ini ke dalam karya-karya lukisnya. Seperti terlihat pada dua lukisannya yang bertajuk “Narkoba Itu Haram 2010 dan Jangan Renggut Nyawa Anak-Cucuku 2012” di ruang Pameran Besar Seni Rupa Se-Indonesia di Jambi.



Sementara itu, perupa Mike Turusy dari Taman Budaya Sulawesi Selatan mengangkat persoalan kerusakan lingkungan akibat dari pembalakan hutan secara liar dan membabi-buta. Lukisannya bertajuk “Illegal Logging”.

lukisan_illegal_logging

Hutan yang sejatinya sebagai penjaga keseimbangan lingkungan hayati di Indonesia memang kini semakin sempit ruangnya. Pembalakan liar demi meraih keuntungan pribadi oleh oknum-oknum yang tak bertanggung-jawab ditengarai menjadi salah satu penyebab hilangnya hutan di Bumi Pertiwi. Akibatnya, keseimbangan ekosistem terganggu. Jika musim penghujan datang, kebanjiran dan tanah longsor terjadi di berbagai tempat yang pepohonannya di hutan-hutan telah lenyap.

Lain cerita dengan perupa Anthok Sudarwanto dari Taman Budaya Bali. Ia mengangkat persoalan aktual sehubungan dengan diskriminasi yang terjadi pada masyarakat yang berada di strata terendah akibat stratifikasi sosial, cara pandang yang kaku dalam menafsir ajaran agama (fundamentalisme) sehingga menyebabkan maraknya kekerasan atas nama agama dan disharmoni sosial, juga sikap primodialisme mengkultuskan etnisitas tertentu yang mengerucut menjadi tindakan rasis. Lukisannya yang bertajuk “Jejak Tua” itu menggunakan media kanvas dan cat minyak dengan tahun pembuatan 2012.

lukisan_Anthok_Sudarwanto

Pada lukisan karya perupa Adi Damanik tampak seraut wajah badut yang bersedih hati. Badut itu bukan sembarang badut.

Ia badut yang telah mengecap pendidikan tinggi dengan gelar kesarjanaannya. Begitu jelas terlihat pada kostum yang dikenakan si badut sarjana nan malang itu - tubuhnya berbungkus toga. Mimik wajahnya sendu seraya melayangkan mantra. Ia memohon pertolongan dari Tuhannya agar dituntun kembali ke jalan yang benar. Perupa dari Taman Budaya Sumatra Utara ini agaknya tengah mengutarakan sebuah ironi sehubungan dengan isu aktual yang disimaknya.


Mari cari tahu mengapa sang seniman mengekspresikan secara jujur pendapatnya melalui lukisan tersebut sedemikian rupa.

Rupanya para koruptor dan penjahat kerah putih yang tengah ia soroti. Kita tahu kebobrokan moral akibat mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan yang marak terjadi dengan tindakan korupsi dan kejahatan korporasi lebih banyak dilakukan oleh ”orang-orang pintar” saja, notabenenya mereka yang berpendidikan tinggi tapi lupa diri.

Demikianlah cara seniman yang mengungkapkan secara jujur berbagai isu aktual di masyarakat melalui karya-karya lukisannya. Bagi kita setidaknya bisa mencermati sekaligus menangkap pesan yang ingin disampaikan para seniman. Sungguh beragam persoalan seperti korupsi, narkoba, intoleransi yang mengarah pada terorisme yang terjadi di tanah air ini akan tetap mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun demikian, jika kita bersatu dan mau terlibat aktif mencari jalan keluarnya, tentu saja cita-cita luhur dari para pendiri negara Indonesia untuk menjadikan bangsa kita bermartabat, hidup rukun dalam kemajemukan, keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan terwujud. (M.I)



Catatan :

1. Lukisan-lukisan ini dipamerkan di ruang Pameran Besar Seni Rupa se-Indonesia 4-8 Juni 2013, bertempat di Taman Budaya Jambi.

2. Penafsiran terhadap pesan-pesan simbolik yang ditulis dalam artikel ini adalah semata pendapat penulis berdasarkan pengumpulan data yang didapat dari lapangan. Untuk memberi penilaian yang tepat terhadap karya-karya lukisan tersebut tentunya penulis belum berkompeten melakukannya, disebabkan kekurangan pengetahuan dan pengalaman pada bidang seni rupa. Oleh karena itu, mohon kritik dan sarannya dari para pembaca sekalian.

3. Sumber semua foto dari dokumen pribadi.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Olok-olok dari Sebuah Paradoks


"Syukurlah kau kembali," lelaki itu begitu lega, lepas dari rasa cemas yang belakangan membuatnya lemas menjalani hari-hari yang panas.

"Memangnya aku kembali dengan keadaan begini, Mas, masih juga mau terima?"

"Tentu saja!" sahutnya mantap, "Bukankah setiap insan dari dulunya tiada yang sempurna?"

Istrinya hanya memandangi lantai. Ia mencoba mencari jejak rasa sesalnya di sana. Tapi, kian dicari agaknya kian sulit ditemui. Ia melongok ke bilik kalbunya sesaat. Tiba-tiba ia seperti mendengar bisikan:

"Yang lalu.. Biarlah berlalu. Sejarah suka sekali mengingatkan luka. Janganlah lagi engkau ingat."

"Kenapa?" suaminya merasa heran. Ia mendekat. Diusap-usap perut membuncit istrinya itu dengan lembut.

"Ya, sudahlah. Jangan lagi diperbesar perasaan bersalahmu. Petik saja buah hikmahnya. Memang beberapa petualangan seringkali membuat kita sulit melupakannya. Apalagi jika itu membawa cinderamata pengingatnya.."

Benarlah kata Albert Clarke, "Sering terjadi. Bukan kebahagiaan yang membuat kita berterima kasih, tetapi rasa terima kasih yang membuat kita bahagia."

Lelaki itu pernah ditinggal pergi istrinya, lari bersama selingkuhannya. Kini pasangan hidupnya telah kembali ke dalam pelukannya lagi. Tak heran jika ia berterima-kasih, sebab dirinya masih menjadi tempat bersandar dari lelah petualangan sang istri tercinta.

Bukankah siapa pun yang memberikan tempat sandaran pelepas lelah adalah dia yang berhati mulia?

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Tak Mungkin Berlari




ingin rasanya aku kembali
tidak di sini: warung candu
para pemabuk masih hiruk
buai kental anggur darah
autisme politik busuk
berjubah tipu muslihat citra

ingin rasanya aku kembali
tidak di sini: warung candu
para penjaja kapitalisme jasa
terlahir dari sperma Adam Smith
jadi bayi raksasa modal kuasa
dedemit bertaring runcing menggigit

ingin rasanya aku kembali
tidak di sini: warung candu
dimana si pemberi bikin kontrak
harap segunung balas jasa di suatu masa kelak

tapi rasanya aku tak bisa kembali
pergi dari warung candu di sini
lari, di punggungku bawa buntal
beragam ruwet dan peliknya soal
maka kuputuskan tetap berdiri
sampai tiba akhir masaku sendiri

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

MENCARI MANTRA YANG HILANG


Mantra_Yang_Hilang


ada lirih yang merintih
dalam hati

namun matanya belum lelah
mencari mantra yang hilang entah

kemana hendak dilempar
itu resah yang kian menjalar?

meliar bagai segunung angin
melibas segala yang hidup dalam matanya yang ingin

ia punya diri, ah, sekecil itu
tercabiklah jiwanya oleh sebab tanpa tuju

kemana hendak dilempar
itu asa yang redup memudar?

pernah pada suatu masa
ia nyaman merasa

tutur yang terdengar menuntun
hingga kaki mungilnya melangkah anggun

dulu sekali ketika masih ada yang diteladani
dulu sekali ketika kepalsuan belum menyelimuti

tapi itu bagaikan kilas
ia tahu. diingat kian hancur hatinya memelas

maka kini di sini
sorot matanya masih mencari

kembalinya mantra yang hilang
pencipta harmoni bagi ibu pertiwi tersayang




(*) Foto dari dokumen pribadi. Lukisan karya perupa Kalimantan Timur,  Surya Darma. Lukisan yang bertajuk MANTRA YANG HILANG “2012″ ini dipotret pada Pameran Besar Seni Rupa Se-Indonesia di Taman Budaya Jambi (05/06/2013)

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Meriahnya Temu Karya Taman Budaya Se-Indonesia di Jambi


Gubernur_Jambi_Hasan_Basri_Agus


Perhelatan akbar Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia yang berlangsung 4-8 Juni 2013 secara resmi dibuka oleh Gubernur Jambi Hasan Basri Agus tadi malam (04/06/2013).

Para seniman yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini mencapai 800 orang yang merupakan utusan dari Taman Budaya dan komunitas kesenian seluruh Indonesia. Adapun tema yang diangkat adalah Kekuatan Mantra dalam Perspektif Kebudayaan Indonesia.

Diharapkan dengan penyelenggaraan kegiatan ini, terbuka ruang ekspresi berkesenian dan terjalin kerjasama antar Taman Budaya di seluruh Indonesia sehingga kekayaan budaya di tiap daerah yang menjadi ruh kebudayaan nasional dapat dikembangkan juga dilestarikan.  Sehingga beragam kebudayaan di Bumi Pertiwi dapat dijaga dari duplikasi dan klaim pihak luar.

“Begitu banyak kebudayaan Indonesia yang diduplikasi,” kata Gubernur Jambi dalam pidato sambutannya malam tadi.

Tentu saja hal ini mengkhawatirkan kita semua. Karenanya, peran serta dan kesadaran dari seluruh anak bangsa Indonesia untuk menjaganya amat dibutuhkan. Kekayaan budaya dengan berbagai kearifannya yang dapat menjadi tuntunan menghadapi dinamika perkembangan dan bisa dijadikan penyaring budaya luar yang tak sesuai dengan karakter bangsa. Maka, Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia di Jambi selain bisa mempererat silahturami, juga dapat menjadi wadah dalam rangka merumuskan bersama cara-cara yang elegan untuk membina generasi muda membentengi diri dari dampak negatif salah kaprah mengadopsi kebudayaan luar.


Para Pengunjung Terpukau Penampilan Peserta

Pada malam pembukaan para pengunjung tampak ramai. Mereka begitu antusias untuk menyaksikan secara langsung berbagai suguhan kesenian tradisional dari seluruh Indonesia yang ditampilkan para  peserta.

Seperti tarian tradisional “Lukah Gilo” yang mampu membius pengunjung semalam. Tarian yang sarat nuansa magis dengan iringan lagu dan musik tradisional daerah Jambi ini menjadi “magnet” yang menyedot pengunjung memadati arena utama pertunjukan. Para penari pun tampak mahir menampilkannya. Dengan membawa boneka Lukah, mereka menyuguhkan suatu kombinasi dari kekuatan seni gerak tari dan kekuatan musik juga syair lagu tradisional yang terkesan bagai mantra penghubung ke dunia lain.



“Lukah Gilo adalah permainan tradisional rakyat yang digelar selepas panen,” jelas narrator di panggung.

“Lukah yang terbuat dari bambu biasanya digunakan untuk menangkap ikan. Setelah dipakaikan baju, didandani dan dimantrai pawang agar berisi roh halus, lukah akan bergerak sendiri. Gerakannya bisa makin cepat sehingga dibutuhkan tiga sampai empat orang untuk mengendalikannya. Gerak lukah akan berhenti jika kepalanya berhasil dipecahkan.”

Selain pertunjukan tarian Lukah Gilo ini, di salah satu gedung fasilitas Taman Budaya juga digelar dua suguhan kesenian dari utusan Taman Budaya Jogjakarta dan komunitas kesenian Sintren Sekar Laras Majalengka dari utusan Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.



Adapun pertunjukan kesenian Sintren yang tampil setelah sendratari dari utusan Taman Budaya Jogjakarta, mampu memaksa para penonton tak beranjak dari duduknya.



Kesenian ini menggabungkan kekuatan seni tari, alunan musik tradisional dan syair, juga atraksi memukau debus berhasil menawan hati semua orang yang menyaksikannya di dalam gedung yang semerbak dengan aroma asap kemenyan.

Usai dari menyaksikan dua pagelaran kesenian tradisional dari dua daerah yang menarik tersebut, perhatian para pengunjung mau tak mau tersita dengan berbagai seni instalasi dari bambu yang tampak di luar.


Bentuk yang unik dihiasi berbagai hiasan kreatif hasil dari tangan dingin senimannya membuat pengunjung terpersona.

Beralih ke panggung utama, ternyata masih ada juga penampilan kesenian tradisional yang tak kalah menariknya. Kali ini pengunjung dapat menyaksikan suguhan sendratari dari utusan Taman Budaya Provinsi Bali yang menawan.



Seandainya tak ada aktifitas rutin yang mesti dilakukan esok paginya, pastilah para pengunjung sudi menginap di arena Taman Budaya Jambi demi melihat pertunjukan berbagai kesenian daerah yang  ada.  Sebab selain menghibur hati pengunjung, Temu Karya Taman Budaya yang menyuguhkan berbagai pertunjukan seni bernilai estetik dari kebudayaan lokal masing-masing peserta juga mampu memberikan kesan betapa tingginya nilai-nilai kearifan lokal yang bisa didapat untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari agar tak terkontaminasi gaya hidup modern yang gamang.  (M.I)

(*) Sumber foto dari dokumen pribadi.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Jangan Percaya Tukang Cukur Botak!


Rasa penasaran itu baik untuk beberapa alasan. Ia bisa menuntun seseorang menyingkap hal-hal tersembunyi yang mustahil ditemukan orang lain dengan tingkat kepedulian biasa saja. Bahkan, selain penemuan unik bisa didapat, rasa penasaran juga memancing orang untuk bertindak di luar kebiasaan, mengabaikan peringatan yang diberikan dengan berani. Sekaligus siap menanggung segala resikonya. Sekarang mari simak cerita berikut ini:

"Mau kemana, kamu?" tegur seorang istri ketika melihat suaminya hendak keluar rumah.

"Aku mau mencukur rambutku yang mulai menebal ini?" jawabnya pula.

"Cukurnya dimana?" selidik istrinya lagi.

"Di sana. Tukang cukur yang bersebelahan dengan bengkel motor itu!" terangnya.

"Aduh.. Jangan cukur rambutmu di sana!" Istrinya mencoba melarang, "Tukang cukur botak itu mustahil menghargaimu." Ia sungguh khawatir.

"Kita lihat saja nanti," katanya sambil lalu dan melangkah keluar.

Satu setengah jam kemudian..

"Apa yang terjadi dengan rambutmu, eh?!" istrinya kaget bukan kepalang.

"Kamu benar, istriku. Semestinya aku tak mempercayai tukang cukur botak itu," katanya dengan nada menyesal sambil mengusap-usap kepala barunya yang amat licin.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Tiga Cerita Humor


Kemampuan humor untuk meredakan ketegangan tentu tak diragukan lagi. Humor yang menggelitik pembacanya melalui kekuatan ekspresi yang polos juga berfungsi meringankan tekanan psikologis yang dirasa.

Berikut ini ada tiga cerita lucu yang mudah-mudahan bisa menghibur Anda. Satu cerita bersumber dari pengalaman pribadi saya sendiri, dan dua lainnya adalah lelucon hasil terjemahan yang aslinya berbahasa Inggris (dimuat dalam Laughter, the Best Medicine - Reader Digest, May 1994). Penambahan judul dan penyesuaian hasil terjemahan dimaksudkan untuk memudahkan pembaca agar dapat merasakan sifat menghibur dari cerita humor tersebut.


1. Mengharap Kepedulian yang Sama

Saya mempunyai seorang anak didik yang sulit berkonsentrasi ketika belajar. Ada saja yang dapat mengalihkan pikirannya. Peristiwa ini terjadi saat saya mengajarnya di rumah - belajar secara privat.

“Ayo, coba lihat apa maksud pertanyaannya,” kata saya mencoba mengembalikan konsentrasinya. “Kamu lagi lihat apa, tuh?!”

Ia menoleh pada saya, “Lagi lihat ikan-ikan dalam akuarium, pak!”

“Tapi, kan, ikan-ikan itu nggak mau lihat kamu?” saya memancing pendapatnya, “Kenapa pula harus dilihat terus-menerus?”

“Siapa tahu nanti mereka juga lihat kami, pak!” katanya sambil tersenyum pada saya dengan wajah polosnya. Saya pun tergelak seketika.

Saya jadi teringat sebaris puisi karya Emily Dickinson : “Hope’s the things with feathers that perces in the soul.”

Ya, harapan bagaimanapun juga selalu bisa membuat orang sabar menanti. Sekalipun terkadang apa yang ditunggunya dalam penantian penuh gejolak rasa dalam dada itu adalah sesuatu yang mustahil.


2. Mirip Sekali Gambarnya, Ma!

Kepolosan seorang anak dalam menyatakan pikiran dan perasaan selalu menarik, menggelitik dan tak jarang membuka terang-terangan “hal-hal yang dirahasiakan” orang-orang dewasa terdekatnya, seperti cerita berikut ini:

Sewaktu meninggalkan lobi hotel yang menjadi langganan tempat kami menginap, anak lelaki kami yang berusia tiga tahun melirik ke bawah. Ia melihat logo hotel tertera pada alas kaki depan pintu.

“Hey!” serunya pula. “Itu juga ada pada handuk-handuk kita di rumah!”

(Diterjemahkan dengan penyesuaian dan penambahan judul dari cerita humor kiriman Sandra Newman - Bentley, yang dimuat di Reader Digest Edisi May 1994)


3.  Selalu Ada Gantinya!

“Menakjubkan! Menempatkan seekor singa dan seekor monyet dalam kandang yang sama,” kata seorang pengunjung di kebun binatang kecil. “Bagaimana mereka bisa akrab begitu?”

“O, itu seperti biasanya,” jawab penjaga kebun binatang itu, “Terkadang singa dan monyet itu berselisih paham, dan kami harus mendapatkan seekor monyet baru lagi untuk menggantikannya.”

(Diterjemahkan dengan penyesuaian dan penambahan judul dari cerita humor kiriman Ohio Motorist, yang dimuat di Reader Digest Edisi May 1994)

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Lelucon : Nakal, Jahil Tapi Menghibur


Ada sebuah cerita yang saya baca di majalah Reader Digest lama, edisi May 1994. Saya menerjemahkan cerita humor berbahasa Inggris tersebut dengan terjemahan bebas, konstektual tanpa merubah inti ceritanya:

"Frank percaya bahwa 5 adalah nomor khusus baginya. Ia lahir pada tanggal 5 Mei. Memiliki lima anak dan tinggal di rumahnya yang bernomor 555 di bagian Timur Jalan  55.

Pada hari ulang tahunnya yang ke-55, ia terkejut menemukan kuda bernama Numero Cinco yang ikut balapan pada lintasan ke-5.

Jadi lima menit sebelum pacuan, ia pergi ke jendela loket yang kelima mempertaruhkan lima ribu dollar uangnya untuk kuda Numero Cinco.

Tentu saja, kuda pilihannya itu mencapai garis finish di posisi kelima."


Catatan :


1. Numero Cinco (dari bahasa Spanyol) : Nomor Lima

2. Cerita humor ini ditulis oleh William Novak dan Moshe  Waldoks, dan dimuat juga dalam The Big Book of American Humor. 


Setelah membaca cerita humor pendek ini, saya tertawa sendiri sebab membayangkan seseorang seperti Frank si tokoh dalam cerita bertingkah konyol akibat kepercayaan butanya terhadap angka 5.

Baginya angka 5 itu mistik dan memiliki kekuatan ghaib yang mengatur jalan hidupnya dari sejak lahir. Ia percaya apa pun yang berhubungan dengan angka 5 akan memberinya keberuntungan, berkah yang langsung jatuh dari langit, mendadak dan tak perlu dinalar-nalar lagi asal-muasalnya. Bahkan ketika Numero Cinco - si kuda pacuan terpilih itu - hanya mampu tiba di garis akhir pada urutan ke-5, agaknya Frank tak perlu memikirkan kembali lima ribu dollarnya yang lenyap; sebab nominalnya ada di kelipatan angka 5 favoritnya nan ajaib itu.

Cerita ini lucu. Sebuah hasil dari konstruksi imajinatif yang berisi olok-olok. Ia menggelitik pembaca dan memancing gelak tawa dengan memberi rumusan baru tentang fanatisme buta: sebuah loyalitas tanpa perlu memikirkan akibat selanjutnya bagi diri sendiri karena dengan sikap loyal yang ajaib itu hasil menakjubkan jelas bisa didapat - termasuk kesialan yang mesti dialaminya.

Saya atau juga Anda bisa melihat gambaran kehidupan sehari-hari dalam lelucon ini, baik dilihat secara eksplisit maupun implisit. Kita mungkin pernah menemukan tipe pribadi seperti Frank. Oleh karena itu, sebuah lelucon adalah mimesis yang mengendurkan urat-urat syaraf. Ia melakukan peniruan atas peristiwa nyata, jahil menggelitik setelah memasukkan keganjilan ke dalam unsur pokok penceritaan. Ia hiburan yang membengkokkan momentum tertentu pada urutan pemaparan.

Lelucon juga keganjilan simbolis yang menggelitik. Bahkan, ia bisa menjadi sebilah pisau tajam yang mengkritik situasi dan kondisi sosial. Tidak percaya? Apa Anda baca Koran Kompas hari ini dan melihat seeokor sapi luar biasa seksi bergaya di kartun Konpopilan?



Lelucon sapi nan seksi ini tentu saja bukan hanya berasal dari alam fantasi senimannya. Ia peniruan realitas faktual yang terjadi di masyarakat saat ini. Kita tahu di Indonesia saat ini ada lobi-lobi supaya bisa menambah kuota impor sapi dari luar negeri. Si pelobi yang lihai itu suka sekali dengan sapi dan amat gemar dengan "sapi-sapi seksi" yang mau diajak "bobok siang."

Seniman yang menggambar kartun ini memperhatikan. Ia tak abai. Ia menyimak dan mengkonstruksi kembali hasil pengamatannya ke dalam karya seni di atas. Tentu saja lengkap dengan kelucuan yang menggelitik dan kritiknya terhadap "ketidakberesan" yang dilakukan oknum si tersangka koruptor kuota impor sapi tersebut.

Begitulah kiranya lelucon. Baik itu dalam bentuk cerita humor maupun dalam gambar kartun yang lucu, lelucon selalu bisa mengibur sekaligus mencerahkan melalui kritikannya yang mengena.

(*) Sumber gambar dari Kompas, Minggu, 2 Juni 2013 



Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Menariknya Lukisan Mozaik di Taman Kota






Sekilas taman yang terletak di jalan M. Husni Thamrin Kota Jambi, tepatnya di simpang empat lampu merah Makalam, ini terlihat biasa saja. Ukurannya tak terlalu luas, tanaman hias yang ada juga tak terlalu banyak. Ada beberapa pohon cemara, palem putri, sawo duren, tombak raja dan tanaman border yang mengisi petak-petak berselang-seling mengimbangi dominasi rumput gajah yang terpangkas rapi.

taman_makalam2
Namun, ketika pandangan mata mengarah pada dinding belakang taman, baru terasa ada hal menarik dan bernilai estetik yang memancarkan pesona.

taman_makalam3

Dinding taman itu dihiasi lukisan kreatif mozaik dari bahan pecahan keramik berwarna-warni dengan tema yang digali dari seni budaya daerah asalnya, Jambi. Objek-objek lukisan mozaik tersebut seperti Rumah Adat Jambi Kajanglako, perahu dengan bagian depan berkepala angsa dan berbagai motif flora lainnya. Kesan dekoratif pun langsung muncul dan memberikan nilai estetika tambahan tersendiri bagi taman yang amat sederhana ini.

taman_makalam4

Mata para pengendara yang berhenti menunggu nyala lampu hijau biasanya terpancing untuk melihat. Kesejukan dari warna hijau pepohonan cemara berdaun jarum yang dibonsai berpadu dengan corak lukisan mozaik dinding taman menghasilkan keceriaan warna kontras yang unik setelah diterpa cahaya matahari. Ini cukup memberikan rasa nyaman baik bagi para pengendara yang berhenti, maupun bagi para pejalan kaki yang sering singgah untuk sekadar melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan mereka. (M.I)

(*) semua foto dari dokumen pribadi

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Jejaring Prasangka


Saya punya pengalaman yang cukup menggelikan sehubungan dengan pandangan saya terhadap “kekuatan magis” angka tertentu.

Angka 11 cukup kuat menorehkan kesan mendalam di dalam diri saya. Maka, saya pun sering terilhami mendadak untuk mengatur tindakan ke arah titik waktu yang ada dalam bingkai angka 11. Seperti yang saya paparkan berikut:

“KEHADIRAN ANDA HARUS 15 MENIT SEBELUM PUKUL 07.00 WIB !!!” begitu bunyi jeritan tertulis di papan pengumuman yang saya lihat.

Mengapa jeritan tertulis? Ya, karena ada tiga tanda seru - berteriak histeris bagai orang mengharap pertolongan ketika dikejar buaya sungai yang tak ramah - pengumuman itu bak ultimatum membombardir kesadaran para pekerja kontrakan, termasuk saya waktu itu.

Tapi, saya melihat kalau angka 7 dijumlahkan dengan angka 15 hasilnya melampaui angka 11. Sungguh berlebihan, bukan? Karena, penjumlahannya menghasilkan angka 22, sekali lagi bukan angka 11 yang berkesan itu. Saya pun berinisiatif supaya hasil penjumlahannya 11. Lalu, seketika terlintas dalam benak saya bagaimana jika angka 7 tadi ditambah dengan 4? Ide yang cerdas, bukan? Sebab, hasil dari (0+7) + (4+0) adalah 11.

Tiba di tempat kerja..

“Pak, kemari sebentar..” tegur atasan saya.

Saya pun dengan penuh percaya diri tanpa perasaan bersalah menghampirinya, “Ada apa, Pak?”

“Bapak sudah terlambat datang 55 menit dari yang sudah ditetapkan,” katanya mengingatkan saya yang tiba pukul 07.40. Telat 40 menit ditambah 15 menit lagi dari peraturan yang ditetapkan. Menakjubkan kemampuan matematika dasarnya saat itu. Saya harus legowo mengakuinya.

“Sudah betul, Pak! Jam tangan saya juga menunjukkannya,” kata saya menanggapi.

Atasan saya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia paham anak buahnya ini cepat menyadari kesalahan yang telah diperbuat. Sungguh anugerah bagi seorang pimpinan bila memiliki bawahan yang patuh, yang cepat mengakui kesalahan pribadinya. Demikian saya memaknai anggukan kepalanya itu. Namun, rupanya ia luput memahami bahwa pikiran itu tak pernah bebas dari prasangka. Jika laba-laba selalu mati dalam jejaring yang dipintalnya sendiri, maka manusia sering mendapat masalah oleh jejaring prasangkanya.

“Baiklah, Pak..” kata saya sembari memperhatikan mimik wajahnya yang dipasang paksa citra kewibawaan, “Mungkin besok saya akan datang..”

“Ya, bapak harus datang 15 menit sebelum pukul 07.00,” potongnya cepat.

“Maksud saya begini, Pak.. Saya pastikan akan tiba di sini tepat pukul 08.03 saja. Bagaimana, Pak?”

Saya langsung ditinggalnya pergi masuk ke kantor. Di dalam ruangannya, ia mulai menambahi catatan khusus untuk diri saya. Semoga dicatatnya juga kefanatikan saya akan angka 11. Saya berharap atasan saya sudi menjumlahkan (0+8) + (0+3) = 11.  Mudah-mudahan  beliau berkenan melakukannya..

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Pelipur Lara Kala Hujan Tertumpah


keceriaan di saat banjir


I

hujan tumpah
mari berbagi canda
di pesta kecil

II

biar air
alirkan rawan
hati luka

III

ini musim
minta kita menari
riuhkan hari



bermain perahu

IV

kecipak riak
boleh juga mengiring
lagu riang

V

agar siang
tak lagi dikurung
mendung murung

VI

lalu kayuhlah
perahu kayu laju
membelah bah




VII

jalan pulang
nuju rumah tua lengang
di pinggir sungai


VIII

kelak tiba
di sana pelita
semoga nyala


IX

terang ruang
merupalah segala
dan dingin sirna

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Cerita dalam Bingkai Foto


Apa yang cepat membuat orang lupa? Anggapan bahwa sesuatu tidaklah begitu penting. Saya, mungkin juga Anda sering lupa karena hal yang terjadi di sekitar kita luput dari perhatian.

Mungkin foto dapat menjadi obat mujarab melawan lupa. Di dalamnya ada peristiwa yang terekam, dan semoga bisa mengekalkan suatu peristiwa yang pernah dialami tetap lekat dalam ingatan. Bisa jadi menolong kita mengenang hal-hal tertentu yang berkesan ketika kita lupa kapan kejadiannya. Atau, setidaknya kita bisa melihat perkembangan keadaan yang ada.

Alasan inilah yang membuat saya memotret apa yang menarik di sekitar lingkungan sosial saya. Berikut ini beberapa peristiwa di lingkungan sosial yang sempat saya abadikan dalam foto.

1. Rumah Panggung yang Tergusur



Geliat ekonomi telah berperan serta dalam menggusur keberadaan rumah panggung di Kota Jambi.  Keberadaan rumah panggung yang memiliki filosofinya tersendiri, yakni "Alam Takambang Jadi Guru" (Berguru kepada alam lingkungan sekitar) semakin sedikit terlihat di wilayah perkotaan. Kalau pun ada, itu biasanya tersembunyi di belakang dinding deretan rumah toko (ruko) yang menutupi.



Rumah-rumah panggung yang merupakan ciri masyarakat komunal Melayu Jambi terlihat malu-malu menampakkan eksistensinya, seperti minder dengan kokohnya dinding beton rumah-rumah toko yang semakin menjulang tinggi.



Atau jika tidak demikian, rumah panggung yang identik dengan tiang-tiang penyangga tingginya itu terkesan sebagai rumah tua yang ditutupi belukar merambat liar, terabaikan.



Begitulah nasib si rumah panggung. Sekalipun ia merekam jejak masa lalu dimana orang-orang dapat bersikap bijak dengan alam lingkungan sekitar dan penuh toleransi yang mencirikan komunitas Melayu; tetapi rumah panggung mesti rela hanya menjadi ingatan yang akan cepat mengabur berganti dengan ruko-ruko yang menyebar secara sporadis karena pertimbangan motif ekonomi.


2. Sado, Si Kereta Kuda Santai dengan Penumpang Istimewanya 



Di daerah-daerah Indonesia lainnya ia punya beragam sebutan. Begitu pula di Kota Jambi kereta berkuda satu ini sering disebut sebagai "sado". Saat ini jarang sekali orang-orang menumpang kendaraan ini untuk berpergian. Sesekali tampak penumpangnya adalah wanita berumur keturunan Tionghoa menaikinya.

"O, nyonya itu memang langganan bapak, dik.. Dia naik sado bapak sudah dari belasan tahun yang lalu," terang si pak kusir pada saya. "Dia biasanya pulang ke rumahnya di Kampung Manggis sekitar jam tigaan kayak tadi. Dari toko anaknya di deretan toko elektronik itu." Saya hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasannya.

"Kalau boleh tahu, nih, pak.. Sehari bapak bisa dapat berapa penumpang?"

"Sekarang ini paling banyak tiga orang. Itu semua langganan bapak dari dulu," jawab pak kusir polos. "Ya, kalau lagi tidak narik, bapak ginilah.. Santai dulu.." Senyum pak kusir mengembang.

"Sekalian buat kudanya istirahat, ya, pak?"

"Iya, dik.. Si Rocky kan bukan mesin mobil. Hehehe..."

Pak Badrun si penarik sado menawarkan kisah masa lalu yang ia coba perbaharui lagi. Konon sebelum Kota Jambi memiliki jalan-jalan beraspal mulus, sado dengan kudanya yang didatangkan dari daerah-daerah kabupaten tertentu di Provinsi Sumatra Barat menjadi andalan transportasi darat. Para penumpangnya? Tentu jumlahnya tak hanya tiga orang saja sebagaimana penumpang langganan si pak kusir Badrun saat ini.

Kini di jalan-jalan beraspal mulus Kota Jambi, sado mencoba tetap eksis dengan menembus belukar kendaraan bermesin lainnya.

"Tuk...tik...tak...tik...tuk...   Tuk...tik...tak...tik...tuk...
Suara sepatu sado..."


3. Kreativitas Petani Kangkung

 
petanikangkung

Air sungai Marem yang dua minggu sebelumnya naik melimpah; kini baru saja menyurut. Berbagai jenis sampah sisa banjir tampak terdampar di pinggirnya. Sampah seperti ban-ban mobil bekas teronggok berhias lumpur sungai yang menempel. Ini sama sekali tak mengusik Uni Ratna. Ia masih khusyuk membenahi tanaman kangkungnya yang berpelampung styrofoam, yang sebelumnya hanya menjadi sampah bawaan banjir. Ia mengalih-fungsikannya sebagai pelampung terikat di batang-batang bambu bingkai petak tanaman kangkungnya.

"Kangkung air ini hidupnya mudah," katanya sambil mengikat rumpun kangkung. Sepetak ini hasilnya bisa sampai 50-an ikat. Di pasar Angso Duo seikatnya dibeli orang RP. 700 - 800-an. Kan Lumayan?!"

Kreativitas tak jarang muncul karena kondisi yang melingkupi diri seorang individu. Niscaya seorang yang kreatif tak akan kehilangan daya hidupnya yang enerjik dalam hal menanggapi realitas yang paling sulit bagaimanapun. Inilah yang Uni Ratna buktikan. Ia yang juga berprofesi sebagai buruh upah pengupas bawang merah itu selalu bisa melihat apapun yang memberi manfaat pada diri dan keluarganya yang sangat bersahaja, yang tentunya dengan sikap dan semangat hidup penuh kreativitas.


4. Gedung dan Monumen Tugu Juang
 


Lalu waktu sampai juga di sini.
Anginlah tunggangannya,
ia bawa kisah lampau
yang lama pergi merantau
pulang kembali bersama segurat tanya:

"Mengapa hanya sebagai monumen ini
dengan dinding berlumut dan kelupas cat
kami dikenang?"

gedung dan tugu juang


5. Sketsa Kota

hampir menjelang tengah malam
langkah lelah menjemput mimpi
pelan diseret pulang

ia yang percaya
pada mata akan jelas
menangkap geliat kota ini

katanya tak semuanya benderang
bisa dikenali di bawah
cahaya matahari


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Daming Yang Mau Alih Profesi


“Last night I shot an elephant in my pyjamas and how he got in my pyjamas I’ll never know,” said Groucho Marx, a comedian.

Lelucon memang sering menjungkirbalikkan logika. Sengaja dibuat tak masuk akal dan terkesan imajinatif.

Jika seorang Groucho Marx membayangkan bahwa suatu malam ia telah menembak seekor gajah yang mampir ke dalam pakaian tidurnya, dan lalu mempertanyakan bagaimana bisa terjadi si gajah itu plesiran sampai di sana; maka Marx sebenarnya sedang membentuk imaji ganjil yang disengaja. Namun, citra gajah yang ditembaknya itu niscaya telah menjadi objek kesadaran. Alhasil, terjadilah keganjilan ketika dinalar melalui pembuktian silang pada realitas faktual. Sekalipun demikian, imaji absurd tersebut telah sah sebagai objek kesadarannya. Sebab, Marx bermaksud melucu dan “absurditas disadari” yang dikreasikannya itu berperan fungsional untuk menggugah emosi, melakukan perubahan drastis pada perasaan orang yang mengalaminya (baik yang melawak maupun yang menyaksikan).

Marx itu seorang pelawak. Ia memang berprofesi menyajikan hiburan pada para penontonnya. Ia punya khalayaknya sendiri. Dan, itu sekali lagi memang profesinya. Ia tahu dan mesti bisa mengikuti pedoman prilaku sebagai pelawak. Laku dan ucapnya diharapkan dapat memancing orang-orang tergelak.

Lain ceritanya dengan suatu tindak-tutur yang dua hari belakangan ini sempat memancing emosi negatif publik.

“Yang diperkosa dengan yang memperkosa ini sama-sama menikmati. Jadi harus pikir-pikir terhadap hukuman mati,” jawab Muhammad Daming Sunusi ketika diminta pendapatnya tentang hukuman mati bagi pemerkosa saat uji kelayakan calon hakim agung di DPR. Ia bukan pelawak. Ia tidak punya khalayak penonton (kecuali saat sejumlah anggota DPR ikut tergelak karena menganggap selorohnya lucu). Bagaimana bisa satu keadaan yang serius (fit and proper test) yang menyita energi pikiran cukup banyak antara sejumlah wakil rakyat dengan calon hakim agung Daming tiba-tiba berubah menjadi sebuah dagelan? Tampaknya terjadi kesepakatan untuk menyetujui bahwa soal penjahat kelamin dan korbannya itu bukanlah hal yang penting. Terbukti melalui lelucon aneh Daming yang ditanggapi dengan senang dan gelak spontan sejumlah anggota DPR yang hadir saat itu.

Ironisnya, Daming sadar mengutarakan pendapatnya ini. Sebab secara psikologis, ia sengaja membentuk imaji tentang kondisi “saling menikmati” antara pelaku dan korban pemerkosaan. Maka, secara sadar pula ia menegaskan pendapatnya (melalui kata hubung “jadi” yang bersifat menyimpulkan) bahwa tak perlu ada hukuman mati (atau jangan-jangan terbersit dalam benaknya: kalau perlu tak usah diambil pusing). Ia mengutarakan pendapatnya tersebut dalam kapasitas seorang calon hakim agung. Bukan seorang berprofesi pelawak dan tak punya penonton (kecuali saat sejumlah anggota DPR ikut merasa senang bukan kepalang dengan leluconnya yang absurd itu!).

Groucho Marx memang seorang pelawak. Tetapi, Muhammad Daming Sunusi seorang calon hakim agung. Mereka berdua berbeda. Marx memiliki penonton setianya karena ia mampu menyajikan humor ganjil yang tak memerlukan objek pelecehan. Lain hal dengan Daming yang cuma punya sejumlah anggota DPR sebagai penonton leluconnya yang sinis karena ada kecenderungan “pandangan imajinatif disadari” yang melecehkan korban pemerkosaan - humor yang mengarah pada kekerasan verbal yang dipandang lucu. Antara penonton dan yang menyajikan tontonan telah dijembatani persetujuan untuk saling menikmati sajian lelucon sinis tersebut. Panggungnya ada di dalam gedung para wakil rakyat yang terhormat itu.

Daming tentu tahu ia terikat Kode Etik dan Pedoman Prilaku Hakim yang tertuang dalam Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Ketua Komisi Yudisial. Dua butirnya berbunyi:

  1. Hakim wajib menghindari tindakan tercela


  2. Hakim harus menjaga kewibawaan serta martabat lembaga peradilan dan profesi baik di dalam maupun di luar pengadilan

Inilah yang mengherankan bagaimana bisa Daming mengabaikannya? Menimbulkan kecurigaan jangan-jangan ia mau alih profesi sebagai “pelawak tak lucu”? Juga membuat banyak orang khawatir bahwa ia mungkin tak punya empati terhadap korban KDRT, Pelecehan dan Diskriminasi Terhadap Perempuan. Menimbulkan syak apakah ia juga punya sikap mendukung para penjahat kelamin? Mengingat betapa besarnya pengaruh kekuasaan hakim dalam memutuskan suatu perkara dan Daming sudah tak ingin jadi hakim lagi karena ia lebih gemar melawak, maka ada baiknya jabatannya saat ini dilepas saja . Sebab, tampaknya telah bersemayam paradoks dalam diri Daming: ia yang bermaksud menjadi “Hakim Agung berhadap-hadapan dengan sikap dan pandangannya “Yang Tak Agung”.

Mungkin suatu upaya memperoleh permakluman publik ketika ia berdalih dengan mengatakan ucapan melecehkannya itu “lepas kendali atau tak disadari”. Tetapi, sebuah lelucon adalah upaya menggugah emosi dengan mencitrakan sesuatu yang ganjil secara disengaja. Dan, agaknya antara Daming dengan yang menyimak lelucon sinisnya itu sama-sama menyukai keganjilan; sekalipun telah menjadikan diri mereka “aneh”. Apakah rakyat suka dengan “Hakim Agung Yang Aneh”? Apakah rakyat masih mau memberikan kepercayaan kepada wakilnya yang ikut-ikutan nyeleneh itu? Tentu saja tidak!


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha