Apa Jadinya Hidup Tanpa Mimpi dan Harapan?


Membaca cerpen PEMANGGIL BIDADARI karya Noviana Kusumawardhani yang dimuat di KOMPAS, 19 Februari 2012 yang lalu, saya agak terhanyut dengan cara penulis memaparkan pokok persoalan tentang harapan dan mimpi (baca: cita-cita) sebagai kekuatan utama manusia melayari samudra kehidupan dengan riak-riak gelombangnya.

Cerpen ini berkisah tentang kenangan pengalaman pribadi si-juru bicara cerita ‘Aku’ dengan orang terdekatnya ‘Simbah Ibu’, memaparkan secara apik bahwa sekiranya seseorang hidup hanya dengan menapaki setapak lengang tanpa harapan dan mimpi (cita-cita), maka hal itu sama kiranya dengan mengundang kematian (baca: penderitaan) lebih cepat datang daripada semestinya.

” Orang tanpa mimpi lebih dahulu mati daripada kematian itu sendiri.” “….karena hanya mimpi yang mampu meneruskan hidup. Karena mimpi adalah kekuatan.”

Beberapa makna tersirat yang dapat saya tangkap setelah membaca cerpen ini, penulis hendak menganjurkan kepada para pembacanya bahwa sekalipun seseorang tengah mengalami dera yang maha dahsyat, seperti kehilangan orang-orang terdekat yang sangat disayangi (juru bicara cerita: Aku, kehilangan Simbah Ibu yang merawatnya setelah kematian ibunda yang melahirkan, dan bapaknya pun menjadi gila), orang harus mampu tegar dan masih penuh harapan untuk meraih cita-citanya. Cobaan yang sangat berat bukanlah berarti seseorang harus larut dalam kesedihan. Tetapi, dengan senantiasa tak pernah putus asa dan mengharap pertolongan-Nya (penulis secara simbolis mengungkapkan rahmat Tuhan sebagai ‘bubuk bahagia yang disebarkan para bidadari turun dari langit kepada para penduduk kampungnya’.) seorang insan akan kuat dan bahagia.

Ada pesan relijius yang tersirat dalam cerpen PEMANGGIL BIDADARI. Penulis cerpen ingin mengatakan bahwa segala urusan yang ditimpakan kepada seorang manusia telah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan. Tangan-tangan misterius Tuhan bekerja, menuntun manusia menjalani kehidupan, mengajak ikhlas untuk menerima cobaan, tetapi dengan tetap mengingat-Nya sehingga pertolongan Tuhan dan rahmat-Nya akan tercurah langsung.

 Sebaliknya, jika suatu ketetapan yang dibuat-Nya untuk seorang anak manusia cenderung tak bisa diterima dan dengan kemarahan yang menutupi akal budi menolak takdir, maka jiwa individu tersebut akan mengalami kegamangan, terombang-ambing dalam ruang kepekatan duka, kosong tanpa harapan dan lemah. Hal ini secara deskripsi naratif yang simbolis diilustrasikan oleh penulis cerpen.

“Hingga satu hari entah karena terlalu renta atau karena memang sudah saatnya, Simbah Ibu pergi menemui Maha Cahaya. Sejak itu duniaku benar-benar gulita. Meskipun sebelum pergi Simbah Ibu sangat mewanti-wanti untuk tetap memanggil Bidadari di setiap malam, pesan itu tak pernah kujalankan. Aku begitu marah luar biasa, tidak tahu kepada siapa. Setiap malam aku memilih tidur untuk melupa kerinduanku pada Simbah Ibu daripada memanggil Bidadari untuk desaku. Demikianlah sejak Simbah Ibu pergi, tak ada lagi yang memanggil Bidadari. Tentu saja akibatnya malam semakin membuat kelam desaku.”

“Tak ada serbuk cahaya yang menaburkan cinta pada mimpi-mimpi mereka. Akibatnya setiap pagi orang-orang menjadi kekeringan oleh cinta karena pada darahnya tak lagi mengalir bahagia. Hidup menjadi penuh kekhawatiran karena orang-orang tak lagi mau bermimpi. Mereka takut untuk bermimpi. Mereka menjadi lemah. Tak ada lagi kekuatan untuk mengejar mimpi.”

Selanjutnya, penulis cerpen berbicara tentang kenangan pribadinya dan kesan yang ia rasakan.

“….. ingatan memang sangat kurang ajar, karena hanya ingatan yang mampu mengubah waktu dalam sekejap.”

Apa yang hendak penulis cerpen sampaikan dengan kesimpulan yang menyajikan sebab-akibat ini?

Saya melihatnya sebagai jalan pemikiran yang logis tentang bagaimana serentetan pengalaman pribadi yang terekam dalam memori jangka panjang individu sehingga menjadi kenangan tersendiri. Ini secara imajiner akan menyajikan suatu gambaran visual yang menyeret seseorang masuk kembali ke peristiwa-peristiwa tertentu yang pernah dialami. Kemudian melalui ingatan tersebut, maka terjadi sebuah upaya personal mengabadikannya menjadi ‘dunia dalam’ yang tak terlupakan sepanjang waktu dengan kesan dan tanggapan tersendiri (juru bicara cerita: Aku, mengalami kerinduan yang sangat menekan dan melankolis dengan kesenduan rindunya). Mari lihat lanjutan detail narasinya yang banyak memakai kata ‘tetap’, juga ada menggunakan kata keterangan kekerapan ’selalu’. Penggunaan frasa ‘luar biasa’ yang didahului kata ‘begitu’ juga dipakai untuk mengungkapkan kesan mendalamnya terhadap seseorang yang hidup di masa lalu.

“Rumah Simbah Ibu tetap sama dengan waktu aku tinggalkan dulu. Wasino tukang kebun kami tetap setia merawat rumah itu. Foto-foto mulai pudar warnanya tetap melekat pada dinding kamar. Ingatan memang memang sangat kurang ajar, karena hanya ingatan yang mampu mengubah waktu dalam sekejap. Seperti kembali di mana bau rokok klembak Simbah Ibu bercampur melati keluar dari sanggulnya menjadi bau yang selalu aku rindukan setiap pulang sekolah. Aku begitu rindu luar biasa pada perempuan itu.”

Terakhir, cerpen PEMANGGIL BIDADARI ini juga memaparkan tentang peran sosial individu dalam masyarakatnya. Penulis cerpen ingin mengatakan secara tersirat bahwa sekiranya seseorang memiliki kemampuan yang lebih dari orang kebanyakan, di mana kemampuan pribadi ini dapat merubah kelompok sosialnya ke arah kehidupan yang lebih baik, maka hendaknya seseorang yang berkemampuan lebih tersebut mesti ikhlas untuk membantu.

Demikian apresiasi cerpen indah PEMANGGIL BIDADARI karya Noviana Kusumawardhani yang bisa saya paparkan. Semoga catatan sederhana ini memberikan manfaat. Salam sastra.


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha