Cerpen : HASRAT TERPENDAM


Memang telah lama terdengar kabar tentang nasib yang membuat perbedaan kesejahteraan hidup antar orang per orang. Bila seseorang ketiban nasib baik, ia bisa hidup dalam kelapangan. Segala usahanya lancar, apa pun yang dilakukannya meraih kesuksesan. Lain cerita ketika seseorang telah ditakdirkan mengalami penderitaan nan tak tertanggungkan akibat ketiban nasib sial. Ia dililit kesulitan, mesti menahan selera, bahkan apa pun yang dikerjakannya malah tak mampu melepaskan dirinya dari keterpurukan. Itulah domain nasib, wilayah permainannya yang berdampak pada cara tiap orang menafsirkan kehidupan pribadinya sendiri.

Namun, jangan salah sangka bahwa 'nasib' juga punya kekuasaan tanpa batas. Nasib tak berwenang mengendalikan kehidupan jiwa seseorang. Jangankan kehidupan jiwa, merubah kebiasaan pribadi pun tak punya kompetensi melaksanakannya.

Demikian terjadi pada dua orang bersaudara: Bambang dan Ontet. Seorang dari mereka, Bambang, memiliki hati mulia yang suka membantu siapa pun yang lagi terjepit kesulitan. Ia bernasib baik. Usaha yang dirintisnya dari berdagang pete di lapak pasar becek, kini mendudukkan dirinya sebagai 'Juragan Pete'. Buah pete yang mampu menebarkan semerbak aroma 'parfum alami' setelah memakannya, kini bak mutiara-mutiara hijau: penghasil uang bagi Bambang. Ia kaya-raya berkat kedahsyatan aroma pete!

Itulah yang menyebabkannya mudah saja mengeluarkan sejumlah uang untuk membantu adiknya, Ontet nan merana dan tersuruk-suruk dalam kurungan nasib sial. Tapi, ini telah disalahgunakan oleh sang adik. Seperti yang ia tunjukkan kini:

"Ah, aku sudah lama tak makan siang dengan lauk-pauk super lezat dan lengkap," hasrat Ontet menghasut dirinya.

"Tapi dengan siapa lagi aku bisa meminjam uang. Kak Bambang kemarin marah besar sehabis kutipu mentah-mentah. Uang dua juta yang kupinjam dengan dalih mendaftarkan Dini masuk SMP,
sebenarnya kupakai untuk judi sabung Ayam Bangkok."
Ia gelisah, cemas sekali niatnya mau makan enak siang hari ini tak kesampaian. Berjalan mondar-mandir mirip setrika arang kayu dari kuningan, dahinya mengernyit. Ia tampak berpikir keras. Benarlah kata orang bijak bahwa semua yang dipikirkan dengan seksama pasti menemukan jalan keluar terbaik. Tak sia-sialah upaya pantang menyerah yang dilakukan Ontet.

"Ting...ting..ting..ting.." Ilham terang-benderang datang.

"He..he..he.. OK, deh.." Ia manggut-manggut, "Aku akan minjam uang lagi dengan Kak Bambang. Kali ini dia pasti tersentuh dengan cerita kepedihan yang akan kusampaikan padanya."

Melangkah pasti ke pintu keluar rumah kontrakan setengah permanen, berjalan mengarah gang keluar menuju jalan besar, ia lalu berdiri menunggu angkot. Tak lama berselang, ia terlihat naik dan menumpang mikrolet warna kuning ke jurusan rumah kakaknya.

Kira-kira 30 menit lamanya ia dalam angkot yang berpenumpang lima orang termasuk sopir. Ontet duduk bersebelahan dengan seorang perempuan yang sepuh. Ia tampak memperhatikannya. Wajah keriput nenek tua memancing imajinasi liarnya.

"Nenek keriput ini pasti puas menderita.." gumamnya sendiri, "Sedikit pun tak ada bekas kecantikan dan kebahagiaan hidup dialami pada masa mudanya. Mungkinkah dulunya dia pernah ikut Romusha jaman Jepang? Aku yakin dia pasti puas kena cambuk prajurit Jepang yang kejam!"

"Kamu lihat apa, sih, nak?" tanya Nenek itu. Ontet tersentak. Ia ketangkap basah menyelidiki si Nenek.

"A..a..anu, Nek.. Ah, tak ada apa-apa, Nek!" jawabnya gugup.

Berupaya mengalihkan pembicaraan, lalu ia berpura-pura ramah, "Mau kemana, Nek?"

"Mau pulang, Nak.. Habis dari dagang di Pasar.."

"Sendirian aja, Nek?"

"Iya, emang kamu mau nemenin Nenek pulang barengan?!?" tawar si Nenek iseng, sembari tersenyum lebar memamerkan satu gigi seri palsu timah putihnya. Menggeser duduk lebih rapat lagi. Ia berniat meningkatkan intensitas aksinya. Sungguh setiap aksi akan menghasilkan reaksi yang sama, seimbang, atau pun berlawanan. Itulah keyakinan kuat sang Nenek akan petuah Newton yang telah berurat akar dalam sanubarinya. Ia begitu meyakini apa yang diketahui berdasarkan pengalaman langsung berpuluh
tahun lamanya, dan teori tentu saja berguna setelah dipraktekkan!

"Tringgg... Tringgg...."

Ontet terkesima. Ia menahan napas. Tak disangkanya si Nenek masih peduli dengan urusan pencitraan diri, dan tampak sedemikian aktif menebar pesona agar menuai simpati lawan jenisnya. Ia tak kuasa menahan aggresivitas perempuan sepuh itu. Bergeser ke samping, ia menjauh.

"Ah, Nenek kan masih kuat pulang sendirian.." sahutnya kemudian, tapi terdengar agak tersendat akibat anxietas pada perangai aggresif si Nenek.

Nenek sepuh dan bergaya itu hanya tersipu. Tapi, ia belum menyerah kalah, berupaya menempel lekat kembali ke tubuh pemuda idaman seperti sediakala. Tentang teori perangko, janganlah ditanya lagi. Si Nenek paham sekali! Perangko memang ditakdirkan menempel erat pada amplop surat. Maka dari itu, genit yang aggresif mesti menjadi lem perekatnya. Ia tak mau gagal! Namun, malang tak dapat ditolak; harapan tak selalu menggandeng mesra kenyataan yang diangankan. Ontet membatasi ruang geraknya. Bakul milik si Nenek telah berpindah di atas kursi penumpang. Nenek genit pun cemberut! Bibir lisutnya membentuk sudut lancip 35°. Hatinya remuk!

Untuk sementara Ontet aman dari invasi romansa asmara dadakan pubertas sepuh si Nenek. Maka, kini ia mengalihkan pandangan pada penumpang lainnya lagi. Seorang bapak separuh baya tepat berhadap- hadapan. Berpenampilan 'cowboy', dengan kemeja planel bermotif kotak-kotak warna merah dan biru langit. Si Bapak memadukannya dengan jeans belel biru tua dan membungkus kedua kakinya dengan sepatu jingle lancip di ujung. Aduhai, si Bapak mirip sekali Christian Slater: Billy the Kid! Dalam kedua rongga matanya, bola-bola mata si Bapak liar bergerak. Sedetik melirik ke samping, fokusnya pada pesona seorang karyawati Mall yang harum dan semlohay. Sedetik kemudian beralih lagi pada fokus yang lain. Saat tatapan liar matanya beradu dengan tatapan mata Ontet; mereka seperti tersentak satu sama lain. Entah apa yang tersiratkan dari peristiwa ini! Hanya satu pertanda yang mensinyalir bahwa mereka berdua sama-sama punya dunia rekayasa hasil daya cipta imajinasi setelah mendapat pengalaman langsung dari pengetahuan indrawinya.

"Apa kabar, Pak?" sapa Ontet ramah. Ia tahu si Bapak satu guru satu ilmu dengannya. Maka, jangan coba-coba saling ganggu dengan berkhayal yang tidak-tidak mengenai dirinya! Dikhawatirkan si Billy the Kid Wannabe ini bakal tahu!

Si Bapak menunjukkan sikap indifferent. Ia cuek, tak berminat menanggapi. Memalingkan wajah, ia menoleh ke arah lain! Dingin! Bukankah apa pun yang tak bermanfaat bagi diri sendiri tentu tak perlu ditanggapi? Si Bapak penganut kuat paham pragmatisme dan individualisme! Ia merasa tegur sapa Ontet tak memberikan faedah sama sekali baginya. Itu hanya SKSD - Sok Kenal Sok Dekat belaka! Begitulah gagasan prediktif menjumuti benaknya.

Ontet yang mendapati sikap acuh si Bapak lantas berpikir, "Idih Amit-amit si Bapak.. Songong banget! Ditegur ramah, dia cuek! Pasti waktu kecilnya pernah jatuh dari buaian, otak kecilnya 'geger', lupa dibawa ke dukun urut, akhirnya gini jadinya!" Ontet mendumel, hatinya dongkol.

Sementara itu mikrolet melaju kencang. Sopir merasa tak ada penumpangnya yang minta diturunkan saat itu. Ontet cemas melihat keadaan ini. Ia takut kebablasan diturunkan jauh dari tempat tujuannya.

"Stop, Bang.. Stop di depan rumah besar itu.." perintahnya pada sopir angkot. Mikrolet angkutan umum itu pun memperlambat lajunya, dan berhenti.

Setelah turun dari angkot, Ontet buru-buru menyerahkan ongkos, "Nih, Bang, ongkosnya.. Makasih.."

"Woi..woi..Bang.. Tunggu dulu.. Ongkosnya kurang, nih?" tagih si sopir angkot setengah berteriak.

"Kurang gimana? Kan emang segitu ongkosnya?!?" Ontet mendebat sengit.

"Yang benar aja, Bang.. Mana ada ongkos angkos seribu sekarang?!"

"Apanya yang nggak ada? Ada aja lah.. Aku kan duduk di angkotmu cuma setengah jam. Berarti ongkosnya juga setengah harga! Kalau aku numpang di angkotmu selama satu jam penuh, ongkos yang kubayar juga 'full'. Makanya kubayar seribu!" Ontet makin ngeyel.

Akhirnya sopir angkot itu mengalah, sambil bersungut-sungut ia jalankan kembali angkotnya, "Payah dengan orang ngeyel, ada aja alasannya, huh!"

Para penumpang lain yang belum turun geleng-geleng kepala.


Lama juga ia menunggu seseorang membukakan pintu pagar untuknya. Tapi, Ontet sabar sekali terlihat, ia berdiri dengan tangan kiri dan telunjuknya menekan bel yang melekat di bawah lampu bulat beton pagar besi rumah kakaknya. Imajinasinya mengembang karena terkondisi begitu. Ia membayangkan tengah duduk di dalam Restoran Padang Goyang Lidah yang terkenal, berhadap-hadapan dengan segala hidangan lezat. Di atas meja tersaji rendang, gulai babat, pindang patin, udang lobster lengkap dengan lalapan sayur dan lalapan pete rebus, jengkol muda dan kabau nan hitam imut itu. Uap nasi hangat mengepul berkolaborasi dengan aroma lezat berbagai lauk-pauk. Di dalam kenyataan imajinernya, juga ada segelas besar es teh dingin, dinding luar gelasnya berkeringat akibat pengaruh pengembunan bongkahan kecil es batu di dalam gelas. Wah, Ontet benar-benar selayaknya seorang tauke kini. Baru saja ia hendak memanggil pelayan restoran untuk minta berberapa bungkus kerupuk kulit kerbau renyah, tiba-tiba lamunannya buyar. Wak Meong, pembantu rumah tangga kakaknya menghampiri dan menegurnya.

"Sudah lama, Nak Ontet nunggunya?" tanya Wak Meong ramah.

"Belum lama, Wak.. Kira-kira lima menit setelah pelayan tadi menaruh es teh pesananku," masih belum sadar ia dari khayalannya.

Dahi Wak Meong berkerut mendengarnya. Ia tak melihat siapa pun lagi selain adik dari tuannya itu.

"Pelayan? Pelayan dari mana, Nak Ontet?" tanyanya heran.

Ontet kelabakan ditanya begitu. Kesadarannya baru kembali normal, ia seperti terbangun dari mimpinya yang nikmat. Lagi-lagi ia kepergok tengah mengkhayal kemana-mana. Beberapa saat yang lalu ia terbang dalam alam surga imajinernya. Tapi, Ontet cepat menguasai diri. Ia tak ingin Wak Meong menganggap dirinya aneh.

"Ya, sudahlah, Wak.. Kak Bambang ada di rumah, Wak?" alihnya kemudian.

"Ada, Nak.. Tadi Wak lihat Nak Bambang habis wudhu'an. Paling dia lagi shalat Dhuha sekarang. Masuk dulu lah.." ajak Wak Meong namun matanya melirik aneh pada Ontet.


Ontet melangkah masuk pekarangan luas rumah sang kakak yang laksana Taj - Mahal India. Sebuah kolam ikan Mas Koi membujur dengan enam buah air mancur yang membentuk deretan kubah kecil. Di samping kiri-kanan kolam dihiasi border bunga-bunga krisan yang menawan dan dilapisi asoka beragam warna dan euphorbia pada bagian terluar. Setapak yang dibuat dari bebatuan alam diatur susunannya sehingga membentuk mosaik indah.

Hijau dan menawan dengan desain taman ala istana Sultan. Sebuah gazebo dengan gaya minimalis taman Jepang berdiri di tengah, dikelilingi koleksi bonsai-bonsai Santigi yang terawat. Udara sejuk mengisi landscape istimewa itu. Empat pasang pohon Palem Putri berhadap-hadapan menjadi semacam patok jalan menuju pintu masuk utama rumah. Tepat di depan dua pilar bergaya Eropa Gothic terletak dua buah pot besar antik berpoles cat suasa. Di dalamnya anggun nan eksotis Anthurium Gelombang Cinta menjadi pertanda si pemilik rumah adalah juga kolektor berseni tanaman berkelas. Namun, ada satu yang kontras ketika mata diarahkan pada beton pilar. Kerajinan tangan dari bahan tembaga yang
disepuh cat keemasan membungkus buah bertipe polong-polongan yang tak asing lagi: pete, menempel vertikal dari ukuran terkecil hingga sebesar lengan. Kekontrasan ini makin dipertegas ketika pandangan beralih ke meja luar. Setiap jambangan bunga berisi rangkaian bakal buah pete yang berbentuk pentungan mungil. Yaa, Bambang memang tak mau melupakan jasa besar dari tanaman dikotil famili fabaceae itu. Bahkan ia kini telah membuat prasasti kecil di bagian ujung kolam. Di sana tertulis sebuah ode indah sebagai tanda balas jasanya terhadap pete.

ODE KEPADA PARKIA SPECIOSA HASSK

Sebuah nama Latin bercahaya berkat
Oh, engkaulah Sang Juru Selamat;
Mengobati dari dera sakit
Menggigit dalam saluran titit, Menghalau selaksa duka rumit
Kemiskinan yang bikin sembelit.
Sungguh, Parkia Speciosa Hassk, engkaulah penyelamatku,
Semerbak wangimu adalah kebangkitanku
Maka tak terhingga terima kasih ini kupersembahkan untukmu..


Pada situasi lainnya lagi, berada dalam kenyamanan suasana pekarangan rumah, membuat Ontet ingin memejamkan mata sejenak. Ia lantas menjatuhkan diri di kursi empuk beranda luar. Ajakan Wak Meong untuk masuk tadi, ia tanggapi malas-malasan.

"Wak, masuk aja dulu. Sekalian tolong panggilkan Kak Bambang kalau dia sudah selesai shalat Dhuha. Aku mau santai sebentar di luar sini."

"Iya, Nak Ontet.." sahutnya pendek, berjalan memutar ke samping menuju kamar pembantu yang dibangun khusus untuknya. Wak Meong teringat tugas utamanya pula. Mengkeramasi kucing-kucing peliharaannya yang berjumlah puluhan ekor. Ia pun bergegas!

Udara sejuk semakin mendukung keinginan Ontet melanjutkan mimpi-mimpi tertundanya. Suasana tenang yang seakan-akan tak terusik kebisingan lalu-lalang kendaraan di jalan luar. Hanya musik dari gemerisik dedaunan Palem Putri dirayu semilir menerpa yang meraja. Tentu saja sangat mampu menerbangkan Ontet menuju labirin dunia serba-mungkinnya kembali.

Tiba-tiba dua orang penari perut jelita datang menghampiri dengan empat orang pemain musik. Dari samping Gazebo muncul pula para pelayan membawa baki berbagai hidangan raja yang lezat. Mereka juga menuju ke arah Ontet yang kini duduk nyaman di atas singgasananya nan megah. Ia kini telah berubah menjadi Sultan muda yang tampan. Tanpa ia sadari sama sekali, tangannya melepas sarung bantal kursi berumbai untuk dijadikan mahkota. Alas meja berbordir motif bunga-bungaan berwarna keemasan kini menjadi jubah kebesarannya. Bukankah setiap panggung pasti membutuhkan kostum
sesuai bagi pemainnya? Ontet paham hal ini!

Mereka kemudian berbaris rapi menghaturkan hormat. Membungkuk berbarengan dan kemudian berpencar sesuai dengan posisi tugas melayaninya masing-masing. Penari-penari perut mulai unjuk kebolehannya, meliak-liuk mengikuti irama musik dari gendang dan gitar Arab yang mengalun dinamis. Ontet terpana. Biji matanya hampir keluar memandangi keindahan tubuh dua penari itu. Belum habis rasa terkejutnya, seorang juru minum mendekat. Dengan gemulai ia menyodorkannya secawan anggur. Dan, tentu saja parasnya bercahaya bidadari. Ontet tak tahan untuk mendaratkan beberapa kecupan gemas untuk si cantik yang turun dari surga ini. Juru minum itu pun semburat merah wajahnya. Beruntunglah ia kali ini. Sebab, biasanya selalu ada bekas tertoreh bila bibir Ontet mengecup. Entah akibat tulah hukum fisika gravitasi bumi yang menyebabkan bagian bawah bibirnya menggantung bebas dan mengembung tak karuan, atau mungkin karena ketebalan antara bibirnya yang tak berimbang menghasilkan friksi kuat pada permukaan. Maka saat kecupannya mendarat di sembarang tempat pasti ditemukan goresan! Tapi, pada pipi sang juru minum itu hanya berakibat semburat. Beruntunglah ia karena Dewi Fortuna telah menyelamatkan dirinya tepat waktu!


Sewaktu Ontet asyik dimabuk realitas fiktif dari khayalan hasrat infantilnya, Wak Meong tampak sedang sibuk pula dengan kucing-kucingnya. Seekor kucing belang tiga melendot manja dalam gendongannya.

"Suthok Chuang Malaha Thia Kuang.. Ganteng banget kamu, yah?!" ia kecup bibir mungil kucing jantan itu, "Mandi, yuk, sayang?" Si belang tiga dari famili felidae, felis silvestris catus pun mendengus pelan.

"Ayo, dong, sayang.. Jangan emoh gitu, ah.." bujuk Wak Meong lagi. Hewan yang bernenek-moyang Miasis pada masa Eosen itu tampak cemberut saja. Ia tahu kalau mandi adalah ritual yang paling dibencinya, kecuali bila setelah itu ia dijanjikan semangkuk susu hangat dengan nasi dan ikan sarden kaleng kegemarannya. Tuannya pun paham perangai buah hatinya.

"Suthok, nanti setelah mandi, kamu Mama buatkan semangkuk susu Dancow hangat, "rayu Wak Meong pula, "Mama kan selalu tepatin janji sama kamu.. Tapi, mandi dulu, yaa, sayang.. Kan udah dua minggu kamu belum keramas.. Malu dong ama Christina Aguillera, si bulu putih cantik incaranmu?!?"

Suthok si belang tiga pun melompat turun. Berjalan menjinjit menuju pancuran ledeng di samping paviliun. Wak Meong bergegas menyusul dengan gaya jalan berjinjit pula. Bahagia mengalir dalam pembuluh-pembuluh darahnya! Bahagia yang bersumber pada curahan kasih sayangnya yang rumit, tidak proporsional sebagaimana-mestinya. Bahagia yang berasal dari konsentrasi menyeluruh aktivitasnya untuk mengurusi segala kebutuhan 23 ekor kucing.

Kembali pada diri Ontet. Wah.., wah.., wah..! Ia kini tampak berjoget ala padang pasir. Bagaimana tidak? Ia mesti mengimbangi liukan dua orang penari perut yang mengajaknya 'ngibing' itu! Alangkah hebohnya goyangan mereka! Sesekali seorang dari penari itu melipat badannya dalam sudut kurang dari 100° ke arah belakang demi menyesuaikan hentakan gendang bernada stakato dan nada dinamis dari petikan senar gitar. Ini pula yang membuat Ontet seperti kerasukan ruh malaikat cantik yang pandai bergoyang. Dan ketika penari perut itu merapat ke arah tubuh buntal Ontet, maka tak pelak lagi Sang Sultan Jadi-Jadian itu keblinger. Tambah jadi ia meliuk-liuk mirip anak beruang es kutub Utara berguling-guling, bermain salju! Memendekkan badan, bangkit pelan-pelan, lalu dipendek- pendekkannya lagi. Menakjubkan! Hebat bukan buatan godaan delir khayalinya!

Dari dalam rumah Bambang berjalan dengan menenteng surat kabar lokal harian. Melangkah diikuti putri bungsunya yang baru berumur ± 5 tahun, Sophie Parkia Hassk. Ia bermaksud mengantar si bungsu ke Sekolah Taman Kanak-Kanaknya. Ia melirik Rolex yang melekat di pergelangan tangan kiri; hari hampir menunjukkan pukul 10 saat itu. Ophie, begitu panggilan manja buat si bungsu, tinggal berdua dengan sang ayahanda. Kakak satu-satunya yang berbeda umur 15 tahun di atasnya sedang kuliah di sebuah Universitas Swasta di Jakarta. Hari ini si bungsu giliran masuk siang sekitar pukul 10.45. Masih ada waktu sekitar 40-an menit lagi pikirnya.

Bambang membuka pintu utama. Sementara di beranda luar tepat depan pintu yang mau dibuka, sang adik masih riang bergoyang, joget ala padang pasir lengkap dengan segala atribut kebesarannya. Mulutnya komat-kamit, lalu dimonyong-monyongkan tak karuan.

Pintu telah dibuka. Ophie keluar duluan. Seketika ia memekik melihat seorang bertubuh gempal pendek, bertopi sarung bantal kursi dan berselimut taplak meja bordiran emas. Berjoget hot meliak- liuk! Perut gendutnya menampilkan udel bodong, muncul dari kemeja yang tak karuan lagi bentuknya.

"Aaaakuuuuuttttt.... Papaaaaaa....!!!!" jerit si bungsu histeris, "Ada olang gilaaa...."

Parasnya tak berdarah, putih semua di kulit muka bayinya. Bambang yang melihat si bungsu kesayangan tengah ketakutan langsung menggendongnya. Ia kemudian melangkah keluar hati-hati. Was-was juga dirinya. Jangan-jangan orang gila yang disebut Ophie bawa senjata! Ia pun waspada. Tangan kirinya meraih sapu dari samping pintu.

"Heh.. Siapa kamu!!!" bentak Bambang keras, bersiap mau menyabetkan sapu yang dipegang. Tetapi, orang yang dibentaknya tak mengindahkan. Kini ia benar-benar ingin menggebuki orang gila yang matanya tertutup sarung bantal kursi itu. Ia masuk kembali ke dalam rumah, menurunkan Ophie dan keluar lagi setelah mengunci pintu utamanya.



"Wuuutt.. " sabetan sapu lantai mengarah pada kepala orang gila.

Bunyi sapu berbenturan dengan tengkorak kepala terdengar seiring patahan kayunya, "Blarrghh.. Dreeenntriiinggg.." ujung patahan kayu menjatuhkan hiasan pete dari tembaga ke atas keramik lantai. Sontak si orang gila yang tak lain adalah Ontet mendadak tersadar. Terhuyung-huyung, kemudian terjerembab di bawah pilar sebelah kanan beranda rumah. Sarung bantal kursi yang tadi menjadi mahkota jadi-jadiannya terlepas. Ia meringis, menahan sakit bukan kepalang di kepala sebelah kanannya.

Bambang yang tadi kalap mulai bisa menguasai diri kembali. Ia arahkan pandangannya lekat-lekat pada lelaki yang terjerembab kesakitan di lantai. Ia kucek-kucek matanya, dan jelaslah terlihat lelaki itu adik kandungnya sendiri. Ia berjalan mendekat untuk memastikan.

"Ontet.. Ontet.. Kamukah yang kulihat ini?!"

"Iyyy..yaaa.., Kak.. Ini aku, Ontet.. Aduuuuhhh..." sahutnya tersendat dan masih meringis-ringis. Bambang membantu adiknya berdiri. Ia papah dan dudukkan ke kursi beranda.

"Kenapa kamu tadi bertingkah aneh, Ntet?!" tanya Bambang tak habis heran, "Kamu sudah menakuti keponakanmu, Ophie.."

Ontet yang kesakitan tak menjawab. Ia kembali mengaduh-aduh, memegang kepalanya yang disabet pakai kayu sapu tadi. Kulit kepalanya robek sebuku jari. Darah mengalir turun ke daun telinga kanannya. Melihat ini sang sang Kakak merasa bersalah. Tak sampai hati mendapati saudara sedarahnya terluka karena kekhilafannya.

"Ayo, ke rumah sakit dulu.. Kepalamu harus diobati.." Ontet menurut. Ia bangkit dari duduknya, dan berjalan miring hampir jatuh bila tak ditangkap kakaknya.

"Wakkk.. Wakkkk... Wakkk... Meongggggg....Meeeeooooonggg..." teriak Bambang seketika,
merasa butuh bantuan. Namun, bala bantuan yang datang ternyata sepuluh ekor kucingnya Wak Meong.

"Ngeooonggggg... Ngeeeooonggg... Ngeeeeooonnggg...." kebisingan tiba-tiba mengepung beranda rumah. Kucing-kucing itu merasa dipanggil sebagaimana biasa tuannya hendak memberi makan. Mereka berisik sekali!

"Kurang ajar!!" Bambang berang. Disambitnya sapu patah yang diambil dari lantai. Kucing-kucing itu pun berhamburan pergi.

Tiba-tiba Wak Meong muncul dengan wajah cemas, "Aaa..ada apa, Nak Bambang???"

Perempuan sebatangkara 60-an tahun itu gemetaran. Tambah cemas dirinya ketika melihat Ontet berdarah-darah pada wajah. "Ada apa dengan adik Nak Bambang??"

"Sudah jangan banyak tanya dulu, Wak..!! Aku butuh bantuanmu sekarang! Kemarilah!" Wak Meong tak bersuara. Ia mendekat ke majikannya.

"Dengarkan baik-baik.. Aku mau ke rumah sakit, mengobati adikku ini. Tolong jaga Ophie di dalam, yaa, Wak?!? pinta Bambang kemudian. Wak Meong patuh.

"Iya, Nak.." sahutnya pendek sambil melangkah mau masuk ke dalam rumah. Malang baginya, ia menabrak pintu yang terkunci.

"Makanya, Wak.. Tanya dulu, kek, pintunya kukunci tadi! Nih, kuncinya.." Bambang menyodorkan kunci rumah.

Sambil meraih kunci dari majikannya, Wak Meong nyeletuk, "Kata Nak Bambang tadi jangan banyak tanya dulu.. Yaa, Wak nurut aja!"



"Sudah..Sudah..Masuklah cepat! Urusin Ophie dulu sana!"

Wak Meong membuka pintu dan masuk ke ruang tamu yang amat luas. Dicari-carinya si bungsu Ophie.

"Ophie.. Ophieeee.. Ophieeee.." suaranya memantul kembali. Tapi, Ophie belum ia temukan. Lamat- lamat Wak Meong mendengar suara isak tersendat-sendat. Ia telusuri terus sampai pada sumber suara yang ternyata ada di bawah meja jati di tengah-tengah ruangan. Si bungsu yang telah ditinggal sang ibunda ketika melahirkannya, tampak sesunggukan menahan tangis yang terdengar mengisak.

"Ophie.. Ini Wak Meong, sayang.. Sini, yukk.. Anak pintar.. Keluar dari sana, sayang" bujuk Wak Meong.

Si bungsu Ophie akhirnya mau keluar dari kolong meja. Mendekati pembantunya dan langsung digendong. Ia masih tersedu-sedan.

"Wak, olang gila itu macih ada, yaa?" bisiknya masih ketakutan.

"Itu bukan orang gila, sayang. Itu pamanmu, Nak Ontet.." jawab Wak Meong menenangkan, "Coba kita lihat keluar.." Demi mendengar ini, Ophie membenamkan wajahnya. Ia tak sanggup menemui sang paman kandung yang katanya 'orang gila' itu. Tapi, Wak Meong tetap berjalan keluar.

Sesaat kemudian, si bungsu berteriak kembali, "Olang giiillaaaaa... Pelllgggiiii.."

"Cup..Cup..Cup.. Sayang, tak apa, Nak, Itu paman Ontetmu.." Wak Meong berusaha menenangkan Ophie.

"Aduuh, Wak.. Kok, dibawa keluar pula?!?" keluh Bambang yang belum pergi, "Tak apa, Nak.. Papa ada di sini. Ia dekati si bungsu yang mendekap erat Wak Meong, "Ini Papa, Nak.. Ophie, sayang.. Lihatlah! Ini Papamu, Phie.." Si bungsu memberanikan diri, ia mengangkat wajahnya. Bambang tersenyum, buah hatinya langsung ia raih. Digendong dalam pelukannya.

"Ophie.. Ini paman Ontet, sayang.. Bukan orang gila, Nak.." ada nada protes sedikit terdengar dalam ucapan yang keluar dari mulut Ontet.

"Jangan banyak bunyi, Ntet!" sergah Bambang seketika, ia khawatir Ophie histeris lagi. Ontet menahan lidahnya berkata-kata.

"Ophie.. Papa mau mengobati pamanmu ke rumah sakit. Ophie tinggal di rumah dengan Wak Meong dulu, yaa, Nak?"

"Tapiii.." suara si bungsu tersendat, "Tadi kan Ophie mau cekolah, Pa?!"

"Anak pintar kesayangan Papa.. Nanti setelah dari rumah sakit, Papa pulang lagi.. Buat jemput dan antar Ophie ke sekolah, sayang.."

Si bungsu hanya diam. Bambang melirik ke arah Wak Meong agar mengambil Ophie dari gendongannya.

"Papa Cuma sebentar, sayang.. Nanti pasti pulang lagi," Si bungsu Ophie hanya menatap sendu, "Ayo, dong, jangan cemberut gitu, anak pintar?"

"Papamu sebentar, kok, sayang.." ujar Wak Meong meyakinkan Si bungsu pula.

Bambang melihat sekali lagi pada buah hatinya. Kemudian ia mendekati Ontet yang memegangi kepala , berupaya menahan kucuran darah dari luka robeknya. Mereka berdua lalu menuju Opel Blazer Hitam yang terparkir di depan kamar paviliun Wak Meong. Beberapa saat berselang terlihat mobil itu mengarah ke gerbang pagar rumah. Wak Meong menurunkan Ophie. Buru-buru membukakan pintu pagar.


Setelah kira-kira ± 30 menit berada dalam perjalanan, Opel Blazer milik Bambang sekarang berhenti tepat di depan Intensive Care Unit rumah sakit swasta terdekat. Ia bergegas turun dan masuk menuju ke meja perawat jaga di dalam. Ontet yang duduk di jok sebelah sopir masih memegangi kepalanya. Punggung tangan kanannya terlihat ada rembesan darah membeku. Stamina tubuhnya menurun; mungkin karena shock dan darah kepala yang mengucur cukup banyak dari sejak ia terluka tadi.

Bambang dan dua orang perawat laki-laki yang membawa kereta tandu pasien keluar dari ruangan ICU. Mereka terburu-buru ke arah pintu mobil bagian depan. Ketika pintu mobil dibuka, Bambang dan perawat jaga sibuk menurunkan dan membaringkan Ontet di atas kereta tandu. Bergegas membawa masuk ke dalam.

"Tolong kapas, perban dan pembersih lukanya!" pinta seorang dari perawat kepada rekan dinasnya. Mereka sibuk membasuh luka robek pasien yang hampir pingsan itu.

"Bapak.. Bapak, jangan mejamin matanya, yaa.. Sadar, yaa, Pak?"

"Untung cepat dibawa, Pak.." ujar si Perawat itu menoleh ke arah Bambang, "Memangnya kena apa, Pak? Sampai luka robek begini?"

"Eh.., Oh.. Itu tadi kena timpa genteng rumahnya yang jatuh.." Bambang gelagapan berbohong, "Dia tadi lagi menyapu halaman rumahnya, tiba-tiba angin kencang datang. Beberapa genteng rumahnya runtuh dan mengenai kepalanya."

"Kalau boleh tahu.. Bapak ini siapanya?" tanya perawat lagi. Tetapi, alis matanya hampir menyatu ketika menemukan serpihan kecil kayu masih menempel di luka robek.

"Saya kakak kandungnya.. Tadi kebetulan mampir. Pas saya masuk ke pekarangan, saya lihat dia terkapar di tanah.." lancar sekali Bambang mengarang cerita.

"Oh, gitu.." sahut perawat pula, "Kami harus menjahit lukanya, Pak.."

"Jahit aja.." ujar Ontet lemah hampir tak terdengar.

"Disuntik dulu, yaa, Pak.. Tahan, ya?"

Perawat membius lokal kepala Ontet. Setengah menit kemudian, ia mulai memasukkan benang hitam ke lubang sebuah jarum berbentuk melengkung seperti bulan sabit. Teliti ia sekali bekerja. Menjahit luka menganga dengan panjang sekitar 3 senti demi merapatkannya kembali. Kemudian, setelah urusan jahit-menjahit kulit kepala itu kelar, ia memolesi kepala Ontet dengan cairan kuning yang meresap dalam perban bantalan luka. Membalutnya dengan perban penutup dan menguncinya dengan merekatkan empat potong barisan plester. Lengan si pasien juga dipasangi infus berisi pengganti cairan tubuh yang hilang dan suplemen pemulih tenaga.

"Istirahat dulu, yaa, Pak.." kata si perawat itu, dan kemudian mendekati Bambang.

"Boleh saya bicara dengan bapak?" ajaknya pada keluarga si pasien. Mereka lalu keluar ruangan ICU. Mengarah ke tempat duduk di luar pintu masuk.

"Saya menemukan ini, Pak.." perawat menunjukkan serpihan kayu sapu pada Bambang, "Bapak bilang tadi, saudara bapak tertimpa genteng jatuh karena tiupan angin, benar begitu, Pak?"

Bambang terhenyak diinterogasi perawat yang menjahit luka robek adiknya itu. Ia tak tahu harus berkata apa. Lidahnya kelu. Otaknya beku, pikirannya tersumbat.

"Baiklah.. Saya hanya bertugas memberikan pertolongan medis saja, Pak.." ujar si perawat
diplomatis, "Namun bila ada hal-hal yang tak diinginkan, saya harap bapak bersedia memberikan keterangan yang jujur dan bertanggung-jawab penuh. Bagaimana, Pak? Bisa?" tekannya pada Bambang.

"Iya..ya..ya.. Saya bisa.." jawab Bambang gugup. Perawat itu lantas meninggalkannya masuk
kembali ke ruangan ICU. Ia tampak memeriksa ulang keadaan pasiennya. Setelah selesai, ia beralih ke empat tidur samping dimana seorang pasien lainnya yang patah kaki akibat kecelakaan terbaring menunggu kedatangan anggota keluarga yang telah dihubungi.

Bambang merasa bimbang kini. Ia masih memikirkan maksud kata-kata 'bertanggung-jawab penuh' yang ditekankan melalui intonasi ucapan perawat tadi. Terbayang olehnya kalau-kalau ia dituduh menganiaya adiknya sendiri. Dibawa ke kantor polisi, dan diselkan di sana. Ia teringat si bungsu Ophie dan bisnis petenya yang lagi menanjak. Hancurkah semua yang ia bangun dan rintis sedari awal karena masalah ini? Apakah hidupnya yang baru mulai terasa manis lagi sejak kematian istri tercintanya lima
tahun lalu sekarang mesti berakhir tragis? Ia terkenang masa-masa sulitnya dulu ketika ia berjualan masih mencari laba ribuan rupiah. Jangankan untuk hidup mewah dan berlebihan seperti saat ini, dulu ia mesti benar-benar mengekang keinginannya untuk apa pun yang cenderung memboroskan uang. Hidup pas-pasan, jungkir-balik bekerja mulai dari pukul 3 dini hari sampai petang menjelang. Bayangan ini silih berganti dengan prasangka resiko dibui akibat kekhilafannya pada Ontet sejam lewat yang lalu. Lesatan demi lesatan peristiwa masa silamnya bak kilat sambar-menyambar dengan gelegar guntur paranoia yang akan meledakkan kemapanan hidup yang susah payah diraihnya. Bambang dikejar-kejar ketakutannya sendiri. Dirinya gelisah! Jiwanya dihimpit resah! Benarlah makna yang terkandung dalam kalimat bijak: 'Kecintaanmu terhadap sesuatu, membuatmu buta dan tuli.'

Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan adiknya si biang kerok yang sedang terbaring lemah. Namun, hatinya tak tega. Dalam kepungan konflik batiniah, ia beranjak dari duduknya. Masuk kembali menemui perawat jaga tadi.

"Boleh saya minta izin pergi sebentar?"

"Bapak mau kemana??" nada perawat itu curiga, "Bukankah yang sedang terbaring lemah itu adik kandung bapak?"

"Iya, saya tahu.. Tapi anak saya juga sedang sakit di rumah. Saya mau membawanya ke sini untuk sekalian berobat. Boleh saya pergi sebentar??" nada suara Bambang kini terdengar memohon pengertian.

"Kami bisa memberikan izin untuk itu.. Tapi, tinggalkan kartu pengenal dan alamat rumah bapak agar kami dengan cepat bisa menghubungi. Supaya bila terjadi 'sesuatu yang tak diinginkan,' bapak segera tahu.." perawat itu tegas berkata tapi mengerti kebutuhan lawan bicaranya.

"Baiklah.. Saya tinggalkan kartu nama dan KTP saya ini.." Bambang membuka dompetnya dan menyodorkan dua lembar kartu identitas dirinya.

"Tolong jangan lama, yaa, Pak?"

"Saya hanya sebentar. Saya pasti segera kembali ke sini. Anda jangan khawatir.. Itu adik saya yang terbaring, mana mungkin saya lepas tanggung-jawab.."

"Baiklah kalau benar begitu janji bapak.. Silakan jemput anak bapak di rumah.."

"Terima kasih atas pengertiannya.." ujar Bambang sopan dibuat-buat.

Perawat itu membalasnya dengan seulas senyum penuh arti, mengiring kepergian Bambang nan bimbang hingga masuk ke dalam mobilnya. Seulas senyum yang membangkitkan syak dan tanya: Akankah ia kembali ke sini lagi? Benarkah janji yang diucapkannya? Tegakah ia meninggalkan adik kandungnya yang 'sakit' itu?


Sepeninggalan kakaknya Ontet mulai berangsur pulih. Tentu saja cepat pulihnya. Orang seperti Ontet memiliki daya tahan tubuh fisik yang kuat; sebab, sakit sebenarnya bukan terletak di sana melainkan jauh dan begitu jauh tempatnya yaitu dasar jiwanya. Tatapan matanya mengarah pada langit-langit ruangan ICU. Oh, bukan hanya di sana! Ia menatap lebih jauh lagi. Langit-langit itu bukan materi yang mampu menghalanginya untuk menerobos suatu dunia lain. Dunia berkenyataan imajiner serba- mungkin ciptaan khayal deliriumnya. Individu seperti Ontet ini memberikan suatu kepercayaan pada ilusi yang sama besar dengan kepercayaan yang diberikannya pada nalar logika. Maka, peristiwa dan
kejadian yang bagi orang normal adalah hal yang tak masuk akal, bagi Ontet itu semua benar-benar tengah berlangsung dan nyata terjadi. Ia selalu tertarik untuk melibatkan dirinya lebih intens!

Kini ia melihat sebuah lubang besar menganga pada langit-langit ruangan. Sambil berbaring ia tatap lubang itu dengan seksama. Ia menyaksikan bagaimana pelan-pelan di sisi pinggiran lubang telah menyala api yang kian membesar. Api mulai membakar plafon dengan cepat. Merambat turun dan menyambar benda-benda terdekat yang melekat di tembok. Nyala api yang kian membesar itu tengah mengejar kain gordyn jendela ruangan.

"Api.. Api... Api... Toloonnngggg..." Ontet panik, menjerit tiba-tiba mengagetkan semua orang yang ada di ruangan ICU. Para perawat jaga dan pasien yang bersebelahan tempat tidur tersentak dengan teriakannya.

Dalam penglihatan Ontet, api kini telah pula menjangkau tempat tidurnya. Ia bangkit mendadak. Dicabut paksa infus yang terpasang di lengannya. Tiang infus terlempar ke samping dan mengenai pasien di sebelah ketika ia meloncat ketakutan dari pembaringan. Ia bergegas, berlari menyelamatkan diri. Para perawat bertindak cepat. Mereka berusaha mencegah pasien yang mengamuk tiba-tiba itu. Tapi, mereka kalah kuat dengan tindakan aggresif Ontet yang menerobosnya, berlari seperti dikejar hantu menuju pintu keluar ruangan. Ia terus berlari dan berlari tanpa melihat kiri-kanannya lagi.

Ia masih berlari hingga sampai luar pagar rumah sakit dan hendak menyeberangi jalan di tengah lalu-lalang kendaraan yang sedang ramai siang itu. Ketika baru beberapa langkah kakinya menyeberang, sebuah Opel Blazer Hitam menabraknya dengan keras.

"Braaaakkkhhh.." Ontet terpental beberapa meter. Ia terlempar jauh. Inersia laju mobil yang menabraknya menciptakan momentum benturan keras tubuh gemuknya mengakibatkan bagian depan mobil yang penyok. Kepalanya membentur keras beton cor-coran pembatas trotoar jalan. Ia terkapar mengenaskan. Kepalanya rengkah. Cairan otaknya bercampur darah segar mengalir dari tengkorak kepala Ontet yang pecah menodai batu trotoar.

Bambang shock melihat kejadian ini. Ia terpaku, duduk diam membeku di jok mobilnya. Orang-orang yang menyaksikan kecelakaan maut ini berkerumun mendekat. Mereka berteriak-teriak menunjuk ke arahnya. Beberapa saat ia dicekam kepanikan. Ia mulai mengumpul-ngumpulkan kesadarannya yang terbang sejenak tadi. Membuka pintu mobil, ia memberanikan diri keluar. Berjalan limbung menuju korban yang tergeletak di pinggir trotoar.

Ketika sampai di tempat korbannya, ia seketika menjerit histeris karena mengenali tubuh dengan kepla pecah yang sudah tak bernyawa lagi itu.

"Ontetttttttt.... Onteetttttt... Adikkuuuu... Ontetttt...."

Orang-orang yang mengelilinginya tak bersuara. Suara mereka hilang ditelan jerit kepedihan dari sesal mendalam yang diteriakkan Bambang dengan serak dan terisak-isak.

Yaa, Bambang memang kembali lagi ke rumah sakit, namun kedatangannya bukan bersama anaknya yang mau sekalian diajak berobat. Kedatangannya bersama tangan dingin maut yang mengakhiri hidup saudara kandungnya sendiri. Ia adalah malaikat maut yang menuntaskan petualangan tak waras adiknya yang menderita gangguan jiwa yang telat disadari orang-orang terdekat semasa hidupnya. Ontet menutup lembar terakhir kehidupan dunia serba-mungkinnya dengan tetap mengalami penderitaan nan tak tertanggungkan. Nasib sial kali ini telah bersekongkol dengan takdir yang pedih!

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Menghibur Diri Ala Nasrudin Joha


Salah satu tokoh cerita yang paling eksentrik dari khasanah sastra Timur Tengah adalah Nasrudin Joha. Dalam tiap kisah anekdot yang dipaparkan, tokoh cerita ini selalu bertingkah laku konyol namun mengajak siapa pun untuk merenungi kekonyolannya. Prilaku kocak yang bersifat kontemplatif dan apa adanya. Demikian yang senantiasa disajikan dalam berbagai cerita humor bertokoh utama Nasrudin Joha. Berikut ini satu di antara anekdotnya.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Tentang Dialog


Setiap orang suka bercerita. Tujuannya sangat beragam, mungkin untuk saling berbagi pengalaman, sekedar mengungkapkan resah hati, atau pun menghibur. Bercerita bisa secara langsung, dapat pula secara tertulis. Dalam konteks cerita ditulis (cerpen, novelet, novel) tentu saja ada kaidah-kaidah tersendiri yang mesti diikuti, terutama yang berhubungan dengan unsur cerita mewakili suatu percakapan atau dialog langsung antara tokoh-tokoh yang melakoninya.

menulis dialog dalam cerita

Berikut ini ada beberapa tips penulisan dialog untuk menulis sebuah cerita:

1. Hendaknya menulis dialog dalam cerita tak mesti panjang dan berbelat-belit. Dialog harus singkat

2. Karena sebuah cerita ingin mengajak pembaca mengalami kejadian-kejadian yang diilustrasikannya, dialog cerita mesti menyajikan tambahan pengetahuan kepada pembaca.

3. Dialog sebuah cerita mesti saling menggantikan pemaparan atau ilustrasi biasa.

4. Dialog sebuah cerita mesti menyampaikan rasa spontanitas, atau memberikan kesan percakapan langsung para pelaku cerita satu-sama lain. Namun, mesti diingat pula bahwa dialog harus menghindari pengulangan yang kaku.

5. Dialog sebuah cerita mesti menjaga alur cerita terus bergerak maju, yaitu dapat memperkuat alur cerita memaparkan kejadian demi kejadian secara berurutan.

6. Dialog sebuah cerita mesti menggambarkan watak tokoh atau karakter si pembicara, baik secara langsung mau pun tak langsung tersirat
.
7. Dialog sebuah cerita harus menunjukkan adanya suatu hubungan antar orang per orang, atau merepresentasikan interaksi interpersonal.

Demikianlah mengenai tips penulisan dialog sebuah cerita yang bisa saya sampaikan dan semoga memberikan manfaat. [M.I]

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Lima Tips Mengajarkan Penulisan Puisi


Mengajarkan menulis puisi bisa dengan mudah dilakukan. Namun, tentunya pengajaran menulis puisi ini sangat menuntut peran serta aktif dari guru dan para anak didiknya. Berikut ada lima tips mengajarkan penulisan puisi yang mungkin dapat membantu guru dan para siswa:

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Kritik Sastra Kreatif : Hubungan Resiprokal antara Penulis dan Pembaca


author │ text
─────────
before │ after

Saat menuangkan pengalamannya ke dalam karya (text), pengarang adalah individu yang menyalin ulang makna-mana kehidupan yang sudah mapan. Ia adalah pribadi yang melewati garis pemisah (before – after) antara kenangan hidup sebelumnya dengan realitas empiris dan hilang menjadi karya (text) dengan realitas imajinatif yang multitafsir. “Pengarang telah mati!” Pemaknaan atas eksistensi pengarang kini ia hanyalah sebagai ‘tulisan siap saji’ ditinjau dari perspektif kebahasaan. Misal, bila di dalam karya (text) ditemukan kata “saya / aku”, ternyata secara kebahasaan itu adalah “subject” dan bukan pengarang.

Benarkah demikian konsep pemaknaan dari Roland Barthes ini? Jika benar adanya, maka tak menutup kemungkinan tersedianya ruang bagi pembaca / publik sastra untuk mengapresiasi sekaligus membuat kritik sastra jenre baru, yaitu kritik sastra kreatif. Mengapa mesti ada kritik sastra kreatif? Mari kita diskusikan bersama.

Pertama, kita mesti memahami dulu bahwa sastra adalah “media” yang menyampaikan persoalan kehidupan. Persoalan kehidupan seperti apa yang dikemukakan oleh sastra sebagai fasilitator penulis kreatif sehubungan dengan keinginannya menuangkan dan merefleksikan pengalaman empiris pribadinya menjadi karya (teks) sastra?

Kalau kita menyimak bagaimana karya-karya sastra tertentu telah yang mendapatkan tempat tersendiri di hati khalayak pembacanya, kita dapat mengetahui bahwa sastra sebagai media menyuarakan masalah hidup yang bersifat universal seperti cinta kasih, kebahagiaan, kesepian, ambisi, kebencian, kejahatan, kesalehan individual mau pun kolektif, dan lain sebagainya. Melalui sastra, pengarang mencoba suatu pemberontakan atas keadaan yang menurut pengamatannya yang tersendiri dan sangat peka, keadaan yang ditemuinya sangat tak layak lagi. Ambil sebagai contoh, Andrea Hirata tahu bahwa pendidikan sangat penting dan perlu didukung sepenuhnya oleh pihak-pihak yang berkewajiban demi menciptakan generasi yang berpengetahuan dan intellektual. Pada aspek lainnya lagi, penulis kreatif ini menyadari bahwa ada permasalahan tentang kesulitan ekonomi kalangan tertentu untuk mengecap pendidikan. Hal ini menjadikan masalah yang menimbulkan perasaan nelangsa dan sedih, akibat simpatinya yang dalam terhadap golongan masyarakat kecil yang tersisihkan dan kesulitan untuk meraih pendidikan. Andrea Hirata berontak terhadap keadaan ini. Sastra memfasilitasi pemberontakan yang menggelegak dalam jiwanya. Namun, pemberontakannya terhadap keadaan yang menjepit kaum papa yang nelangsa untuk memperoleh pedidikan tak tercapai. Tetap saja ada pengabaian terhadap dukungan untuk memajukan pendidikan dari penguasa. Syukurnya Anis Baswedan bersama anak-anak bangsa yang mau turun ke pelosok seluruh tanah air menggalakkan gerakan “Indonesia Mengajar”.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Apa Jadinya Hidup Tanpa Mimpi dan Harapan?


Membaca cerpen PEMANGGIL BIDADARI karya Noviana Kusumawardhani yang dimuat di KOMPAS, 19 Februari 2012 yang lalu, saya agak terhanyut dengan cara penulis memaparkan pokok persoalan tentang harapan dan mimpi (baca: cita-cita) sebagai kekuatan utama manusia melayari samudra kehidupan dengan riak-riak gelombangnya.

Cerpen ini berkisah tentang kenangan pengalaman pribadi si-juru bicara cerita ‘Aku’ dengan orang terdekatnya ‘Simbah Ibu’, memaparkan secara apik bahwa sekiranya seseorang hidup hanya dengan menapaki setapak lengang tanpa harapan dan mimpi (cita-cita), maka hal itu sama kiranya dengan mengundang kematian (baca: penderitaan) lebih cepat datang daripada semestinya.

” Orang tanpa mimpi lebih dahulu mati daripada kematian itu sendiri.” “….karena hanya mimpi yang mampu meneruskan hidup. Karena mimpi adalah kekuatan.”

Beberapa makna tersirat yang dapat saya tangkap setelah membaca cerpen ini, penulis hendak menganjurkan kepada para pembacanya bahwa sekalipun seseorang tengah mengalami dera yang maha dahsyat, seperti kehilangan orang-orang terdekat yang sangat disayangi (juru bicara cerita: Aku, kehilangan Simbah Ibu yang merawatnya setelah kematian ibunda yang melahirkan, dan bapaknya pun menjadi gila), orang harus mampu tegar dan masih penuh harapan untuk meraih cita-citanya. Cobaan yang sangat berat bukanlah berarti seseorang harus larut dalam kesedihan. Tetapi, dengan senantiasa tak pernah putus asa dan mengharap pertolongan-Nya (penulis secara simbolis mengungkapkan rahmat Tuhan sebagai ‘bubuk bahagia yang disebarkan para bidadari turun dari langit kepada para penduduk kampungnya’.) seorang insan akan kuat dan bahagia.

Ada pesan relijius yang tersirat dalam cerpen PEMANGGIL BIDADARI. Penulis cerpen ingin mengatakan bahwa segala urusan yang ditimpakan kepada seorang manusia telah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan. Tangan-tangan misterius Tuhan bekerja, menuntun manusia menjalani kehidupan, mengajak ikhlas untuk menerima cobaan, tetapi dengan tetap mengingat-Nya sehingga pertolongan Tuhan dan rahmat-Nya akan tercurah langsung.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Cerpen R Griyadi : Mengenang Kota Hilang





Maka lumpur pun datang membasuh wajah kota itu.

(Hasan Aspahani, 2006)


ITULAH bait pertama yang kau tulis dengan tinta yang ragu-ragu keluar dari penanya, ketika perlahan-lahan kotaku terendam lumpur. Begitupun aku menyambut gembira, atas suratmu yang kau kirim melalui denyut hati, karena kau tahu arti penderitaan kami.

Aku mengerti perasaanmu. Begitu bernafsukah kau ingin datang ke kotaku? Begitulah yang aku rasakan dalam setiap detak nadimu. Tetapi aku tahu, kau hanya ingin mengembara lepas dalam batin kami yang menderita.
Aku pun tak berharap kau datang ke kotaku. Cukuplah kau saksikan dengan mata hatimu, aku sudah gembira. Aku gembira membaca bait-bait resahmu, yang kau tuliskan dengan tinta yang ragu-ragu keluar dari penanya.

Tetapi tak apalah. Kau salah satu yang aku kagumi. Penderitaan memang tak perlu dibaitkan dalam kata-kata terang. Karena kata-kata terang sering menjadi pelipur lara belaka. Dan kau tahu, kotaku perlahan-lahan tenggelam tidak hanya dalam lumpur tetapi dalam timbunan retorika.

Ketahuilah, kami yang kini tinggal di kota lumpur, telah banyak mereka-reka dan mengais-ngais kata-kata terang tetapi gelap maknanya. Aku tahu, kau menuliskan dengan bahasa bersayap, tetapi aku merasakan irisan-irisan makna yang kau hujamkan ke ulu hati.

Karena itu, aku tak ingin kau datang ke kotaku. Mata hatimu mungkin akan lebih tajam melihat derita kami, daripada kau ingin bermetamorfosis menjadi guru bahasa, guru pengocok moral atau menjadi pengabar yang sok pintar.

“Tidak! Aku cukup lega membaca isi hatimu!”

Bertapalah di gunung batinmu. Jangan datang ke kotaku. Kotaku, kini hilang. Kini yang tertinggal hanya kenangan dan harapan-harapan. Tak ada yang tersisa, selain kata sesal. Dan sepucuk atap rumah yang gentingnya menyumbul di antara hamparan lumpur kering dan pucuk-pucuk pohon yang meranggas. Tak ada yang tersisa.

“Kini semuanya telah ditelan waktu. Kotaku hilang tak terkenang!”

Tapi kalau kau ingin datang ke kotaku, gantilah hatimu dengan batu. Kantongilah sekarung nyawa. Ke kotaku kini hanya ada satu jalan, jalan maut!

Di jalan itu akan kau jumpai monster-monster kecil penghisap darah. Di jalan kau akan jumpai pohon-pohon hidup, yang bisa menjerat lehermu hingga putus. Jebakan demi jebakan harus kau waspadai. Orang-orang yang berniat baik bisa berbalik menjadi perampok yang ganas. Di setiap tikungan, kau harus waspada, karena di situ banyak pengemis bersenjata tajam akan menghunuskan arit ke lehermu bila kau tidak memberi uang barang satu perak pun.

Bila kau lolos di jalan maut, kau tak perlu bergembira. Karena setelah itu kau akan menemukan jalan yang bercabang-cabang, mirip labirin. Kau harus pandai memilih jalan yang tepat. Bila salah pilih, jangan harap kau bisa kembali menjadi manusia. Kau pasti akan menjadi lintah, atau semacam belut yang hidup di rawa-rawa, yang kini dikuasai oleh monster-monster berwarna-warni.

“Kau tahu, jalan yang bercabang-cabang itu sebenarnya tak akan sampai ke kotaku!”

Karena itu, ketika kau memutuskan untuk datang ke kotaku, siapkan dirimu menjadi pahlawan kesiangan atau kalau mau hidup jadilah monster. Kotaku, seperti yang kau tulis, “Maka lumpur pun datang, dan penduduk kota hilang,” tidaklah salah.

Untuk mencari rumahku, kau harus menjadi superhero yang gagah berani. Kau harus menjadi manusia tak terkalahkan. Kau harus menjadi seperti Gatutkaca atau Antareja yang mampu terbang dan menembus perut bumi. Tetapi kau bisa juga menjadi Sangkuni yang pandai bersilat lidah dan tipu muslihat.

Atau kau bisa menjadi badut. Kau akan mudah masuk dengan gaya leluconmu. Kau akan dikerumuni anak-anak kecil yang haus hiburan. Mereka anak-anak yang tak lagi mengenal masa depannya. Hanya dengan leluconlah kau bakal hidup panjang.

Meski begitu, kau jangan berharap telah sampai ke kotaku. Mungkin kau masih menempuh separuh jalan. Atau barangkali kau masih jalan di tempat. Tak ada yang tahu berapa jauh jalan yang harus ditempuh hingga sampai ke kotaku.

Tak ada yang tahu. Kotaku telah hilang dalam peta. Barangkali, kotaku telah berada dalam perut paus atau terkubur dalam perut bumi, atau masih dalam genggaman monster warna-warni, juga tak ada yang tahu.

Bagi kami, jalan kota kami telah tertutup rapat dari dunia. Tak ada jalan lain, selain jalan ke langit. Tak ada kata-kata, selain doa. Tak ada harapan, selain harapan untuk mati.

“Apakah kau siap, Kawan?!”

Memasuki kota kami, melalui jalan labirin itu, tajamkan mata dan hati. Bersiaplah kau menerima jebakan-jebakan yang lebih maut dari jalan maut. Jangan asal melangkah, karena di setiap jengkal, arti langkahmu sangat menentukan nasibmu. Dan kau tahu, orang-orang di kotaku telah banyak yang menjadi lintah, belut, dan bahkan ubur-ubur, karena salah melangkah. Atau memang mereka ingin menjadi monster jalan labirin daripada hidup dalam kubangan lumpur.

“Aku menyesal sebenarnya, tak bisa menuliskan kabar ini secara benar!”

Tak ada kebenaran di kota kami. Kebenaran telah dirampok. Kebenaran menjadi bahasa yang berbelit-belit dan sulit dipahami maknanya. Kebenaran dan kepalsuan menjadi tipis jaraknya. Dan kau tahu, banyak di antara kami yang silau oleh kepalsuan yang berlapis kebenaran.

Kami tidak salah. Kami dijebak oleh monster-monster penguasa jalan-jalan labirin. Meski demikian, banyak yang memilih menjadi dan hidup dalam lumpur daripada menjadi lintah atau menjadi budak para monster.

Dan kau tahu, dalam bait suratmu yang kau suarakan melalui hatimu, kau tulis dengan gamblang: “Semula ada yang mengira mereka memilih jadi ikan, memasang semacam insang di leher dan sejak itu menjadi bisu….”

Pada mulanya memang itulah yang kami tempuh. Kami diam dan pasrah ketika air bercampur lumpur perlahan-lahan menggenangi kota. Ketika air meninggi dan lumpur semakin mengendap, kami harus mengambil pilihan. Bertahan hidup menjadi ikan atau menjadi monster di daratan?

Kamu tahu, kami banyak yang memilih menjadi ikan meski air begitu keruh. Tapi setidaknya aku dan orang-orang di kota masih bisa bernapas sambil mengikuti arus, ke mana mengalir. Tetapi tidak tahulah, lama-lama arus air dan lumpur begitu deras dan pekat. Kami yang dulunya bisa bernapas, tiba-tiba terasa sesak. Dan tiba-tiba kami seperti hidup dalam pekat gelap.

Dalam gelap pekat itu muncul sekelompok ikan dengan gigi dan sisik tajam, yang dipimpin ikan berkepala besar berbelalai banyak. Ikan yang kami sebut sebagai gurita itu, belalainya begitu terampil menangkapi ikan-ikan kecil untuk dijadikan makanannya.

Kau harus tahu, gurita itu begitu cengeng. Setiap kali ia ingin menghisap darah kami, ia merajuk pada ibunya. Dan ibunya selalu muncul dalam bayang-bayang masa lalunya yang kelam, berkata, “Hisaplah, Nak, demi hidupmu?”

Kamu tahu, kau tulis dalam degup jantungmu yang paling keras, “Lalu sejak itu muncullah sekelompok ubur-ubur sebesar kepingan uang recehan yang berbiak dan nyaris memenuhi genangan.”

Apakah kau masih ingin ke kotaku? Lewat suara hatiku ini, kusarankan, lebih baik urungkan saja niatmu. Meski kotaku kini telah berdiri papan nama bertuliskan: “Wisata Kota Lumpur”, lebih baik kau jangan percaya dengan bahasa terang itu. Itu bahasa jebakan untuk mengais simpati. Bila kau tak tahu, kau akan jadi ikan-ikan dalam kekuasaan ikan berkepala besar berbelalai banyak.

Kalaupun kini banyak orang melihat dan mencari-cari sisa kota kami, mereka tidak tahu, kota kami telah digondol ikan berkepala besar berbelalai banyak, menghilang dalam lautan lepas.

Kau tahu, mereka yang mencari sisa-sisa kota kami berdiri di atas bukit yang membentang sampai cakrawala, seperti benteng, yang membentengi lautan lumpur. Orang-orang itu mencoba mencari kegembiraan kecil, atau mencoba menyelami penderitaan kami. Tak ada yang tahu. Kami benar-benar jauh dalam genggaman ikan berkepala besar berbelalai banyak.

Dan kau sangat tahu, dalam teriakan bahasa hatimu yang aku tangkap samar-samar, kau menulis: “Ada kapal-kapal tanker besar menanti. Para nakhodanya bertubuh besar dan bertangan banyak sekali. Sebagian dari tangan-tangan itu memegang senapan. Sebagian lagi terus-menerus menekan angka-angka di mesin hitung dan pencatat waktu. Para kelasinya tak pernah menginjak bumi dan tak pernah berdiam, kerja siang malam….”

Kini apakah pantas kotaku, rumahku, namaku, kau cari-cari dalam timbunan lumpur yang semakin menggunung itu? Apalah arti kotaku, apalah arti rumahku, apalah arti namaku, sedangkan Marsinah saja telah menjadi purba! Tugu kuning tempat Marsinah diculik juga telah musnah. Sia-sia!

“Amnesia! Udara pengap kota kami menjadi virus lupa ingatan!”

Tak perlulah kau ingat. Tak perlulah kau kenang. Tunggulah, pada suatu saat nanti kotaku akan kau temukan dalam pesta pora para monster menyambut kemenangan dewa ikan berkepala besar berbelalai banyak.

Dalam mesin hitung, kami telah dipurbakan. Kami diendapkan dalam waktu dan pada suatu saatnya nanti, kota kami digali dari kuburnya. Nama-nama kami dicatat, bendera-bendera berkibaran dalam pesta dewa ikan berkepala besar berbelalai banyak. Kota baruku akan ditemukan dengan nama yang ditulis dengan huruf Palawa: Kahuripan.

“Apakah kau tahu arti Kahuripan?”

Sebenarnya kotaku tak bisa dimatikan, karena sikap teguh kami untuk tidak kompromi. Kotaku tak bisa dihilangkan begitu saja. Ia akan lahir kembali dalam kenangan yang mengekal dan banal.

Pesanku, kalaupun pada suatu saat nanti kotaku tak ditemukan, maka kenanglah kotaku seperti dalam suara keras hatimu di bait terakhir: “Dulu di sana, para petinggi agama berkhotbah tak henti-hentinya”.

Itulah semulia-mulianya kenangan. (*)

Sidoarjo, 2011


Catatan :


1. Cerita ini terinspirasi dari puisi: Kisah Kota Lumpur, Hasan Aspahani, 2006.


2. Semua kutipan berasal dari bait puisi: Kisah Kota Lumpur, Hasan Aspahani, 2006.

Sumber : Kompas, 13 Mei 2012

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha