Sting and The Police : Selected Songs


Sting



Fields Of Gold
By Sting
Album Fields Of Gold
   
You'll remember me when the west wind moves
Upon the fields of barley
You'll forget the sun in his jealous sky
As we walk in fields of gold

So she took her love
For to gaze awhile
Upon the fields of barley
In his arms she fell as her hair came down
Among the fields of gold
Will you stay with me, will you be my love
Among the fields of barley
We'll forget the sun in his jealous sky
As we lie in fields of gold

See the west wind move like a lover so
Upon the fields of barley
Feel her body rise when you kiss her mouth
Among the fields of gold

I never made promises lightly
And there have been some that I've broken
But I swear in the days still left
We'll walk in fields of gold
We'll walk in fields of gold

Many years have passed since those summer days
Among the fields of barley
See the children run as the sun goes down
Among the fields of gold
You'll remember me when the west wind moves
Upon the fields of barley
You can tell the sun in his jealous sky
When we walked in fields of gold
When we walked in fields of gold
When we walked in fields of gold


Video Clip MP4 - Fields of Gold

Video Clip MP4 - They Dance Alone

Video Clip MP4 - Englishman in New York

Video Clip MP4 - Roxanne

1. Fields of Gold

2. Fragile

3. They Dance Alone

4. Englishman in New York

5. Roxanne

6. Sister Moon

7. Let Your Soul Be Your Pilot

8. If I Ever Lose My Faith in You

9. Little Wing

10. So Lonely

11. Every Breath You Take

12. Shape of My Heart

13. Desert Rose

14. We'll Be Together

15. History Will Teach Us Nothing

16. De Do Do Do, De Da Da Da

17. The End of the Game

18. Every Little Thing She Does Is Magic

19. I'Mad About You

20. When We dance


Sting's photograph is taken from HERE

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Catatan Malam


1. Kebebasan Absurd


Saya mungkin terlalu cepat memutuskan. Saya begitu tergesa-gesa sampai pada penetapan. Namun, ini tentunya mengungkapkan diri saya sebagai bagian dari mahluk sehari-hari.

Sebagai manusia sehari-hari, apakah saya suka berlama-lama? Oh, tidak sama sekali! Sebaliknya, saya senantiasa suka mengejar-ngejar. Demi tujuan apa? Tak lain untuk "menjadi sesuatu".

"Menjadi sesuatu" tentu saja penegasan dari eksistensi. Maka, konsekuensi apa yang mesti saya tanggung? Saya menghapus diri sendiri selama beberapa jenak demi menemukan diri saya lagi.

"Menghapus diri" saya yang lama agar lahir diri saya yang baru. Bukankah ini sama saja saya menetapkan diri sebagai penggemar pertunjukan panggung? Di sana saya pun melihat diri sendiri memerankan berbagai tokoh. Peran demi peran saya lakoni. Ketika sampai pada peran saya yang keseratus, ada sebuah harapan menyembul seperti seekor kelinci yang kecut karena menghindar dari tatapan jalang anjing pemburu. Saya dipengaruhi perasaan cemas karena berharap pada peran yang keseratus itu; saya lebih mengenal diri sendiri. Saya bisa akrab lagi dengan diri sebagai kesatuan tubuh dan jiwa. Setelah saya melewatkan berbagai petualangan, ketika sederet tawaran hidup yang di dalamnya kegetiran atau pun kebahagian sulit dikenali sebab menyatu padu, yang pada akhirnya memaksa saya menerima puisinya tanpa melankolia.



2. Psychological Runaway

Pada suatu pagi yang sejuk ketika butiran embun tersasar gagal menghalau kepekatan malam masih saja berkilauan, seekor burung pagi liar tiba-tiba bersenandung merdu.

Saya kira bukan suatu kebetulan. Saya pikir bukan maksudnya menyapa hangat saya yang terkesima. Baiklah kalau begitu saya terima saja dalam suatu kondisi saya dan burung liar itu adalah dua mahluk yang sama-sama memuja pagi.

Saya biarkan diri saya terlena begitu lama oleh alunan kicaunya yang merdu. Seperti do'a tulus yang dipanjatkan ketika rasa syukur bersimaharaja dalam kerajaan hati karena anak-anak panah berkah langit melesat tepat ke jantung hidup, saya pun hanyut. Suatu tamasya psikis yang direncanakan.

Waktu pun berjalan seperti terburu-buru. Dan, saya terengah-engah menangkap kesadaran yang sejak tadi melayang. Saya mesti cepat dan tangkas memekarkan jemari saya serupa jaring agar kesadaran bisa membawa pulang kembali. Alhasil, rupanya saya mesti berusaha lebih keras lagi hanya agar dapat jelas melihat. Supaya saya bisa hidup lagi dengan segenap pengetahuan lengkap yang berseru lantang: "Inilah diri saya!"

Merangkum hikmah dari peristiwa ini saya berpendapat:

"Ketika menghayati alam cukup menghabiskan waktu, maka ada baiknya aktivitas pengganti yang jelas, yang dapat terindera tetapi tidak menghanyutkan, yang mana kesadaran melayang bisa ditangkap dengan cepat kembali, agaknya harus dihadirkan."


3. Apa yang Sudah Kau Temukan?

"Ceritakanlah padaku," kata seorang sahabat. Sebuah cerita yang mungkin bisa merekam hari ini telah diringkas menjadi citra yang menarik. Atau mungkin satu buntalan kesan dari pengalaman terbaru, yang tak bisa lagi kau bawa kemana-mana. Sudah tak sanggup mau kau pikul, dibawa berjalan terasa membebani. Dan kau agaknya sedang bermurah hati, berkenan berbagi denganku.

Bisa jadi nanti menerbitkan sebuah kisah, bila dituturkan akan membawa benak dan jiwa yang lelah berubah bergairah. Mungkin saja menunggu tak lagi membosankan dengan ceritamu. Sebab, ceritamu itu sebuah dunia yang sedang menawarkan selaksa peristiwa.

Ya, ceritakanlah padaku tentang apa yang menurutmu menarik, dapat menuntun kau dan aku menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini:

"Seberapa banyak kebaikan telah kau temukan dari upaya menerobos belukar peristiwa sepanjang waktu?

Seberapa tahan dirimu menanggung luka perjalanan itu?

Seberapa mampu kau tetap sadar ketika kau tiba di istana indah dengan segala kesenangan yang membuatmu lupa?
"

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Jesslyn Hartania, Pelukis Cilik yang Kreatif




Prestasi yang dicapai seseorang tentunya sangat tergantung pada ketekunan dan kreativitas yang tinggi disertai minat yang kuat dari dalam diri. Selain itu, bimbingan yang tepat untuk mencapai keberhasilan seorang individu dalam mengembangkan bakat dan kemampuannya turut pula berpengaruh.

Jesslyn Hartania, pelukis cilik yang masih duduk di kelas IV SD Xaverius II Kota Jambi, memiliki segudang prestasinya di bidang seni rupa berkat ketekunan dan kreativitasnya dalam menuangkan imajinasi menjadi karya lukis.


Ia telah memiliki dua ratusan lebih piala dan penghargaan yang tertata rapi di tiga lemari kaca di rumahnya dari mengikuti berbagai event lomba melukis.


Dengan bimbingan guru lukisnya, Bapak Jekky yang juga seorang pelukis, Jesslyn mampu melihat suatu benda jika diberi paduan warna yang tepat, objek untuk dilukis yang sesuai; benda tersebut akan tampil menarik dengan nilai estetika yang tinggi. Dengan keyakinan ini pula, putri dari Bapak Aseng dan Ibu Meri ini berani bereksperimen melukis tak hanya di kertas dan kanvas, tetapi ia juga menuangkan imajinasinya ke media lain untuk dilukis, yakni ember bekas cat.




“Jesslyn itu tak hanya punya daya tangkap yang cepat. Awalnya dia mengamati contoh yang diajarkan. Sudah itu dia kembangkan sendiri. Entah dengan penambahan objek, arsiran dan warna campurannya sendiri,” kata guru lukisnya, menerangkan bakat dan kemampuan pelukis cilik kreatif ini.

“Kok, dia bisa berpikir melukis tak hanya bisa di kanvas?” penulis heran, bertanya pada guru lukisnya.

“Ya, itu lah Jesslyn.. Imajinasinya luar-biasa. Ember bekas pun bisa disulapnya jadi karya lukis, hehehe…” seloroh guru lukisnya menanggapi.



* Sumber semua foto dari FB guru lukis Jesslyn Hartania

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Struktur Perbuatan dalam Sebuah Narasi


Tiba-tiba lelaki itu menggebrak meja dan berteriak marah. Matanya nyalang, menatap penuh kemurkaan terhadap lawan bicaranya. Ia muntab dituduh telah menipu lawan bicaranya itu. Padahal ia merasa tak melakukannya. Tak pelak lagi, lelaki itu menghunjamkan kepalan tangannya langsung ke wajah lawan bicaranya yang terjengkang ke lantai.

Fragmen di atas secara implisit menerangkan tokoh utama cerita dalam kondisi yang sedang marah.  Mengapa narasi yang dilukiskan tidak langsung saja mengatakan 'lelaki itu dilanda marah'? Mengapa mesti ada unsur-unsur lain yang menerangkan tentang struktur bentuk perbuatan marah yang sedang dialami si tokoh cerita? Secara ringkas kita bisa menjawabnya: inilah bedanya sebuah narasi. Suatu bentuk pelukisan 'tindak-tanduk / perbuatan' dalam arus gerak yang dinamis.

Narasi memang memberikan pengertian tentang perbuatan melalui serangkaian aksi. Karena, narasi melihat perbuatan bukan sebagai peritiswa bisu, tanpa gerak dan bersifat statis. Kekakuan tentu saja adalah hal yang paling dihindari dari sebuah narasi cerita. Sebab, narasi ingin memberikan pembaca sebuah pengalaman langsung dari persoalan yang ingin disampaikan oleh narator / pencerita.

Narasi memberikan perincian tentang sebuah peristiwa berbeda dari yang diterangkan oleh deskripsi yang hanya melihatnya sebagai keadaan 'yang apa adanya'. Perincian tersebut tampak dari komponen-komponen lain yang saling berhubungan, yang tujuannya membentuk pengertian pokok. Mari lihat contoh lainnya lagi, yang menerangkan peristiwa perselisihan / pertengkaran.

Angin Sirocco bertiup pada hari itu, sebuah angin basah dari Afrika, sebuah angin yang jahat! Ia mendongkolkan urat-urat syaraf dan menyebabkan orang-orang berprilaku buruk. Itulah mengapa dua orang sopir taksi, Giuseppe Cirotta dan Luigi Meta, berselisih. Percekcokan pecah dengan tiba-tiba, tak ada orang yang tahu siapa yang memulai, tetapi orang-orang melihat Luigi melemparkan dirinya kepada Giuseppe dan mencoba untuk menangkap lehernya. Dan, Giuseppe mengelakkan kepalanya, menyembunyikan leher merah tebalnya, mengangkat kepalan tangannya yang hitam berat. Mereka bergumul. ( Narasi pembuka dari cerpen Karya Maxim Gorky : Hukuman )

Pengertian dari perselisihan diterangkan melalui rangkaian adegan-adegan yang hidup, tempat dan suasana yang menglingkupi, yang pada akhirnya menuju pada titik sentral peristiwa yang dinamis ─ bergumul. Pada diri pembaca akan terasa sebuah pengalaman langsung, terbentuk pengertian tentang kata pertengkaran yang bukan bersifat definitif semata. Pembaca seolah-olah menyaksikan langsung setelah itu memahami berdasarkan kesaksiannya. Itulah kelebihan narasi dalam hal memberikan pengertian melalui lukisan adegan-adegan lain yang saling berhubungan. Gambaran pengertian yang diberikan mengajak pembaca memasuki sebuah peristiwa langsung.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Pembajakan Amarah


Awalnya Bang Mamat dan Bujang hanya berdebat biasa di halaman musholla selepas menunaikan ibadah sholat Maghrib. Mereka saling melemparkan pendapat masing-masing mengenai prasyarat yang harus dimiliki seseorang jika ia mau jadi imam.

"Mat.. Jadi imam tuh, pelafazan ayat-ayat yang dibaca harus pas. Tahu mana yang mesti dipanjang-pendekkan. Bukan sembarangan kayak kamu tadi.." kata Bujang dengan mimik wajahnya yang cukup serius.

"Ini sudah gak bisa ngucapin huruf 'R' dengan jelas, cedal sok PD pula jadi imam sholat. Cobalah tahu diri. Kasih kesempatan sama orang yang paham macam Aldi. Walaupun dia lebih muda dari kamu, tapi kalau ilmunya lebih mapan soal agama, yah suruh dia yang jadi imam.."

Merah padam muka Bang Mamat mendengarnya. Ia tampaknya tersinggung sekali dianggap 'orang yang tak tahu diri'. Padahal ia merasa amat kenal dengan dirinya sendiri. Emosi negatif membajak rasionalitasnya. Serta merta ia membalas perkataan Bujang yang baginya terkesan 'meremehkan' kemampuan dirinya untuk jadi imam itu.

"Ah, kamu sok tahu.. Baru juga kemarin ngerasain udara segar. Selama ini kan kamu di penjara.. Lha, kok sekarang sok hebat pula nasehatin orang. Urus dulu dirimu sendiri. Baru nyeramahin orang.."

"Oh, itu soal lain.. Gak ada hubungannya dengan ini. Aku memang bekas napi, Mat.. Aku sudah dapat imbalan pantas dari kesalahanku dulu. Tapi, soal yang kita omongin ini lain. Setahuku memang gak boleh orang yang kurang fasih membaca ayat-ayat dan belum paham bener jadi imam sholat.."

Belum selesai Bujang memaparkan pendapatnya, Bang Mamat memotong dengan kata-katanya yang cukup tajam menusuk:

"Sudahlah jangan sok nasehati orang. Urus dirimu sendiri. Gajah di depan mata gak kelihatan denganmu, kuman di seberang lautan nampak aja. Kekurangan orang sibuk kamu beberkan, dirimu sendiri berantakan. Mantan napi pake acara nyeramahin orang!" katanya ketus. Alhasil, kini Bujang tampaknya juga telah dibakar api emosinya.

"Sekarang mau kamu apa, Mat!?" tantangnya dengan nada membentak karena merasa dihina. Martabatnya seolah diinjak-injak. Harga dirinya tercabik.

"Terserah kamu!" balas Bang Mamat sengit yang perasaannya telah terluka dari tadi, dan mendorong dada seterunya itu.

Akibatnya, perkelahian tak dapat dihindarkan. Seketika mereka berdua menjadi sangat murah hati. Hati keduanya tergerak untuk saling berbagi bogem mentah di wajah, kepala dan badan satu sama lain. Postur tubuh Bang Mamat yang kurus tinggi dan bertungkai lengan panjang itu membuatnya merasa difasilitasi. Ia cukup menuai sukses menganugerahi Bujang sejumlah 'straight-jab' cepat bertubi-tubi. Tentu saja ia dengan mudah menyarangkan sejumlah pukulan karena ia 'bertangan - panjang'. Dan, salah satunya telak mendarat di pelipis lawan. Darah segar pun mengucur.

Merasa strategi pertarungan jarak jauhnya tak mendukung karena badannya yang pendek gempal menjadi bulan-bulanan pukulan, Bujang pun serta merta mengubahnya. Setelah ia menghadiahi Bang Mamat dengan "hook" kanan kuat mendarat di rahang, Bujang tampak menyeruduk lawannya serupa banteng mengamuk. Kiranya strategi barunya ini cukup baik. Tubuh jangkung lawannya yang melambai mirip sebatang bambu itu kini oleng dan jatuh.

Apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata sebuah pertandingan gulat amatir tengah digelar. Betapa cepat satu jenis cabang olahraga keras berganti dengan jenis lainnya lagi. Ah, seandainya mereka berdua menyadari bakat terpendamnya masing-masing, dan menemukan tempat berlatih kemampuannya yang tepat, niscaya mereka akan menjadi petinju professional atau bisa jadi pegulat yang hebat.

Kini mereka tampak asyik sekali memiting bak kepiting kawin. Berguling-gulingan mencari celah untuk menyarangkan pukulan telak jarak pendek. Mereka sudah tak peduli lagi sedang disaksikan orang banyak yang berada di depan musholla. Suasana kian memanas saja. Dua orang yang tadinya sebagai imam dan makmum itu kini ingin pula saling mencekik. Pemandangan tampak begitu seru dan menarik. Ya, sebab keduanya begitu bersemangat menuntaskan pertandingan dan memperoleh kemenangan. Kemenangan untuk siapa? Inilah yang mesti dipertanyakan nanti bagi mereka berdua.

Debu-debu membumbung menyemarakkan seumpama arena pertempuran yang menjadi ajang adu dua kekuatan besar. Ya, debu-debu yang berasal dari perasaan terluka itu rupanya telah juga menutupi penglihatan jernih pikiran rasional mereka. Jika tidak dipisahkan jamaah lainnya, tentu saja peristiwa ini akan menimbulkan kerepotan tersendiri, butuh biaya pengobatan pelipis Bujang yang mengucur darah, membeli satu gigi seri Bang Mamat yang lepas dan trofi atas kemenangan emosi negatif (amarah) yang membajak. Sungguh ironi yang dramatis.

Begitulah pembajakan yang dilakukan oleh "amarah". Orang akan mudah sekali tersulut melakukan tindakan destruktif sesaat tanpa sempat ia mempertimbangkan akibatnya. Bahkan untuk hal-hal yang sepele sekalipun jika diri dikuasai amarah; alhasil soal untung-rugi dari melampiaskan nafsu jahat itu jarang sekali dipikirkan. Yang penting tersalurkan walaupun nanti dengan pikiran reflektif pasca peristiwa dramatis mengkompensasikan amarah, rasa sesal yang biasanya datang terlambat itu cukup berhasil menyesakkan dada.

Benarlah yang dikatakan seorang filsuf Yunani klasik, Aristoteles. Melihat adanya potensi merusak dari melampiaskan amarah pada diri tiap individu, sang filsuf pun menjelaskan:

”Siapa pun bisa marah-marah, itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik-bukanlah hal mudah.”




Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Lolongan Tengah Malam


lolongan-tengah-malam-ilustrasi-yuyun-nurrachman


Namun jangan kira bahwa hidupku sesederhana itu. Tidak. Sama sekali tidak. Nasib tak pernah membeda-bedakan siapa pun. Semua diajaknya bermain. Semua mendapatkan jatah.

Jadilah diriku. Cobalah masuk ke dalam tubuhku yang sering kalian hina ini. Siang yang memanggang ketika itu. Hidungku menemukan bau yang amat menggoda. Lapar menyeretku untuk terus mengikuti bau itu. Masuk ke sebuah gang sempit, menemukan sebuah pagar, lalu sebuah pintu yang terbuka lebar, dan bau itu semakin kuat menarik langkahku. Kupikir nasib akan berbaik hati. Namun sungguh tak kusangka bahwa ia akan menghadiahiku sebuah pukulan telak yang tiba-tiba.

Rembulan mengapung, rembulan tenggelam. Dan bau sedap yang masih meninggalkan bekasnya dalam hidungku itu pun sampai meresap ke dalam mimpi-mimpi yang kelam. Kuhitung, hingga tujuh kali rembulan melakukan itu, hingga kaki kiri depanku yang patah akhirnya pulih dan nyaman kembali untuk melangkah.

Apa ada yang peduli denganku? Tidak. Sebab tidak ada yang sesekali waktu mau menjadi diriku. Sepertinya aku memang sengaja dilahirkan untuk menjadi yang tersingkir dan tak layak untuk diperhatikan.

STASIUN. Lagi-lagi aku membeku di stasiun ini. Tak tahu kenapa aku begitu menyukai tempat ini. Setiap kali malam datang menyelimuti tempat ini, kalian pasti bisa menemukanku di tempat ini. Lalu ketika malam terusir cahaya pagi, aku akan tertegun seperti embun di sini. Mengamati orang-orang yang saling berebut masuk ke dalam perut kereta. Membayangkan seandainya aku adalah kereta itu, yang setidaknya punya tujuan ke mana harus pergi setiap hari.

“Mau pergi ke mana?”

Sikapnya ramah sekali ketika itu.

“Mencari siapa?”

Kupikir dia akan menjadi penolongku untuk tahu ke mana aku harus pergi.

“Sudah makan?”

Mula-mula dia membuatku betah.

Kupikir stasiun itu akan menjadi tempat yang nyaman untukku singgah sebentar dan lalu berpikir ke mana harus pergi nanti. Tapi ternyata tak. Dia seperti malam yang membekap terang dengan gelap. Hari diperkosanya paksa hingga semuanya menjadi sepi dan hening sekali. Dan stasiun itu kini telah berumur tiga tahun dalam kepalaku. Namun masih saja membuatku bingung ke mana harus pergi saban hari.

“Kampung asalmu di mana?”

Mereka pun tahu bahwa aku tak punya tujuan.

“Ikut aku saja ya?”

Jeli sekali mata mereka.

Samar-samar aku masih ingat, bahwa dulu, dulu sekali, aku pernah punya tujuan. Sebuah tempat nyaman dengan kehidupan sebagaimana layaknya para perempuan. Masa gadis yang kemanja-manjaan, menikah, merindukan buah hati, mengurus rumah, mengurus segala. Di tempat itu banyak sekali keinginan yang berjuntaian dalam kepalaku. Namun, entah apa itu yang menimbun hingga semuanya menjadi samar-samar. Bahkan sekarang hampir hilang. Membuatku kadang kebingungan setengah mati hendak melakukan apa saat cahaya membuka hari.

Para lelaki yang suka tertawa nakal. Riuh sekali tangan mereka. Seperti gelap yang suka menyelinap ke dalam bilik-bilik kumuh. Tanpa memedulikan rasaku.

Dan aku pun menjadi semakin limbung kemudian.

AKU sering melihatnya mematung di bangku peron itu. Memandangi kereta yang pergi seolah jiwanya juga ikut terbawa pergi olehnya. Sesiangan ia akan di situ, sejak cahaya memaksaku membuka mata hingga peron semakin padat dan ia kelihatan tak nyaman. Di malam hari, ia sering dijemput oleh ganti-ganti lelaki.

Mungkin kalian sering melihat bibirnya tersenyum dengan balutan merah menyala. Mungkin kalian sering melihatnya tampak bahagia. Tapi tidak di mataku. Entahlah. Apakah karena aku tahu segalanya tentang dia, bahkan sejak pertama kali ia menetap di peron ini?

Aku pernah melihatnya tersedu di sudut gelap tempat ini. Aku pernah mencium bau amis darah dari tubuhnya setelah keluar dari kamar mandi stasiun ini. Aku pernah melihatnya menggigil sendirian seperti sekarang.

Di sebuah bangku kayu tak jauh dari stasiun, ia tampak menggigil dalam rahim gelap. Aku tak yakin bahwa ia sedang menunggu—lelaki entah—seperti biasanya, sebab sejak beberapa hari lalu aku sudah melihat gelagatnya yang terlihat enggan bersua dengan mereka.

Sudah lama aku ingin mendekati dan sekadar menyapanya dengan suara lembut. Ingin sekali kukatakan bahwa ia tak sendiri dalam balutan nasib yang begini. Tanpa kunyana tiba-tiba saja ia melemparkan sepotong roti untukku.

Sebenarnya hidungku menolak makanan itu. Namun perutku tak mau berbohong. Liur jadi semakin menetes-netes setelah hasrat yang telah empat hari menyiksaku ia pancing lagi keluar. Aku tahu ia sebenarnya baik. Aku bisa mencium bau hatinya. Tak seperti kebanyakan orang lain yang selalu terlihat nyinyir karena memandang rupaku.

Tak cuma sekali dua aku terleceh semacam ini. Terleceh dengan comberan, batu, pentungan, letusan yang memekakkan telinga, bahkan aku juga pernah selamat dari maut setelah mengunyah daging ayam yang sepertinya telah dibubuhi racun. Entah apa salahku. Padahal tak pernah sekalipun aku menyalahi mereka.

Pastilah tersebab wajahku ini. Pastilah tersebab tubuh yang membungkusku ini, sehingga mudah bagi mereka melempar olok-olok, mudah bagi mereka mengataiku kotor. Maka, betapa bersyukurnya aku kepada perempuan ini, yang tak terkecoh dengan rupaku. Pastilah hatinya dipenuhi cahaya cinta yang begitu hangat.

MALAM menjumpaiku lagi. Seperti kemarin-kemarin, ia mengajak serta sepi yang selalu ingin membuatku tersungkur. Alangkah beruntungnya ia diciptakan dengan memiliki tujuan pasti seperti itu. Tak seperti aku yang kadang linglung tak tahu arah saat sepi berhasil menyekap.

Tujuan itu, sebenarnya siapa yang menentukan? Kita sendiri, ataukah sudah ditentukan sejak lahir? Jikalau kita sendiri, kenapa siang dan malam terus saja berputar seperti itu? Jikalau sudah ditentukan semenjak lahir, kenapa aku bisa kehilangan arah seperti ini?

Ataukah ini karena ada yang salah denganku?

Bahkan semuanya memiliki tujuan. Aku telah memerhatikannya setiap hari. Kereta, orang-orang, pohon mangga di belakang stasiun, kucing betina yang baru saja melahirkan dalam gudang stasiun…, sepertinya hanya aku yang kehilangan tujuan. Meskipun tiap malam telah kuserahkan segala yang kupunya kepada gelap demi dapat terus bertahan memeluk hidup. Tetap saja hidup tak mau berbaik hati menunjukkan arah kepadaku. Mereka bahkan semakin merendahkanku ketika kotoran semakin tebal memenuhi tubuhku. Maka salahkah jika ingin kuakhiri saja hidupku yang tak memiliki tujuan ini? Toh hidup mati sama saja tak ada guna.

AKU melolong panjang ketika kulihat dirinya tiba-tiba  menggelosor dan lalu tergolek lemah. Kupanggil siapa saja agar cepat-cepat datang ke sini untuk menolong.

Anjing bodoh. Anjing bodoh. Mau apa dia menyeret-nyeret tubuhku yang sudah sekarat ini? Seharusnya pergi saja dia setelah mendapatkan roti itu. Jangan urusi urusanku. Sakit dan luka ini adalah milikku sendiri. Takkan pernah ada siapa pun yang bisa ikut merasakannya. Juga ketika seorang dokter bilang bahwa aku harus bersabar dengan penyakit kelamin yang mungkin tak akan tersembuhkan lagi.

Dia harus hidup. Dia harus hidup. Hanya dia yang ternyata peduli kepadaku, tanpa memandang apa rupaku. Jika dia mati, di mana lagi aku bisa menemukan yang seperti dirinya?

Maka aku pun semakin melolong panjang memanggil siapa saja. Apakah kalian mendengar lolonganku? Tolong, tolonglah kami! (*)
Catatan :
1. Tentang Pengarang : Adi Zamzamtinggal di Desa Banyuputih, Kalinyamatan, Jepara.

2. Sumber cerpen dari : Koran Tempo, Minggu, 22 Juli 2012

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Antara Subjektifitas Penulis, Karya dan Khalayak Pembaca


Jika penulis bermaksud memberitahukan “sesuatu yang bernilai guna”, maka ia berdiri pada posisi sebagai subjek pemegang informasi penting yang sangat dibutuhkan oleh khalayak pembacanya. Tentunya informasi yang sedemikian telah didapatkannya melalui serangkaian pengalaman khususnya di realitas, diintisarikan melalui analisa guna mengambil manfaat dan berfungsi sebagai bahan mentah tulisannya, akhirnya disusun untuk dikomunikasikan dengan cara tertentu pula yang menarik perhatian pembaca.

Dalam kegiatannya ini, penulis tak bisa menampik betapa cantiknya dan halusnya rayuan keinginan mengungkapkan pendapat pribadi dan penafsiran subjektif atas pengalaman berkesan yang ingin dibagikannya melalui karya tulis. Bila ia tergoda melakukannya, maka khalayak pembaca merasa seperti seorang pendengar yang dipaksa menyimak buncahan keluh-kesah dari penulis saja padahal pembacanya juga sedang berada dalam keadaan tak nyaman. Benak pembaca digiring untuk membenarkan sikap dan pandangan penulis yang subjektif realitas teramati. Apa reaksi dari pembacanya? Jangan salahkan jika karya tulis yang susah payah disusun, menyita waktu dan konsentrasi penulis sedemikian rupa, langsung ditinggalkan tanpa permisi lagi. Mengapa pembaca terkesan berprilaku sangat kasar terhadap penulisnya? Ya, ini karena kelakuan si penulis sendiri yang dari awal proses komunikasi ide cenderung meniadakan keberadaan pembacanya. Subjektifitas penulis yang tertuang di dalam karya menghasilkan pengasingan bagi eksistensi diri pembaca. Hal ini menyebabkan rubuhnya jembatan yang menghubungkan antara harapan khalayak pembaca menyimak dengan tujuan penulis menyampaikan gagasannya melalui karya.

Penyebab utama kegagalan ini adalah karya tulis yang dibuat penulisnya tak memiliki peran fungsional sebagai media penghubung bagi pembaca mendapatkan hal yang bermanfaat dan bernilai. Pembaca melihat melalui ketajaman pisau analisanya bahwa penulis secara subjektif hanya sedang bersemangat mengekspresikan serangkaian pendapat hasil perenungan kamar gelap (private meditation), membuka aliran deras ekspresi emosional (self-expression) semata. Kurangnya abstraksi yang dapat secara jernih memproyeksikan kembali ide tulisan, sehingga mampu membuat pembaca betah dan tekun menyimak, sebab ia mengharapkan hal yang bermanfaat sebagai bayaran pantas dari kesediaannya membaca karya.

Sesungguhnya bisa dikatakan bahwa sebuah karya tulis adalah testimoni yang sedang diungkapkan penulisnya secara langsung, bagaimana pun juga mesti mempertimbangkan keterkaitan dari subjek yang ditulis dengan harapan tertentu dalam diri khalayak pembaca. Dalam konteks ini Jimmie Wayne Corder (1979 : 76) dalam bukunya Contemporary Writing : Practice and Process, dengan panjang lebar mengungkapkan pendapatnya mengenai ini:

“When you write about a subject, your writing is testimony that you have experienced the subject in some way, learned it in some way, thought about it in some way. If you expect to have a reader, then it is only fair to remember that the reader can have some expectations of you, that you are writing about the subject because it has some kind of meaning and value, that you believe can be conveyed to another.”

Jelas sekali bukan? Penulis melalui karyanya sedang berupaya mengungkapkan secara jujur apa yang telah dialaminya setelah ia berinteraksi di realitas faktual. Sebelum karyanya dihidangkan sebagai sajian lezat ruhaniah kepada khalayak pembacanya, ia dengan serius dan teliti mesti menelaahnya. Tujuannya tentu saja untuk menemukan hikmah dari pengalaman khusus yang akan dikomunikasikannya kepada pembaca. Setelah dirinya cukup yakin bahwa ada hal yang bernilai guna dalam karya tulisnya, ia baru menyampaikannya. Harapan dalam diri pembacanya telah dipertimbangkan dengan bijaksana oleh si penulis. Ia tahu jika karyanya tidak menawarkan apa pun yang baru dan berharga bagi pembaca; oleh sebab itu, si penulis mesti rela mengurut dada ketika pembacanya langsung menghilang dari hadapannya. Lenyapnya medan magnet yang mampu menarik perhatian pembaca terhadap subjek tulisan bisa diumpamakan dalam ungkapan berikut:

“My sweetheart, will you still love me tomorrow?” he felt doubtful about his lover.
“About my love for you and tomorrow?” she said, “No need to worry about it. We’ll see later. If you treat me good, I may love you tomorrow, OK?”



Pembaca adalah kekasih yang mengharapkan perlakuan layak dan manis dari si penulis. Bagaimana bisa penulis menuntut kesetiaan pembacanya yang berkelanjutan jika ia hanya fokus menuruti kehendak pribadinya saja? Setiap kalimat dalam tulisannya hanya berisi pandangan pribadi dan generalisasi pokok bahasan saja berdasarkan penelaahan subjektif. Penulis tak mau peduli dengan harapan pembaca yang ingin mesra berhubungan. Sebagai pribadi penulis lalai memberikan perlakuan istimewanya dalam pemaparan subjek tulisan yang bernas dan dapat memberikan “sesuatu yang didambakan” oleh khalayak. Abstraksinya terhadap subjek yang mau disampaikan belumlah lengkap.

Akhirnya, pembaca hanya memandang kemesraan antara dirinya dengan karya tulis si penulis sebagai petualangan cinta yang situasional, pragmatisme dalam diri pembaca yang harapannya tak diwujudkan pun bermain. Ia hanya setia terhadap karya yang memberikannya manfaat demi pengembangan pemahaman, sekaligus menawarkan kecemerlangan jiwa setelah ia membaca.

Tulisan saya ini pun sebenarnya juga tak terlepas dari testimoni. Saya mengakui bahwa saya sebagai penulis amatir, saya masih berproses untuk mampu memproduksi karya tulis yang ‘tak egois’ karena cuma mengalirkan lava ekpresi pribadi. Saya berharap dengan terus-menerus menelaah pentingnya mempertimbangkan harapan pembaca ketika ia menyimak subjek yang sedang dideskripsikan, kelak pembaca yang setia bersedia menjadi ‘kekasih’ bagi karya tulis saya. Semoga saja dengan mempertimbangkan hal ini, karya tulis saya tak lagi semata menawarkan sebundel proposal berahi dari dalam diri saya sebagai penulis yang berisi ketergesaan memuncratkan gagasan ke lubang saluran kreativitas, klimaksnya berujung pada alienasi eksistensi pembaca.

Mudah-mudah dengan senantiasa memposisikan harapan pembaca untuk mendapatkan hal yang bermanfaat dari karya yang sedang dibacanya sebagai hal yang penting, ini akan mampu menjembatani penulis, karya tulisnya dan khalayak pembaca dalam suatu hubungan resiprokal saling menguntungkan.

(*) ilustrasi dari yunedlukfi blogspot com

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Sajak Sufistik Karya Jalaluddin Rumi


Maulana Jalaluddin Rumi


Jalaluddin Rumi seorang sufi yang terkenal namanya sampai kini. Syair-syairnya sangat indah dan dalam maknanya, sebagaimana yang bisa kita cermati berikut di bawah ini:


1. Kearifan Cinta

CINTA yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.
Namun kenikmatan itu,
jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya
kekasih yang sadar akan hadirnya seseorang


2. Nafsu

Nafsumu itu ibu segala berhala
Berhala kebedaan ular sawa
Berhala keruhanian naga
Itu ibarat perumpamaannya
Mudah sekali memecah berhala
Kalau diketuk hancurlah ia
Walau batu walaupun bata
Walau ular walaupun naga
Tapi bukan mudah mengalahkan nafsu
Jika hendak tahu bentuk nafsu
Bacalah neraka dengan tujuh pintu
Dari nafsu keluar ma’siat setiap waktu.
Mencintainya ini
sebagaimana kenikmatan lelaki
yang memeluk tugu batu
di dalam kegelapan sambil menangis dan meratap.
Meskipun dia merasa nikmat
karena berfikir bahwa yang dipeluk adalah kekasihnya, tapi
jelas tidak senikmat
orang yang memeluk kekasih sebenarnya
kekasih yang hidup dan sadar.


3. Cinta

“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih
jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap
orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih
yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia
begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang
tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan
mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika
kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.


4. Kekasih

Tentang seseorang di pintu Sang Kekasih
dan mengetuk. Ada suara bertanya, “Siapa di sana?”
Dia menjawab, “Ini Aku.”
Sang suara berkata, “Tak ada ruang untuk Aku dan Kamu.”
Pintu tetap tertutup
Setelah setahun kesunyian dan kehilangan, dia kembali
dan mengetuk lagi. Suara dari dalam bertanya, “Siapa di sana?”
Dia berkata, “Inilah Engkau.”
Maka, sang pintu pun terbuka untuknya.


5. Mujahadah dan Makrifat

Makrifat itu pengenalan jiwa
Mengenal jiwa dan mengenal Tuhannya
Mengenal dengan sejelas jelasnya
Tidak kabur tapi jelas nyata
Mujahadah itu perjuangan dan usaha
Makrifat itu menuai hasilnya
Mujahadah itu dalam perjalanan
Makrifat itu matlamat tujuan
Makrifat itu pembuka rahasia
Makrifat itu sendiri rasa
Makrifat itu sagunya
Mujahadah itu memecah ruyungnya.


6. Saatnya Untuk Pulang

Malam larut, malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang.
Kita sudah cukup jauh mengembara
menjelajah rumah-rumah kosong.
Aku tahu: teramat menggoda untuk tinggal saja
dan bertemu orang-orang baru ini.
Aku tahu: bahkan lebih pantas
untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka,
tapi aku hanya ingin kembali pulang.
Sudah kita lihat cukup destinasi indah
dengan isyarat dalam ucap mereka
Inilah Rumah Tuhan. Melihat
butir padi seperti perangai semut,
tanpa ingin memanennya. Biar tinggalkan saja
sapi menggembala sendiri dan kita pergi
ke sana: ke tempat semua orang sungguh menuju
ke sana: ke tempat kita leluasa melangkah telanjang.


7. Kau dan Aku

Bahagia saat kita duduk di pendapa, kau dan aku,
Dua sosok dua tubuh namun hanya satu jiwa, kau dan aku.
Harum semak dan nyanyi burung menebarkan kehidupan
Pada saat kita memasuki taman, kau dan aku.
Bintang-bintang yang beredar sengaja menatap kita lama-lama;
Bagai bulan kita bagikan cahaya terang bagi mereka.
Kau dan aku, yang tak terpisahkan lagi, menyatu dalam nikmat tertinggi,
Bebas dari cakap orang, kau dan aku.
Semua burung yang terbang di langit mengidap iri
Lantaran kita tertawa-tawa riang sekali, kau dan aku.
Sungguh ajaib, kau dan aku, yang duduk bersama di sudut rahasia,
Pada saat yang sama berada di Iraq dan Khorasan, kau dan aku.


8. Cinta

CINTA yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.
Kau sudah banyak menderita
Tetapi kau masih terbalut ‘tirai’
Karena kematian adalah pokok segala
Dan kau belum memenuhinya
Deritamu tak kan habis sebelum kau ‘Mati’
Kau tak 'kan meraih atap tanpa menyelesaikan anak tangga
Ketika dua dari seratus anak tangga hilang
Kau terlarang menginjak atap
Bila tali kehilangan satu elo dari seratus
Kau tak kan mampu memasukkan air sumur ke dalam timba
Hai Amir, kau tak kan dapat menghancurkan perahu
Sebelum kau letakan “mann” terakhir…
Perahu yang sudah hancur berpuing-puing
Akan menjadi matahari di Lazuardi
Karena kau belum ‘Mati’,
Maka deritamu berkepanjangan
Hai Lilin dari Tiraz, padamkan dirimu di waktu fajar
Ketahuilah mentari dunia akan tersembunyi
Sebelum gemintang bersembunyi
Arahkan tombakmu pada dirimu
Lalu ‘Hancurkan’lah dirimu
Karena mata jasadmu seperti kapas di telingamu…
Wahai mereka yang memiliki ketulusan…
Jika ingin terbuka ‘tirai’
Pilihlah ‘Kematian’ dan sobekkan ‘tirai’
Bukanlah karena ‘Kematian’ itu kau akan masuk ke kuburan
Akan tetapi karena ‘Kematian’ adalah Perubahan
Untuk masuk ke dalam Cahaya…
Ketika manusia menjadi dewasa, matilah masa kecilnya
Ketika menjadi Rumi, lepaslah celupan Habsyi-nya
Ketika tanah menjadi emas, tak tersisa lagi tembikar
Ketika derita menjadi bahagia, tak tersisa lagi duri nestapa…


9. Kau dan Aku

Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung, Kau dan Aku;
Dalam dua bentuk dan dua wajah — dengan satu jiwa,
Kau dan Aku.
Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian
Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku.
Bintang-bintang Surga keluar memandang kita
Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada ‘Kau’ atau ‘Aku’,
akan menjadi satu melalui rasa kita;
Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku.
Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita
Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku.
Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini …
Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan


10. Kau dan Aku

Tindakan Dan Kata-Kata
Aku memberi orang-orang
apa yang mereka inginkan.
Aku membawakan sajak karena mereka
menyukainya sebagai hiburan.
Di negaraku, orang tidak menyukai puisi.
Sudah lama aku mencari orang yang
menginginkan tindakan, tetapi
mereka semua ingin kata-kata.
Aku siap menunjukkan tindakan pada kalian;
tetapi tidak seorang pun akan menyikapinya.
Maka aku hadirkan padamu - kata-kata.
Ketidakpedulian yang bodoh
akhirnya membahayakan,
Bagaimanapun hatinya satu denganmu.


11. Menyatu Dalam Cinta

Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.
Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”
Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”
Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”
“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.
“Lalu, apa yang kau takuti?”
“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”
“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yangn dibedah badanmu.”
“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”


12. ‘Mati’ Sebelum Engkau Mati

Tafsiran Muutu Qabla anta Muutu : Rumi
(’Mati’ sebelum Engkau Mati)

Kau sudah banyak menderita
Tetapi kau masih terbalut tirai’
Karena kematian adalah pokok segala
Dan kau belum memenuhinya
Deritamu tak kan habis sebelum kau ‘Mati’
Kau tak kan meraih atap tanpa menyelesaikan anak tangga
Ketika dua dari seratus anak tangga hilang
Kau terlarang menginjak atap
Bila tali kehilangan satu elo dari seratus
Kau tak kan mampu memasukkan air sumur ke dalam timba
Hai Amir, kau tak kan dapat menghancurkan perahu
Sebelum kau letakan “mann” terakhir…
Perahu yang sudah hancur berpuing-puing
Akan menjadi matahari di Lazuardi
Karena kau belum ‘Mati’,
Maka deritamu berkepanjangan
Hai Lilin dari Tiraz, padamkan dirimu di waktu fajar
Ketahuilah mentari dunia akan tersembunyi
Sebelum gemintang bersembunyi
Arahkan tombakmu pada dirimu
Lalu ‘Hancurkan’lah dirimu
Karena mata jasadmu seperti kapas di telingamu…
Wahai mereka yang memiliki ketulusan…
Jika ingin terbuka ‘tirai’
Pilihlah ‘Kematian’ dan sobekkan ‘tirai’
Bukanlah karena ‘Kematian’ itu kau akan masuk ke kuburan
Akan tetapi karena ‘Kematian’ adalah Perubahan
Untuk masuk ke dalam Cahaya…
Ketika manusia menjadi dewasa, matilah masa kecilnya
Ketika menjadi Rumi, lepaslah celupan Habsyi-nya
Ketika tanah menjadi emas, tak tersisa lagi tembikar
Ketika derita menjadi bahagia, tak tersisa lagi duri nestapa…


13.. Kembali Pada Tuhan

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata uang palsumu!
Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!
Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayolah datang, dan datanglah lagi!
Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu,
karena Akulah jalan itu.”
Empat Lelaki Dan Penterjemah
Empat orang diberi sekeping uang.
Pertama adalah orang Persia, ia berkata, “Aku akan membeli anggur.”
Kedua adalah orang Arab, ia berkata, “Tidak, karena aku ingin inab.”
Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, “Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum.”
Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, “Aku ingin stafil.”
Karena mereka tidak tahu arti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.
Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, “Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping uang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping uang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu.”
Mereka pun tahu bahawa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.


14. Jalan I

Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya,
kau akan binasa.
Jika mencuba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan syaitan.


15. Siapa Di Pintuku?

Katanya, “siapa di pintuku?”
Jawabku,”hamba-Mu yang lata,”
Katanya, “urusan apa yang kamu punya?”
Jawabku, ” ‘tuk mencumbu-Mu ya Rabb,”
Katanya,”berapa lama bakal kau kembara?”
Jawabku,”sampai Kau cegat daku,”
Katanya,”berapa lama kau didihkan di api?”
Jawabku, “sampai diriku murni,”
“Inilah sumpah cintaku
Demi Cinta semata
Kutinggalkan harta dan kuasa.”
Katanya, “kamu buktikan kasusmu
Tapi, kamu tak punya saksi,”
Kataku,”Tangisku, saksiku
wajah pasiku, saksiku,”
Katanya, saksimu takpunya sahsiah
matamu membasah ‘tuk dilihat.”
Jawabku,”atas kerahiman, adil-Mu
Mataku cerah dan tanpa salah,”
Katanya,”Apa yang kaucari?”
Jawabku, “Kamu! ‘tuk jadi rekan dampinganku,”
Katanya, “apa yang kamu mau dariku,”
Jawabku,”Kemuliaan, kemesraanmu,”
Katanya,”Siapa teman sekembaramu?”
Jawabku,”Ingatan kepada-Mu, O Sang Raja,”
Katanya, “Apa yang membuatmu ke mari?”
Jawabku,”Kelezatan anggur-Mu,”
Katanya, “Apa yang membuatmu puas?”
Jawabku, “Dampingan-Mu Sang Maharaja”
Katanya,”Apa yang kamu temui di sini?”
Jawabku, “Seratus keajaiban,”
Katanya,”Mengapa istana ditinggal porakperanda?”
Jawabku,”Mereka takutkan perampok,”
Katanya, “Siapa perampok itu?”
jawabku,” Seseorang yang lari dari-Mu,”
Katanya,”Tidak adakah keselamatan di situ?”
Jawabku,”Dengan hadirnya Cinta-Mu,”
Katanya,” Apa faedah yang kamu terima dari kehidupan?”
Jawabku,”Dengan jujur kepada diriku,”
Kini masa untuk menyepi.
Kalau kukatakan padamu tentang intisari sebenarnya
Kau bakal terbang, dirimu akan sirna
Dan tiada pintu, tiada bumbung dapat menarikmu kembali.


16. Bahagia Sejenak

Bahagia sejenak
kamu dan aku duduk di serambi
kita dua, tapi satu roh, kamu dan aku
kita rasa aliran air kehidupan di sini
kamu dan aku dengan keindahan taman
dan burung - burung bernyanyi
bintang - bintang menatap kita
dan kita menanyakan mereka
‘gimana mau menjadi bulan sabit kecil
kamu dan aku bukan diri, bakal menyatu
takberasingan, betapa spekulasi kamu dan aku.
tiong syorgawi bakal retakkan gula
waktu kita tertawa bersama, kamu dan aku
dalam satu bentuk di muka bumi ini
dan dalam bentuk lain di bumi manis
di kebebasan waktu yang tak tecatat


17. Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai

Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan : “Bukankah Aku ini Rabbmu ?”


18. “Kisah Keajaiban Cinta”

Kamu pipa air yang kering dan aku hujannya
Kamu kota yang hancur dan aku arsiteknya
Tanpa khidmat padaku sang mentari suka cita
Kamu takkan pernah mencicipi bahagia.


19. Apa Yang Mesti Ku lakukan

Apa yang mesti kulakukan, O Muslim? Aku tak mengenal didiku sendiri
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Gabar, bukan Muslim
Aku bukan dari Timur, bukan dari Barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Aku bukan dari alam, bukan dari langit berputar,
Aku bukan dari tanah, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Aku bukan dari cahaya, bukan dari debu, bukan dari wujud dan bukan dari hal
Aku bukan dari India, bukan dari Cina, bukan dari Bulgaria, bukan dari Saqsin,
Aku bukan dari Kerajaan Iraq, bukan dari negeri Korazan.
Aku bukan dari dunia ini ataupun dari akhirat, bukan dari Syurga ataupun Neraka
Aku bukan dari Adam, bukan dari Hawa, bukan dari Firdaus bukan dari Rizwan
Tempatku adalah Tanpa tempat, jejakku adalah tak berjejak
Ini bukan raga dan jiwa, sebab aku milik jiwa Kekasih
Telah ku buang anggapan ganda, kulihat dua dunia ini esa
Esa yang kucari, Esa yang kutahu, Esa yang kulihat, Esa yang ku panggil
Ia yang pertama, Ia yang terakhir, Ia yang lahir, Ia yang bathin
Tidak ada yang kuketahui kecuali :Ya Hu” dan “Ya man Hu”
Aku mabuk oleh piala Cinta, dua dunia lewat tanpa kutahu
Aku tak berbuat apa pun kecuali mabuk gila-gilaan
Kalau sekali saja aku seminit tanpa kau,
Saat itu aku pasti menyesali hidupku
Jika sekali di dunia ini aku pernah sejenak senyum,
Aku akan merambah dua dunia, aku akan menari jaya sepanjang masa.
O Syamsi Tabrizi, aku begitu mabok di dunia ini,
Tak ada yang bisa kukisahkan lagi, kecuali tentang mabuk dan gila-gilaan.


20. Nubuwah Cinta dari Rumi

Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang,
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku mesti takut? Maut tak menyebabkanku berkurang!
Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia,
Dan melambung bersama malaikat; dan bahkan setelah menjelma malaikat
aku harus mati lagi; segalanya kecuali Tuhan, akan lenyap sama sekali.
Apabila telah kukorbankan jiwa malaikat ini, Aku akan menjelma sesuatu yang tak terpahami.
O,..biarlah diriku tak ada!
sebab ketiadaan menyanyikan nada-nada suci, “KepadaNya kita akan kembali.”


21. Rumi Bernyanyi

Ngengat-ngengat, terbakar oleh cahaya obor di wajah Sang Kekasih, adalah pecinta-pecinta yang berdiam di tempat suci.
Kalaupun kita dianggap gila atau mabuk, ini karena Pembawa Piala dan Sang Piala.
Karena mulutku telah mengunyah Kemanisan-Nya Dalam pandangan yang jelas kulihat Dia berhadap-hadapan.


22. Warna Agama

“Chinese Art and Greek Art”

Rasul pernah berkata, “Ada orang-orang yang melihatku
di dalam cahaya yang sama seperti aku melihat mereka.
Kami adalah satu.
Walau tak terhubung oleh tali apapun,
walau tak menghafal buku dan kebiasaan,
kami meminum air kehidupan bersama-sama.”
Inilah sebuah kisah
tentang misteri yang tersimpan:
Sekelompok Tiongkok mengajak sekelompok Yunani
bertengkar tentang siapa dari mereka
adalah pelukis yang terhebat.
Lalu raja berkata, “Kita buktikan ini dengan debat.”
Tiongkok memulai perdebatan.
Tapi Yunani hanya diam, mereka tak suka perdebatan.
Tiongkok lalu meminta dua ruangan
untuk membuktikan kehebatan lukisan mereka,
dua ruang yang saling menghadap
terpisah hanya oleh tirai.
Tiongkok meminta pada raja
beberapa ratus warna lagi, dengan segala jenisnya.
Maka setiap pagi, mereka pergi
ke tempat penyimpanan pewarna kain
dan mengambil semua yang ada.
Yunani tidak menggunakan warna,
“warna bukanlah lukisan kami.”
Masuklah mereka ke ruangannya
lalu mulai membersihkan dan menggosok dindingnya.
Setiap hari, setiap saat, mereka membuat
dinding-dindingnya lebih bersih lagi,
seperti bersihnya langit yang terbuka.
Ada sebuah jalan yang membawa semua warna
menjadi ‘warna tak lagi ada’. Ketahuilah,
seindah-indahnya berbagai jenis warna
di awan dan langit, semua berasal dari
sempurnanya kesederhanaan matahari dan bulan.
Tiongkok telah selesai, dan mereka sangat bangga
tambur ditabuh dalam kesenangan
dengan selesainya lukisan agung mereka.
Waktu raja memasuki ruangan, terpana dia
karena keindahan warna dan seluk-beluknya.
Lalu Yunani menarik tirai yang memisahkan ruangan mereka.
Dan tampaklah bayangan lukisan Tiongkok dan semua pelukisnya
berkilauan terpantul pada dindingnya yang kini bagaikan cermin bening,
seakan mereka hidup di dalam dinding itu.
Bahkan lebih indah lagi, karena
tampaknya mereka selalu berubah warna.
Seni lukis Yunani itulah jalan sufi.
Jangan hanya mempelajarinya dari buku.
Mereka membuat cintanya bening, dan lebih bening.
Tanpa hasrat, tanpa amarah. Dalam kebeningan itu
mereka menerima dan memantulkan kembali
lukisan dari setiap potong waktu,
dari dunia ini, dari gemintang, dari tirai penghalang.
Mereka mengambil jalan itu ke dalam dirinya,
sebagaimana mereka melihat
melalui beningnya Cahaya
yang juga sedang melihat mereka semua.


23. Dia Bernyanyi

Reguklah dalam-dalam cinta duniawi,
agar bibirmu mampu mengecap
anggur cinta yang lebih suci.
Aku mendengar dan terpikat;
ruhku bergegas untuk merengkuh
dekapan penerimaan Cinta,
karena suara itu begitu manis.


24. Terang Benderang

Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan
Agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta
Setiap orang yang jauh dari sumbernya
Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula

Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan
Agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta
Setiap orang yang jauh dari sumbernya
Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula.

Mencinta adalah mencapai Tuhan
Takkan pernah lagi dada seorang Pencinta merasakan kesedihan
Takkan pernah lagi jubah seorang Pencinta tersentuh kematian
Takkan pernah lagi jazad seorang Pencinta ditemukan terkubur di tanah
Mencinta adalah mencapai Tuhan
jangan tanya apa agamaku. aku bukan yahudi. bukan zoroaster. bukan pula islam. karena aku tahu, begitu suatu nama kusebut, kau akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup di hatiku.
Kenapa aku harus mencari?
Aku sama dengannya
Jiwanya berbicara kepadaku
Yang kucari adalah diriku sendiri!
“Wahai kegilaan yang membuai, Kasih !
Engkau Tabib semua penyakit kami !
Engkau penyembuh harga diri,
Engkau Plato dan Galen kami !

Aku adalah kehidupan dari yang kucintai

Apa yang dapat kulakukan hai orang-orang Muslim ?
Aku sendiri tidak tahu.
Aku bukan orang kristen, bukan orang Yahudi, bukan orang Magi, bukan orang Mosul,
Bukan dari Timur, bukan dari barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Bukan dari tambang Alama, bukan dari langit yang melingkar,
Bukan dari bumi, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Bukan dari singgasana, bukan dari tanah, dari eksistensi, dari ada,
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqsee,
Bukan dari kerajaan-kerajaan Irak dan Kurasan,
Bukan dari dunia ini atau yang berikutnya; dari syurga atau neraka,
Bukan dari Adam, Hawa, taman-taman syurgawi, atau firdausi,
Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak,
Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai.
Lewat Cintalah semua yang pahit akan jadi manis,
Lewat cintalah semua yang tembaga akan jadi emas,
Lewat cintalah semua endapan akan jadi anggur murni,
Lewat cintalah semua kesedihan akan jadi obat,
Lewat cintalah si mati akan jadi hidup,
Lewat cintalah Raja jadi budak.


25. Simbolisme Sufi

Pelukan dan ciuman adalah pesona-pesona cinta.
Tidur adalah kontemplasi,
Parfum adalah harapan untuk berkah Ilahi.
Penyembah berhala berarti manusia dengan keyakinan murni, bukan kaum kafir.
Anggur, yang dilarang oleh Nabi Muhammad kepada pengikutnya, digunakan sebagai sebuah symbol-kata oleh kaum Sufi untuk menunjuk pengetahuan spiritual, dan
Penjual anggur berarti seorang pemandu spiritual.
Sebuah Kedai minum adalah tempat dimana anggur cinta Ilahi memabukkan para musafir.
Kemabukan berarti ekstase religius, Keriangan adalah kesenangan dalam cinta Sang Khaliq.
Keindahan berarti keagungan Sang Kekasih.
Rambut ikal dan Rambut berarti kemurnian yang menyelubungi wajah Kesatuan dari para pecinta-Nya.
Pipi berarti esensi nama-nama dan sifat-sifat Ilahi. Bulu halus adalah dunia ruh-ruh suci yang paling dekat dengan Ketuhanan. Tahi lalat pada pipi adalah titik Kesatuan yang tak bisa dibagi.
Obor adalah cahaya yang terpancar dalam hati oleh Sang Kekasih.

Lihat hanya Satu,
katakan hanya Satu,
kenal hanya Satu.


26. SEBERAPA JAUH ENGKAU DATANG!

Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda.


27. JALAN

Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya, kau akan binasa.
Jika mencoba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan setan.


28. EMPAT LAKI-LAKI DAN PENERJEMAH

Empat orang diberi sekeping uang.
Pertama adalah orang Persia, ia berkata, “Aku akan membeli anggur.”
Kedua adalah orang Arab, ia berkata, “Tidak, karena aku ingin inab.”
Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, “Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum.”
Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, “Aku ingin stafil.”
Karena mereka tidak tahu arti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.
Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, “Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping uang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping uang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu.”
Mereka pun tahu bahwa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.


29. AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
Bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, istrinya Adam,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …


30. BURUNG HANTU DAN ELANG RAJA

Seekor elang kerajaan hinggap di dinding reruntuhan yang dihuni burung hantu. Burung-burung hantu menakutkannya, si elang berkata, “Bagi kalian tempat ini mungkin tampak makmur, tetapi tempatku ada di pergelangan tangan raja.” Beberapa burung hantu berteriak kepada temannya, “Jangan percaya kepadanya! Ia menggunakan tipu muslihat untuk mencuri rumah kita.”


31. DIMENSI LAIN

Dunia tersembunyi memiliki awan dan hujan,
tetapi dalam jenis yang berbeda.
Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda.
Ini tampak nyata,
hanya untuk orang yang berbudi halus —
mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia yang semu.


32. MANFAAT PENGALAMAN

Kebenaran yang agung ada pada kita
Panas dan dingin, duka cita dan penderitaan,
Ketakutan dan kelemahan dari kekayaan dan raga
Bersama, supaya kepingan kita yang paling dalam
Menjadi nyata.


33. KESADARAN

Manusia mungkin berada dalam keadaan gembira, dan manusia lainnya berusaha untuk menyadarkan. Itu memang usaha yang baik. Namun keadaan ini mungkin buruk baginya, dan kesadaran mungkin baik baginya. Membangunkan orang yang tidur, baik atau buruk tergantung siapa yang melakukannya. Jika si pembangun adalah orang yang memiliki pencapaian tinggi, maka akan meningkatkan keadaan orang lain. Jika tidak, maka akan memburukkan kesadaran orang lain.


34. DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN

Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna …
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.


35. MEREKA YANG TAHU, TIDAK DAPAT BICARA

Kapan pun Rahasia Pemahaman diajarkan kepada semua orang
Bibir-Nya dijahit melawan pembicaraan tentang Kesadaran.


36. JOHA DAN KEMATIAN

Seorang anak laki-laki menangis dan berteriak di belakang jenazah ayahnya, ia berkata, “Ayah! Mereka membawamu ke tempat di mana tidak ada pelindung lantai. Di sana tidak ada cahaya, tidak ada makanan; tidak ada pintu maupun bantuan tetangga…”
Joha, diperingatkan karena penjelasan tampaknya mencukupi, berteriak kepada ayahnya sendiri:
“Orangtua yang dihormati oleh Allah, mereka diambil ke rumah kami!”


37. KECERDASAN DAN PEMAHAMAN SEJATI

Kecerdasan adalah bayangan dari Kebenaran obyektif
Bagaimana bayangan dapat bersaing dengan cahaya matahari?


38. REALITAS SEJATI

Di sini, tidak ada bukti akademis di dunia;
Karena tersembunyi, dan tersembunyi, dan tersembunyi.


39. JIWA MANUSIA

Pergilah lebih tinggi — Lihatlah Jiwa Manusia!


40. PELEPASAN MENIMBULKAN PEMAHAMAN

Wahai Hati! Sampai dalam penjara muslihat,
kau dapat melihat perbedaan antara Ini dan Itu,
Karena pelepasan seketika dari Sumber Tirani;
bertahan di luar


41. DUA ALANG-ALANG

Dua alang-alang minum dari satu sungai. Satunya palsu, lainnya tebu.


42. AKAN JADI APA DIRIKU?

Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput;
Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk.
Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran;
Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang.
Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia.
Maka mengapa takut hilang melalui kematian?
Kelak aku akan mati
Membawa sayap dan bulu seperti malaikat:
Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat —
Apa yang tidak dapat kau bayangkan.
Aku akan menjadi itu.


43. RASUL

Rasul adalah mabuk tanpa anggur:
Rasul adalah kenyang tanpa makanan.
Rasul adalah terpesona, takjub:
Rasul adalah tidak makan maupun tidur
Rasul adalah raja di balik jubah kasar:
Rasul adalah harta benda dalam reruntuhan.
Rasul adalah bukan dari angin dan bumi:
Rasul adalah bukan dari api dan air.
Rasul adalah laut tanpa pantai:
Rasul adalah hujan mutiara tanpa menalang.
Rasul adalah memiliki ratusan bulan dan langit:
Rasul adalah memiliki ratusan cahaya matahari.
Rasul adalah bijaksana melalui Kebenaran:
Rasul adalah bukan sarjana karena buku.
Rasul adalah melebihi keyakinan dan kesangsian:
Karena Rasul apakah ada ‘dosa’ atau ‘kebaikan’?
Rasul berangkat dari Ketiadaan:
Rasul telah tiba, benar-benar berangkat.
Rasul adalah, Tersembunyi, Wahai Syamsuddin!
Carilah, dan temukan – Rasul!


45. KEBENARAN

Nabi bersabda bahwa Kebenaran telah dinyatakan:
“Aku tidak tersembunyi, tinggi atau rendah
Tidak di bumi, langit atau singgasana.
Ini kepastian, wahai kekasih:
Aku tersembunyi di kaibu orang yang beriman.
Jika kau mencari aku, carilah di kalbu-kalbu ini.”


46. ILMU PENGETAHUAN

Pengetahuan akan Kebenaran lenyap dalam pengetahuan Sufi. Kapan manusia akan memahami ucapan ini?


47. DEBU DI ATAS CERMIN

Hidup atau jiwa seperti cermin bening; tubuh adalah debu di atasnya. Kecantikan kita tidak terasa, karena kita berada di bawah debu.


48. KERJA

Kerja bukan seperti yang dipikirkan orang.
Bukan sekadar sesuatu yang
jika sedang berlangsung, kau
dapat melihatnya dari luar.
Seberapa lama kita, di Bumi-dunia,
seperti anak-anak
Memenuhi lintasan kita dengan debu dan batu dan serpihan-serpihan?
Mari kita tinggalkan dunia
dan terbang ke surga,
Mari kita tinggalkan kekanak-kanakan
dan menuju ke kelompok Manusia.

49. RUMAH

Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah, dan hanya sembilan yang menemukan jalan masuk, yang kesepuluh mestinya tidak mengatakan, “Ini sudah takdir Tuhan.”
Ia seharusnya mencari tahu apa kekurangannya.


50. BURUNG HANTU

Hanya burung bersuara merdu yang dikurung.
Burung hantu tidak dimasukkan sangkar


51. UPAYA

Ikat dua burung bersama.
Mereka tidak akan dapat terbang,
kendati mereka tahu memiliki empat sayap.


52. PENCARIAN

Carilah mutiara, saudaraku, di dalam tempurung;
Dan carilah keahlian diantara manusia di dunia.


53. TUGAS INI

Kau mempunyai tugas untuk dijalankan. Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan sia-sia.


54. KOMUNITAS CINTA

Komunitas Cinta tersembunyi diantara orang banyak;
Seperti orang baik dikelilingi orang jahat.


55. SEBUAH BUKU

Tujuan sebuah buku mungkin sebagai petunjuk. Namun kau dapat juga menggunakannya sebagai bantal; Kendati sasarannya adalah memberi pengetahuan, petunjuk, keuntungan.


56. TULISAN DI BATU NISAN JALALUDDIN AR-RUMI

Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Free Download MP3 : Kenny G



free download kenny g instrumental music


Tak salah jika mengatakan dunia berhutang nuansa romantis pada Kenny G. Betapa tidak? Musik instrumnetal yang dimainkan oleh saksofonis ini begitu banyak digemari karena mampu membawa pendengar musiknya melayang masuk ke alam romantis yang indah.

Tidak percaya? Coba saja Anda dengarkan sendiri alunan merdu nan romantis dari musik instrumental Kenny G, dan tautan berikut ini menyediakan banyak karyanya yang bisa Anda unduh gratis:



Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit

Cerpenku : Jangan Selingkuh, Nanti Gosong!


Silakan saja orang-orang menertawakanku karena menganggap diriku kuno. Tidak modern dan percaya pada petuah-petuah lama karena takut kena tulah bila melanggarnya. Akibatnya, setiap tindakanku jujur kukatakan bahwa itu tak lepas dari nasehat-nasehat usang yang sebelumnya kudengar. Bahkan ketika aku menemukan dirinya sebagai seorang tempatku berbagi, entah itu sekerat kue bahagia nan manis melekat-lekat saat lidah jiwa mencecapnya, atau pun ketika kutumpahkan segala resah membuncah dalam hatiku setelah berbagai pengalaman pahit getir yang kurasakan. Aku masih percaya bahwa dirinya bukanlah keisengan yang hadir tiba-tiba dalam kehidupanku.




Aku meyakini bahwa tak ada hal sekecil apa pun yang terjadi secara kebetulan. Kehadirannya pun kuanggap sebagai fakta tak terbantahkan atas keberadaanku di dunia ini. Dirinya adalah seorang yang sengaja diciptakan Tuhan khusus untukku. Begitulah anggapanku. Karenanya, aku bersyukur atas kemurahan-Nya padaku telah menurunkan seseorang yang menjadi tempat segala cinta dan curahan kasih-sayangku. Dalam sikap pasrah menerima apa adanya sehubungan dengan kedirian sang Hawa terpilih yang diposisikan Tuhan untuk berada di sampingku, aku berserah diri pada takdir yang telah ditetapkan-Nya untukku. Bahkan ketika kutahu bahwa dia suka mengenakan sarung tangan sutra indah untuk menyembunyikan sepuluh jari tangannya yang berkuku baja hitam beracun, panjang melengkung runcing menawarkan penderitaan perih yang lamat sekali hilangnya. Aku patuh pada kepercayaan butaku yang dogmatis itu.

”Ini sudah ditakdirkan! Ini alur cerita yang tak mungkin dapat kurevisi semauku agar bisa sejalan dengan keinginanku sendiri. Inilah lakon yang mesti kuperankan dalam panggung sandiwara kehidupanku dimana naskahnya berkekuatan hukum kuat dari takdir diriku yang telah ditetapkan Tuhan.”

Demikian biasanya aku menghibur diri sendiri.

Namun tentu saja ketegaranku sampai pula pada batasnya. Lalu, kuberanikan untuk menceritakan peristiwa getir yang kualami pada Anda semua. Saat kutulis cerita ini, entah mengapa hujan tak henti-hentinya turun. Hujan dengan jutaan jarum dinginnya bertubi-tubi menerjang bumi. Tak ketinggalan pula kilat melesat-lesat, lalu untuk menenangkan diri kubayangkan aku berada di suatu masyarakat kuno dimana orang-orang percaya bahwa bila anak-anak listrik yang genit menari-nari itu, mengerjap berkali-kali, bertabrakan satu sama lain maka semua ini tak lain adalah keisengan para dewa yang bermain perang-perangan dengan pedang-pedang api biru menyala terang.

Sudah kubilang aku ini ’arkhaik’! Satu yang unik. Satu yang masih percaya dengan legenda. Maka, sewaktu aku menumpahkan isi hatiku dalam cerita ini dengan suasana alam mencekam di luar sana, aku percaya ini upaya terbaikku untuk meredam riuh gemuruh yang menggelegar di dalam dadaku. Sekadar mengekspresikan dan menegaskan betapa purbanya caraku menanggapi takdir kehilangan seorang yang pernah sangat kusayangi, tapi kini telah berpindah, berkalang di rumah barunya.

Lihatlah kini apa yang kuperbuat! Aku telah lesap terhisap. Diriku sudah masuk ke dalam kubangan sesal akan kehilangan dirinya. Aku meratap-ratap di kegelapan ruang duka nan tak tertanggungkan. Menyesali kelalaian dan kecerobohanku hingga membuatnya pergi untuk selamanya. Dalam pekatnya warna luka hatiku, aku berandai-andai bilamana saat itu aku tak mengutuk dan mengiringi kepergiannya menjemput maut dengan segala sumpah serapah. Aku berandai-andai kalau saja diriku mampu mencegah istriku untuk mengurungkan niat berkhianatnya menemui lelaki selingkuhan, tentu saat ini masih bisa aku berbagi sejumput kebahagiaan dengannya. Aku berandai-andai bila saja istriku tak tergoda rayuan si lelaki hidung belang selingkuhannya itu, tentu Wulan anak semata wayang kami tak kehilangan bundanya. Aku larut dalam kekusutan yang makin sulit kuurai ujung-pangkalnya untuk sekedar tahu mengapa semua ini terjadi. Akhirnya aku kelelahan. Lelah yang menguras seluruh tenaga hidupku. Kelelahan yang diakibatkan betapa berat beban derita yang mesti kutanggung. Aku kira ini wajar. Sebab, bukanlah hal yang layak kubesar-besarkan lagi. Wajar saja aku lelah dan begitu berduka. Siapa yang sanggup menyaksikan istri tercintanya gosong menghitam, akibat disambar petir saat sang istri yang malang itu tengah berasyik-masyuk dalam mobil lelaki selingkuhannya? Siapa yang sanggup melihat istrinya melengkung balu melepuh berasap-asap seperti ikan lele lupa diangkat di penggorengan? Siapa yang sanggup mendapati istri tercintanya mengangkang lengket berpelukan dengan bau angit hangus menebar bersama lelaki selingkuhan yang masih tampak bersemangat menindihnya dari atas? Beritahukan padaku segera!

Ketika kutuliskan cerita ini, aku mengunci diri dari dalam ruangan kerjaku. Di ruang tamu, beberapa pelayat masih ramai mengobrol. Di beranda rumah juga demikian adanya. Sesekali kudengar derai tawa mereka. Kuanggap itu semua sebagai cara mereka memberikan reaksi manusiawinya atas persitiwa tragis yang dialami istriku bersama selingkuhannya. Bahkan sempat terdengar di telingaku yang terlampau tajam bahwa seorang dari mereka melempar guyonan:

”Makanya jangan selingkuh! Nanti gosong disambar petir!” lalu disusul gelak tawa dari orang-orang yang hadir mendengar lelucon garing tersebut.

Aku menganggap hal ini wajar sebagai reaksi spontan yang tak mau kehilangan kesempatan memberikan tanggapan untuk sebuah peristiwa yang dramatis. Biasa saja bagiku mendengar cemoohan itu. Bisa jadi mereka memandang perselingkuhan maut istriku sebagai keisengan yang berhadiah ribuan voltase listrik yang layak diterimanya. Tapi, aku masih manusia biasa. Tak mungkin bisa menampik kesedihan atas kehilangan pasangan hidupku dengan cara yang sangat fantastis sedemikian rupa. Aku masih berperasaan mendalam terhadap mendiang istriku. Sekali pun ia sangat lihai menipuku dan sekaligus kusesali mengapa diriku, suaminya yang percaya pada tulah, tega ditipunya.

”Ah, sayangku, bodohnya dirimu yang tak mendengarkan petuahku!”

Aku memang berkata kasar padanya beberapa jam menjelang istriku direnggut maut. Saat itu, aku muntab karena telah lama mencium gelagatnya yang tak beres. Ia sering meninggalkan rumah dan tega mengabaikan buah cinta kami, Wulan yang masih berusia dua tahun diserahkan pada Bi Imah untuk mengurusnya. Ini mengakibatkanku kehilangan akal sehat dan mengutuknya dengan sumpah serapah. Istriku memang melampaui batas waktu itu.

”Pergilah kau bangsat! Aku tahu kau mau menemui pacar baru selingkuhanmu itu! Semoga kalian hangus disambar petir saat kalian asyik berzina! Mampuslah! Mudah-mudahan tubuh kalian berdua gosong hitam lengket!”

”Dasar kau anjing keparat!” balas istriku sengit, ”Iya, kenapa?! Aku mau menemuinya! Aku mau mengangkang lebar-lebar di depannya nanti!”

Ia kemudian menyambar tas kecilnya. Berlari keluar tanpa bisa kuhadang lagi. Tiba di depan pintu pagar rumah kami, ia menghambur dan disambut lelaki selingkuhannya yang telah sedari tadi tanpa sepengetahuanku menunggu, menyarungkan jas hujan dan memeluk tubuhnya. Istriku mesra dituntunnya masuk ke dalam mobil. Mereka lalu melaju dalam hujan lebat di senja kelam basah. Aku yang ditinggalkannya terpuruk, tersuruk-suruk dalam hatiku yang remuk.

Kurang lebih empat jam setelah pertengakaran hebat kami dengan saling kutuk-mengutuk itu, tiba-tiba telepon di meja ruang tengah berdering.

Setelah kuselimuti Wulan anakku yang malam ini agak demam sehingga kubawa ke kamar tidur agar mudah menjaganya, aku bergegas menuju ruangan tengah untuk mengangkat telepon. Sekali pun aku agak menggerutu dalam hati. Siapa pula yang menelepon saat orang tengah beristirahat begini?

”Halo, benar ini kediaman tuan Thor?”

”Ya, benar…”

”Kami dari pihak berwajib yang tengah menyelidiki kasus kecelakaan maut akibat sambaran petir di parkiran Penginapan Nirvana, pak..”

”Oh, lantas ada apa menelepon saya, pak?”

”Begini, pak.. Kami telah mengidentifikasi berdasarkan dokumen penting korban yang selamat tak terbakar di lokasi…”

”Langsung saja! Saya tak punya banyak waktu. Anak saya lagi sakit saat ini.” Aku memotong ucapan dari seberang telepon yang terdengar berbelat-belit itu.

”Baiklah, pak… Seorang korban gosong akibat disambar petir wanita bernama Gloria. Apa benar korban adalah istri bapak?”

Aku langsung lemas mendengarnya. Tak kusangka petir menggelegar yang membuatku dan Wulan tadi kecut, meminta korban yang tak lain istriku. Susah-payah kukumpulkan tenaga untuk menjawab pertanyaan dari seberang telepon.

”Be..nn..nar.. dia istri… say..a.. pak..” suaraku keluar tersendat-sendat.

”Baiklah, pak… Silakan bapak ke rumah sakit sekarang juga. Langsung menuju kamar jenazah. Di sana sudah menunggu petugas otopsi rumah sakit dan beberapa anggota kami yang tengah melanjutkan proses identifikasi korban.”

”Baiklah… Saya segera ke sana…” kututup telepon dengan menghela napasku yang sesak.

Aku ke belakang ke kamar Bi Imah untuk memintanya menjaga Wulan yang sedang demam di kamar tidurku. Setelah itu bersiap-siap ke rumah sakit.

Beberapa saat kemudian, aku telah tiba di rumah sakit dan memarkir mobilku. Turun dari mobil, aku langsung disambut seorang petugas kepolisian yang rupanya sedari tadi telah menungguku di depan pintu masuk utama. Atasannya telah memberi perintah menunggu kedatanganku beberapa saat setelah aku ditelepon.

”Pak Thor, benar?”

”Iya, benar saya, pak..”

”Atasan saya memerintahkan untuk segera mengantar bapak setibanya di sini. Mari ikuti saya ke kamar jenazah. Aku berjalan beriringan mengikuti petugas kepolisian itu.

Langkahnya cepat dan terburu-buru. Seketika ia memperlambat langkahnya. Mungkin untuk mengimbangi jalanku yang lamban. Atau, mungkin ada hal lain yang ingin disampaikannya?

”Ah, syukurlah bapak segera datang. Dari tadi kami dan petugas otopsi rumah sakit kesulitan mengidentifikasi jenazah korban. Kami hanya memperoleh petunjuk dari selembar surat dan foto korban bersama keluarganya. Untungnya benda-benda petunjuk itu berada dalam tas kecil walaupun separuh melepuh tasnya tapi selamat tak terbakar, terlindungi sekeping benda logam di TKP.”

”Memangnya seberapa parah keadaan mayatnya sampai menyulitkan para petugas identifikasi?” aku agak dongkol.

”Silakan bapak lihat saja sendiri di dalam…” petugas kepolisian itu membukakan pintu masuk kamar jenazah untukkku setelah kami sampai tak berapa lama.

Bau angit daging gosong begitu menyengat. Aroma yang membuat perutku terasa mual seketika menebar di seantero ruang berdinding putih. Saat seorang petugas otopsi rumah sakit melintas di depanku, ia berhenti mendadak.

Bapak dari pihak keluarga korban, bukan?” sapanya tiba-tiba. Lalu ia menuju meja beroda tepat di sebelah dimana gundukan besar berada di atas meja beton berposelin teronggok diselimuti kain yang terembesi lemak cairan tubuh melepuh. Aku yakin itu pasti sumber bau menyengat di dalam kamar jenazah ini. Petugas otopsi itu lalu memungut sebuah benda berkilat di atas nampan stenlis, dan berjalan menghampiriku.

Ia kemudian mengeluarkannya dan memberikan padaku.

”Ini cincin yang melekat di jari manis tangan korban hangus yang berada di bawah, pak..” sodornya padaku.

Aku mengamatinya. Seketika jantungku berdebar kencang tak karuan lagi. Aku sangat kenal cincin yang sedang diperlihatkan petugas otopsi itu. Melihat ekspresi wajahku yang berubah, petugas kepolisian pun mendekatiku dan memperlihat selembar foto yang di dalamnya ada diriku, anakku di tengah dipangku Gloria, istriku.

”Ini semua memang milik istri saya, pak..” ujarku lesu.

”Kami mohon bapak kuat untuk langsung melihat jenazah istri bapak sekarang..”

Ketika kain yang menyelimuti gundukan besar berisi mayat gosong itu dibuka seluruhnya, aku terhenyak menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan di hadapanku. Di atas meja otopsi kini teronggok daging tubuh gosong melepuh yang masih berasap, hitam lengket, berbau angit dan berdempetan. Tubuh mayat hangus yang berada di bawah dalam posisi mengangkang lebar dan sedang ditindih dengan tubuh balu hitam hangus melepuh satunya lagi yang berada di atas.

Tak sanggup kuberdiri tegak. Keseimbanganku hilang. Aku jatuh lunglai yang langsung ditangkap petugas kepolisian yang mengantarku tadi. Beberapa saat setelah aku sadar diri, petugas yang baik hatinya itu mengantarku pulang ke rumah dan dia yang menyetir mobilku. Menuntunku sampai duduk terhenyak di kursi ruang tamu rumahku. Lalu, ia berpamitan dan hanya kujawab dengan anggukan pelan.

Demikianlah cerita yang berisi kegetiran yang tengah kualami. Kegetiran dari takdir yang mungkin lebih kejam daripada kematian itu sendiri. Kegetiran yang kurasakan akibat buruk tulah, sumpah mengutuki istriku sendiri. Saat kutulis cerita pedih ini, cincin yang diberikan petugas otopsi rumah sakit itu tergeletak di samping segelas air putih di atas meja kerjaku. Cincin yang mengingatkanku saat-saat indah ketika kuucapkan janji setiaku pada Gloria. Cincin yang juga kini berfungsi sebagai alarm pengingat betapa aku telah dibakar hawa nafsuku sendiri, murka hingga mengutuki istri tercintaku mati dalam keadaan sesat mengenaskan sedemikian rupa. Cincin yang membawaku pada lautan berbadai penyesalan yang masih bergejolak.

(*) Ilustrasi dari: martracho wordpress com

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
  •  

    Muhammad Ichsan Copyright © 2009 LKart Theme is Designed by Lasantha