Kumpulan Puisiku


Aku Rindu Ruang yang Tenang

Sungguh aku masih di sini, sayang.
Tak terlintas niat menghilang,
menghidangkanmu seporsi malam yang gamang.

Aku hanya butuh sebuah ruang.
Ruang itu bukanlah wilayah yang lapang,
sempit pun ukurannya masih kuterima.

Ruang yang kuinginkan
semoga tak terlalu lengang,
gigi sepi menggigit janganlah menusuk aorta di leherku.

Di ruang itu cukuplah saja ada cahaya tenang.
Sejak aku terlalu lama di keramaian,
gaduh membuatku mengaduh. Aku butuh ruang mengalun musik kedamaian.


Desah Sosok Orok di Selokan

Aku kira tempatku di dunia tidak di sini, bunda.
Meringkuk, terpuruk menekuk lutut,
agar muat ditampung ruang sesak kresek hitam ini.

Tuhanku telah berbaik hati,
Dia memulai penciptaanku atas cinta-Nya,
juga cintaku padamu, bunda.

Tetapi..
Apa sebab aku engkau campakkan
di antara dinding lembab selokan?

Bunda, aku sayang padamu,
dan itu pula alasan lahirku di dunia.
Layakkah engkau balas semua cintaku begini rupa?


Penipu di Podium

:

Bingung! Toilet menghilang. Perut melilit tak tertahan.
Berak mencret terserak berceceran.

Dari lubang dubur menyembur kata-kata bertuba.
Racun mengambang di udara dihirup bersama.


Selingkuh

Sayang, yakinlah..
Kamu punya masa depan yang cerah.

Minumlah.
Reguk serbuk racun asmara ini.
Marilah kita bunuh diri.
Biarkan tubuh kita mati
terabaikan di palung sepi.

Kembara cinta!


Racun

Aku diam.
Orang-orang mengulitiku.

“Diam bukanlah emas!”
seru mereka gemas.
“Kenapa?” aku heran.

Kebisuan sudah terlampau menyesakkan.
Desis kentut merontokkan bulu-bulu hidung.


Puihh..

Kalau puisi hatiku terlampau dingin,
mungkin kebekuan lebih kuinginkan.

Engkaulah baris-baris beku itu.
Dan, aku? Apakah serupa renggutan tangan-tangan waktu?

Biasanya dua orang yang mencintai;
seringkali tertipu pandangan khayali.

Ada hal terlampau indah,
padahal cuma magma rasa membuncah.

Matamu dan mataku memutih. Rabun!
Selaput asmara menempel seperti katarak.


Prasangka

FIKSI | 17 November 2010 | 01:06


Selamat malam
Pekat kelam
Mau kemana engkau kini?
Kembali menyelimuti sepotong hati

Dalam ragu
Engkau genggam
Prasangka penjara akal budi
Padamkan terang cahaya nurani
Neraka menyala, menghanguskan jiwa
: mesra nian kita menggandengnya



Aku dan Kata

FIKSI | 16 November 2010 | 19:26


Sebenarnya aku ini banyak bicara
Menghamburkan kata, menjungkirkan makna
Hingga hambar tiada berasa
Juga menyesaki tempatku berada

Suatu ketika sejawatku berkata

“Carilah dengan kau tentang kebenaran atau kejujuran!
Seribu dusta yang kau ucapkan, maka akan menghanguskannya,”

Serunya berapi-api.

Aku tahu..

Ia ingin membakar kata-kata
Yang begitu kering meranggas
Serupa dahan dan ranting meretas
Saat terpanggang kemarau mengganas

Lalu sejak saat itu..

Aku lebih suka diam
Mungkin karena diam itu emas
Bisa jadi bicara itu perak

Dan aku mulai bertanya-tanya

“Apa gunanya mencurahkan hujan kata-kata yang tawar terasa?
Apa faedahnya menebarkan kata-kata yang menyamarkan mata?”

Maka kini..

Lebih suka aku berkata dalam bentuk tindakan nyata
Dalam ayunan tiap langkah kaki,
Dan sikap membumi dengan kedua mata lebar terbuka

“Ah, kata-kata..
Dapatkah kau terlepas dari jaring dusta?”



Insomnia

FIKSI | 16 November 2010 | 18:53

Ah, malam..
Heningmu merayu resah azam
Hingga tiba batas mampuku
Menahan lembutnya daya misterimu

Bahkan kini..
Engkau merangkulku mesra sekali
Seperti kekasih yang terengkuh
Romansa cinta yang berlabuh

Wahai malam..
Kemana pula arahnya ini?
Tiap kilasan purbanya peristiwa
Hendak kau tunjukkan kembali

Baiklah malam..
Kan kuikuti saja inginmu
Bisa jadi kau memberitahuku
Derap langkah seiring waktu



Aku Bermimpi Melihat Neraka

FIKSI | 28 November 2010 | 19:57


Sungguh!
Tidur di waktu maghrib tidak baik
Mengekang pikiran dalam kelam merengkuh
Memenjara kalbu dalam bisik setani mengusik

Beginilah jadinya…

Ketika alam patuh bersujud
Aku tenggelam dalam neraka menyala
Di sana aku berjumpa wajah-wajah yang takut
Tersangkut pada lidah api merah membara

Neraka sebenarnya rasa syukur yang sirna
Mengubah insan kufur, mengejar dunia mempesona
Bukan pula siksa yang pedih
Dalam ratap menggema lirih

Sungguh!
Tidur di waktu maghrib tidak baik
Mengekang pikiran dalam kelam merengkuh
Memenjara kalbu dalam bisik setani mengusik

Beginilah jadinya…

Ketika mentari merayap perlahan ke peraduan
Tunduk pada aturan Tuhan
Aku melayang di lengkung merah saga
Langit suram alam neraka

Neraka sebenarnya angin jahat amarah
Meniup pelita akal hingga padam
Bukan pula tembaga mendidih melelehi kepala
Melebur fana raga terajam

Sungguh!
Tidur di waktu maghrib tidak baik
Mengekang pikiran dalam kelam merengkuh
Memenjara kalbu dalam bisik setani mengusik

Beginilah jadinya…

Ketika seruan adzan menghimbau
Menuntun jiwa-jiwa yang tenang
Aku mengapung dalam kolam nanah menggenang
Di sekitarku berjuta-juta hamba yang risau

Neraka sebenarnya keraguan kian merawan
Mengambangkan keyakinan dan niat mulia mengabdi
Bukan pula ganas lilitan ular berkepala sembilan puluh sembilan
Mahluk penghuni neraka abadi

Sungguh!
Aku bermimpi melihat neraka:
Berwujud rasa syukur yang sirna,
Berhawa angin jahat amarah,
Berupa keraguan yang kian merawan.



Ragu Membatu

FIKSI | 27 November 2010 | 22:35


: “Pecahkan kosong menjadi satu!”

: “Kosong mengurungmu dalam ketidakpastian..”

: “Bagaimana caranya?”

: “Apa?! Tidak tahu bagaimana?”

: “Dari tadi kau dipusingkan dengan pertanyaan itu.”

: “Apa yang bisa diperbuat, di sana kau berjumpa cara.”

: “Tentunya harus dimulai segera!”

: “Engkau harus berani! Tidakkah masih tersisa sedikit?”

: “Entahlah!”

: “Bah! Itulah sebabnya kau terlalu cepat menyerah!”

: “Lalu kau berikan saja pada mereka yang bukan ahlinya!”

: “Atau kau memang sengaja?!”

: “Bukan seperti itu maksudnya!”

: “Ahh, maksud itu hanya kau sendiri yang tahu!”

: “Hasil perbuatanmu di sana terletak nilai dirimu!”

: “Tahu kau, tahu apa kau?”

: “Aku belum tahu..”

: “Makanya kau mesti cari tahu!”

: “Dari tadi kau belum beranjak juga..”

: “Diam bungkam, terpaku menunggu..”

: “Dan selalu saja hanya menyimak sambil lalu..”

: “Padahal kau ingin mencari tahu!”

: “Semua hal harus kupertimbangkan dulu.. Agar tak salah langkah.

: “Hah?!”

: “Takut kau dengan salah !?”

: “Bukan, bukan takut salah cemasku!”

: “Takut salah lah cemasmu!”

: “Bukan, bukan itu!”

: “Mengapa tak kau mulai menyelesaikannya?”

: “Aku lihat sudah ada yang menanganinya..”

: “Huh! Berdalih pula!”

: “Aku tak boleh mencampuri urusan itu!”

: “Kau ini raja!”

: “Perintah yang kau katakan, tak seorang pun boleh membantah!”

: “Mereka harus lihat wibawa dan ikut titahmu!”

: “Betul itu.. Hanya aku berpikir tentang setiap keputusanku..”

: “Bijaksanakah atau membuat resah? Aku ragu?”

: “Ahh…, bilang saja kau takut salah!”

: “Ya, memang begitu adanya..”

: “Makanya kau mengalah, ya kan?”

: “Karena kau takut salah, ragu membelenggu dirimu.”

: “Keraguan memang milik orang yang takut salah!”

: “Akhirnya selalu kalah!”



Lubang-Lubang Menganga


Dua sosok malaikat kalem..
Satu begitu bersahabat wajahnya
Dan selalu membuat hati adem
Lain dengan yang satunya lagi
Raut wajah tampak resah
Menatap catatannya bertinta merah
……….

Pada jiwa manusia ada lubang menganga
Dari prilaku yang salah disengaja
Diameternya tambah besar saja
……………

Inilah sebab malaikat itu susah
Gelisah karena jarinya keriting
Tiada sempat bersantai atau berbaring
Lembar catatannya penuh terisi
Bukan kebaikan yang ditulisi
Tetapi niat-perbuatan jahat memenuhi
…………

Malaikat berwajah sumringah, kuyu..
Diam hanya bertopang dagu
Merenungi kapan tiba giliranku
Tetapi insan tiada mengerti
Tetap saja ingin menambahi
Penuh jurnal, laku mengingkari
Mengabaikan peran malaikat bermata sendu
………….

Demikianlah akhirnya
Kisah tentang manusia
Yang masih tak mampu:

“Menjalin kisah asmara dengan malaikat berwajah ceria,

Sebab terlalu suka melebarkan lubang-lubang menganga jiwanya.”


Gelandangan

FIKSI | 19 November 2010 | 20:41

Beratap langit
Berlantai bumi
Disinari kunang-kunang
Berselimut malam
Berbantal lengan
Bercanda dengan angin
Bercengkerama dengan dingin
Gelap membutakan
Gulita melenakan

Sayang..
Aku harus pulang
Bulan bulat mengapung telah hilang
Mentari menanti di ujung malam
Pesonamu sebeku pualam


Bahasa Kalbu Riak Kotaku

FIKSI | 17 November 2010 | 20:18


Pengamen bersuara parau
Melagukan diri
Ia yang tak gentar
Dibakar matahari

***

Di belakangku
Duduk dua orang terpelajar
Mengisi waktu belajar berujar
: Demokrasi dan Penindasan

***

Dari buram jendela bus
Kulihat orang-orang terlantar
Akrab dengan sebutan ‘Rakyat Jelata’
Tentunya bukan mereka yang jelita

***

Hidupnya serupa ular!
Berkeliaran dan bertebaran
Di jalanan melata-lata

***

Mesin bus masih menderu-deru
Menyeru aku di bangku biru
Menyimak bahasa kalbu riak kotaku



Jangan Kau Memujiku

FIKSI | 17 November 2010 | 13:15


Jangan kau memujiku..
Menghamburkan kata-kata berbunga
Sedang saat ini kuncup pun masih baru
Dan hendak belajar mekar
Jangan kau memujiku..

Agar jiwa tak melayang
Mengambang, goyang tak berpegang
Tersangkut di lengkung awan gamang
Ah, bukanlah hati ingin mengabaikan
Menganggap ringan semua kata yang terujar
Semata aku selalu sadar
Ini langkah awal, baru kujejakkan
Janganlah kau memujiku..

Agar semua berjalan wajar
Agar hikmah mengalir lancar
Agar mataku terbuka lebar


Selamat Datang Muharram Baru


Marilah saudaraku…
Lupakan mengadu isi kepala
Bukankah kita tahu sebenarnya:
Masih banyak ruang tersisa
Belum sesak terjejal semua
Dari antrian cahaya hikmah

Seperti gelas baru terisi separuh
Sungguh! Benak kita masih menunggu
Pengisian kembali pandangan cerah
Dan demi waktu yang lihai menipu
Tanpa pernah disadari diri
Telah begitu banyak hal yang kita kebiri

Marilah saudaraku…
Kita mulai mewujudkan niat
Yang telah termakan karat
Dari air liur memuncrat
Ketika kita semua berdebat
Tanpa sedikit pun memberi manfaat
Pada rakyat yang makin sekarat
Hentikanlah! Dan mulai bertindak tepat!

Mungkin ini hanya isyarat
Karena kelak suatu saat
Saudara akan mulai memahami:
Bahwa deklarasi diri pribadi
Bukan sewaktu kita menunjukkan kekuatan

Atau ketika jiwa memamerkan
Hati kita yang pencemburu
Melihat kerabat dekat bergerak maju
Lalu, kita yang dikuasai
Semua dorongan nafsu setani
Membungkam, menguburnya dengan merah hasrat

Sungguh saudaraku…
Kita mengetahui diri sendiri
Ketika selalu tersedia waktu
Bagi jernih hati dan jiwa
Mematut diri, bercermin lama
Dengan mata pikiran terbuka:
Maka teranglah siapa kita
Semangat sinar Muharram baru
Tentu akan mampu membantu
Untuk jejak langkah berpadu

Marilah saudaraku…
Bangunlah dari tidur lelapmu…
Demi waktu yang lihai menipu…
Demi rakyat beku sekarat…
Demi sinar Muharram baru…

Marilah, kita semua menjadi satu
Janganlah terpecah dari satu tubuh
Singkirkan perbedaan, rapatkan barisan
Lakukan tiap perubahan yang perlu
Melangkah searah dalam tujuan
Memangkas habis semua benalu
Yang liar menempel pada pucuk-pucuk tunas harapan
Selamat datang 1 Muharram 1432 Hijriyah

Semoga cemerlang Indonesiaku dalam berkah



Seruan Waktu

FIKSI | 06 December 2010 | 23:36


Hari yang teramat panjang
Dan senja telat merembang
Aku pun telah terkesan
Di sini diam tertawan


Suatu hal ingin disampaikan:
Berapa jauh kaki melangkah,
Sudahkah kiranya amal bertambah?
Berapa banyak tempat disinggah,
Sejauh mana ilmu berfaedah?


Sebelum semua rupa berubah
Sesaat petang datang bertandang
Tuntun diri dalam berkah
Sinari hati petunjuk terang


Karena bukan sebuah kebetulan
Yang pasti suatu seruan
Agar tenang diakhir desah
Tiada terhimpit tanah merekah



Nasehat Tentang Cinta

FIKSI | 05 December 2010 | 23:00


Sahabatku menasehati..

“Cinta itu memperindah hidupmu
ceria berseri berwarna-warni,” katanya.

“Lihatlah setiap orang ikut serta
berenang dalam sejuk danau cinta,” tambahnya pula.

Setelah kutelusuri makna kata-katanya
Aku jelas mulai mengerti.

Cinta memang kawan seperjalanan setiap orang
Sejarah Bapak-Ibu manusia pun juga bilang:

Tak seorang dari kita lupa
Tentang kisah suka duka Adam-Hawa

Mereka pernah berpisah lama
Dan berjumpa juga karena cinta

Itulah hebatnya daya cinta:
Menobatkan ‘orang’ menjadi manusia
Menyatukannya dalam suasana suka

Namun ada cinta yang merah muda
Yang tua dibuatnya bergairah
Yang remaja dibuatnya bergelora
Terkadang bisa hilang kepala

“Ini tentu belum seberapa,
kalau kau masih ingin bicara cinta,” sahabatku memanasi.

“Ada satu jenis cinta bisa sangat berbahaya,
cinta harta rupa bentuknya.”

Siang malam orang dituggangi cinta ini
Dirinya berubah menjadi kuda
Memeras pikiran dan tenaga, mengejar harta
Sering juga orang memiliki taring
Ketika ingin meraih gunung harta semata
Siapa pun bisa tega dicabiknya

“Sebelum menutup kisah tentang cinta,
tak hendak aku lupa menyampaikan
orang juga cinta kekuasaan,” ujar sahabatku.

Cinta singgasana dan kekuasaan dahsyat adanya
Menipu dan menebar janji, sudah biasa saja
Kawan seperjuangan pun sering dilangkahi
Disusun serupa undakan anak tangga
Tentu agar lebih mudah ditapaki
Berjalan menuju kekuasaan tertinggi

Akhirnya, kawanku..
Bila ingin tetap menjadi manusia
Ingatlah selalu petuah tentang cinta
Dari pemimpin umat sepanjang masa

Beliau bersabda, “Kecintaanmu terhadap sesuatu bisa membuatmu buta dan tuli.”

Jadikanlah nasehat bijak ini
Pedoman hidup singkat kita menjelang mati..



Topeng

FIKSI | 01 December 2010 | 21:19


Topeng itu wajah
Punya mata dan hidung sendiri
Menatap dalam pikiran tersembunyi
Ingin tampak sesuai yang asli

“Mari kenakan topengmu,” ajak hasratku.

Kau akan mampu melindungi diri dari:

Ketika curangmu tak tertutupi..
Sewaktu nafsumu menunggangi budi..
Saat lemahmu merendahi diri..

Tentu topeng itu wajah
Bermata dan berhidung topeng
Dengan pikiran yang sedeng

“Maaf, sementara ini aku belum butuh topeng,” kata sadarku tiba-tiba.

Ah, lebih nyaman punya wajah sendiri
Bermata dan berhidung asli
Berpikir jernih tanpa terbebani
Sesuai dengan kata hati



Gemerlap di Puncak Gedung

FIKSI | 01 January 2011 | 20:50


Gemerlap di Puncak Gedung
Kepala-kepala mendongak patah

Dijambak dahsyat pesona meriah

Dada riuh, kagum membuncah:

“Ini semarak semakin menjebak!”

seruku takjub, lupa segala.
Khilafku pun rusuh mengejar
Kedua tanganku terentang liar
Serupa kepak menggapai pijar
Gerbang waktu terbuka lebar
Aduhai, asa hidup memancar
Menghasut, jiwa-ragaku bergetar:

“Teriaklah sesukamu hingga serak!
Relakan dirimu terhisap gemerlap
Euforia tradisi awal hari,”

rayu sihirnya setahun sekali.



Tuhan, Engkau Begitu Dekat

FIKSI | 23 December 2010 | 19:37


Tuhan, Engkau Begitu Dekat

Biar kukuras isi samudra ini!

Mengeringkan semua isinya, kuserakkan di sini

Dari kerang hingga spesies langka di palung terdalam

Tak lupa kupungut di dasar jurangnya yang kelam

Ya, pencarianku akan hakikat-Mu, terasa makin mendendam!

“Mengapa kau hendak mencari-Ku,

sampai ingin menguras samudra biru?” tegur-Mu heran melihatku.

Tentu agar semua terkuak..

Setidaknya mampu meredam kehendakku yang bergejolak!

“Aduhai, hamba-Ku tenangkan jiwamu!

Tahukah kau samudra itu

rumah yang paling nyaman

bagi semua napas kehidupan?

Masih juga kau ingin keringkan

demi menjawab tanyamu akan hadir-Ku?”

“Jangan kau kuras samudra biru jika ingin berjumpa dengan-Ku!” larang-Mu tegas padaku.

“Kau hanya membuang waktu

mengkufuri nikmat-Ku, hatimu keras membatu!

Tidakkah kau campakkan rahmat-Ku?”

Ampuni lalaiku, Ya.. Yang Maha Pengampun!

“Wahai hamba-Ku..

Percayalah, Aku mengerti dirimu!

Maka dengarkan semua kata-kata-Ku,

renungkan dan kerjakanlah:

“Saat dua pertiga malam,

jangan kau sungkan menghampiri-Ku.

Kupastikan bahwa Aku rindu padamu,

menanti hadirmu di hening kelam.”

“Yakinlah, wahai hambaku yang merindu!

Aku senantiasa menunggumu:

menantimu berjalan pelan mendekati,

maka kan Kusambut dengan berlari menghampiri.

Aku tak jauh, dekat di urat nadimu!”

Tuhanku..

Engkau tak pernah ingkar janji

Maka urung niatku menguras samudra kini!

Ternyata ada-Mu dekat sekali,

Begitu setia Sang Kekasih yang rindu untuk dihampiri.



Kembara Si Pecinta

FIKSI | 23 July 2012 | 01:18

marilah kita simak perjalanan panjang yang ditempuh si pecinta itu.
demi berjumpa dengan Sang Kekasih Yang Paling Didamba,
ia telah melintasi berbagai negeri.

kini si pecinta berada di selasar.
kiri-kanannya bertaburan rumah-rumah,
ah, kesenangan yang memabukkan tampak menggodanya.

tepat di hadapannya terdapat sebuah rumah minum.
betapa lega hatinya. ia dapati peredam api
ingin segera ia padamkan nyala dahaga
yang membakarnya sedari tadi.

”selamat datang, wahai pelancong yang merindu.”
ramah kepala pelayan di ambang pintu menyapanya.
perkenankan kami melayani anda.
izinkan anggur paling manis yang kami punya,
mengakhiri derita musafirmu.”
si pecinta tampak terkesan dengan kelemahlembutan tawaran.

”apa lagi yang engkau punya, hai tubuh yang memantul kemuliaan hati?”

”para wanita kami berkulit sebening embun pagi.
sudilah kiranya tuan datang melihatnya sendiri ke dalam. masuklah.
ada para bidadari Firdaus menanti anda.
di sanalah tiap dera tuntas, di dadanya yang ranum.”

si pecinta melongok ke ruang dalam.
benarlah perkataan kepala pelayan itu.
para perempuan di dalam menari-nari.
banyak juga yang tengah melayani para tamu,
tubuh mereka sepolos bayi yang menggeliat.
satu-dua mengguyur tubuh putih
cairan anggur merah meleleh, manisnya begitu melekat.
aduhai, si pecinta hampir saja tersesat
bila tak ia teringat pesan Sang Kekasih.

ia tersentak. gigitan kesadaran membangunkannya.
sekeping cermin besar memantul bayangan nyata,
dirinya kini citra terefleksi di dunia luarnya.
sumber paling dekat yang tersembunyi:
pantulan luar dirinya sendiri.

seketika lubuk kalbu terdalam si pecinta
dirundung mendung paling kelabu.
belenggu kesedihan ini merantai jiwanya,
dan tubuh fisiknya teraniaya kembali.
ia pun segera berlari, sekencang angin menderu.

”rindukah engkau whusul pada-Ku,
apakah engkau kira bisa mencapai-Ku?
engkau belum lagi mengenal dirimu.
lihatlah sekelilingmu. apakah engkau kenal dirimu?”
bergema pesan Sang Kekasih menguasainya.
si pecinta pun berlari kembali.

di tepi sebatang sungai kecil
ia tertahan. kakinya tak kuat.
kejernihan yang mengalir menghentikannya.
rambutnya dijambak masuk ke dalam kebeningan air.
seketika ia tersentak:

”mengapa kalian masih saja terlihat?”
tanyanya ketakutan.
bayangan orang-orang di rumah minum,
juga tampil di permukaan sungai.

”kami berasal dari celah tersembunyi,
menyeruak dari dalam dirimu sendiri.
engkau musafir malang yang buta.”

”apa maksudmu?” heran si pecinta.
ia sama sekali luput mencerna makna.
kelelahan dan kesedihan menguras tenaganya.
dalam mencari arti dari perkataan bayangan di permukaan,
akhirnya ia lunglai. pingsan dalam kelepasan perangkap tubuhnya,
si pecinta berjumpa dengan Sang Kekasih.

”Hai, anak Adam. engkau yang mendamba-Ku.
angin seketika kencang bertiup.
permukaan sungai bergolak.
pepohonan menunduk, diam terpaku.
oleh pesona gema si pecinta terengkuh.

“akan dimudahkan siapa pun yang berada di jalan-Ku.
kenali dirimu. cermati pantulan bayanganmu.
ingatkah engkau pesan utusan-Ku padamu?”

”Wahai, Sang Kekasih, beritahukanlah.
sungguh alpa telah melalaikanku.
kerinduanku pada-Mu menenggelamkanku.”
air mata si pecinta deras turun.

”jika engkau hendak menemui-Ku
lihat dirimu pada diri sesamamu.
tidakkah utusan-Ku pernah mengingatkan?
pada diri seorang mukmin terdapat cermin mukmin lainnya.
masihkah engkau ingat dengan jelas?”

pecinta menggigil. ia baru sadar akan kesalahannya.
selama ini hanya sibuk menganiaya diri
melayani nafsu perjumpaan dengan Sang Kekasih.
ia lupa mengajak sesamanya bersama menuju kebaikan.

tak beberapa lama kemudian, ia telah siuman.
alam sekitarnya pun begitu tenang,
langkahnya kini diterangi cahaya akal:
mengajak orang-orang di rumah minum kembali,
bersama merentang jalan lurus menuju Sang Kekasih.

wahai, pecinta yang begitu mendamba
tidakkah ini serupa seribu perjalanan nan berat?
tempuhlah dengan niat kuat.

ya, apalah artinya seribu perjalanan yang hanya bisa merajam tubuh.
bukankah tak sebanding dengan kenikmatan dalam pelukan Sang Kekasih?



Berita dari Negeri Saba’

FIKSI | 04 November 2011 | 09:21

I

Sulaiman yang diberi pengetahuan
mengucap syukur beriring pujian,

“Segala puji bagi Allah

telah melebihkan kami dari sebagian
hamba-hamba-Nya yang teguh dalam iman.” (1)

Raja bangsa jin dan hewan ahli waris Nabi Daud
tunduk dalam syukur dan zuhud.
Maka sebagai balasan ketakwaan,
kepatuhan dan teguh keimanan:

“Kami telah menghimpunkan untuk Sulaiman bala tentara sedemikian besar sepanjang zaman.”

Dan jika mereka menjejakan langkahnya yang berderap;
semut-semut dalam sarangnya cemas dalam harap,

seekor dari mereka berseru insyaf,

“Lihatlah, Sulaiman dengan bala tentaranya yang maha besar!
Masuklah kalian semua, selamatkan diri dari maut ditebar!”

Raja yang diberkati tertawa mendengar kabar.
Sungguh hewan-hewan penghuni lubang luput dari sadar.
Bijak bestari baginda memperingati
para punggawa beserta segenap prajurit dinasehati:

“Sesungguhnya Tuhanku telah memberi rahmat-Nya padaku. Dan aku masih memohon kemurahan-Nya agar dijaga dari kekufuran, wahai kaumku.”

Begitu mulia dalam kerendahan hati,
Raja Hewan dan Jin melanjuti:

“Perhatikanlah langkah kalian, wahai balatentaraku! Janganlah lupa diri hingga kalian saling membinasakan.”

Balatentaranya tunduk dalam perintah.
Semut-semut pun luput ditimpa musibah.


II

Sulaiman, aduhai Sulaiman tetap megah sepanjang zaman.
Sebab lepas dari syahwat yang menawan,
meskipun kuasa memegang begitu dahsyat kekuatan.

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata:

“Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.” (2)

Baginda tak ingin dikhianati memeriksa
tanggung-jawabnya pemimpin segenap bangsa.
Murkanya tiba bila datang pertanda
bukan dibakar nyala hawa nafsu melanda:

“Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras

atau benar-benar menyembelihnya
kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. (3)

Sungguh tiap mahluk ditundukkan Tuhannya patuh dalam titah,
Hud-hud pun bukan termasuk yang ingkar dalam perintah:

“Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya;dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (4)

Kabar berita dari pengikut setia
sampai lah pada baginda:

“Aduhai, Baginda Raja Sulaiman
yang diteguhkan dalam iman.
Mohon bersabar sebelum paduka
dibakar begitu besar angkara murka.”

Sulaiman yang berkuasa dalam kebijaksanaan
tiada jadi menurunkan siksaan.

“Wahai, engkau, Hud-hud yang alpa..
Apa yang hendak engkau sampaikan tentang Negeri Saba?
Bila engkau benar dalam kabar berita;
ketahuliah bahwa dirimu lepas dari derita.
Namun, wahai engkau, Hud-hud yang ingin menyulam kata
engkau termasuk mahluk hina jika engkau berdusta.”


III

Sulaiman, aduhai Sulaiman tetap megah sepanjang zaman.
Sebab lepas dari syahwat yang menawan,
meskipun kuasa memegang begitu dahsyat kekuatan.

“Maha Suci Tuhanku dari semua yang ternodai.
Maha Terpuji Tuhanku Yang Pemurah yang telah memberkahi.”

Baginda Raja Segala Bangsa
sederhana dalam menggengam kuasa.
Paduka yang kenal diri
hingga bala tentaranya menyegani.
Maka Hud-hud yang patuh melanjutkan tutur;
tentang Ratu Balqis Penguasa Saba nan makmur.

“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka,
dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (5)

Sang pembawa kabar jujur
tak sesuatu pun tampak kabur.

“Sang Ratu telah lupa diri.
memimpin rakyatnya menyembah matahari.
Wahai, Yang Mulia, Raja Sulaiman..
Mereka berada dalam kemusyrikan.
Setelah Tuhan Yang Maha Pemurah
melimpahkan kemakmuran dan berkah.
Mereka kufur dalam nikmat
dan perbuatannya pun tersesat.”

Sang Raja Segala Bangsa
menyimak kabar dari Saba.

Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar,ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (6)


IV

Sulaiman, aduhai Sulaiman tetap megah sepanjang zaman.
Sebab lepas dari syahwat yang menawan,
meskipun kuasa memegang begitu dahsyat kekuatan.
Mengamanatkan Hud-hud pembawa kabar
maklumat terang menyebar syiar.
Dibawa terbang sepucuk surat
keterangan jelas berisi amanat.
Diterimalah oleh Balqis teralamat
segenap hati membaca hikmad.

“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (7)

Ratu Saba nan makmur
menilik sabda berisi tegur.
Ia bertanya pada pembesar
hendak mencari jalan keluar.
Para pembesar yang ingkar
luput mencerna maksud terkabar.
Mereka bingung urung mempersembahkan
pertimbangan yang Ratu usulkan.
Balqis, Ratu yang cemas
tahu diri melampaui batas.
Segunung resah telah membuncah
takut binasa dalam kancah.

Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri,niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” (8)

Keputusan pun telah ditetapkan;
dikirimlah wakil menjunjung pesan.
Dibawa serta buah tangan
hadiah istimewa mengandung kemungkinan.


V

Sulaiman, aduhai Sulaiman tetap megah sepanjang zaman.
Sebab lepas dari syahwat yang menawan,
meskipun kuasa memegang begitu dahsyat kekuatan.
Tibalah utusan menyampaikan titah
Ratu Saba mengirim hadiah.
Sulaiman Raja Yang Sabar
jauh godaan rayuan liar.
Baginda mensyukuri rahmat Tuhan;

maka menolak fana perhiasan.

“Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman,Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.” (9)

Pulanglah kini utusan Ratu
bertangan hampa diiringi malu.
Takut menyergap segenap tubuh
ancaman Raja merajam ruh.

“Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya,dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”. (10)


VI

Sulaiman, aduhai Sulaiman tetap megah sepanjang zaman.
Sebab lepas dari syahwat yang menawan,
meskipun kuasa memegang begitu dahsyat kekuatan.
Bermusyawarah di Istana Kerajaan
menuju mufakat demi kebijaksanaan.
Para pembesar juga memahami
persoalan akbar mesti disiasati.
Bertitahlah Raja Bijak Negeri
mencari penyelesaian dengan kompromi.
Tiada lupa kekuatan sendiri;
berfaedahlah segala yang dimiliki.
Ifrit cerdik mengajukan diri;
Singgasana Saba berpindah sebelum berdiri.
Cendikiawan mulia tak ketinggalan;
memecahkan masalah sebelum kedipan.

Sulaiman Raja megah sepanjang zaman
mengeluarkan titah penutup persoalan:

Dia berkata: “Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)”. (11)


VII

Sulaiman, aduhai Sulaiman tetap megah sepanjang zaman.
Sebab lepas dari syahwat yang menawan,
meskipun kuasa memegang begitu dahsyat kekuatan.
Menyebabkan Ratu Saba heran
ketika berjalan memasuki Istana berlian.
Disangka lantai kolam jernih
disingkaplah jubah penutup betis putih.

“Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar,dan disingkapkannya kedua betisnya.” (12)

Sebab insyaf akan mukjizat;
Sang Ratu Saba mampu melihat.
Akan betapa kuasanya Tuhan Yang Mulia;
Balqis yang sadar ditunjukkan pula.

“Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (13)

Demikianlah kiranya hikmah kisah
Sulaiman alaihissalam yang memperoleh berkah.

***

Keterangan Kutipan:

1. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 15
2. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 20
3. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 21
4. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 22
5. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 23
6. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 27
7. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 30
8. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 34
9. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 36
10. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 37
11. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 41
12. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 44
13. Al-Qur’an, Surah An-Naml : 44




Puisi


Sungguh …
Memahamimu seperti membaca buku
belum tuntas terbaca, belum lunas terkupas.

Mungkin terlalu tebal
dinding berlapis-lapis makna
sulit ditembus, susah payah diziarahi
mata zahirku yang perih
kurang tidur bertafakur
menelusuri aksaramu.

Engkau begitu pendiam
sosok introvert yang suka bersunyi-sunyi,
dikepung cermin memantul-mantul bayang sendiri,
riuh bersuara dalam ruang jiwa yang mencekam.

Maka engkau buat aku tertegun begitu lama,
terseret-seret penasaran mencari manfaat.
Dan kian lama engkau kulumat-lumat:
aduhai, haus ku jemput hasrat.

Apa gerangan dirimu dalam sabda keramat?
Selain kegelisahan jiwa tanpa nama,
ditindih rasa menggejolak sepanjang masa.

Itu pula rupanya dirimu - puisi bernyawa
menyimpan hakikat dan memikat
melalui maksud, eksentrik bercita rasa.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Enam Puisi Jok-Pin


1. Ulang Tahun


Hari ini saya ulang tahun. Usia saya genap 50.
Saya duduk membaca di bawah jendela,
matahari sedang mekar berbunga.
Seorang bocah muncul tiba-tiba,
memetik kembang uban di kepala saya.


Ya, hari ini saya ulang tahun ke-50.
Tahun besok saya akan ulang tahun ke-49.
Tahun lusa saya akan ulang tahun ke-48.
Sekian tahun lagi usia saya akan genap 17.
Kemudian saya akan mencapai usia 9 tahun.


Pada hari ulang tahun saya yang ke-9
saya diajak ayah mengamen berkeliling kota.

“Hari ini kita akan dapat duit banyak.
Ayah mau kasih kamu sepatu baru.”


Karena kecapaian, saya diminta ayah
duduk menunggu di atas bangku
di samping tukang cukur kenalan ayah.

“Titip anakku, ya. Tolong jaga dia baik-baik.
Akan kujemput nanti sebelum magrib.”



Sebelum magrib ia pun datang.
Tukang cukur sudah pulang. Anaknya hilang.

“Ibu tahu anak saya pergi ke mana?”

tanyanya kepada seorang perempuan penjaga warung.

“Dia pakai baju warna apa?”
“Dia pakai celana merah.”
“Oh, dia dibawa kabur tukang cukur edan itu.”



Sampai di rumah, ia lihat anaknya
sedang duduk membaca di bawah jendela.
Kepalanya gundul dan klimis,
rambutnya yang subur dicukur habis.

“Ayah pangling dengan saya?” bocah itu menyapa.


Lama ia terpana sampai lupa bahwa uang
yang didapatnya tak cukup buat beli sepatu.
Gitar tua yang dicintanya terlepas dari tangannya.
“Anakku, ya anakku, siapa yang menggunduli nasibmu?”


(2011/2012)



2. Ibu Hujan


Ibu hujan dan anak-anak hujan
berkeliaran mencari ayah hujan
di perkampungan puisi hujan.


Anak-anak hujan berlarian
meninggalkan ibu hujan
menggigil sendirian di bawah pohon hujan.

Anak-anak hujan bersorak girang
menemukan ayah hujan
di semak-semak hujan.
Ayah hujan mengaduh kesakitan
tertimpa tiga kilogram hujan.

Ayah hujan dan anak-anak hujan
beramai-ramai menemui ibu hujan,
tapi ibu hujan sudah tak ada
di bawah pohon hujan.

“Kita tak akan menemukan ibu hujan di sini.
Ibu hujan sudah berada di luar hujan.”


(2011/2012)


3. Sajak Kacamata


Saya tahu, jika saatnya tiba, saya akan memakai kacamata.
Kacamata yang kacanya terbuat dari kaca kata
dan matanya dari mata bocah yang haus cinta.

Ada senja kecil yang sedang berdoa di mata saya
dan doa terbaik adalah sunyi.
Seseorang akan memberi saya kacamata
untuk memancarkan cahaya sunyi senja
ke jalan-jalan yang dilewati puisi.

Saya tahu, pada akhirnya saya akan berkacamata.
Kacamata yang bingkainya terbuat dari logam mimpi
dan gagangnya dari tangkai hujan yang liat sekali.

Malam itu, setelah semuanya selesai, saya berjalan
menuju rumah mandi di atas bukit. Saya memakai kacamata
untuk menerangi jalanan gelap yang harus saya lalui.

Di rumah mandi telah berkumpul para kekasih insomnia.
Mereka semua mengenakan kacamata.
Seorang bocah menyambut saya dan berkata,

“Pesta mandi siap dimulai. Tuan sudah dinanti-nanti.”

Ia anak yang lahir dalam puisi; yang menjaga
sajak-sajak saya, bahkan ketika saya tak lagi berada
di tempat di mana ia berada. Ia yang memberi saya kacamata.

(2012)


4. Rumah Boneka

: Raden Suyadi

Kota telah tidur. Kata-kata telah tidur.
Hanya seorang pendongeng tua di atas kursi roda
mondar-mandir mengitari dingin malam
yang baru saja ditinggalkan para peronda.

Tiga orang boneka menghampirinya:

“Pak Raden, angin makin jahat.
Pulanglah ke rumah kami biar hatimu hangat.”


Di rumah boneka ia lihat fotonya selagi muda
sedang tersenyum kepada matahari
yang selalu tertawa. Tiba-tiba ia berdiri
dan tiga orang boneka menemaninya menari.

Tiga orang boneka akan menyelamatkan kenangan
dari akhir yang hampa. Selamat malam.

(2012)


5. Ingatan

Hujan masih mengingat saya
walau saya tak punya lagi daun hijau
yang sering dicumbunya dengan gila
sampai saya terengah-engah
menahan beratnya cinta.

Hujan masih mengingat saya
walau saya tinggal ranting kering
yang akan dipatahkannya
dan dibawanya hanyut dan sirna.

(2012)


6. Tangan Kecil

Tangan kecil hujan
menjatuhkan embun
ke celah bibirmu,
meraba demam pada lehermu,
dan dengan takzim
membuka kancing bajumu.

Tangan kecil malam
menyusup pelan
ke dalam hangatmu,
menemukan aku
yang sedang bergila-gila
di suhu tubuhmu.

(2012)

(*) Sumber Koran Kompas, Seni, Minggu, 15 April 2012

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha